
...๐ปSelamat Membaca๐ป...
Stela duduk berhadapan dengan Vania di ruang tamu. Hanya ada mereka berdua di sana. Segelas jus jeruk juga sudah tersaji di atas meja. Stela yang membuat, tapi sama sekali tak ada niat dari Vania untuk meminumnya, ck ... sombong sekali.
"Jadi kenapa keponakan Tristan memanggilmu mommy? Kau yang menyuruhnya?" tuduh Vania. Bukannya memperkenalkan diri tapi wanita itu malah menuduhnya.
Stela melihat Vania dengan tatapan malas, jujur saja ia jengah jika harus berhadapan dengan wanita yang satu ini. Dipertemuan pertama mereka, wanita yang dikenal sebagai model cantik itu bahkan terang-terangan menghinanya di hadapan Rafa dan sekarang wanita itu lagi, menuduhnya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan.
"Kau tuli? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" tudingnya.
"Aku tidak menyuruhnya, Ara saja yang ingin memanggilku begitu," jawab Stela tenang.
Vania menggeram. "Kau pikir, kau pantas menjadi ibunya?"
"Lalu siapa yang pantas, dirimu?" tanya Stela balik. Orang seperti Vania mulutnya harus diberi pelajaran sepertinya.
"Ya begitulah, setidaknya aku jauh lebih pantas untuk mendampingi Tristan mengurus keponakannya daripada gadis kampung sepertimu!" ejeknya.
Stela mencoba untuk tetap tenang. "Awal pertemuan kita dulu, kau juga mengatakan kalau aku gadis kampung. Bagaimana bisa kau menilai seseorang hanya dari apa yang ia pakai?" tanya gadis itu mencoba mengingatkan. Memang saat ini ia hanya mengenakan baju kaus biasa yang dipadukan dengan celana training, sementara wanita itu terlihat glamour dengan dress sexy yang membentuk tubuh sintalnya serta riasan penuh di wajah. Tentu saja mereka tidak bisa dibandingkan untuk saat ini. Lain cerita jika Stela berdandan, mungkin wanita itu bukanlah apa-apa darinya.
Vania terdiam, sepertinya ia memang tidak ingat siapa Stela. Wanita itu menelisik penampilan lawannya dari atas ke bawah, ke atas lagi dan berhenti tepat di wajah cantik natural si pirang.
"Aku ingat sekarang, kau gadis kampung yang ku temui bersama dengan Rafandra waktu itu, kan? Wahhh ... kau dekat dengan Rafa dan sekarang kau mendekati Tristan, kenapa? Kenapa kau mendekati pria-pria kaya seperti mereka? Kau hanya mau uang mereka saja, kan? Sudah kuduga." Spekulasi asal-asalan dari Vania membuat Stela geram. Dua kali tuduhan tak berdasar yang ia terima membuatnya emosi, tapi sebisa mungkin ia berusaha menahan diri.
"Lalu, apa itu menjadi masalah buatmu?" tanya Stela heran.
"Tentu. Dulu Rafandra adalah calon yang akan dijodohkan denganku, karena kau dia menolak perjodohan itu. Sekarang, kau ingin merebut orang yang dekat denganku lagi, eh?" cerita Vania, sedikit melebih-lebihkan pastinya.
"Kasihan sekali mas Rafa kalau harus berjodoh dengan wanita angkuh sepertimu, tapi syukur saja dia menolaknya. Pria cerdas tidak akan mau memilih pendamping hidup sepertimu!" Stela tidak akan pernah terima jika dirinya direndahkan. Ia akan balik menyerang orang itu sampai mereka tutup mulut sendiri.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku. Memangnya siapa dirimu? Hanya seorang perempuan kelas rendahan yang tidak sebanding denganku." Vania mengangkat dagunya angkuh, seolah menunjukkan bahwa dia lebih sempurna dibandingkan Stela.
Melihat kepercayaan diri Vania yang begitu berlebihan, membuat Stela tertawa cantik.
"Kenapa kau tertawa? Memangnya aku melucu, hah?" bentaknya.
Stela menghentikan tawanya dan menatap Vania tajam. "Iya, kau lucu sekali. Saking lucunya sampai membuatku muak mendengar semua pujian menjijikkan yang kau arahkan pada dirimu sendiri," sinis Stela.
