BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
You're Mine, I'm Yours


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Stela memperhatikan cincin itu dengan seksama. Punya siapakah gerangan cincin itu, pikirnya.


"Kau suka?" Tiba-tiba dari arah belakang Stela terdengar sebuah suara, itu Tristan.


"I-ini...?" Gadis itu terbata. Apakah cincin itu untuknya? Dari Tristan?


"Cincin kita. Tanda bahwa kita sudah terikat." Tristan menjawab.


Tunggu dulu? Tanda? Terikat? Apakah Tristan sedang melamarnya? Dia bingung.


"Kau melamarku?" Akhirnya ditanyakan Stela juga apa yang membuatnya bingung.


Tristan tersenyum. "Inginnya sih begitu. Melamarmu untuk menjadi istriku. Namun aku tahu jika kau masih muda, jalanmu masih panjang dan aku tidak mau jadi penghalangnya." Pria itu mengambil satu cincin di atas bunga Matahari, setelahnya meraih jemari di tangan kiri Stela.


"Cincin ini sebagai pengingat bahwasannya kau adalah milikku, sampai suatu saat nanti aku benar-benar bisa memiliki dirimu seutuhnya sebagai pendampingku di hadapan Tuhan." Tristan memasangkan cincin berdesaign serupa bunga Matahari itu tepat di jari manis lentik Stela.


Mata Stela berkaca-kaca, ia menatap haru cincin yang melingkar elok di jari manisnya. Ia sangat menyukai cincin itu dan ia sangat mencintai pria yang telah menyematkan cincin itu di jarinya.


"Kak Tristan." Stela rubuh di pelukan kekasihnya. Ia menangis haru di dada pria itu. "I love you. I love you."


Tristan tersenyum lantas mengusap kepala Stela sayang. "Love you too, Honey." Ia mengecup kening kekasihnya lama.


Beberapa saat kemudian, Tristan melepas pelukan. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi merah merona Stela. "Lakukan untukku juga!" pintanya.


"Hm." Stela mengangguk. Ia mengambil cincin satunya dan memasangkannya di jari manis tangan kiri Tristan.


"Now. You're mine, I'm yours."


Mereka saling berpandangan penuh cinta, senyum bahagia tercetak di bibir keduanya. Tak lama kemudian, kedua bibir itu bertautan. Lama...


"Aaaaaah.... aku bahagia." Tiba-tiba Tristan bersorak. Ia mengangkat tubuh Stela dan memutar-mutarnya. Gadis itu tertawa kegirangan. Ia memeluk leher Tristan erat.


...🌻 🌻 🌻...


Malamnya Tristan dan Stela baru sampai di penginapan. Wajah mereka berdua terlihat berseri-seri, persis seperti pasangan yang setiap harinya di mabuk cinta.


"Selamat malam," ucap Stela yang kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya, bersiap masuk.


Tristan menatap dalam pada mata Stela, seharian ini mereka selalu bersama dan rasanya tidak sanggup jika harus berpisah sedetik lagi saja.


Pria itu tersenyum paksa. "Selamat malam," jawabnya dengan berat hati.


Stela pun akhirnya membuka pintu dan masuk ke kamar miliknya. Setelah pintu tertutup, gadis itu jadi merasa kehilangan. Tak bisakah malam ini ia dan Tristan bersama saja?


Tiba-tiba dada Stela terasa sesak. Ia merindukan Tristan, padahal mereka baru beberapa detik yang lalu berpisah, tapi rasanya sudah begitu lama dan menyiksa. Tanpa banyak berpikir, Stela membuka kembali pintu kamar, sungguh... ia ingin bersama kekasihnya malam ini.


Deg


Mata berhias safir itu membola saat menemukan jika pria yang dirindukan masih berdiri di tempat yang sama, tempat di mana mereka berpisah beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Kenapa... keluar?" tanya Tristan tersendat. Ia sendiri memang belum memasuki kamar karena tidak sanggup berpisah dengan Stela, makanya ia sengaja berdiri hening di depan pintu kamar kekasihnya.


Stela menunduk sejenak, jantungnya kini berdebar tak karuan. Tak lama kemudian, ia mengangkat kepala dan menatap wajah tampan di hadapannya yang kini memandangnya sayu.


"Tak bisakah malam ini kita bersama saja?" lirih Stela mengucapkannya, namun masih dapat didengar jelas oleh Tristan karena memang kondisi lorong penginapan yang cukup sepi.


Tristan tersentak, tak menyangka jika apa yang ia rasakan persis sama seperti yang Stela rasa. Mereka menginginkan satu sama lain.


"Kak Tristan?" Stela menggigit bibir bawahnya resah. Wajahnya tertunduk, takut jika keinginannya di tolak oleh Tristan.


