
...🌻Selamat Membaca🌻...
Stela dan Tristan memasuki kamar pengantin mereka. Lelah mendera setelah seharian menjalani segala proses pernikahan mewah yang diselenggarakan di MSC Bellissima cruise ship.
Tak tanggung-tanggung, lebih dari 2.000 tamu undangan yang harus mereka sapa dalam acara. Pipi Tirstan maupun Stela sudah kebas karena kebanyakan senyum.
"Capeknya...." Stela menghempaskan badan di ranjang besar dalam kamar. Disusul oleh Tristan yang langsung merebahkan diri di samping sang istri.
"Hi wife!" sapa Tristan. Stela langsung menoleh, ia melihat wajah Tristan yang sangat bahagia saat menatapnya. Pria itu tersenyum, terlihat sangat manis.
"Jangan seperti itu, Tristan!" peringat Stela dengan wajah serius.
Alis Tristan terangkat. "Kenapa?" Ia bertanya bingung.
"Saat ini aku sangat capek, jadi jangan menggodaku dengan ucapan dan senyuman manismu itu," jelasnya.
Tristan langsung terbahak mendengar protesan sang istri. Ia pikir kenapa, ternyata hanya masalah itu. Lagipula ia juga tidak bermaksud untuk menggoda, hanya ingin mencurahkan rasa bahagianya saja.
"Tristan!" Stela menjerit saat suaminya tiba-tiba bangkit dan menggendongnya ala bridal. "Kau mau apa?" tanyanya.
"Memakanmu!" Tristan langsung membawa tubuh Stela ke dalam sebuah ruangan. Keduanya masih mengenakan pakaian pengantin lengkap.
"Ah... nikmatnya." Stela memejamkan mata saat air panas dalam jacuzzi melemaskan otot-ototnya yang tegang. Kini ia dan sang suami tengah berendam.
Sama halnya dengan Tristan, pria itu juga menikmati acara berendamnya. Semua lelah yang ada di tubuhnya seketika terangkat dan juga sangat merilekskan otaknya.
Cukup lama mereka berendam sampai Tristan lebih dulu keluar dari dalam Jacuzzi. Ia mengenakan bathrobe dan mengambilkan satu untuk istrinya.
"Baby..." Tristan berjongkok dekat Stela dan menepuk pundak polos istrinya yang tertidur karena kecapaian.
"Enghh..." Gadis itu menggeliat, merasa terganggu karena ulah Tristan yang membangunkannya.
"Kita pindah ke kamar, ya?" Tristan membantu Stela berdiri lalu memasangkan bathrobenya.
Melihat Stela yang begitu susah membuka mata, Tristan berinisiatif menggendong istrinya itu menuju kamar.
Sampai di dalam, tugas Tristan masih belum usai. Setelah mengganti bajunya, ia juga harus memakaikan Stela baju tidur.
"Kalau kita tidak kelelahan, mungkin aku akan menghabiskan malam pertama ini dengan mesra bersamamu, istriku." Tristan berusaha mati-matian menahan diri saat melihat tubuh polos istrinya. Ia ingin malam pertamanya dengan Stela menjadi sesuatu yang spesial dan tak akan pernah terlupakan. Kini mereka kelalahan, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah istirahat.
"Good night, dear..."
Tristan berbaring di samping Stela, memeluk istrinya itu lalu menyelimuti tubuh mereka berdua sampai sebatas dada.
.......
"Mulai malam ini adikku sudah tidak polos lagi," ucapan Abercio membuat Anthony dan Sebastian menoleh.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Anthony dengan mata memicing.
"Ya... maksudku dia bukan gadis kecil dan polosmu lagi Daddy..." Abercio memang berniat untuk memanas-manasi Anthony yang sebenarnya masih berat melepas putri tersayangnya untuk menikah.
Wajah ayahnya langsung berubah merah, tergesa pria paruh baya itu bangkit dan hendak pergi.
"Mau kemana, Daddy?" tanya Anne yang baru sampai bersama Ambar dan juga Irina. Para wanita baru saja menidurkan anak-anak. Pasangan Sebastian dan Anne memiliki sepasang anak yang berumur tiga setengah tahun dan dua tahun.
"Mau ke kamar Ela," jawab Anthony meneruskan langkah.
"Sayang...!" Ambar langsung menarik tangan suaminya. "Untuk apa kau kesana, Ela sedang bersama suaminya saat ini. Jangan menganggu mereka!"
"Ta-tapi..-"
"DUDUK!" titah Ambar mutlak.
Terpaksa pria Inggris itu duduk kembali, para wanita pun menyusul duduk di samping para suami.
"Daddy ini kenapa, sih?" tanya Anne binggung. "Stela itu sudah besar, ia punya suami sekarang. Daddy tidak usah khawatir lagi, Tristan pasti akan menjaga dan menyayanginya," ia lanjut menjelaskan.
Anthony hanya diam. Terbayang di otaknya masa-masa kecil Stela dulu. Betapa gadis itu begitu dekat dengannya dan bahkan pernah jatuh sakit saat ia pergi bekerja ke negara lain untuk waktu yang cukup lama kala itu. Kini, putri kecilnya sudah diambil orang. Anthony merasa sedih.
