
...🌻Selamat Membaca🌻...
"Never mind. I am NEET," ucap Anthony enteng.
NEET : Not in Education, Employment, or Training.
Dua pria muda itu begitu shock mendengarnya. Pria yang terlihat tegas, berwibawa dan cerdas itu ternyata seorang pengangguran. Tidak dapat dipercaya, apalagi jika melihat penampilan luarnya yang sangat modis.
"Anda bercanda, Paman?" tanya Tristan.
"No, aku memang seorang pengangguran. Saat ini aku tidak lagi bekerja karena semua perusahaanku di handle oleh putraku- kakak tertua Stela," jelas Anthony.
Ok, jadi itu pengangguran yang dimaksud oleh Anthony. Tristan dan Rafa sudah salah sangka.
"Aku ini sudah tua, jadi sudah lelah bekerja dan inginnya hanya menghabiskan sisa waktuku bersama keluarga. Aku ingin melihat putra-putriku menikah dan memiliki anak. Haah, tapi sayangnya, mereka tidak mau mengerti dengan kegelisahan pria tua ini. Ketiga anakku belum ada yang mau menikah," curhat pria 47 tahun itu. "Padahal aku sudah ada rencana menjodohkan Stela dengan anak sahabatku tapi anak nakal itu malah memilih kabur ke Indonesia, kalian tahu? Kami semua di London begitu mencemaskan dirinya yang tak kunjung ketemu. Syukurlah ... sekarang kami bisa berkumpul lagi." Antony melanjutkan sesi curhatnya.
"Apa? Stela sudah dijodohkan?" kata hati Rafa.
"Jadi Stela kabur dari London ke Indonesia untuk menghindari perjodohannya," batin Tristan tercengang.
"Oh hampir lupa," ucapan Anthony selanjutnya membuat kesadaran dua pria seumuran itu kembali.
"Ada apa, Paman?" tanya Rafa.
"Kenapa kalian berdua menarik-narik tangan putriku saat di depan pintu masuk tadi?"
Oh shit
This question
Adakah yang ingin menjawabnya duluan?
Tristan?
No
Rafa?
No
Loser
Sudah lebih dari lima menit terlewati namun tak ada satu dari dua pria itu yang menjawab pertanyaan Anthony. Kening pria berkebangsaan Inggris itu mengkerut, bukan karena penuaan tapi karena heran melihat kebungkaman Tristan dan Rafa. Memang apa susahnya menjawab pertanyaan simple itu.
"Tristan?" Pertama Anthony melirik pria tampan berprofesi sebagai model itu. Ia menunggu jawabannya.
"Ka-karena sudah malam jadi aku menarik tangannya untuk mengajaknya masuk, Paman."
__ADS_1
Tristan menghembuskan napas lega, akhirnya terjawab juga pertanyaan itu.
"Lalu kau, Rafandra?" Kini Anthony beralih pada si pengacara muda.
"Aku menahan tangan Stela karena aku memiliki hal yang harus ku bicarakan dengannya, Paman."
Ya, terjawab sudah. Memangnya Ttistan saja yang punya jawaban, heh ... jangan salah, Rafa punya otak yang jenius untuk menjawab pertanyaan mudah seperti itu.
"Oh ... Tristan menarik dan Rafa menahan." Amthony mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Apa kalian sedang memperebutkan putriku?" tanya pria bule itu menyelidik.
DEG
Dua pria itu kembali bungkam setelah mendengar pertanyaan Anthony.
Tristan dan Rafa saling bertatapan, mereka seperti berlomba untuk mencari jawaban yang tepat.
"YA ..." Dengan kompak mereka mengucapkan kata itu. Rafa tentu saja akan menjawab ya karena dia memang menyukai Stela, sementara Tristan entah kenapa ia turut menjawab ya, hanya saja hatinya berkata jika ia harus mengatakan satu kata dengan dua huruf itu.
Anthony menyeringai, ia yang duduk di antara Tristan dan Rafa memajukan tubuhnya. "Aku akan mengatakan sesuatu, mendekatlah!" pintanya. Reflek kedua pria muda itu mendekat.
"Silakan jika kalian ingin memperebutkan putriku, tapi itu hanya akan terjadi disaat kalian sudah berhasil merebutnya dari sisiku. Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah, berusahalah! Hanya seorang yang pantas yang akan bisa bersanding dengan putri kesayanganku. Remember that!" Setelah mengucapkan kata panjang itu, Anthony kembali memundurkan tubuhnya.
GULP
Rafa dan Tristan menelan ludah mereka susah payah. Ternyata begini rasanya berhadapan dengan seorang ayah yang memiliki anak gadis, mengerikan.
"Aku akan berusaha." Rafa sudah bertekad di dalam hatinya.
