BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Kejujuran


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Vania duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menatap datar ke arah pasangan Stela dan Tristan yang duduk di sofa di ruang rawat inapnya tersebut. Di sana juga ada Evan, dan kedua orang tuanya.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Van!" auruh Evan.


Perempuan itu menatap Evan sejenak. Setelah mendapat anggukkan dari kakak yang dicintainya, Vania kemudian beralih memandang Tristan.


Lama ia menatap pria yang sudah menyelamatkannya itu. Menyelamatkannya dari cengkraman Boni, tapi malah membuatnya berakhir di rumah sakit.


Tristan yang ditatap seperti itu oleh Vania menjadi gelisah sendiri. Ia sering terjebak oleh tipu daya perempuan itu. Membuatnya selalu was-was.


"Tristan... dia—"


Deg


Deg


Flashback


"Aku tidak mau makan!" pekik Vania saat sang ibu beberapa kali mencoba membujuknya untuk makan.


Evan yang baru saja masuk, menghampiri ibu dan adiknya itu. "Biar aku saja yang menyuapi Vania, Bu."


Istri Thomi itu menatap Evan yang sudah ia anggap seperti putra kandungnya sendiri, ia kemudian menyerahkan mangkuk bubur Vania kepada pria itu. "Tolong ya, ibu mau pulang sebentar. Titip Vania."


Evan mengangguk. Ia duduk di kursi bekas ibunya duduk tadi.


"Sudahku katakan, aku tidak mau makan," ucap Vania penuh penekanan.


"Sedikit saja," bujuk Evan.


"Tidak!" Masih berusaha menolak.


Akhirnya Evan menyerah, ia meletakkan kembali mangkuk bubur di atas meja samping ranjang. Setelahnya, ia memandang Vania lama.


"A-apa lagi? Tak bisakah kau tinggalkan aku sendiri?" protes Vania yang risih karena terus diperhatikan Evan. Selain risih, ia juga gugup.


Evan memperbaiki duduknya tanpa melepas pandangannya dari Vania. "Aku penasaran," ia berkata.


Vania terlihat kebingungan. "Maksudmu?" tanyanya.


"Kenapa kau ada di mobil Tristan saat kecelakaan itu terjadi?"


Deg


"Te-tentu saja karena aku dan Tristan habis menghabiskan waktu bersama," jawab Vania. Suaranya bergetar, matanya tak berani menatap Evan, jelas ia berbohong. Evan tahu itu.


"Jujur saja!" tuntut Evan. Ia ingin mengetahui yang sebenarnya, agar sang ayah tidak terus-terusan mendesak pria bernama Tristan itu untuk bertanggung jawab.


Vania terlihat semakin resah, dari dulu ia memang tidak pernah bisa berkutik jika berhadapan dengan Evan. Inginnya berbohong dengan mengatakan jika Tristan lah yang mengajaknya kabur agar pria itu mau bertanggung jawab seperti apa yang dituntut oleh sang ayah, tapi... pria di hadapannya ini pasti tidak akan mempercayainya begitu saja.


"Sudah ku katakan, malam itu Tristan mengajakku pergi." Meluncur lagi kebohongan lainnya dari mulut manis namun berbisa Vania.


Evan tersenyum remeh, ia merasa konyol dengan kebohongan yang dibuat Vania. Jelas-jelas ia melihat sendiri jika malam itu Tristan selalu bersama Stela bahkan setelah Vania meninggalkan tempat pesta.

__ADS_1


"Tak perlu berbohong lagi," kata Evan.


Wajah Vania memerah, antara malu dan juga kesal. "Terserahlah. Mau kau percaya atau tidak, aku tidak peduli. Lebih baik kau pergi saja, aku muak melihat wajahmu!" ketusnya yang sudah kehilangan akal.


Evan sama sekali tak menghiraukan perkataan Vania, ia malah semakin menyamankan duduknya di kursi sembari menyender dengan tangan berpangku di dada.


Mata pria itu terpejam sejenak, kemudian helaan napas kecil terdengar keluar dari mulutnya. Ia kemudian menatap Vania tajam, raut wajahnya berubah serius.


"Jika kau mau jujur tentang masalah ini, maka aku juga akan mengatakan satu kejujuran kepadamu," tantangnya.


Deg


Vania tersentak. Kejujuran dari Evan? Berarti benar, ada rahasia yang selama ini disimpan oleh pria itu. Apa ini berkaitan dengan hubungannya mereka? Sungguh... Vania penasaran. Namun, sisi egoisnya masih menahannya untuk menyetujui tantangan dari Evan.


Melihat Vania yang sama sekali tidak merespon ucapannya, Evan memberikan satu petunjuk yang mana itu berkaitan dengan rahasianya. Ia yakin Vania akan tertarik.


"Alasan kenapa aku meninggalkanmu dan menikahi Clara?" pancing Evan .


Deg


Benar saja. Vania seketika menoleh . Jantungnya mulai berdetak cepat. Inilah yang dia inginkan dari dulu, alasan apa yang sebenarnya membuat Evan memilih wanita itu dibanding dirinya yang notabene adalah gadis yang sangat dicintai Evan. Kali ini Vania tidak akan munafik, ia masih mencintai Evan dan harus tahu alasan kenapa pria itu memilih meninggalkannya.


"Katakan!" pinta Vania.


