BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Restu Anthony


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Stela menatap bangunan rumah di hadapannya. Hari sudah gelap, tapi lampu rumah sama sekali belum menyala hingga rumah terlihat gelap.


"Apa tidak ada orang di rumah?" gumamnya.


"Kenapa, El?" tanya Risa. Wanita itu sebenarnya tahu apa yang dipikirkan Stela, cuma dia tidak ambil pusing karena sebentar lagi gadis itu juga akan tahu jawabannya.


"Tidak apa-apa, Kak. Apa kau mau mampir dulu?" tawar Stela.


"Tentu," sahut Risa tanpa pikir panjang. Memang hal ini sudah diatur sedari awal.


Mereka berdua masuk ke dalam. Lampu depan otomatis menyala saat mereka masuk. Melanjutkan perjalanan ke bagian dalam rumah yang masih terlihat gelap dan...


SURPRISE....


HAPPY BIRTHDAY STELA


Riuh sorokan dan suara tepuk tangan langsung bergema bertepatan dengan semua lampu yang menyala.


Stela mematung di tempat melihat semua orang yang berkumpul dan mengucapkan selamat padanya. 


"Semuanya...." Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia merasa sangat terharu.


"Bintang utama malam ini sudah datang, bisa kita mulai pestanya?" sorak Risa.


Stela melirik Risa yang mulai bergabung dengan yang lainnya, ternyata ini semua sudah direncanakan.


"Tentu." Tristan sebagai pemilik rumah mengiyakan. Ia menghampiri Stela dan menuntun gadisnya menuju meja yang sudah disediakan.


"You look so beautiful tonight," bisik Tristan saat mereka berjalan ke depan.


"Thanks. Kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Stela


Tristan menggeleng. "Semuanya membantuku."


Di sana, di pesta itu, hadir semua orang. Teman, sahabat, paman, bibi sampai sepupunya Stela.


Sampai di meja yang sudah disediakan, Stela terpesona melihat dekorasinya. Dipenuhi oleh bunga, terlebih Bunga Matahari, kesukaannya.


"Mommy, ayo potong kuenya!" pekik Ara girang.


"Potong tue..." Anak kedua Jovanka juga ikut menimpali.


.......


Selesai acara potong dan makan kue. Kini berlanjut ke acara makan malam. Sekali lagi Stela dibuat takjub dengan dekorasi dinner party-nya yang diadakan di taman belakang kediaman Tristan.


Lilin-lilin kecil tampak menerangi meja-meja di sana, membuat suasanya menjadi romantis.


Beberapa pelayan yang sengaja disewa Tristan pun datang membawa berbagai macam hidangan.


Makan malam pun dimulai. Semua orang yang hadir nampak bersuka cita. Beberapa kali Tristan dan Stela terlihat berpandangan dan saling melempar senyum. Tak jarang mereka juga jadi bahan godaan orang-orang yang ada di sana, seperti Arya dan Jovanka.


Selesai makan malam, mereka semua berbincang-bincang. Sampai kemudian Tristan mengambil alih perhatian semua orang dengan berdiri dari duduknya.


"Bisa aku minta waktu kalian sebentar?"


Semuanya kini menatap ke arah Tristan, menunggu apa yang akan dilakukan olehnya.


Tristan berdehem sejenak sebelum mulai bersuara.


"Di kesempatan yang berbahagia ini, bertepatan dengan hari jadi kekasihku yang bernama Stela. Aku ingin kalian semuanya menjadi saksi.." kata-kata Tristan membuat semua orang di sana mulai menebak. Mereka semua tersenyum.


"Stela..." Tristan menoleh ke arah Stela yang tengah duduk berdebar di bangkunya. Pria itu mengulurkan tangan, mengajak kekasih hatinya untuk ikut berdiri.


Kini sepasang kekasih itu sudah berdiri di hadapan semua orang.


"Stela Wijaya... hm... maksudku, Auristela Princessa Knight."

__ADS_1


Deg


Deg


Deg


Tidak hanya Stela yang berdebar, semua orang di sana juga ikut merasakannya.


Tristan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, setelahnya pria itu berlutut di hadapan Stela.


"Will you marry me?" Tristan menyodorkan sebuah cincin berlian mewah ke hadapan Stela.


Tristan melamar Stela di hadapan semua tamu.


Stela menutup mulutnya. Tak pernah terbayang jika ia dilamar tepat di hari pertambahan usianya. Mata indahnya berkaca-kaca.


"Tristan..." panggilnya. Ia membantu Tristan berdiri dari acara berlututnya.


Sekarang mereka berdua berhadapan.


Hening...


Semua orang nampak tegang menanti jawaban Stela.


Tristan sendiri jangan ditanya lagi. Ia sama sekali tak melepaskan pandangan dari Stela. Ia tidak ingin kehilangan momen saat gadis itu menjawab lamarannya.


Deg


Deg


Deg


Stela terseyum...


"YES." Dengan lantang gadis itu menjawab.


Prok.... prok.... prokk....


Tanpa menunda waktu lagi, Tristan segera memasangkan cincin itu di jari manis Stela. Setelah terpasang, ia mengecup punggung tangan gadisnya. Sekarang dua jari manis Stela sudah diisi oleh dua cincin darinya.