Tristan masih bergeming sebelum panggilan Stela kembali menyadarkannya. Dengan langkah cepat, ia mendesak tubuh Stela ke pintu kamar. Mem*gut bibir manis kekasihnya dengan tergesa. Stela tentu saja kaget, tapi tak lama karena setelahnya ia mulai hanyut dengan cumbuan Tristan di bibirnya.


Di lorong penginapan yang temaram, dua insan itu masih saling mem*gut. Menyalurkan semua rasa yang bergelayut di dada. Entah berapa menit, akhirnya dua tautan itu terlepas. Benang saliva terlihat mengkilat saat dua bibir itu terurai.


Napas keduanya memburu, saling menghirup udara dengan rakus demi memenuhi kembali pasokan oksigen yang sempat menipis.


Tristan dan Stela saling berpandangan setelah keduanya mendapatkan pernapasan yang normal. Pancaran mata mereka berdua jelas menyiratkan cinta yang tengah menggebu.


"Mau... menghabiskan malam ini, denganku?" Tristan berbisik, suaranya terdengar berat.


Jantung Stela semakin berdentum hebat, pipinya terasa hangat. Dengan malu-malu, ia mengangguk pelan.


.... ...


Tristan duduk gelisah di atas futon yang sudah ia hamparkan di atas lantai kamar yang terbuat dari tatami. Saat ini Stela tengah membersihkan diri di kamar mandi sementara ia sendiri sudah melakukannya sebelum Stela.


Cklek


Tristan meneguk ludahnya susah payah. Penampilan Stela malam ini begitu cantik dan juga menggoda. Bayangkan saja, gadis itu hanya menggunakan kimono, entah di dalamnya ada pakaian lagi atau tidak, ia kurang tahu. Selain itu, rambut Stela digelung dan disanggul menggunakan kanzashi sederhana berbahan kayu, sehingga leher putih jenjang itu terekspos sempurna.


Stela berjalan gugup menghampiri Tristan. Sampai di sana, ia duduk tepat di samping si pria. Keheningan terjadi beberapa saat sampai suara dehaman keluar dari mulut Tristan sebagai pemecah suasana hening.


"Ki-kita tidur sekarang?" tanya Tristan tanpa menoleh melihat lawan bicaranya. Ia terlampau gugup hingga tak sanggup menatap wajah Stela.


"I-iya." Stela menjawab pelan. Sama seperti Tristan, gadis itu tak berani menoleh. Ia hanya menunduk dengan wajah yang bersemu.


Tristan berdiri, ia mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu kecil bercahaya temaram yang ada di sisi atas kepala futon mereka. Kemudian pria itu menyibak selimut dan masuk ke dalamnya. Ia mulai berbaring di atas futon dan menyisakan tempat untuk Stela di sisinya.


"Tidurlah!" pintanya pada Stela yang masih betah duduk.


Perlahan gadis itu mendekat, ia masuk ke dalam selimut yang masih tersingkap. Setelah tubuhnya berbaring sempurna, Tristan segera merapikan selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Keheningan lagi-lagi terjadi, keduanya terdiam dengan mata fokus menatap langit-langit kamar. Tangan Tristan mengepal di balik selimut, dalam situasi seperti ini, ia tidak tahu harus melakukan apa. Ini pertama untuknya begitu juga dengan Stela. Apakah mereka benar-benar hanya akan tidur atau melakukan sesuatu yang lain? Otak Tristan jadi kacau demi memikirkan semua itu.


Dilain sisi, Stela berbaring tenang dengan mata yang sudah terpejam. Namun, sekuat apapun ia mencoba untuk tidur, nyatanya itu tak dapat ia lakukan. Stela menyerah. Ia membuka kembali matanya diiringi dengan helaan napas kasar yang tak sengaja ia keluarkan.


"Kenapa?" Ternyata sikap Stela barusan membuat Tristan terusik, pria itu segera bertanya.


"A-aku tidak bisa tidur," aku Stela jujur. Bahkan kini ia sudah memiringkan tubuhnya menghadap Tristan.


"Hm, aku juga." Tristan pun turut memiringkan tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan.

__ADS_1


Di dalam cahaya lampu yang temaram, keduanya saling tatap.


"E-la..." Dengan suara yang berubah serak, Tristan memanggil.


"Ya...?" Stela menjawab dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Suaranya seperti tertelan kembali di tenggorokan.


Tristan mengeluarkan sebelah tangannya, ia gunakan tangan itu untuk membelai hangat pipi Stela. Matanya tak lepas menatap wajah cantik dan mata sayu kekasihnya.


"Ela..." Entah kapan itu terjadi, kini posisi Tristan sudah berada di atas Stela. Ia bertumpu dengan sebelah tangannya agar tak terlalu menindih tubuh gadisnya. Satu tangannya masih setia membelai pipi Stela yang sudah kembali terlentang di bawah tubuhnya.


