BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Rencana


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


"Baiklah, aku mau."


Setelah berbagai bujukan juga rayuan dilancarkan Anne, akhirnya Stela menerima juga tawaran sang kakak untuk turut menjadi model di pekan busana mendatang.


"Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya berjalan di atas catwalk." Hal inilah yang Stela khawatirkan.


"Tenang saja! Aku punya seorang teman yang akan membantu. Oh ya, setahuku kekasihmu juga seorang model 'kan, apa dia mau ikut serta dalam Fashion Week kali ini?" tanya Anne.


"Hm... entahlah. Apa aku harus menanyakannya?"


"Harus. Kabari aku secepatnya. Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Anne mengingatkan.


"Baiklah."


"Aku masuk dulu. Ada banyak hal yang harus dilakukan. Selamat malam." Anne meninggalkan gazebo dengan semangat. Entah apa yang tengah direncanakan perempuan 21 tahun itu.


"Selamat malam." Tiga orang yang tercengang disana membalas.


.......


Besoknya, tepat pukul 11 siang, disaat semuanya sibuk beraktivitas, Stela memilih mengunjungi apartemen Tristan.


Cklekk


Pintu terbuka, melihat siapa yang datang, senyum bahagia langsung menghiasi wajah pria tampan yang membukakan Stela pintu.


"Hai," sapa gadis itu.


"Masuk, sayang." Tristan segera menarik masuk Stela ke dalam apartemennya.


"Ara, lihat siapa yang datang!" Seru Tristan sampainya di ruang tengah.


Bocah perempuan yang tengah asyik menonton tayangan kartun itu pun menoleh. Matanya membulat dan berkaca-kaca. Ia lantas turun dari sofa dan berlari menerjang Stela yang sudah berjongkok siap dengan kedua tangan terbentang lebar, menyambut pelukan gadis kecilnya.


"Ala lindu, Mommy..." lirih Ara yang kini sudah membenamkan wajahnya di lekukan leher jenjang Stela.


"Oh Baby, mommy juga merindukanmu." Stela melepas pelukan Ara dan menangkup wajah si kecil dengan kedua tangannya. Melihat wajah merah dan juga air mata di pipi Ara, Stela jadi merasa bersalah karena dua hari ini sudah meninggalkan putri cantiknya.


"Jangan nangis sayang, nanti mommy ikut sedih. Sekarang mommy 'kan sudah ada di sini bersama Ara dan daddy," ucap Stela. Ia menghujani banyak kecupan di wajah mungil Ara.


"Jangan pelgi lagi!" larang Ara. Ia merangkul leher Stela erat, seakan takut jika gadis muda itu pergi lagi. meninggalkannya.


Stela hanya mengelus surai hitam Ara sayang, dia tidak bisa berjanji untuk tidak akan pergi lagi karena saat ini ia masih harus tinggal di kediaman Wijaya.


Tristan hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Hatinya bahagia karena kini kesedihan keponakannya setelah kehilangan orang tua tidak lagi terlihat. Bahkan Ara seakan sudah melupakan kedua orang tua kandungnya, tapi suatu saat nanti Tristan janji akan menjelaskan semuanya. Saat gadis kecilnya sudah sedikit lebih dewasa.


.......


"Woah... anak mommy cantik sekali," puji Stela saat Ara telah berdandan dengan baju balet yang dibawakannya.


"Thankyou mommy, Ala love you so much." Gadis itu memeluk Stela dan menghadiahi ciuman sayang di pipi mulus mommynya.


"Urwell baby. Oh ya, mommy juga bawakan kaset latihan untuk menari balet. Mari mau melihatnya, sekaligus belajar?" ajakan Stela dianggukki dengan semangat oleh gadis kecil itu.


Mereka bertiga menuju ruang tengah, Tristan langsung memutar kaset yang diberikan Stela padanya.


"Ayo sayang, mommy ajarkan gerakan dasarnya!" Dua perempuan kesayangan Tristan langsung sibuk menari di depan tv sementara pria itu sendiri menyaksikan mereka dengan senyuman bahagia.


.......


Tristan sedang membuat jus di dapur saat sebuah pelukan dari belakang melingkar erat di perutnya.


"El?"


"Miss you," lirih Stela. Tak bertemu dua hari membuat ia sangat merindukan Tristan. Sedari datang tadi ia sudah mencoba menahan diri karena ada Ara di antara mereka dan sekarang disaat gadis kecil itu tidur, Stela tak tahan lagi untuk tidak menuntaskan rasa rindunya.


