
...🌻Selamat Membaca🌻...
Stela baru saja selesai memasak sarapan dan menatanya di meja makan bertepatan dengan Ara yang bangun tidur dan keluar kamar mencarinya.
"Mommy..." Gadis kecil itu sedikit merajuk. Mengulurkan kedua tangan mungilnya minta digendong.
"Kenapa, Baby?" tanya Stela yang kini tengah mengelus punggung Ara yang bersandar manja di pundaknya.
Si kecil hanya menggeleng, tangannya memeluk erat leher Stela, seolah tak ingin membiarkan ibunya lepas dan pergi meninggalkannya seperti kemarin malam.
"Kita cuci muka dulu ya, setelah itu sarapan." Stela membawa tubuh Ara ke dalam kamar.
.......
Kini mereka sudah berada di meja makan. Sepiring nasi goreng dan segelas susu sudah tersaji di hadapan Ara. Namun gadis itu belum berniat memakannya. Ia memandang kursi kosong yang biasa diduduki Tristan.
"Mommy, di mana Daddy?" tanya Ara. .
Stela menelan ludah gugup, ia tidak mungkin memberitahukan jika saat ini Tristan berada di rumah sakit. Ia takut jika nanti Ara akan histeris apalagi jika sampai mengingat kedua orang tuanya yang meregang nyawa di rumah sakit.
"Daddy sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali sayang, dia sibuk." Hanya itu yang dapat Stela katakan. Walau harus berbohong tapi setidaknya itu demi kebaikan.
Wajah Ara masih terlihat murung, entahlah... sejak bangun tadi, si kecil tidak ceria seperti biasanya.
"Mommy suapin, ya?" tawar Stela.
"Iya, Ala mau disuap sama Mommy," angguknya.
Stela menarik piring makan Ara, membawanya ke hadapan. Satu sendok ia sodorkan ke depan mulut bocah itu. "Aaa....."
Ara membuka mulut dan menerima suapan itu. Ia mengunyah makanannya pelan, seakan tidak memiliki nafsu makan.
"Ala, mau tidak nanti kita main ke rumah adik Vero ?" Stela memutar otak untuk bisa membuat Ara kembali semangat, dan yang terlintas di otaknya ya cuma itu. Sudah lama rasanya ia tidak bertemu Risa dan bayi tampannya.
Bisa dilihat jika sekarang Ara mengangkat kepalanya, seperti tertarik. "Iya Mommy. Ala lindu adik Velo. Lindu aunty Lisa juga," katanya.
"Ok, nanti kita ke sana ya. Sekarang Ara habiskan dulu makanannya."
"Iya. Mommy suapin Ala lagi," pintanya. Mulutnya bahkan sudah menganga menanti makanannya.
Stela tersenyum. Syukurlah, Ara tidak susah untuk dibujuk.
"Aaaa... pesawatnya datang......" Stela menyendok nasi goreng dan menerbangkannya seperti pesawat. Melayang-layang di udara sebelum masuk ke dalam mulut Ara. Bocah itu terkikik kecil dengan aksi sang ibu.
"Pesawat lagi Mommy!" pintanya semangat.
"I'm coming....." Dan begitu seterusnya sampai sepiring ludes berpindah dalam ke perut Ara.
Selesai Ara makan, kini giliran Stela. Ia menyuap makanannya dengan perlahan. Teringat dengan Tristan di rumah sakit yang saat ini tengah dijaga oleh Jovanka. Pagi-pagi sekali, Stela pulang ke apartemen. Ia meminta Jovanka menggantikannya sebentar karena ia harus mengurus Ara. Bocah itu pasti kebingungan jika dia tak pulang-pulang. Beberapa helai pakaian Tristan juga dikemas dalam sebuah tas untuk dibawa sahabat kekasihnya itu.
.......
Ara dan Stela sudah rapi dan akan segera berangkat. Tiba-tiba gadis itu ingat jika tadi ia sempat membawa pulang ponsel Tristan yang kebetulan kehabisan baterai. Lalu ia mengambilnya dari dalam tas dan mengisi ulang dayanya.
Rasa penasaran pun muncul saat ia menghidupkan ponsel Tristan. Ia mengusap layar ponsel dengan wallpaper foto mereka bertiga itu. Tanpa kata sandi, kini menu utama sudah terbuka. Jari tunjuk Stela langsung menekan ikon pesan.
Tak ada satu pesan pun dari Vania, kebanyakan hanyalah spam. Kemudian ia beralih menekan ikon panggilan. Nomor terakhir yang dihubungi dan menghubungi Tristan hanyalah dirinya, tak ada yang lain pada hari itu.
