
...🌻Selamat Membaca🌻...
Vania menggeram kesal menatap wanita di depannya yang sedang membacakan jadwal pemotretan dirinya untuk besok. Managernya sudah menggagalkan rencananya untuk mendapatkan Tristan malam ini karena datang di saat yang tidak tepat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mendengar apa yang aku ucapkan?" tanya Fara jengah karena sedari tadi tatapan menghunus tajam bak samurai itu terus dilayangkan Vania padanya.
"Kau tahu, karena kedatanganmu Tristan jadi pergi sebelum sempat meminum minuman yang sudah ku siapkan," desis perempuan itu murka.
"Kau ingin menjebaknya?" Mata Fara memicing curiga menatap Vania yang masih menampilkan raut penuh amarahnya.
"Bukan urusanmu."
"Jelas ini menjadi urusanku, karirmu saat ini sedang bagus Vania. Jangan membuat masalah yang nantinya akan membuat apa yang sudah kau perjuangkan selama ini menjadi sia-sia," peringat Fara.
"Kau lupa siapa aku, hm?" Vania menyeringai mengerikan. "Aku Vania Hermawan, selama ini apa yang aku inginkan, pasti akan aku dapatkan, baik dengan cara yang benar maupun bermain licik," lanjutnya.
Fara mengangguk malas, "Ya, dan kau sering bermain licik tentunya," jawab wanita dengan rambut dicepol dua itu di dalam hati. Sebenarnya, ia tak habis pikir kenapa ia harus memanegeri seorang model ambisius seperti Vania, wanita itu sangat manipulatif dan tak jarang membuatnya sakit kepala dengan tingkah seenaknya. Kalau bukan karena Vania adalah adik sepupu dari suaminya, Fara sudah mundur dari pekerjaannya ini sejak lama. Sangat merepotkan mengurus wanita penuh obsesi itu, sungguh.
.... ...
Dua pria dengan wajah menawan itu kini duduk saling berhadapan. Secangkir kopi berada di depan masing-masing, menemani malam yang sepertinya akan panjang ini.
"Apa kabar?" tanya Rafa setelah menaruh kembali cangkir kopi yang sempat ia sesap isinya.
"Seperti yang kau lihat," jawab Tristan datar.
"Ada hubungan apa kau dengan Stela?" Sudah lama pertanyaan ini bercokol di hati Rafa, dan kini akhirnya ia punya kesempatan juga untuk menuntaskan rasa penasarannya itu.
Tristan menyeringai tipis, ia akan mencoba memanas-manasi musuh masa sekolahnya ini, hitung-hitung balas dendam yang tak pernah kesampaian. Tristan bisa melihat dengan jelas jika Rafa tertarik pada Stela dan Tristan sangat benci mengetahui fakta itu, kenapa harus Stela? Dan kenapa harus Rafa? Kenapa harus mereka? Arghhh ... membuatnya kesal saja.
"Kami tinggal bersama."
Rasakan! Tristan tertawa puas, di dalam hati tentu saja, saat melihat wajah terkejut Rafa setelah mendengar jawabannya. Semua orang pasti berpikir aneh jika dua orang berlainan jenis tinggal seatap, satu pertanyaan yang muncul pastilah ...
"Hubungan apa yang kalian jalin sehingga memutuskan untuk tinggal satu atap?"
Ya..., setelah berupaya mengatasi keterkejutannya, Rafa kembali bertanya. Ia tak akan puas dengan jawaban ambigu Tristan barusan.
Tristan tersenyum puas melihat reaksi Rafa, walau pembawaan pria itu terlihat tenang, namun Tristan yakin jika saat ini pria itu hatinya tengah ketar-ketir.
"Kami-,"
.......
"WHAT?/APA?"
Stela semakin menunduk dalam, ia sudah menceritakan semuanya kepada dua paruh baya di depannya yang masih terlihat cantik dan gagah diusia yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Ya, mereka adalah Anthony dan Ambar yang akhirnya berhasil menemukan sang putri tersayang yang kabur ke negera seribu palau . Saat ini mereka berada di sebuah cafe terdekat.