Tristan menghentikan kegiatannya, ia membalik tubuh menghadap Stela. "Miss you too Honey," bisiknya. Lantas mereka berdua berpelukan erat.


Pria 25 tahun itu mengelus lembut rambut pirang Stela yang terasa sangat halus di tangannya. "Apa kakak-kakakmu masih lama disini?" tanyanya.


"Kak Cio dan Frere akan kembali besok sementara Kak Anne masih akan ada di sini untuk beberapa waktu lagi, ia masih sibuk untuk acara fashion week pekan depan," jawab Stela yang masih betah bersandar di dada bidang sang kekasih.


Terdengar suara desahan halus dari mulut Tristan, tampaknya pria itu kecewa karena masih harus berpisah lama dengan sang kekasih.


"Kak?" Stela melepas pelukannya dan sedikit mendongak menatap prianya.


"Aku ikut serta dalam fashion week mendatang, kak Anne yang seorang designer memintaku untuk memperagakan rancangannya," beritahu Stela.


Tristan sedikit terkejut, tapi kemudian ia tersenyum lembut menatap gadisnya. "Tidak apa. Kau cantik, tinggi dan sangat cocok untuk berjalan di catwalk," pendapat Tristan.


Stela terdiam, ia terlihat berpikir. "Tapi aku takut membuat kesalahan yang nanti akan mempermalukan diriku bahkan kakakku juga."


"You can do it, I'm sure for that."


Stela mengangguk walau dalam hati masih meragu.


"Kak!"


"Hm?"


"Kau mau ikut serta juga?" Stela ingat jika Anne memintanya untuk mengajak Tristan mengikuti ajang pekan busana itu.


"Fashion week?"


"Iya."


"Tidak. Memang sempat ditawari tapi aku menolak."


"Kenapa?" tanya Stela heran. Biasanya para model berlomba untuk bisa mengikuti ajang itu agar namanya semakin terkenal, tapi kenapa kekasih tampannya ini menolak.


"Malas. Menjadi model hanyalah hobiku, jadi aku tidak terlalu berambisi menjadi terkenal," jelasnya.


"Sombong sekali," tukas Stela.


Tristan hanya tersenyum menanggapi ucapan Stela.


"Tapi kakakku ingin mengajakmu bergabung loh, mau ya?" ajak Stela.


"Aku tidak tertarik, sayang."


"Aku juga ikut Kak. Mau ya? Di sana kan kita bisa bertemu setiap saat. Ya?" bujuknya.


Tristan mulai berpikir, jika Stela ikut tidak ada salahnya 'kan jika dia ikut juga. "Baiklah." Akhirnya ia setuju juga, demi sang kekasih.

__ADS_1


"Thanks Darling."


Cup


Kecupan singkat mendarat di bibir Tristan.


"Aku mau masak makan siang dulu, ada apa ya di kulkas?" Stela segera menjauh dari Tristan dan berjalan menuju lemari es. Melihat bahan apa saja yang bisa ia masak.


Sementara Tristan kembali berkutat dengan jusnya yang masih setengah jadi.


"Jus tomat?" Tristan menyerahkan segelas jus pada Stela saat gadis itu tengah sibuk memotong bawang.


"Eww... I don't like it," tolak Stela. Ia memang tidak menyukai buah berwarna merah favorit Tristan itu.


"Ini enak loh."


"Kau saja yang minum."


Akhirnya dua gelas jus tomat habis dinikmati oleh Tristan sendiri.


.......


Tristan baru kembali dari menerima telpon, ia menghampiri sang kekasih yang kini sibuk mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.


"Perlu bantuan?" bisiknya yang sudah merangkul tubuh Stela dari belakang secara tiba-tiba.


Deg


"Kalau ini namanya bukan membantu tapi mengganggu." Stela yang kaget merasa kesal hingga ia mencubit lengan Tristan yang melingkar di perutnya.


"Sakit Hon," protesnya. Ia melepas pelukannya pada tubuh Stela dan mengusap lengannya yang dicubit. Tidak tanggung-tanggung, Stela mencubitnya dengan emosi hingga meninggalkan ruam merah di lengan putihnya.


"Tega sekali." Tristan cemberut. Ia meniup-niup kulit lengannya yang memerah karena cubitan cinta sang kekasih.


Stela yang melihat itu jadi merasa bersalah. Karena kaget bercampur kesal, ia tak sengaja menggunakan tenaga dalamnya untuk mencubit Tristan.


"Sorry Darl." Stela meraih lengan Tristan dan bantu meniupnya. "Masih sakit?"