"Apa kau bilang?"
Stela bangkit dari duduknya tanpa mempedulikan Vania yang mulai emosi. "Jika tidak ada yang mau dibicarakan lagi, silakan keluar dari apartemen ini. Pintunya ada di sebelah sana," tunjuk Stela.
"Sialan kau, akan aku kadukan kau pada Tristan," gertaknya. Perempuan itu berbalik hendak masuk ke kamar Tristan lagi, tapi segera dihalangi oleh Stela.
"Kak Tristan butuh istirahat, jadi sebaiknya kau pergi saja." Stela mendorong tubuh Vania sampai keluar dari apartemen dan kemudian ia mengunci pintu itu.
Stela mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya, lelah juga ternyata menghadapi wanita sombong seperti itu. Ck, daripada memikirkan itu, sebaiknya ia mulai memasak untuk makan siang.
"Masak apa ya hari ini?"
.......
Vania menutup pintu mobilnya dengan kasar. Dadanya bergemuruh menahan amarah. Tak pernah sekalipun dirinya diperlakukan rendahan seperti ini, diusir dengan cara paksa oleh seseorang yang bahkan tak sebanding dengan dirinya.
"Perempuan sialan itu, siapa dia? Kenapa dia ada di apartemen Tristan. Lihat saja, aku pasti akan mencari tahu tentang perempuan itu dan akan segera ku singkirkan semua penghalang untuk mencapai tujuanku," geramnya sembari mencengkram erat setir kemudi.
.......
Vania sampai di kediaman keluarganya, suasana hatinya memburuk karena pertemuannya dengan Stela. Fara yang menghubunginya berkali-kali pun tak digubris sama sekali, padahal siang ini dia ada jadwal pemotretan.
Setelah memarkirkan mobil ke garasi, perempuan itu menyelonong masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam. Saat akan menuju kamar, dilihatnya ada beberapa orang yang duduk di ruang tamu, tengah mengobrol dengan sang kepala keluarga, siapa lagi kalau bukan Thomi Hermawan , ayahnya Vania.
Thomi yang melihat kedatangan putrinya pun memanggil. "Van, kemarilah! Lihat siapa yang datang berkunjung," ucapnya dengan suara tegas.
Walau sebenarnya malas, Vania terpaksa memenuhi panggilan ayahnya, ia tak ingin membuat pria tua itu marah. Dihampirinya para tamu itu dan langsung duduk di sebelah Thomi.
"Lihatlah, kau tak merindukan kakakmu?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Thomi membuat kepala yang semula tertunduk malas jadi berdiri tegak menghadap dua orang yang saat ini duduk berhadapan dengannya.
"Hai, bagaimana kabarmu Van?" sapaan canggung pria di hadapannya seketika membuat dada Vania sesak.
__ADS_1
Tanpa berniat menjawab, mata Vania beralih menatap seorang wanita yang duduk di samping si pria. "Hai kakak ipar. Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan diiringi senyuman manis. Bersandiwara agar terlihat baik itulah yang kini dilakukannya.
"Kau tahu, kakak iparmu saat ini sedang mengandung. Sebentar lagi keluarga kita akan kedatangan anggota baru," beritahu Thomi.
DEG
Tatapan Vania langsung tertuju pada perut wanita itu, perut yang tampak membuncit. Senyum bahagia ditunjukkan oleh si wanita sambil mengelus sayang perutnya, si pria pun tampak tak kalah senang dengan ikut mengusap perut istri yang tengah mengandung anaknya.
Jantung Vania serasa diremas-remas di dalam sana, melihat sepasang suami istri itu begitu bahagia tanpa tahu kalau dirinya di sini begitu terluka.
Mati-matiaan Vania berusaha bersikap tenang dan tak acuh, kini tatapannya beralih pada si pria. Dua pasang mata itu bertemu, tatapan luka jelas sekali terpancar pada keduanya.
Hampir saja Vania menitikkan air mata di sana kalau saja ponselnya tiba-tiba tidak berbunyi.
"Aku angkat telpon sebentar," pamitnya. Perempuan itu berjalan sedikit menjauh sembari mengusap air mata yang pada akhirnya jatuh juga.
