
...🌻Selamat Membaca🌻...
Hari mulai senja, langit berwarna jingga mulai menghiasi atas sana.
Setelah puas bermain, akhirnya kesenangan ini harus dikahiri juga. Sekali lagi Stela menatap taman Bunga Matahari itu dengan lamat, rasanya tak rela jika harus pergi dari sana.
"Ela?" panggil Rafa yang berada tepat di samping Stela.
Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pria yang memanggilnya.
"Ya, Mas?"
Mata Rafa menatap intens wajah Stela
"Aku menyukaimu, jadilah kekasihku!"
DEG
Di taman yang berupa surganya bunga ini, Stela mendapatkan pernyataan cinta pertamanya, disaksikan oleh ribuan tangkai Bunga Matahari juga Matahari yang hampir tenggelam itu sendiri.
"M–mas?"
Perlahan Rafa mendekatkan wajahnya pada Stel. Dan ...
.......
Vania tak bisa menyembunyikan rasa girangnya karena untuk pertama kalinya Tristan mau singgah masuk ke dalam apartemennya. Rencananya untuk menjerat model tampan itu sepertinya akan terlaksana sebentar lagi. Ia akan mengikat Tristan sesegera mungkin agar tak ada perempuan mana pun yang akan mengganggu apapun yang sudah di cap menjadi miliknya.
"Ini minumnya ..." Vania datang dari dapur membawa dua gelas wine di tangan. Setelah menaruhnya di atas meja, perempuan itu kemudian mendudukkan diri tepat di samping Tristan. Sangat dekat hingga membuat pria itu sedikit bergeser.
"Minumlah!" Vania menyodorkan segelas pada Tristan. Satu senyuman licik terbit di wajah cantiknya.
Tanpa curiga Tristan menerimanya begitu saja.
"Tinggal sedikit lagi ..."
Perempuan itu tertawa culas di dalam hati ketika melihat gelas itu hampir sampai di mulut sang target.
.......
Suasana canggung begitu terasa di dalam mobil yang ditumpangi Stela, di sampingnya Rafa fokus menyetir tanpa suara.
Stela meremas jemarinya yang berada di atas paha, gelisah. Dia sungguh merasa tak enak kala mengingat kejadian di taman bunga sore tadi.
Stela terbelalak saat wajah Rafa mendekat, mata pria itu terpejam seiring jarak yang kian terkikis. Sedetik lagi dua benda kenyal itu akan bertemu, tapi Stela dengan cepat mendorong tubuh Rafa menjauh darinya.
"Maaf, Mas." Stela mundur selangkah, wajahnya ditolehkan ke samping. Saat ini ia merasa bingung.
Rafa tercenung, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Stela akan menolaknya, mengingat kedekatan yang sudah terjalin di antara mereka beberapa minggu ini. Apakah dia terlalu cepat?
"A-aku yang seharusnya minta maaf. Maaf karena telah mengejutkanmu dengan pengakuanku yang tiba-tiba ini," lirih Rafa.
Stela memutar kepalanya, menatap Rafa yang berujar lirih.
__ADS_1
DEG
Perasaan tak enak menyergap hati Stela tatkala kedua matanya menangkap raut kecewa yang diperlihatkan oleh Rafa. Apakah ia menyakiti pria itu?
"Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum malam datang," ajak Rafa tanpa mau menatap Stela. Pria itu langsung berjalan keluar dari taman.
Selama perjalanan menuju gerbang mall, tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka. Rafa sibuk menenangkan hati yang patah karena penolakan sementara Stela sibuk memikirkan kesalahan yang telah dilakukannya hingga membuat Rafa yang banyak bicara menjadi seseorang yang bisu seperti sekarang ini.
"Mas-"
"Sudah sampai." Rafa memotong ucapan Stela saat mobilnya sudah berhenti tepat di tempat di mana ia pernah mengantarkan gadis itu sebelumnya.
"Mas ..."
Stela akan kembali berucap, namun lagi-lagi terhenti saat pria yang ingin diajaknya bicara keluar begitu saja dari dalam mobil. Berlari memutari badan depan mobil dan membukakan pintu untuknya.
Walau tanpa sepatah kata yang terucap, Rafa tetap memperlakukan Stela dengan sangat baik. Hal ini semakin membuat perasaan bersalah menumpuk di hati gadis itu.
"Terima kasih Mas," ucap Stela setelah dirinya keluar dari dalam mobil. Suaranya sedikit bergetar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku pulang dulu, sampai jumpa." Setelah mengucapkan salam perpisahan, Rafa kembali menaiki mobilnya. Menjalankan kendaraan beroda empat itu dengan perlahan, meninggalkan tubuh Stela yang mematung menatap ke arah mobil yang sudah menjauh.
Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya terjatuh satu persatu. Entah apa yang ia rasakan, namun satu yang pasti saat ini ia merasa kehilangan Rafa yang biasa. Stela sama sekali tidak mengerti dengan dirinya, saat Rafa menyatakan perasaannya, pikiran Stela saat itu tiba-tiba saja blank. Ia bingung, sungguh. Berada di situasi itu untuk pertama kalinya membuat ia tidak tau harus merespon seperti apa, hingga ia reflek mendorong tubuh Rafa menjauh darinya ketika pria itu ingin menciumnya. Itu murni respon tubuhnya yang belum terbiasa, bukan maksud hatinya melakukan hal yang ternyata melukai hati pria itu. Sekarang apa yang harus ia laukukan?
Minta maaf?
Sudah ia lakukan.
Akan ia coba, nanti.
Dengan lesu Stela berjalan menuju gedung apartemen Tristan, wajahnya ditekuk ke bawah, memperhatikan jalanan sehingga tak sengaja ia malah menabrak seseorang di pintu masuk.
"Oh my God!" Stela memekik, terkejut saat tubuhnya terdorong ke belakang karena telah menabrak seseorang yang sepertinya memiliki badan besar.
"Kau tidak apa-apa, Stela?" tanya orang itu setelah menahan tubuh Stela yang hampir saja jatuh.
Stela mendongak dan menemukan wajah tampan Tristan tepat di depan wajahnya.
"Kak Tristan?" Setelah tersadar, buru-buru Stela berdiri dengan benar dan sedikit memberi jarak antara tubuhnya dan Tristan.
"Baru pulang?" tanya Tristan.
"I-iya, kau juga?" tanya Stela gugup, mengingat kembali posisi mereka yang cukup dekat tadi.
"Hm." Pria itu hanya mengangguk. "Ayo masuk!" ajaknya kemudian.
Stela mengangguk dan kemudian mengikuti langkah Tristan yang sudah terlebih dahulu berjalan di depannya.
"Ela!"
Stela berhenti berjalan saat seseorang meneriaki namanya. Jantungnya langsung berdetak cepat saat menyadari suara siapa yang baru saja memanggilnya. Ia melihat ke depan, Tristan turut berhenti bahkan saat ini pria itu sudah menghadap si pemanggil.
"Bagaimana ini?" Stela menelan salivanya susah payah.
__ADS_1
"Rafandra ..." Lagi-lagi Tristan mendesiskan nama itu saat perjumpaan mereka.
Dengan tubuh bergetar, Stela membalikkan badan dan mendapati Rafa sudah berdiri dengan jarak sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri.
"Mas?" ucapnya terbata. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis Stela.
Rafa berjalan menghampiri Stela, ditangannya ada sling bag gadis itu yang tadi lupa dibawanya. Ia hanya ingin mengembalikan itu, namun ... apa yang saat ini ia temukan? Stela bersama dengan Tristan, di dalam satu gedung yang sama.
"Tasmu ketinggalan." Setelah sampai tepat di depan Stela, Rafa menyerahkan tas Stela kembali pada pemiliknya.
"Te-terima kasih, Mas." Jantung Stela semakin bertalu-talu saat ia melihat tatapan Rafa mengarah pada objek di belakangnya, siapa lagi kalau bukan Tristan yang saat ini sedang berjalan mendekati keduanya.
"Tamat riwayatmu, Ela. Mas Rafa akan tahu jika selama ini kau tinggal dengan kak Tristan ..." Stela mengerang frustasi di dalam hati.
"Ayo, kita masuk!" Tristan meraih satu tangan Stela dan menariknya pergi tanpa izin.
DEG
Stela hanya pasrah saat Tristan menarik tubuhnya, namun itu tak berlangsung lama saat satu tangannya yang bebas di tahan oleh Rafa.
"Lepaskan dia!" pinta suara tegas sang pengacara.
DEG
Kini tangan Stela dikuasai oleh dua pria itu. Tristan menarik tangan kirinya sementara Rafa menahan tangan kanannya.
"Kau yang lepaskan dia!" protes Tristan tak mau kalah. Ia menarik tangan Stela agar semakin dekat dengannya.
"Kau yang lepaskan! Apa hakmu sehingga dengan lancang kau menarik tangan Ela untuk ikut bersamamu?" tanya Rafa dengan suara penuh penekanan dan raut wajah menahan amarah.
Tristan tak menjawab, namun rahangnya semakin mengetat mendengar pertanyaan Rafa.
"Bukan urusanmu, sekarang lepaskan Stela!" kata Tristan tegas. Ia semakin memegang erat tangan Stela dan sesekali menariknya agar terlepas dari pegangan Rafa.
"Tidak akan!" Rafa pun semakin menggenggam erat pergelangan tangan Stela agar tak terlepas darinya.
Tanpa mereka berdua sadari jika Stela saat ini sudah menitikkan air mata karena pertikaian yang terjadi dan juga karena tangannya yang terasa begitu sakit saat ditarik-tarik dengan kasar oleh keduanya.
Tristan dan Rafa saling melemparkan tatapan membunuh mereka. Tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah dan melepaskan tangan Stela.
Sampai ketika ...
"WHAT THE HELL ARE YOU DOING TO MY PRINCESS?"
Stela terkejut setengah mati begitu mengenali suara teriakan bass itu.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers.....
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1