Stela menghela napas pelan, lalu kenapa Vania bisa bersama dengan Tristan jika mereka tidak membuat janji sebelumnya. Apakah mereka hanya kebetulan bertemu, pikir Stela. Ahh... ia sungguh penasaran akan yang satu itu.
"Mommy, ayo!" Suara cempreng Ara berhasil mengalihkan pikiran Stela.
"Ayo sayang."
.......
"Terima kasih." Tristan mengelap mulutnya dengan selembar tisu yang diberikan Jovanka. Sahabatnya itu baru saja menyuapinya makan.
"Sekarang minum obatnya." Setelah menaruh mangkuk bekas bubur di atas meja, kini Jovanka menyodorkan beberapa butir obat dan juga segelas air putih ke hadapan Tristan. Pria itu mengambilnya dan meminumnya sendiri.
"Kapan Stela kembali kemari?" tanya Tristan. Ia masih duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku tidak tahu, dia harus mengurus Ara lebih dulu kan? Tenang saja, nanti dia pasti akan kesini."
"Apa Ara tahu kalau aku kecelakaan?"
Jovanka mengangkat bahunya. "Tidak tahu, tapi sepertinya Stela tidak akan memberitahu Ara. Anak itu pasti akan cemas jika tahu kau berada di rumah sakit."
"Hm. Semoga Stela tidak memberitahunya." Tristan juga tidak ingin keponakan kecilnya mengkhawatirkan dirinya.
"Aku memberitahu ayahmu bahwa kau kecelakaan," ucap Jovanka.
Tristan langsung mendelik, matanya menatap Jovanka tajam. "Kenapa kau beritahu pada pria tua itu!" geramnya.
"Apa salahnya? Dia orang tuamu dan dia berhak tahu keadaan anaknya."
Tristan berdecak. "Dia tidak pernah peduli padaku."
__ADS_1
"Tan, kau-"
Ucapan Jovanka menggantung saat suara pintu terbuka terdengar di telinganya. Perempuan itu menoleh dan mendapati Teguh berdiri di ambang pintu. Senyum Jovanka merekah, ia berbalik menatap Tristan dengan senyum yang berubah jahil. "Ayahmu peduli padamu," bisiknya kemudian bangkit berdiri.
"Silakan masuk, Paman. Saya permisi keluar sebentar."
Jovanka keluar ruang inap Tristan, ia ingin memberi waktu berdua untuk ayah dan anak itu. Ia tahu jika hubungan keduanya tidak baik, dengan ini ia berharap agar Tristan melunak dan tak membenci ayahnya lagi.
.......
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Teguh memulai obrolan.
"Seperti yang terlihat," jawab Tristan dengan tetap mempertahankan wajah datar dan dinginnya.
Teguh terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa lagi jika terus-terusan mendapatkan respon tak menyenangkan dari sang putra.
Tristan juga diam, ia tak akan pernah memulai suatu obrolan dengan pria yang sangat dibencinya. Hal itu hanya akan mengingatkannya pada penderitaan sang ibu.
Pria baya itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Terdengar beberapa kali hembusan napas keluar dari mulutnya. "Tristan," panggilnya kemudian. Ia memandang sendu Tristan dengan mata tua yang tampak berkaca-kaca. Teguh tak ingin lagi menjadi musuh bagi anaknya, hanya Tristan yang ia miliki saat ini.
"Hn?" Seperti sebelumnya. Tak akan ada namanya sikap hangat untuk sang ayah. Masih datar, dingin, cuek dan tidak peduli.
"Maafkan ayah, Nak."
Tristan langsung melirik wajah tua yang sudah dimakan usia itu. Senyum geli kini terpampang di wajahnya. "Maaf untuk apa?" tanya Tristan memancing. Ia ingin saat ini sang ayah mengakui semua kesalahannya.
Teguh terlihat menghela kembali napasnya, terdengar berat seperti ada beban yang menghimpit dadanya. "Maaf untuk semua kesalahan yang sudah ayah perbuat selama ini," jawabnya.
Tristan tersenyum sinis, ia belum merasa puas. "Coba sebutkan satu saja kesalahan terbesar yang sudah kau lakukan?" tantangnya.
Teguh mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. Wajahnya terlihat kaget saat menerima pertanyaan yang begitu berat baginya untuk dijawab. Bukan karena dia tak mengakui kesalahannya, tapi lebih kepada penyesalan yang menyesakkan dada kala mengingat semua dosa yang sudah ia lakukan pada mendiang istri tercintanya. Ia membisu.
"Tidak bisa menjawab? Lalu untuk apa kau meminta maaf, huh?" bentak Tristan.