"So, now you live with that poker face guy, Darling?" tanya Anthony memastikan sekali lagi jika sang putri benar-benar tinggal dengan pria bertampang datar yang tadi telah menarik-narik dengan lancang tangan mulus dan lembut putrinya. Ia sungguh tak percaya.
__ADS_1
"Yes Daddy."
"Ela." Kini Ambar yang mulai membuka suara. Dia meraih kedua tangan Ela dan mengelusnya lembut, tepat pada sepasang pergelangan tangan Ela yang memerah bekas genggaman dua pria tadi.
"Kenapa sayang, kenapa kau kabur?" tanya Ambar penuh kasih sayang.
"Aku tidak mau dijodohkan, Mom. Aku dengar daddy ingin menjodohkanku dengan anak temannya dan aku tidak mau. Oleh karena itu aku memilih kabur," jelas Stela. Ambar langsung mendelik kesal ke arah sang suami, kalau bukan karena rencana perjodohan bodoh itu, Ela tidak akan kabur dari rumah.
"Baby, you should know that your arranged match is-,"
"No Dad, No. I don't wanna know who is he because I will never accept that arranged marriege ever," putus Ela mutlak.
"Mom, katakan pada daddy kalau aku tidak mau dijodohkan. Aku masih kecil Mom dan aku masih ingin menikmati masa-masa remajaku ini," pinta Stela pada sang ibu.
"Kecil apa? Buktinya kau sudah bisa tinggal berdua dengan seorang pria di dalam satu rumah." Anthony mendumel pelan dan itu masih dapat didengar oleh dua manusia di sana.
"Shut up Anthony, or I will cut your tongue!" desis Ambar tajam. Ia baru saja bertemu dengan Stela yang sudah hilang sekian lama dan Ambar tak ingin lagi berpisah dengan putrinya karena ulah suaminya itu.
"Ok fine, I won't interfere." Anthony menyerah, ia bangkit dan pergi meninggalkan dua perempuan kesayangannya itu.
"Mom, daddy merajuk?"
"Biarkan saja pria tua itu, sekarang kau duduk di sini di dekat mommy! Mommy miss you so much princess."
Stela langsung menuruti permintaan sang ibu, ia duduk di tempat yang tadi diduduki Anthony dan mereka berpelukan selanjutnya. Pelukan rindu karena sudah lama tak berjumpa.
"I miss you too Mommy," kata Stela manja seraya menyurukkan kepalanya di ceruk leher wanita yang telah melahirkannya itu.
.......
"I'm Auristela father, Anthony Knight." Anthony memperkenalkan diri setelah membuat suasana tegang cukup lama. Ya, Anthony pergi meninggalkan dua bidadarinya untuk bertemu dengan dua cecunguk yang telah menyakiti sang putri.
"Auristela?" Rafa dan Tristan berucap bersamaan, ada nada heran di dalam suara mereka berdua. Siapa Auristela?
"I mean Stela, she is my youngest daughter and both of you ... made my angel cry."
GLUP
Tristan dan Rafa menelan ludah gugup. Jujur mereka memang salah, karena perdebatan itu tanpa sadar telah membuat Stela terluka dan menangis. Sungguh, mereka tidak bermaksud untuk itu.
"I'm sorry for my impudence, Sir." Rafa bersuara terlebih dahulu.
"I regret that I hurted your daughter, Sir." Tristan ikut menambahkan.
Anthony tersenyum di dalam hati, ternyata dua pria ini tidak terlalu buruk, pikirnya.
"Saya sudah mendengar semuanya dari Ela, Kau Tristan Gautama ..." Anthony menatap Tristan tajam, yang ditatap mulai gugup luar biasa. "Terima kasih karena sudah bersedia menampung putriku di tempatmu. Kalau tidak ada kau mungkin saja saat ini anak nakal itu entah bernasib seperti apa," ucapnya. Tristan yang mendengarnya begitu lega. Ia pikir pria bule yang berstatus ayah dari Stela itu akan memarahi atau bahkan memukulnya, tapi ternyata itu hanyalah pikiran negatifnya saja, syukurlah.