"Daddy!" Panggilan Stela membuat ketiga pria disana menoleh.
"Anthony, ayo kita pergi. Malam ini Ela akan ikut bersama kita ke mansion Wijaya dan besok pagi-pagi sekali dia akan mengemasi barang-barangnya yang ada di apartemen Tristan," ucap Ambar.
"Mengemasi barang-barang? Jadi Stela akan pergi dari apartemenku?" batin Tristan tak rela. Tapi apa daya, ia tak punya kuasa lagi untuk menahan Stela jika sudah melibatkan kedua orang tuanya yang lebih berhak.
"Let's go Princess!" Anthony bangkit dari duduknya dan langsung merangkul bahu sang putri dan mengajaknya keluar dari cafe.
"Daddy tidak jadi menjodohkanku kan?" tanya Stela hati-hati.
"Sebenarnya daddy masih ingin menjodohkanmu tapi kalau kau tidak mau ya sudah dibatalkan saja," jawab Anthony.
"Thankyou so much Daddy, love you." Stela segera mengecup pipi sang ayah dan kemudian memeluknya erat.
"Ya begitulah dia, masih manja sekali apalagi dengan daddy-nya. Maklum saja umurnya masih 17 tahun," celetuk Ambar yang berjalan bersisian dengan Tristan dan Rafa di belakang.
"Apa? 17 tahun?" dua pria yang berjalan disamping kiri dan kanan Ambar itu memekik tertahan.
Ambar tersenyum maklum. "Pasti kalian tidak menyangka kan jika Stela masih belia, pasalnya tubuhnya yang tinggi dan wajah yang cukup dewasa itu sering membuat orang terkecoh," jelas Ambar.
__ADS_1
"Jadi Stela berbohong soal umurnya. Ku kira dia benar berumur 20 tahun, nyatanya masih remaja. Rasanya aku sudah seperti pedofil saja," rutuk Rafa dalam hati.
"Dasar pembohong kecil, berani sekali dia menipuku selama ini." Tristan mengumpat kesal di dalam hati.
Kembali pada Stela dan Anthony.
"Jadi siapa di antara mereka yang gadis kecil daddy ini sukai?" bisik Anthony.
"Mereka siapa Daddy?" tanya Stela tak paham.
"Rafandra or Tristan?"
DEG
Rafa? Ah, Stela lupa jika dia harus bicara dengan pria itu. Menjelaskan tentang perasaannya yang sebenarnya agar pria itu tidak salah paham.
"Daddy, aku harus membicarakan sesuatu dengan mas Rafa. Boleh ya?" izin Stela.
"Boleh Princess tapi jangan lama-lama, ya?"
"Ok, Dad."
Setelah berada di luar cafe, Stel mengajak Rafa sedikit menjauh dari kedua orang tuanya dan juga Tristan.
"Mas," ucap Stela terbata. Rasa gugup kembali melanda saat dirinya hanya berdua dengan Rafa.
"Ya?" Suara Rafa tidak sedatar tadi dan hal itu membuat Stela sedikit lega.
"Maafkan aku, Mas. Maaf karena sikap ku sore tadi, aku hanya bingung. Tadi itu adalah pertama kalinya seseorang menyatakan perasaannya padaku, jadi aku tidak tahu harus berkata dan bersikap bagaimana. A-aku..."
PLUKK
Rafa menarik Stela ke dalam pelukannya. "Jadi jawabanmu?" tanya Rafa meminta kepastian. Ia berbicara tepat di telinga Stela, membuat gadis itu sedikit meremang karena posisi yang begitu dekat.
"Maukah kau memberikanku waktu untuk memikirkan semua ini?" pinta Stela lirih.
"Tentu Ela, tentu." Rafa melepas pelukannya dan beralih merangkum kedua pipi merona Stela. "Terima kasih," ucapnya seraya mengelus pelan dua bilah pipi sang gadis.
Stela tersenyum manis dan hal itu membuat Rafa tak tahan dan akhirnya kembali memeluk erat tubuh Stela.
"Berani sekali dia memeluk putriku dua kali, cari mati dia." Anthony terus mengumpat di tempatnya berdiri, menyaksikan pasangan muda itu dari kejauhan.
"Sabar, sayang ..." Ambar yang tepat berada di samping sang suami mencoba meredakan amarah pria itu. Dan mereka lupa jika di sana juga ada Tristan yang sudah mengepalkan erat tangannya di bawah tubuhnya setelah melihat kedekatan Rafa dan Stela. Hatinya terasa panas dan dia tidak tahu kenapa. Apa karena dia tidak ingin kalah dari Rafa atau karena hal lain yang belum ia ketahui sebabnya.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers.....
__ADS_1
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...