Pria tua itu memucat. Tak pernah terbayangkan olehnya jika anak yang dulu sering ia bentak, marahi bahkan pukul, kini bisa membalas semua perbuatannya. Sangat menyakitkan, jika tahu akan seperti ini jadinya ia tak akan pernah melakukan kesalahan itu.
Flashback
"Melisa!" Terdengar suara teriakan bass dari arah ruang makan, seorang wanita cantik bersurai hitam panjang berlari tergopoh-gopoh menuju si pemanggil.
"Iya, ada apa?" tanya wanita bernama Melisa itu lembut pada suaminya.
Pria yang merupakan suami si wanita, bernama Teguh, mengambil piring di atas meja dan menghempaskannya dengan kasar ke lantai hingga bunyi pecahan kaca terdengar memekakkan telinga.
"Apa ini, kau mau membuatku darah tinggi, huh? Makanan yang kau buat rasanya seperti air laut. ASIN!" bentaknya.
"Selalu saja seperti ini, kapan kau bisa melakukan sesuatu dengan baik? Apa perlu aku mengajarimu dulu baru kau bisa berubah?" bentaknya lagi.
Melisa hanya diam, tak berani membantah. Mengeluarkan suara sekecil apapun ia tak lagi berani. Karena seperti yang sudah-sudah, jika ia membela diri maka telapak tangan lebar Teguh akan mendarat di pipi kurusnya.
"Kau tuli? Kau bisu? Kenapa tidak jawab pertanyaanku, huh?" Teguh mencengkram pipi Melisa, ia berteriak di depan wajah wanita malang itu.
Ibu dari Taufan dan Tristan itu hanya bisa memejamkan mata. Menerima semua perlakuan pria yang begitu dicintainya. Entahlah... dulu suaminya begitu baik dan penyayang. Namun, beberapa tahun belakangan ini semuanya berubah, ia tidak tahu apa penyebabnya.
"DASAR TIDAK BERGUNA!" Teguh melepas cengkramannya dengan kasar membuat tubuh Melisa terhuyung dan jatuh menabrak meja makan.
"IBU!!!" Tristan yang baru turun dari kamarnya langsung berlari menghampiri sang ibu yang jatuh mengenaskan. Ia membantu wanita yang sudah melahirkannya itu untuk bangun. Ia dudukkan Melisa pada salah satu kursi.
Setelahnya, bungsu Gautama itu menoleh pada sang ayah. Matanya memandang Teguh penuh benci, amarah berkobar-kobar dalam dadanya.
"Jangan sakiti lagi ibuku!" teriak Tristan. Ia mendekati Teguh dan mendorong tubuh besar sang ayah hingga sedikit terhuyung ke belakang.
Saat itu Tristan masih duduk di bangku akhir sekolah menengah pertama.
"Dasar anak kurang ajar!"
PLAK
Teguh yang emosi karena perlakuan lancang putranya segera mendaratkan tangan besarnya di pipi Tristan.
"JANGAN!" pekik Melisa. "Jangan sakiti putraku, kau boleh menyiksaku tapi jangan sentuh anak-anakku!" Wanita itu menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi sang putra.
"Tidak Bu, aku akan melindungi Ibu." Tristan berpindah ke depan sang ibu, menjadi perisainya. Kembali ia menatap sang ayah nyalang. "Silakan sakiti aku, tapi jangan lagi pukul Ibuku!"
"Tristan!" pekik Melisa yang sudah berlinang air mata.
Teguh tertawa mengejek. "Sudah mau jadi pahlawan kesiangan kau, eh?"
PLAK
"Rasakan ini!"
PLAK
Sudah tiga kali tamparan didapatnya dan Tristan masih bergeming di tempatnya. Ia terima semua pukulan itu asalkan ibunya tak lagi menderita.
Wajah Tristan memerah, jejak tangan terlihat jelas di pipinya, sudut bibirnya juga robek dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Sudah hentikan!" Tiba-tiba Melisa sudah berlutut saja di kaki Teguh agar suaminya mau menghentikan penganiayaan pada anaknya.
"IBU!" jerit Tristan. Ia tak terima jika sang ibu berlutut di kaki ayah biadabnya.
"Dasar, ibu dan anak sama-sama tidak berguna." Teguh menyentak kakinya yang dipegang Melisa lalu pergi meninggalkan ruang makan.
"Ibu." Tristan menghampiri Melisa dan membantunya bangkit. Membawa sang ibu menuju kamar untuk beristirahat.
"Ibu istirahat, ya." Setelah membaringkan tubuh ringkih ibunya di kasur, Tristan menyelimutinya.
"Terima kasih, sayang," jawab wanita itu mengulas senyum manis untuk putra yang sangat disayanginya.
