BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Status


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Gadis yang tengah berbaring di ranjang queensize itu tak henti tersenyum, pipinya merona kala mengingat kejadian yang terjadi di bandara beberapa jam yang lalu. Pria yang ia cintai, mengecup keningnya dan membisikkan kata-kata yang membuat buncahan bahagia memenuhi hatinya.


"Come back soon. I'm waiting for you."


Anne-gadis itu- kembali tersenyum kala rentetan kata mesra terngiang lagi di telinganya.


"Oh God, apa ini mimpi?" Anne masih belum percaya pada apa yang dialaminya.


Awwww


Ia menjerit saat merasakan tarikan cukup kuat di pipinya. Saat ini pelakunya sedang terkikik senang setelah membuat dirinya kesakitan.


"Sakit?" Stela yang menjadi pelaku, bertanya dengan wajah polos tanpa dosa.


"Sakit El, kenapa kakak dicubit, sih?" Anne memelas sembari mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah.


"Aku hanya ingin membuktikan jika ini bukan mimpi," jawab Stela. Gadis itu melompat ke kasur dan langsung merebahkan tubuh penatnya.


Anne memiringkan tubuh ke arah sang adik. "Kenapa dia bisa berubah begitu?" Ia bertanya pada Stela.


Stela menggeleng, sama sekali tidak mengetahui perihal campur tangan Tristan terhadap perubahan sikap Sebastian. "Mungkin dia sudah sadar." Begitu jawabnya.


Anne terdiam, meski belum puas, ia hanya bisa menyimpan sendiri rasa penasarannya. Biarlah nanti ia dapatkan jawabannya dari Sebastian langsung. Hah... untuk itu ia sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu sang pujaan hati.


... ....


Fara menatap dua orang yang berada di depan sana dengan pandangan sedih. Sepulang dari acara konferensi tadi, Vania mengamuk. Ia menghancurkan semua barang yang ada di apartemennya. Wanita itu menjerit histeris, meraung-raung seperti orang yang sudah hilang kewarasan. Fara saja sampai ngeri melihatnya hingga ia harus menghubungi seseorang untuk bisa menjinakkan Vania.


Orang itu adalah Evan, sebenarnya Fara tidak tahu harus menghubungi siapa, tak mungkin ia menelpon orang tua Vania dan mengatakan jika sang anak sedang menggila, bisa-bisa pasangan paruh baya itu langsung memasukkan modelnya ke rumah sakit jiwa.


Dari awal, kedua orang tua Vania memang tidak mengizinkan putri mereka terjun ke dunia modelling, mereka menganggap jika dunia itu penuh dengan intrik, skandal dan hal-hal buruk lainnya yang berpotensi untuk mempermalukan keluarga. And see, sekarang semua media pasti sedang membicarakan putri sulung Hermawan itu. Entah bagaimana pendapat keluarganya setelah mendengar hasil konferensi tadi, yang jelas Fara sangsi jika karir permodelan Vania bisa berlanjut.


"Aku akan memberitahu pada ayah dan ibu."


Fara tersentak saat tiba-tiba suara berat Evan memasuki gendang telinganya. Bahkan kini pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya, entah sejak kapan, mungkin sejak Fara bermenung ria.


"Apa?" tanya Fara. Tadi ia tidak begitu mendengar apa yang diucapkan si pria.


"Aku akan memberitahukan keadaan Vania pada ayah dan ibu," ulangnya.


"Jangan!" pinta Fara.


"Kenapa? Mereka harus tahu bagaimana kondisi Vania saat ini. Lagi pula cepat atau lambat mereka juga akan tahu dari berita yang beredar di media massa."


Fara terdiam, apa yang dikatakan Evan memang benar. Kali ini ia pasrah, menyerahkan semua urusan Vania kepada Evan.


"Baiklah kalau itu yang terbaik."


"Hm, aku akan pergi sebentar. Aku titip Vania. Jika terjadi sesuatu padanya segera hubungi aku."


"Ya."


...🌻 🌻 🌻...


Hari ini, latihan Stela dan Tristan kembali berlanjut, acara pekan mode hanya tinggal menghitung hari lagi saja.


Semua gerak dasar bagi seorang model yang akan berjalan di catwalk sudah dikuasai oleh pasangan kekasih—Stela dan Tristan. Hal itu tentu saja berkat arahan dan pengajaran dari Stev, pelatih catwalk ternama yang juga memiliki agensi modelling sendiri.


"Sekarang kalian akan berjalan dengan diiringi oleh musik," ucap Stev.

__ADS_1


Selang berapa lama, musik yang biasa dimainkan saat peragaan busana langsung terdengar.


"Stela, kau mulai terlebih dahulu!" perintahnya.


Stela menghirup napas dalam lalu mengeluarkannya, mencoba rileks agar gerakan yang dilakukannya tidak menjadi kaku.


Step


Gadis itu mulai melangkah, menapaki runaway dengan gerakan sedikit kaku.


"Feel the music, Stela!" sorak Stev.


Stela memejamkan sejenak kedua netra birunya. Sekali lagi ia mencoba merilekskan tubuh dan juga pikiran. Alunan musik yang menggema ia coba untuk masuk dan hanyut di dalamnya.


"Aku pasti bisa." Ia mensugesti dirinya.


Step


Kembali kaki jenjang itu melangkah. Kali ini terlihat lebih baik dari sebelumnya. Gerakan Stela sudah mulai menyatu dengan alunan musik yang mengiringi.


Stela sudah melakukan beberapa pose, kini ia sudah kembali ke tempat semula. Stev datang menghampirinya.


"Stela, saat berjalan, usahakan agar tidak tersenyum." Stev memberitahu, karena sedari tadi ia melihat gadis itu tak henti tersenyum saat berjalan.