Tristan mendekatkan wajah, ia kecup lama kening Stela. Mata gadisnya terpejam mendapat kecupan hangat itu. Kecupan beralih ke kedua mata indah Stela, Tristan mengecup keduanya bergantian. Setelah itu pipi merona Stela yang menjadi sasarannya. Ia kecup dengan lembut kedua pipi sedikit gembil milik kekasihnya. Terakhir... kecupan berhenti pada bibir merah menggoda Stela. Sedikit lum*tan ia berikan di sana. Stela menyambutnya dengan suka cita.


Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan tautan bibir itu. Wajah Tristan terangkat, ia kembali menatap wajah cantik di bawahnya.


Stela tersenyum, tangannya terangkat dan kini giliran dirinya yang membelai wajah rupawan Tristan. Tangannya mengelus rahang kokoh itu dengan gerakan pelan menggoda, pria itu sampai dibuat terpejam olehnya. Kemudian Stela menarik tengkuk Tristan mendekat, setelah wajah mereka tinggal berjarak beberapa senti saja, Stela mengangkat sedikit kepalanya. Ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Tristan. Berlanjut ke kedua mata, pipi dan bibir yang selalu menjadi pelabuhan terakhir. Stela memang polos, namun naluri sebagai seorang gadis yang dicintai oleh seorang pria menuntunnya untuk melakukan semua itu.


Awalnya ciuman itu lembut dan perlahan tapi beberapa saat kemudian berubah menjadi lum*tan kasar, menuntut dan penuh hasrat.


Stela meremas rambut Tristan saat pria itu menyusupkan lidah dan mengajak lidahnya bertarung. Keduanya semakin dimabuk asmara sampai lupa untuk bernapas.


Setelah puas dengan bibir, ciuman Tristan berpindah ke leher Stela. Ia mengecup leher jenjang itu bahkan dengan sengaja membuat beberapa tanda di sana. Cukup menginvasi leher, mulut Tristan kemudian menjalar ke telinga, kuping Stela ia gigit dengan gemas hingga menuai pekikan bercampur desahan dari gadisnya.


Selesai dengan kegiatan tersebut, Tristan mengangkat kepalanya. Napasnya masih terdengar memburu. Ia tatap wajah merah Stelq, gadis itu seperti pasrah atas apa yang akan dia lakukan.


"Aku... ingin memilikimu seutuhnya Ela," mohonnya serak.


Stela menatapnya dengan mata meredup, ia menjawab permohonan Tristan barusan dengan sebuah kecupan di bibir. Tristan yang mengerti dengan jawaban tersebut, segera memulai aksinya. Ia ******* entah untuk yang keberapa kalinya bibir candunya. Sementara di bawah sana, tangannya bekerja membuka tali kimono kekasihnya. Ciuman terlepas bertepatan dengan tali kimono milik Stela terbuka. Tristan terduduk, masih di atas tubuh Stela. Ia membuka kimononya sendiri hingga tubuh bagian atasnya nampak jelas.


Stela yang masih terbaring pasrah, menatap kagum tubuh kekasihnya yang terlihat mengkilat karena keringat. Sementara dirinya sendiri, kimono sudah terbuka namun pakaian dalam masih menutupi kedua aset berharganya.


"Kau... siap?" tanya Tristan memastikan.


Stela mengangguk lemah, dadanya naik turun, jantung di dalam dada tak henti bergemuruh. Hal itu juga dirasakan oleh Tristan. Pria itu mengangkat tubuh Stela agar bisa duduk. Kimono yang telah terbuka, jatuh begitu saja menuruni pundak Stela hingga pakaian dalam berwarna putih berenda itu terlihat jelas.


Jakun Tristan naik turun menatap penampilan kekasihnya yang begitu menggoda. Tubuh atas Stela terekspos, cuma bagian dadanya masih tersimpan rapi dalam tempatnya. Tristan kembali mencium bibir Stela, perlahan tangannya menyusup ke balik ketiak dan berhenti di punggung gadis itu. Pengait bra Stela ia lepaskan hingga kain penutup dada itu merosot jatuh, dengan cepat, Tristan menurunkan tali branya hingga kini tubuh atas Stela polos tanpa penghalang.


Tristan memandang takjub bagian tubuh kekasihnya yang baru kali ini ia lihat. Sementara Stela menundukkan wajahnya yang merah padam karena malu tampil seperti itu di hadapan seorang pria.


"Ela?" Tristan menyentuh kedua bahu Stela. Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya gugup.


"Aku akan memulainya." Sasuke Tristan semakin terdengar berat. Sepertinya pria itu sudah berada di ambang batas kesabarannya.


Stela menelan ludah susah payah, lantas mengangguk.


Tristan tersenyum, ia melepas tusuk kanzashi Stela hingga rambut pirang itu tergerai. Kemudian tubuh gadis itu ia dorong perlahan agar kembali berbaring di bawah tindihannya.


Akankah malam ini menjadi malam yang panjang bagi dua insan yang tengah dimabuk cinta ini?


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2