Beberapa saat kemudian, ia kembali. "Maaf Ayah, aku harus pergi sekarang. Masih ada jadwal pemotretan," katanya dengan suara sedikit serak.
"Makan siang dulu bersama kami?" ajak Thomi.
Vania menggeleng, ia menatap tajam pria yang duduk di sebelah sana. "Aku sudah tidak selera makan," ketusnya dan berlalu pergi.
Si pria hanya bisa menunduk sedih, perasaan bersalah itu selalu menggerogoti.
.......
Model ternama Jakarta itu memasuki unit apartemennya, niatnya yang ingin menenangkan diri di rumah orang tuanya berakhir dengan suasana hati yang kian memburuk.
Vania menekan dada yang terasa sesak, mata yang semula berkaca-kaca kini airnya sudah membanjir mengaliri pipi. Sedari tadi ia sudah menahan semuanya tapi kini ia tidak bisa lagi.
"Argghhhhhh......"
PRANGGG
PRANGGG
Perempuan cantik itu berteriak kesetanan, semua yang berada di sekitarnya menjadi sasaran kemarahan. Beberapa vas bunga, figura bahkan guci yang harganya selangit kini sudah berubah menjadi kepingan tak berarti.
Semuanya terasa percuma, melampiaskan emosi pada benda mati sama sekali tak mengurangi rasa sakit yang dirasa. Tubuh Vania luruh, terduduk lemas di lantai yang dingin. Tangan tak henti memukul-mukul dada yang terasa nyeri, tapi yang ada kesakitan itu malah kian menjadi.
"Kau jahat mas Evan, kau jahat!"
Vania terisak, menyebut nama pria yang begitu dicinta, hatinya nelangsa, karena dalam kenyataannya mereka tak dapat bersama.
"Kenapa kau bisa terlihat begitu bahagia sementara aku tidak ... hiks." Isak tangis memilukan itu membahana di ruangan yang sepi.
"Mas Evan... aku mencintaimu, masih mencintaimu." Kata-kata terakhir yang terucap sebelum kegelapan datang merenggut kesadaran. Vania jatuh pingsan disaat beban cinta tak sanggup lagi ditanggungnya.
"VANIA!"
Fara yang datang atas permintaan Vania begitu terkejut melihat kekacauan yang dibuat modelnya itu. Kejadian ini tidak hanya sekali terjadi, tapi tetap saja membuatnya shock.
"Kau bertemu dengannya?" Fara sangat tahu apa yang menjadi penyebab ini semua.
...๐ ๐ ๐...
Stela yang sedang merapikan meja makan tersenyum melihat Ara dan Tristan yang asyik bersenda gurau di ruang tengah. Kesehatan pria itu sudah jauh lebih baik dari hari kemarin, buktinya sekarang dia bisa bermain dengan keponakannya.
Selesai mencuci piring, bunyi bel terdengar bertepatan dengan Stela yang akan berjalan keluar dari dapur. Langsung saja gadis itu melangkah menuju pintu.
"Semoga bukan wanita itu lagi," harapnya sebelum membukakan pintu.
Cklekk
"What?"
Stela beringsut mundur karena kaget saat mendapati seekor beruang besar berwarna coklat hadir di depan pintu.
"Good morning..."
Sesosok tubuh muncul dari balik beruang dan menyapanya.
__ADS_1
"Kak Jo?" seru Stela.
"Hai Stel, boleh masuk?"
"Tentu saja."
Jovanka melenggang masuk diikuti si beruang. Stela menelisik melihat siapa gerangan yang membawa boneka besar itu. Tapi wajahnya tak nampak karena terhalang oleh si boneka.
"Araaa, aunty datang."
Suara membahana Jovanka membuat sepasang ayah dan anak di sana berhenti bergelut.
"Aunty Jo," sapanya.
"Hai sweety, lihat apa yang aunty bawa untukmu." Jovanka memperlihatkan sebuah boneka beruang yang kemarin di pesan Ara. Sesuai janji, hari ini ia membawakannya.
Seseorang yang membawakan boneka segera meletakkannya di lantai.
"Gara/Pak Gara?" Ucap Tristan dan Stela berbarengan. Ternyata kekasih Jovanka lah yang sedari tadi membawa bonekanya.