"Tidak masalah Paman, sudah seharusnya kita sesama manusia saling membantu," jawab Tristan. Bullshit, saling membantu? yang ada dia malah menjadikan Stela sebagai pembantu di apartemennya.
__ADS_1
"Kau memang pria yang baik," puji Anthony sambil menepuk-nepuk pundak lebar Tristan.
"Terima kasih, Paman."
Tristan kemudian melirik ke arah Rafa, pria yang berprofesi sebagai model itu menyeringai puas, haha ... entah kenapa ia merasa unggul kali ini dibandingkan pengacara sok hebat itu.. Heii ... ayolah, dipuji di depan saingan sendiri, tentunya dia merasa bangga.
Rafa berdecih pelan melihat tingkah memuakkan Tristan, bisa sekali pria itu mencari muka di hadapan ayahnya Stela. Sialan memang.
Kini Anthony beralih menatap Rafa. "Kau siapanya putriku?" tanya pria pirang itu.
"Saya Rafandra, temannya putri anda, Paman." Rafa memperkenalkan diri.
"Oh I see, bertemu Ela di mana? Kau teman kerjanya?" tanya Anthony ingin tahu.
"Kami bertemu di toko bunga tempat Stela bekerja Paman, kebetulan toko itu milik kakak ipar saya," jawabnya.
"By the way, Apa pekerjaanmu," tanya Anthony lagi.
"Saya seorang pengacara Paman."
"That's great, oh ya ... saya punya adik ipar yang saat ini sedang membutuhkan seorang pengacara untuk perusahaannya," kata Anthony. Ia kemudian mengeluarkan secarik kartu nama dari dalam saku jasnya. "Ini." Ia menyodorkannya ke hadapan Rafa. "Jika tertarik kau bisa menghubungi nomer ini, Ari Wijaya. Dia adalah adik dari mommy-nya Stela," lanjut Anthony.
"Terima kasih banyak, Paman." Rafa sedikit membungkuk hormat.
Kini Anthony kembali mengarah pada Tristan. "Kalau kau, apa pekerjaanmu?" tanyanya. Entah untuk apa tujuan Anthony menanyakan pekerjaan dua orang itu.
Rafa terkikik, haha ... seorang model? Apa yang bisa dibanggakan dari profesi itu? Tidak ada, hanya bisa menjual tampan rupawan saja.
"Saya seorang model, Paman."
Tristan menjawab dengan penuh percaya diri. Ayolah, wanita mana yang tidak suka dengan pria tampan, tapi sayangnya ayah Stela bukanlah wanita.
"Oh, model." Reaksi Anthony tak terlalu antusias seperti saat Rafa menyebut pekerjaannya tadi. "Profesi model tidak selalu menjamin kehidupan kita ke depannya, sebaiknya kau punya pekerjaan sampingan selain menjadi model." Anthony memberi saran.
"Saya punya usaha Paman, saya memiliki beberapa cabang restoran dan juga cafe di Jakarta, Bandung dan Surabaya," beritahu Tristan. Bukannya ingin pamer, hanya saja ada sesuatu di dalam diri Tristan yang membuatnya ingin terlihat pantas di mata ayah Stela.
"Wow , amazing. Kau masih muda dan sudah memiliki usaha sendiri. Hebat!" Sudah dua kali Tristan dipuji dan itu membuat dirinya serasa terbang ke atas awan. Apalagi setelah melihat wajah tidak senang Rafa, dua kali lipat rasa bahagianya.
Tristan sadar jika profesi model itu tidak akan selalu menjamin kehidupannya ke depan, jadi sejak dirinya mulai merintis karir menjadi model delapan tahun yang lalu, dia sudah mulai mengumpulkan pundi-pundi uang dari hasil pemotretannya yang nanti akan digunakan untuk membangun usahanya sendiri. Jadi pantas dong kalau dirinya bangga dan berpuas diri.
"Kalau Paman sendiri bekerja sebagai apa? Maaf kalau pertanyaan saya lancang," tanya Rafa mengalihkan topik. Sebenarnya ia sudah benar-benar muak melihat wajah mengejek Tristan yang ditunjukkan padanya.
"Never mind. I am NEET," ucap Anthony enteng.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
...🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...