"Kalau ingat-ingat perjuangan Tristan sebulan yang lalu, aku masih merasa kasihan." Sebastian angkat bicara. Ia saja tidak sesulit itu untuk mendapatkan restu menikahi Anne. Sulit? Yang ada dia malah diterima dengan tangan terbuka oleh Anthony. Namun, pada Tristan?
"Kau benar. Kita tidak mengalami apa yang Tristan alami. Kita berdua dengan mudah mendapatkan restu dari orang tua pasangan kita masing-masing," tambah Abercio.
"Aku memang sudah keterlaluan." Anthony bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.
"Biar Mommy yang bicara pada Daddy." Ambar menyusul suaminya.
"Aku merasa bersalah, tidak seharusnya kita menjudge daddy seperti tadi," kata Anne.
"Aku juga. Daddy terlihat sedih dan ku rasa kita harus meminta maaf," sambung Abercio.
"Seharusnya aku tidak mengungkit masalah Tristan tadi." Sebastian pun turut merasa bersalah. Walaupun dirinya tidak ikut menghakimi ayah mertuanya itu, tapi kata-katanyalah yang menggiring Abercio dan Anne untuk bicara seperti tadi.
"Ayo kita susul daddy!" Mereka berempat serentak berdiri dan menyusul kedua orang tua, Anthony dan Ambar.
Masalah malam itu selesai dengan mereka yang saling berpelukan hangat.
...🌻 🌻 🌻...
Selesai sarapan, seluruh keluarga berkumpul di dek kapal pesiar mewah MSC Bellissima yang sengaja di sewa Anthony untuk perhelatan akbar putri tersayangnya, sembari memandangi pemandangan laut yang hangat di pagi hari. Beberapa orang terlihat mengeratkan coat mereka karena cuaca yang cukup dingin. Sebentar lagi, kapal mereka akan segera menepi ke pelabuhan. Seluruh para tamu undangan juga sudah bersiap-siap pulang. Mereka sangat menikmati perayaan pernikahan Tristan-Stela yang diadakan di sebuah kapal pesiar mewah, satu malam mereka berlayar di perairan Inggris dan menginap di kamar-kamar mahal yang ada di kapal.
"Berapa banyak biaya yang habis untuk pernikahan ini, aku tidak habis pikir." Itu suara Evan. Ia dan Vania turut diundang oleh Stela dan Tristan.
"Pasti banyak sekali, aku merasa malu kalau mengingat jika dulu pernah menghina Stela dengan mengatakan dia adalah orang kampung dan juga miskin," ringis Vania malu.
__ADS_1
"Merepotkan! Makanya jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja." Taulah suara siapa itu. Ya, Rafandra. Dia juga diundang bersama Karina, istrinya.
"Sudah-sudah, intinya kita harus mengucapkan terima kasih pada Tristan dan Stela karena telah memberikan kita kesempatan langka ini." Kali ini Aryandra yang menengahi.
"Benar. Ah... Lihat! Bahkan anak-anak tampak senang dengan undangan sekaligus liburan ini." Tunjuk Risa pada sekumpulan anak-anak yang bermain kejar-kejaran tak jauh dari mereka. Ada anak Arya-Risa yaitu Savero(5th). Rakana(4th), anaknya Rafa-Karina dan juga kembar putra Evan-Vania yang bernama Verrel dan Vallent(3.5th).
"Woah... Kalian sudah berkumpul ternyata." Satu pasangan lainnya yang juga diundang, turut bergabung dengan mereka.
Gara dan Jovanka menghampiri yang lainnya dengan mengusung dua buah hati mereka, Gwen(4.5th) dan Jovita(3th) sedangkan Jovano yang masih berusia dua bulan terpaksa harus ditinggal bersama neneknya karena masih kecil.
"Mama, aku boleh main di sana, tidak?" tanya Gwen begitu melihat anak-anak asyik bermain kejar-kejaran tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Boleh, adiknya dibawa, ya?" jawab Jovanka.
"Iya, Mama." Gwen mengangguk, dia menggandeng Jovita ke tempat sekumpulan anak yang tak lain adalah anak-anak sahabatnya Tristan-Stela, di sana juga ada Arabella dan keponakan kembar Stela.
"Ah... bahagianya."
Para pria merangkul penuh cinta istri mereka masing-masing, menikmati momen romantis di atas kapal yang tengah berlayar.
.......
"Sayang, bangun!" bisik Tristan di telinga istrinya.
Stela yang masih terpejam, perlahan membuka matanya, menampakkan bening biru yang mampu menyihir Tristan untuk terus menatap mata istri tercintanya itu.
"Pagi..." sapa Stela dengan suara serak.
"Pagi, morning kiss."
Cup
Tristan mengecup bibir merah alami stela dengan kilat.
"Ayo mandi!" ajaknya.
"Hm, gendong!" Stela langsung mengulurkan tangan.
"Manja..." Tristan tersenyum, dan langsung membawa tubuh Stela ke dalam gendongannya. Kini Stela terlihat seperti anak Koala yang digendong oleh induknya.
"Sayang, mandinya plus-plus, ya?"
"Ish, dasar mesum!"
...END...
Jangan lupa Like & Comment
__ADS_1
Terima kasih😊