BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Dengki


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Jovanka mendekati Tristan yang sedang istirahat setelah menyelesaikan sesi pemotretannya.


"Ku dengar kemarin kau pergi bersama dengan Vania," kata Jovanka.


"Hm ..." Tristan berdehem mengiyakan. Saat ini dirinya tengah sibuk dengan ponsel pintar di tangan.


Jovanka yang merasa kesal karena diabaikan memilih mengintip apa yang tengah dikerjakan sahabatnya itu.


"Aku sudah pernah mengatakan padamu jika Vania itu bukan wanita yang cocok untukmu. Dia bermuka dua, lain di depan lain di belakang, sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya, aku takut jika nanti akan menimbulkan skandal yang akan merugikan dirimu sendiri." Jovanka yang melihat jika saat ini Tristan tengah berbalas pesan dengan Vania mencoba untuk memberi peringatan pada model yang dimanagerinya itu.


Bukannya mendengarkan apa yang Jovanka ucapkan, Tristan malah bangkit berdiri saat ponselnya berdering tanda ada telpon masuk, Jovanka sempat melihat jika yang menelpon itu adalah Vania.


"Aku sudah memperingatkanmu, semoga kau tidak menyesal." Hanya itu yang bisa Jovanka harapkan.


Tak lama kemudian, ponsel Jovanka juga berdeirng. Kekasihnya Gara menelepon.


"Aku akan kesana sekarang, tunggu aku!" ucapnya setelah mendengar perkataan seseorang di seberang sana.


.......


"Maaf tuan, kami kehilangan jejak nona. Kami sudah berdiri di depan apartemen itu sejak pagi buta, tapi karena keteledoran kami, nona luput dari pantauan kami." Anak buah Ari tertunduk menyesal karena menyampaikan berita yang mengecewkan.


"Toko bunganya?" tanya Ambar yang juga berada disana bersama suaminya.


"Toko bunga itu hari ini tutup, Nyonya," jawab salah seorang bawahan Ari yang lainnya.


"Sekarang kalian pergi, tetap berjaga di depan apartemen itu dan laporkan perkembangannya setiap saat!" titah Ari.


"Baik, Tuan." Para bawahan itu mengangguk patuh dan segera mengundurkan diri untuk kembali ke posisi masing-masing.


"Kapan aku bisa bertemu dengan Ela-ku?" lirih Ambar lesu.


"Sabar Honey." Anthony hanya bisa memeluk sang istri, memberikan semangat.


... ....


Jovanka memasuki restoran bersama kekasihnya, Gara. Mereka akan makan siang bersama. Baru kakinya selangkah melewati pintu, matanya langsung menangkap pemandangan yang membuatnya menghela napas lelah.


"Kau kenapa, sayang?" tanya Gara setelah melihat ekspresi yang tak biasa ditunjukkan oleh gadisnya.


Jovanka mendengus, lalu dengan malas ia menunjuk ke satu meja yang ada di dalam restoran dimana Tristan dan Vania duduk menikmati makan siang mereka.

__ADS_1


"Ada apa dengan mereka?" tanya Gara heran. Menurutnya tak ada salahnya melihat dua orang makan bersama.


"Aku tidak suka melihat Tristan dan wanita itu terlalu dekat," jawabnya.


"Sebelum kita mendengar alasanmu, alangkah baiknya jika kita masuk dan cari tempat. Tidak baik kita terus berdiri di pintu masuk seperti ini," ajak Gara.


"Ya sudah ..." Jovanka berjalan mendahului Gara. Ia sengaja memilih tempat dekat dengan pasangan yang terlihat berbincang hangat itu.


"Hai," sapa Jovanka begitu sampai di mejanya yang memang bersebelahan dengan tempat Tristan. Perempuan itu tersenyum ramah walau sebenarnya dalam hati mengumpat kesal melihat wajah polos memuakkan Vania.


"Hai Jo," sapa Vania balik. Wanita itu terlihat sok akrab dan Jovanka benci itu.


Jovanka tersenyum sinis dan kemudian melengos duduk di bangkunya.


Tristan dan Vania masih sibuk menikmati makan mereka sambil berbincang, sedang Jovanka terus melirik kesal ke arah mereka.


"Kau kenapa? Ada yang salah dengan kedekatan mereka? Kau tidak sedang cemburu, kan?" selidik Gara.


"Cemburu? Pada Tristan? Yang benar saja, dia itu sahabatku. Aku dan dia murni berteman," jelas Jovanka.


"Lalu kenapa kau terlihat kesal begitu?"


"Aku tidak suka dengan wanita itu." Mata Jovanka melirik Vania yang tengah tersenyum malu-malu di hadapan Tristan, ia mual melihatnya.