"Thank you, Baby."


Stela menangis haru, malam ini... Ia merasa sangat bahagia.


"Ayo cium!" sorak Jovanla heboh.


Stela dan Tristan saling berpandangan. Pria itu menarik pinggang gadisnya dan mencium bibir manis itu kemudian.


Semua orang nampak diam menyaksikan. Kebetulan sekali anak-anak sedang bermain jadi tidak akan terkontaminasi otaknya melihat hal-hal seperti ini.


"MAU BERAPA LAMA LAGI KAU AKAN MENCIUM PUTRIKU HUH....?"


Deg


Tristan melepas ciumannya. Ia menoleh dan mencari siapa yang berbicara. Semua orang juga melakukan hal yang sama.


"Daddy?" Stela memekik saat melihat wajah sang ayah yang full screen di Ipad Ari. Ternyata sedari tadi paman Stela itu melakukan video call dengan kakaknya di London sana. Jadi acara lamaran itu, juga disaksikan secara live oleh keluarga Stela.


"Stela memang sudah menerimamu, tapi kau masih harus mendapatkan restuku dulu." Suara speaker Ipad yang sudah sampai pada volume maksimal membuat semua orang mendengar suara Anthony yang ada di layar.


Deg


Tristan kicep, ternyata perjuangannya baru saja akan dimulai.


"DADDY!!!" Stela merajuk, ayahnya ini benar-benar tidak bisa melihat putrinya bahagia sebentar saja.


Semua orang tertawa melihat wajah pasangan Tristan dan Stela.


...🌻 🌻 🌻...

__ADS_1


Sebulan setelah kedatangan Stela ke Indonesia, gadis itu dan juga kekasihnya-Tristan terbang ke Inggris untuk meminta restu. Sementara Ara tinggal dengan kakeknya untuk beberapa waktu.


"Tristan, ikut aku!" Hari kedua Tristan di kediaman calon istri, Anthony langsung mengujinya.


Tristan mengekor Anthony dari belakang. Sampai pada sebuah mobil mewah, pria bule itu berhenti.


"Mulai sekarang kau akan menyetir untukku!" titahnya angkuh sambil menyodorkan kunci mobil.


"Iya, Paman." Tristan hanya bisa mengangguk pasrah.


.


"Tristan!"


"Ya, Paman?"


"Tolong ambilkan aku minum!"


.


"Tristan!"


"Ada apa, Paman?"


"Aku membutuhkan semua barang ini, pergi dan belilah!"


.


"Tristan!"


"Ya?"


"Aku lelah, tolong pijitkan!"


.


Selama sebulan penuh, Tristan selalu mengekori kemana pun Anthony pergi. Ayah kandung Stela itu selalu menyuruhnya ini dan itu, dari yang mudah sampai ke hal yang sulit. Dengan senang hati, Tristan menuruti semuanya. Sama sekali tidak terlihat raut keberatan maupun kesal dari wajah pria tampan itu.


Stela protes pada sang ayah karena merasa Anthony memperlakukan Tristan sudah sangat keterlaluan. Namun, dengan tenangnya Tristan bisa memberi pengertian.


.


Suatu hari, setelah sebulan tepat Tristan di sana. Anthony mengajaknya ke sebuah tempat yang sangat tenang untuk bicara.


"Aku merestuimu."


Kata-kata Anthony seperti sebuah oase di tengah panasnya gurun bagi Tristan. Ia sungguh cemas jika ayah Stela tak menyukainya mengingat semua perlakuan pada dirinya selama ini. Tapi kini, semua ketakutan itu sirna.


"Kemarilah, Nak!" pinta Anthony sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Tristan langsung meringsek masuk dalam pelukan ayah kekasihnya.


"Maafkan aku, Tristan. Maaf karena selama ini sudah memperlakukanmu dengan buruk. Aku hanya ingin melihat seberapa sabar dirimu. Aku tidak mungkin melepaskan gadis kecilku pada pria yang tak akan bisa sabar menghadapinya. Aku ingin pendamping Stela kelak bisa menyayanginya, menjaganya dan tak akan pernah menyakitinya." Anthony terisak di pundak Tristan.


Tristan tersentuh. Ia usap punggung pria paruh baya itu dengan pelan.


"Paman, aku berjanji akan menjaga, mencintai dan menyayangi Stela dengan sepenuh hatiku. Aku tidak akan pernah menyakitinya, jika sampai itu ku lakukan, kau bisa membawa Stela pergi jauh dariku," janji Tristan.


Anthony melepas pelukannya. Ia tatap wajah Tristan. "Aku percaya padamu, Nak!" 


"Terima kasih, Paman."


"Ayo sekarang kita pergi, aku akan mentraktirmu makan di restoran favoritku dan Stela."


"Dengan senang hati."


Akhirnya ditetapkan lah bahwa pernikahan Tristan dan Stela dilaksanakan tanggal 21 Desember, bertepatan dengan musim dingin. Sebab, keduanya tidak ingin menunda lagi


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih


__ADS_2