"Hm." Tristan mengangguk manja. "Sepertinya ia butuh sedikit kecupan," pintanya.


Stela yang tahu itu hanyalah akal-akalan Tristan malah menghempas tangan pria itu dari pegangannya. "Ck. Jangan berlebihan, hanya luka kecil."


Si pria terkekeh, ia kembali menghampiri Stela dan memeluknya lagi seperti tadi.


"Mau dicubit lagi?" desisnya kesal.


"Mau. Cubitan cinta," bisik Tristan tepat di telinga Stela, membuat tubuh gadis itu meremang sesaat.


Stela mendesah kesal. "Kapan selesai masaknya kalau kau terus menempel seperti ini, Kak?" protesnya.


"Lalu kapan kita bisa bermesraan seperti ini jika kau selalu saja sibuk, hm?" Balas Tristan.


Stela terdiam, ia tak tahu jika Tristan menginginkan hal yang seperti itu juga. Memang sih, mereka jarang menghabiskan waktu berdua tapi tidak saat ia sedang memasak juga, kan?


"Enghh... Kak!"  Stela melenguh saat Tristan tiba-tiba mengecupi sekitar leher dan rahangnya. Rasa geli ketika bibir hangat itu menjelajah kulitnya membuat darahnya berdesir hebat. "Stop it, Kak!" Stela menggeliat, ia berupaya menjauh namun tubuhnya yang dipeluk erat oleh Tristan sulit untuk dilepas.


"Diam dan nikmati!"


What?


Cup


Tristan mengakhiri kegiatan usilnya dengan satu kecupan lama di pipi Stela. Ia tak tega melihat kekasihnya itu yang begitu risih akibat perbuatannya.


"Lanjutkan, aku akan ke kamar sebentar." Tristan melepas pelukannya dan akan segera beranjak pergi, tapi tarikan pada lengannya membuat ia berhenti dan menatap si tersangka penarikan.


"Mau sosis?" Stela menyumpit dan menyuap satu buah sosis kesukaan Ara dan menahan setengah dari sosis itu di depan mulutnya. Ia menyodorkan setengah sosis yang tidak masuk ke dalam mulutnya ke hadapan Tristan.


Awalnya Tristan merasa bingung dengan apa yang tengah dilakukan kekasihnya, namun setelah berpikir sejenak ia tersadar akan apa yang harus ia lakukan.


Cup


Tristan melangkah mendekati Stela, satu tangannya meraih tengkuk gadis itu sementara mulutnya langsung melahap setengah sosis yang berada di luar mulut gadis itu. Setelah sosis raib masuk ke dalam mulutnya, Tristan tak menyia-nyiakan kesempatan, ia mel*mat habis bibir Stela.


Keduanya berpagutan cukup lama, setelah merasa kekurangan napas, mereka akhirnya menyudahi ciuman panjang itu.


.......


Selesai makan siang, Tristan dan Stela menemani Ara berlatih balet di ruang tengah. Gadis kecil itu tampak semangat bergerak sesuai dengan apa yang dilihatnya pada tayangan di televisi.


"Ara sangat pintar, dia belajar gerakan dasar dengan cepat," ucap Stela bangga.


"Hm. Semua berkat dirimu," balas Tristan.


Stela tersenyum, ia menggeser duduknya mendekat ke tubuh Tristan dan menyandarkan kepalanya pada bahu lebar pria itu.


"I love you." Kalimat itu tersuara begitu saja dari mulut Stela.


Tristan mengulurkan tangannya dan mendekap sang kekasih ke dalam pelukannya. "I love you too," balasnya. Satu kecupan lama mendarat di pelipis Stela  


"Ah.. .nyaman sekali." Stela memeluk tubuh Tristan dengan erat, kepalanya tersandar nyaman di dada si pria.


"Tempat nyaman ini hanya milikmu," ucap Tristan.


"Tentu saja, aku tidak rela ya kalau berbagi," tukas Stela.


"Iya sayang."


.......


Stela dan Ara saat ini tengah menunggu Tristan yang sedang bersiap-siap. Sore ini pria itu akan mengantarkannya pulang bersama Ara.


Kebosanan karena menunggu, iseng Stela membuka akun instagramnya. Dia mencari sebuah akun yang dirasa dapat membantu masalahnya.


"Dapat." Stela kegirangan saat akun yang dicari telah ia temukan. Langsung saja ia membuka profil akun yang memiliki follower dua juta lebih itu. Dia seorang designer muda dan sangat terkenal di Indonesia.