"Eh, kalau tidak tersenyum, lalu aku harus bagaimana?" tanya Stela bingung.


"Wajahmu harus datar, kalau bisa tampilkanlah ekspresi angkuh dan membunuh!" jelasnya


"Huh? Ekspresi macam apa itu? Bagaimana cara melakukannya?" Stela semakin dibuat bingung dengan pembelajarannya kali ini.


"Kau bisa sedikit menurunkan dagu dan mengangkat matamu, begitu caranya."


"Sekarang giliranmu, Tristan!" tunjuk Stev setelah Stela selesai dengan latihan ekspresinya.


Tristan, pria itu tak usah diragukan lagi kualitas modellingnya. Wajah datar dan dinginnya sukses membuat Stev berdecak kagum.


"Bagus!"


Kini Stela dan Tristan berdiri berdampingan, sementara Stev ada di hadapan mereka.


"Kalian tahu kenapa model catwalk dilarang tersenyum?" tanya Stev.


Stela dan Tristan menggeleng tanda mereka tidak mengetahui jawabannya. Jujur saja, Tristan sebenarnya tahu apa jawaban dari pertanyaan Stev, cuma dia malas menjawabnya.


"Mereka dilarang tersenyum agar penonton fokus memperhatikan baju yang sedang diperagakan bukan malah wajah yang mempergakan baju tersebut," jelasnya.


Stela mengangguk paham, begitu juga Tristan.


"Nah, sekarang kalian akan berjalan bergantian. Stela yang pertama dan Tristan setelahnya!"


.... ...


"Mana modelmu yang satu lagi?" tanya William setelah dirinya dan Anne selesai dengan urusan pekerjaan. Saat ini mereka duduk di sebuah meja yang ada di sudut studio milik Stev, turut memperhatikan jalannya latihan Tristan dan Stela.


"Mengundurkan diri," balasnya cuek.


"Memangnya siapa modelmu itu?"


"Vania Hermawan."


"Oh... aku melihat beritanya tadi pagi. Sangat memalukan, pantas saja dia mengundurkan diri."

__ADS_1


"Bisa jadi," angguk Anne. Entahlah... dia tidak terlalu memikirkan wanita itu. Satu model saja sudah cukup untuknya. Awalnya Anne akan memberikan pembalasan untuk Vania saat pementasan nanti, tapi karena si sombong itu terlanjur mengundurkan diri, apa boleh buat, toh dia juga sudah mendapatkan balasannya yaitu dipermalukan.


"Pria kemarin, kekasihmu?" celetuk William tiba-tiba. Ia masih ingat betul saat di bandara, seorang pria berambut perak yang diketahuinya bernama Sebastian, mengecup mesra kening Anne.


Anne menoleh, menatap William bingung. Ia sendiri tidak tahu mau menjawab apa, dibilang kekasih, rasanya mereka belum membicarakannya. Lalu apa nama hubungan itu. Ia menggeleng pelan.


"Dia pria yang kau cintai?" tanya William lagi. Ia melihat jika dua orang itu sama-sama memiliki perasaan khusus dari cara melihat satu sama lain.


Kali ini gadis itu mengangguk.


William jadi mengingat sesuatu setelah mendapat anggukan Anne. Ia kemudian terkekeh pelan. "Jadi dia ya, yang membuatmu tidak pernah membalas perasaanku?"


Deg


Anne tersentak, ia menoleh cepat dan mendapati wajah William yang tersenyum. Apa pria itu sudah tidak menyukainya lagi sehingga bisa mengatakannya sambil tersenyum?


"Kenapa?" Melihat ekspresi yang ditunjukkan Anne, William menjadi heran.


"Ah... tidak apa-apa." Anne menggeleng. Ia canggung untuk menanyakan apakah pria itu masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu padanya atau tidak.


William tahu apa yang saat ini tengah dipikirkan Anne.


"Ann, kau tenang saja. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu."


"Apa? Bersalah? Kenapa aku harus merasa bersalah?" Anne terkejut saat mendengar perkataan William, jadi pria itu tahu apa yang sedang ia pikirkan.


"Karena tidak bisa membalas perasaanku, mungkin." Pria itu menjawab santai.


Anne menundukkan kepala. "Maafkan aku," ucapnya kemudian.


"Tenang saja, aku sekarang sudah bahagia bersama wanita yang aku cintai."


Anne langsung mengangkat kepala mendengar ucapan sahabatnya kali ini. "Benarkah?" tanyanya yang dibalas anggukkan pasti oleh William.


Pria itu kemudian mengangkat sebelah tangannya dan memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis. "Kami sudah bertunangan."


Mata Anne melotot. "Bertunangan dan kau tidak mengabariku?"


"Sorry." William menangkup kedua tangan di depan wajahnya.


Anne menghela napas. Sejak pertama bertemu memang ia sudah memperhatikan cincin di jari manis William, tapi karena jemari pria itu memang selalu dipenuhi oleh beraneka jenis cincin ia jadi tidak menyangka jika itu ternyata adalah cincin tunangan.


"Ok. Siapa wanita itu?" lanjutnya penasaran.


William tersenyum. Ia memutar kepala dan kemudian menunjuk Stev yang berada jauh di sana.


Deg


"Willy... yang aku tanya itu siapa wanitanya dan kenapa kau malah menunjuk Stev?" cicit Anne was-was. Ia takut apa yang ada di dalam kepalanya kini adalah kenyataan.


William tertawa melihat reaksi Anne. Ia tahu saat ini gadis itu tengah kebingungan karena setahunya Stev adalah sahabatnya dan juga seorang pria.


"Stev adalah tunanganku, kau bisa lihat cincin yang ada di jarinya. Itu sepasang dengan milikku."


JDEERR


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2