Tristan mengangguk, menatap ibunya dengan penuh cinta. Ia genggam tangan kurus yang dulu selalu menyuapinya makan, ia kecup dengan sayang. "Bu, tidak bisakah kita pergi saja dari sini? Kita keluar dari neraka ini dan hidup berdua saja," bujuk Tristan.
Melisa menggeleng lemah. "Tidak, Nak. Bagaimana dengan kakakkmu?"
"Terserah dia, kalau dia mau ikut kita silakan. Jika ingin bersama pria sialan itu juga aku tidak peduli," jawabnya. Saat ini Taufan tengah menempuh pendidikannya di luat kota.
"Tidak boleh bicara seperti itu, bagaimana pun juga dia adalah ayahmu," peringat sang ibu.
"Aku tidak punya ayah berhati iblis seperti itu, Bu."
"Jangan begini, Nak." Melisa kembali menangis. "Dia ayahmu dan ibu sangat mencintainya."
Tristan berdecih. "Setelah sebegitu parahnya dia menyiksa Ibu, masih bisa ibu bilang jika ibu mencintainya. Jangan bodoh Bu, untuk apa bertahan dengan pria bajingan itu," ketus Tristan yang sedikit banyaknya sudah muak dengan sifat terlampau baik Melisa.
Melisa menggeleng. "Terserah dia mau memperlakukan ibu seperti apa. Asalkan dia tak berkhianat, ibu masih sanggup bertahan demi anak-anak ibu."
Deg
Tristan membatu. Ibunya memang berhati malaikat, sampai-sampai tidak tahu jika suami yang begitu dicintainya sudah lama berkhianat. Tristan sering melihat ayahnya bersama seorang wanita murahan keluar masuk hotel. Ia tak berani dan tak tega memberitahu sang ibu hal itu karena ia tahu, itu pasti akan sangat menyakitkan.
"Ibu sayang sekali padamu dan Taufan, jadi jangan pernah tinggalkan ibu, ya. Sebenci apa pun kamu pada ayahmu, kita harus tetap bersama-sama," pinta Melisa.
"Ibu." Tristan memeluk ibunya. Air matanya mengalir deras. "Maafkan aku, Bu. Maaf."
.......
Tristan menghapus air mata yang menetes sesaat setelah kenangan pahit di masa lalu kembali teringat di otaknya. Ia melirik Teguh yang tertunduk dalam penyesalan di hadapannya.
Apa ia kasihan? Jawabannya TIDAK.
"Tristan, maafkan ayah. Maaf karena ayah telah membuat kau dan ibumu menderita. Ayah...-,"
"CUKUP!"
"Tristan?"
"Sekarang kau pergi dari sini!" usirnya. "Arrrgghhh....." Tristan menekan kepalanya yang kembali berdenyut nyeri. Kilasan memori menyakitkan itu berputar-putar di benaknya. Membuat kepalanya semakin sakit tak tertahankan.
"PERGI!"
"Arghhhh....."
BRAKKK
Pintu terbuka lebar, Stela yang baru datang mendengar keributan di dalam segera menerobos masuk.
"Kak Tristan!" jeritnya saat melihat lelakinya kesakitan sembari memegang kepala. Ia ingat jika dokter tidak memperbolehkan Tristan untuk berpikir keras.
"Ela." Tristan memeluk gadisnya. "Tolong usir tua bangka itu. Aku tidak mau melihatnya. Kepalaku sakit jika mengingat dosa-dosa yang sudah ia lakukan dulu. Argghhh....." pintanga diakhiri erangan.
Stela mengelus kepala Tristan yang bersandar di dadanya. Ia menatap Jovanka yang berdiri di dekat pintu. Memberi kode pada perempuan itu untuk melakukan sesuatu.
Jovanka yang mengerti langsung menghampiri Teguh. "Paman kita keluar dulu, ya," bujuk Jovanka. Mau tak mau pria tua itu mengangguk, tak tega melihat putra bungsunya menjerit kesakitan seperti itu karena kehadirannya.
Pintu ditutup Jovanka dari luar.
"Tenang sayang, aku ada di sini. Semua baik-baik saja," bisik Stela mencoba menenangkan.
"El." Tristan semakin membenamkan kepalanya di dada Stela. Tangannya memeluk pinggang ramping itu erat. "Aku rindu ibu, El. Aku merindukannya." Pria itu terisak-isak.
Tes
Air mata Stela menetes. Ia mengerti dengan kesedihan sang kekasih. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah berada di sampingnya, mendengar semua keluh kesah pria itu.
"Tenanglah...."
"Aku ada di sini."
"Bersamamu."
...Bersambung...
...Terima kasih sadah baca😊...
Pembacanya dikit kali, apa ceritanya kurang menarik, ya?🙄
__ADS_1