Stela melihat beberapa foto yang diposting oleh akun seorang pria itu, kebanyakan postingannya hanya memamerkan rancangan pakaian dan hanya ada beberapa foto dirinya dalam berbagai suasana dan acara.


"Bagus ya, kekasihku men-stalking akun pria lain di belakang diriku." Tristan datang mengejutkan dari arah belakang.


"Kak Tristan?"


"Siapa pria itu?" tanya Tristan bernada cemburu.


"Hm... hanya seseorang yang akan memuluskan rencanaku," jawab Stela santai.

__ADS_1


"Kau menyembunyikan sesuatu di belakangku?" Mata Tristan menyipit curiga.


Stela bangkit dari duduknya. "Akan ku ceritakan di mobil. Ayo pergi!"


.......


Mobil Tristan sampai di sebuah mansion mewah milik kediaman Wijaya. Pria itu memuji bangunan mewah milik keluarga kekasihnya itu. Terbesit sedikit rasa rendah diri begitu mengetahui jika Stela bukanlah orang sembarangan, dia berasal dari keluarga yang terbilang sangat kaya.


"Mobil siapa, ya?" gumam Stela saat sampai di depan mansion dan melihat ada mobil mewah berwarna merah metalik terpakir disana.


"Kenapa?" tanya Tristan yang heran melihat kekasihnya memperhatikan mobil yang terpakir di sebelah mobilnya.


"Sepertinya ada tamu," jawab Stela. "Kalau begitu ayo masuk!" ajaknya.


Mereka beriringan masuk ke mansion mewah itu.


"Lumah mommy besal ya kayak istana, Ala boleh tidak tinggal di sini?" celoteh Ara yang berada di gendongan Sasuke.


Tristan.


"Boleh dong." Stela mencubit pipi Ara gemas.


"Kalau Ara tinggal di sini, berarti daddy sendiri dong. Apa Ara tega meninggalkan daddy sendiri di apartemen?" tanya Tristan memelas.


Bocah itu terlihat berpikir. "Daddy tinggal di sini saja sama mommy dan Ala," sahutnya asal. Hal itu mengundang gelak tawa Tristan dan Stela.


Mereka melangkah memasuki pintu utama mansion yang memang terbuka lebar, beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Ada tamu?" tanya Stela.


Salah seorang pelayan mengangguk. "Nona Anne saat pulang tadi membawa tamu," jawab si pelayan sembari menunduk.


Stela mengangguk dan kemudian mengajak Tristan juga Ara masuk ke ruang tengah dimana sang kakak dan tamunya berada.


"Ela!" Anne bersorak girang begitu melihat kemunculan sang adik. "Akhirnya kau pulang juga. Lihatlah siapa yang datang!" Perempuan itu berdiri dan menarik Stela menuju ke hadapan dua orang tamunya.


"Hey Princess!" sapa si tamu pria yang memiliki penampilan keren bak model.


Stela melongo melihat siapa yang menyapanya. "Kak William?" pekiknya tak menyangka.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, mungkin pribahasa itulah yang cocok untuk keadaan Stela saat ini. Beberapa saat yang lalu ia baru saja mencari tahu tentang pria ini dan sekarang di sudah berada di hadapan. Woah... kebetulan menakjubkan macam apa ini.


"Kau juga bawa tamu ternyata," ucap Anne begitu menyadari jika sang adik tidak datang sendiri. Ada seorang pria tampan dan bocah cantik yang bersamanya.


Anne menghampiri tamu yang dibawa sang adik. "Kau pasti Tristan?" tebaknya. "Dan si kecil cantik ini pasti Ara, anaknya mommy Ela?" Anne mencubit pelan pipi chubby bocah di gendongan Tristan.


Tristan mengangguk sementara Ara memandang Anne dengan mata bulatnya yang lucu. "Aunty cantik siapa?" tanya si kecil polos.


"Hey. Nama aunty Anne, aunty ini adalah kakaknya dari mommymu," jelas Anne.


"Kakak mommy?"


"Yes baby."


"Aunty Anne cantik sama sepelti mommynya Ala," celetuknya.


Anne tertawa melihat kelucuan Ara, setelah itu dia mempersilahkan Tristan dan Ara untuk duduk.


Setelah semuanya duduk berkumpul, pelayan datang membawakan minuman dan juga cemilan untuk mereka yang baru datang.


"Sepertinya kita memang berjodoh, iyakan, Tristan?" Pria bernama William itu membuka percakapan setelah sebelumnya mereka sibuk menikmati minuman yang tersedia.