"Dia bermuka dua, lain di depan lain di belakang. Aku sangat membenci orang dengan sifat seperti itu dan juga, aku banyak mendengar kabar miring mengenai dirinya," beritahu Jovanka secara gamblang. "Kau tahu, ku dengar kabarnya dia itu sering tidur dengan pengusaha-pengusaha kaya," bisiknya pelan, takut kalau orang yang bersangkutan mendengarnya.


Gara melotot, ia terkejut, sungguh. Rasanya tak percaya jika model di bawah naungan agensinya yang terkenal pemalu dan lemah lembut itu bisa melakukan hal murahan seperti itu, ia masih tidak percaya.


Melihat reaski sang kekasih, sebuah pemikiran negatif terlintas di benak Jovanka. Ia mendekatkan wajahnya pada Gara kemudian mendesis pelan. "Kau tidak pernah tidur dengannya, kan?" tanya Jovanka bernada curiga.


Diungkit lagi masalah yang telah lalu itu membuat Gara tertunduk, rasa bersalah itu masih membayang.


"Sayang ... aku tahu aku salah. Dulu aku telah melukai hatimu karena tidur dengan para modelku, tapi sungguh ... aku tidak pernah melakukannya dengan Vania." Gara berkata jujur.


Jovanka menatap tajam ke mata Gara, berusaha mencari kebohongan di mata itu, tapi tak ia temukan. Ia yakin kekasihnya itu berkata jujur kali ini.


Memang Jovanka masih sangat sulit mempercayai Gara mengingat kesalahan yang telah dilakukan kekasihnya itu di masa lalu sangatlah fatal, tapi melihat perubahan Gara akhir-akhir ini membuat ia yakin untuk memberikan kesempatan. Teringat akan percakapan mereka tempo hari membuat Jovanka terkikik dalam hati.


"Aku mau tanya sesuatu padamu!" Jovanka memulai obrolan mereka siang itu tepatnya di ruang kerja Gara.


"Tanya apa, sayang?" Gara menatap lembut sang kekasih.


Jovanka sedikit berdehem, berusaha memantapkan hati untuk menanyakan pertanyaan sensitif ini. "A-apa kau masih tidur dengan wanita lain?" tanyanya.

__ADS_1


Gara terkejut mendengar pertanyaan itu, rasa bersalah pada dirinya kembali muncul, membuat matanya seketika meredup. "Percayalah, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang telah kau berikan ini. Aku sungguh mencintaimu, tak akan lagi aku berniat untuk mengkhianati cinta ini," jelas Gara menghiba membuat perempuan itu berkaca-kaca.


"Lalu bagaimana caramu menyalurkan hasrat seksualmu belakangan ini?" tanya Jovanka hati-hati.


Gara melotot, wajahnya memanas, sepertinya ia malu untuk menjawab pertanyaan yang satu ini.


"Gara?"


"A-aku ... bermain solo," ungkapnya malu-malu.


Jovanka ingin sekali tertawa setelah mendengar jawaban Gara, tapi urung ia lakukan karena ia merasa tak tega, Gara mau melakukan itu semua demi dirinya. Harusnya ia menghargai hal itu.


Jovanka meraih tangan Gara dan menggenggamnya lembut. "Terima kasih sayang, sudah mau berusaha demi aku."


"Sayang, kenapa melamun?" Gara menyentuh tangan kekasihnya yang berada di atas meja.


Perempuan itu terkesiap, ia sedikit melamun tadi. "Gara," panggil Jovanka.


"Apa?"


"Kau benar mencintaiku?" tanyanya.


Gara terkekeh. "Menurutmu?" godanya.


"Aku serius ..." Jovanka merajuk.


"Sayang, dengar! Dari dulu sampai sekarang dan selamanya, aku hanya mencintaimu."


Jovanla tersenyum. "Kau mau hubungan kita menuju tahap yang lebih serius lagi?" tanyanya.


"Tentu saja, kau lupa aku sudah melamarmu berulang kali dan kau menolaknya," balas Gara lesu.


"Sekarang aku mau."


Mata Vania memicing melihat pasangan di sampingnya. Jovanka, ya ... ia tahu jika perempuan itu menjalin hubungan dengan direktur sekaligus pemilik agensi tempatnya bernaung, Sagara. Entah kenapa, dirinya bisa melihat jika Jovanka tak menyukainya, perempuan itu selalu sinis jika menatapnya, apalagi jika dia sedang bersama Tristan. Hal itu membuat rasa benci muncul di hatinya pada sosok berambut pendek itu. Apalagi melihat kini perempuan itu tersenyum bahagia bersama kekasihnya, membuatnya iri dan tak suka.


...Bersambung...


...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......


...🙏🏻😊 ...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2