"Yeaayyyy......" Ara berlari menghampiri boneka berbentuk beruang itu, dia langsung memeluk dengan tangan kecilnya. Lucu sekali, yang terjadi justru tubuh Ara tenggelam di dalam pelukan besar si beruang yang memiliki tinggi mencapai 1 meter itu.
"Ini berlebihan Jo," kata Tristan yang merasa tidak enak.
"Tidak apa, aku sudah janji pada Ara. Lagi pula, bukan aku yang membeli bonekanya tapi dia." Jovanka menunjuk sang kekasih yang berdiri di sampingnya.
"Terima kasih, Gara," ucap Tristan tulus. Ia terharu melihat kebaikan semua orang terhadap keponakannya.
"Tidak apa, aku senang melihat gadis kecil ini bisa tersenyum." Gara sudah mendengar semua ceritanya dari Jovanka dan dia cukup prihatin dengan nasib Arabella. b
Gara berjongkok di dekat Ara. "Ara suka?" tanya Gara lembut. Tangannya terangkat untuk mengusap pelan kepala bocah kecil itu.
"Suka," jawab Ara. Ia masih memeluk gemas boneka baru miliknya.
"Kalau Ara suka, bilang apo ayo sama uncle dan aunty-nya?" tanya Stela. Ia ingin mengajarkan pada Ara bagaimana caranya berterima kasih.
Ara bangkit berdiri, ia menghadap ke arah Jovanka dan Gara.
"Telima kasih aunty cantik dan uncle tampan," katanya sembari sedikit membungkukkan tubuh. Kepolosannya membuat siapa pun yang melihat jadi gemas sendiri.
"Ihhh... lucunyaaaa, mau dong satu yang kayak Ara." Jovanka memeluk dan menciumi pipi gembil itu gemas membuat Ara terkikik geli.
"Kalau kau mau kita bisa mulai membuatnya, sayang," sahut Gara.
Jovanka mendelik. "Tunggu sampai kau resmi menikahiku."
Mereka semua yang ada di sana tertawa, termasuk Tristan. Stela bisa melihat jika saat ini mata pria itu berkaca-kaca, mungkin terlalu bahagia karena banyak yang menyayangi keponakannya.
"Oh ya Tan, selain mengantar boneka pesanan Ara, kami juga ingin mengantarkan ini." Gara duduk di samping Tristan dan menyerahkan sebentuk undangan kepadanya.
Tristan mengambil dan membacanya. "Kalian akan bertunangan?"
Jovanka yang mendengar percakapan itu, ikut ambil bagian. "Iya, kami memutuskan untuk meresmikannya. Gara sudah melamarku pada mama dan papa. Dua bulan setelah pertunangan, kami akan menikah," jelas Jovanka, terlihat raut bahagia di wajah cantiknya.
Tristan tersenyum, turut senang. "Semoga semuanya lancar."
"Terima kasih."
"Itu undangan untukmu dan Stela. Kalian harus datang bersama, ok?" Jovanka mengedipkan sebelah matanya.
"Hm."
.......
Fara menatap Vania yang tengah merias diri di dalam kamarnya. Wajah itu tampak datar dan dingin. Semalaman ia menemani Vania di apartemennya, perempuan itu terus meracau hingga Fara harus memberinya obat penenang agar modelnya itu dapat beristirahat dengan tenang.
Semua karena kedatangan pria itu, Fara menyesal dulu pernah sempat menaruh hati pada kakak angkat Vania yang juga dicintai oleh Vania. Sekarang yang dirasakannya hanyalah kebencian. Ia benci dan sedih melihat Vania yang terpuruk seperti ini. Ia benci melihat perubahan yang terjadi pada modelnya itu. Dulu... Vania adalah gadis pemalu dan lemah lembut, kini semuanya berubah drastis. Wanita itu kini sangatlah sombong, angkuh dan penuh tipu muslihat, kadang Fara sendiri ragu apakah Vania yang sekarang sama dengan Vania yang dikenalnya dulu.
Vania melirik dari cermin, ia tahu jika sedari tadi Fara memperhatikannya. Satu senyuman licik terbit di wajahnya yang dipenuhi polesan kosmetik. "Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain bahagia di atas penderitaanku."
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa Like & Comment...๐๐ป๐...
...Terima kasih...