Tristan mengernyit bingung, tidak mengerti dengan ucapan designer muda yang beberapa waktu lalu pernah menawarinya untuk ikut serta dalam fashion week, tapi ditolaknya.


"Kak, kak Tristan katanya mau ikut serta dalam fashion week kali ini." Stela memberi tahu.


Anne mengangguk. "Aku sudah menduganya. Tristan tidak mungkin menolak permintaan kekasihnya. Benar, kan?" tanya Anne sembari menatap kekasih adiknya.


Wajah Tristan memerah mendapat pertanyaan seperti itu. Ia hanya diam, tak menjawab maupun membenarkan. Ia merasa malu, karena dirinya terkesan seperti budak cinta yang akan selalu menuruti keinginan orang yang dicintainya.


Semua yang ada disana tersenyum geli melihat reaksi Tristan. Anne kemudian berdehem untuk memulihkan suasana.


"Seperti yang aku katakan, Stela akan menjadi modelku nanti pada ajang fashion week dan masih ada seorang model lagi yang aku ikut sertakan tapi dia tidak terlalu penting. Sementara Tristan akan menjadi model dari William," jelas Anne.


Oh, jadi maksudnya berjodoh oleh William itu adalah jodoh dalam pekerjaan. Padahal sudah pernah ditolak tapi akhirnya Tristan harus menjadi model dari designer pakaian pria itu lagi.


"Apa kau keberatan?" tanya William pada Tristan.


"Tidak." Memang Tristan bisa menolak dan mengecewakan Stela? Jawabannya tidak.


"Baiklah. Kita bisa mulai latihannya besok. Dan ya, ku perkenalkan, dia adalah Stev, sahabat William yang akan mengajarkan kalian caranya berjalan di catwalk, terkhusus untukmu... El." Anne memperkenalkan seorang pria lainnya yang memiliki rambut pirang dan terlihat sedikit gemulai yang sedari tadi duduk diam bersama mereka.


Stela dan Tristan mengangguk setuju.


"Aku akan menghubungi managermu nanti," tambah William yang ditujukan pada Tristan.


.......


Setelah sibuk membahas masalah peragaan busana itu, Will dan Stev pamit pulang, begitu juga dengan Tristan. Kekasih Stela itu pulang sendiri karena Ara merengek minta tinggal bersama mommynya.


Saat dua adik kakak itu mengantarkan tamunya ke luar, mereka bertemu dengan Abercio juga Sebastian yang baru pulang.


William sempat menyapa Abercio karena mereka memang saling mengenal saat dulu dirinya pernah berkunjung ke kediaman Knight di Inggris.


"Aku pulang dulu, nanti aku akan menghubungimu," ucap William pada Anne saat pria itu akan masuk ke dalam mobilnya.


"Iya," angguk Anne seraya tersenyum manis.


Hal itu ternyata tidak luput dari perhatian orang-orang yang berada disana. Stela seketika melirik ke arah Sebastian dan Gotcha, wajah pria itu terlihat masam dan Stela agaknya tahu kenapa hal itu bisa terjadi.


"Apa dia cemburu?" bisik Tristan yang masih berdiri di samping Stela. Kekasihnya sudah menceritakan semuanya saat perjalanan menuju ke mansion Wijaya tadi. Bagaimana Stela memiliki sebuah rencana untuk menyatukan kakak perempuannya dengan si pria silver itu. Tristan sih mendukung saja yang penting hubungannya dengan Stela tidak diganggu lagi oleh Sebastian.


Ceritanya, William dan Anne adalah teman baik saat mereka sama-sama menempuh sekolah mode di Paris beberapa tahun lalu. Anne sering mengajak William berkunjung ke London, ke rumah mereka. Tak jarang perempuan itu curhat pada sang adik bahwa William sering mengajaknya berkencan dan tak lupa mengatakan cinta setiap waktunya. Anne tentu saja menolak karena dia sudah menyukai orang lain. Tak disangka jika kini mereka bertemu lagi. Padahal Stela baru saja ingin meminta bantuan William untuk membuat Sebastian menyadari perasaannya sebelum terlambat. Tapi jika hal itu ternyata malah membuat Anne dan William semakin dekat, Stela angkat tangan akan nasib cinta pria Perancis itu.


"Baiklah, aku pulang ya." Tristan pamit dan mencium santai kening Stela di hadapan semua orang.


"Hati-hati." Stela melepas Tristan dengan senyuman manisnya.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...


...Terima kasih...


.......

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H bagi semua yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin🙏🏻


__ADS_2