Evan tersenyum dalam hati. Tidak sulit ternyata untuk memancing keingintahuan Vania. Namun, sebelum mengatakan kejujuran itu, Evan memantapkan hatinya terlebih dahulu, karena setelah ini... semuanya mungkin akan berubah. Baik itu hubungannya dengan keluarganya maupun dengan keluarganya Clara.


Huhhh....


Vania menanti dengan perasaan resah. Apakah kejujuran nanti akan semakin membuatnya terluka atau mungkin akan membuatnya lega.


Satu kalimat yang diutarakan Evan mampu membuat ekspresi Vania menjadi tegang.


"A-ayah tahu? Bagaimana bisa?" tanyanya. Selama menjalin hubungan, mereka memang menyembunyikannya dari keluarga. Hal yang membuat mereka tidak mau berterus terang adalah karena takut tidak direstui. Evan sebenarnya adalah sepupu jauh Vania, orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan akhirnya saat Evan berumur 8 tahun ia diangkat menjadi anak oleh orang tua Vania.


"Aku tidak tahu, yang jelas ayah sangat menentang hubungan itu," lanjut Evan.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan hubungan kita? Kita hanya sepupu jauh dan tidak ada larangan untuk bersama," sela Vania.


Evan memandang Vania sendu. "Karena aku tidak pantas untukmu. Ayah ingin kau mendapatkan lelaki yang baik, terhormat dan berasal dari keluarga terpandang."


Deg


Vania mengeraskan rahangnya. Dari dulu sang ayah memang tidak pernah ingin melihatnya bahagia. Ada saja hal yang membuat pria tua itu bertentangan dengannya.


"Lalu, kenapa ayah menikahkanmu dengan wanita itu?" tanya Vania kesal. Tak sudi rasanya saat menyebut nama wanita yang sekarang berstatus sebagai istri Evan.


"Sebagai bentuk balas budi dan juga cara jitu untuk menjauhkan kita." Evan tidak bermaksud menjelek-jelekkan Thomi, tapi memang begitulah adanya.


"Balas budi?" Vania ingat. Saat mereka di hotel waktu itu, Evan memang sempat menyinggung soal balas budi, tapi ia belum mengerti apa maksud perkataan Evan kala itu.


"Ayah memaksaku menikahi Clara, awalnya aku menolak karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin menyakiti hati gadis yang aku cintai, tapi lagi-lagi ayah mengancamku dengan mengatasnamakan balas budi. Ia meminta imbalan atas jasa dan materi yang telah ia keluarkan selama menghidupiku," jelasnya. Hati Evan nyeri kalau mengingat saat itu. Pria yang dianggapnya sebagai ayah, yang ia sayangi dan hormati sebagai orang tuanya dengan tega meminta balas jasa kepadanya. Pria itu seperti tidak ikhlas telah merawatnya selama ini, hingga menuntut balas budi.


Deg


Vania meradang mendengar semua kebenaran itu. Jadi kesengsaraannya selama ini ada andil sang ayah di dalamnya. Pantas saja ada rasa sedikit tidak sukanya pada pria yang telah menanam benih hingga ia tercipta di dunia ini.

__ADS_1


Huhh...


Vania menghela dan menghembuskan napas pelan. Ia ingin mengetahui cerita lebih lanjutnya, tapi sebelum itu ia harus menguatkan diri, jika saja cerita selanjutnya akan semakin menyesakkan dada.


"Jadi dengan menikah dengan wanita itu baru kau bisa membalas budinya, begitu?" tanya Vania memastikan.


Evan mengangguk. "Dengan menikahi putri keluarga Herlambang, maka ayah akan menerima sokongan dana yang besar untuk perusahaannya yang saat itu sedang mengalami krisis."


Deg


Benar saja. Lanjutan ceritanya membuat Vania menggeram. "Itu sama saja dengan ayah menjualmu," pekiknya. "Dan kenapa juga keluarga Herlambang itu mau menerimamu, juga membantu ayah dan perusahannya?" Vania masih tidak mengerti, kalau keluarga Clara adalah keluarga kaya raya, kenapa mereka mau menikahkan putri mereka dengan seorang anak angkat dari pengusaha yang hampir bangkrut. Itu sedikit membingungkan.


Evan menghembuskan napas berat. "Karena aku hanya dijadikan bidak untuk menutupi aib keluarga mereka."


"Aib?"


"Clara hamil dan kekasihnya menghilang. Aku diminta bertanggung jawab untuk sesuatu yang tidak aku lakukan." Ada nada terluka dalam suara Eva kali ini.


Deg


"SIALAN!"


BRAAAKKK


Vania melempar mangkuk bubur yang ada di dekatnya hingga pecah belah menghantam lantai. Ia tidak habis pikir kenapa ayahnya begitu tega.


"Aku benci dia, aku benci." Teriakan histeris Vania membuat Evan segera menghampirinya.


"Tenanglah!" Pria itu memeluk Vania, mencoba menenangkannya.


"Dia jahat Mas, dia telah memisahkan kita. Selama ini aku begitu membencimu padahal sebenarnya kau hanyalah korban dari keegoisan dan keserakahan pria tua itu. Maafkan aku, Mas." Vania balas memeluk Evan. Ia menyembunyikan wajah bersimbah air matanya di dada si pria.


"Sekarang semuanya sudah berakhir. Aku janji kita akan kembali bersama," bisik Evan.


Vania seketika melepas pelukannya. Ia mendongak menatap Evan. "Bagaimana dengan wanita itu, Mas?"


"Sudah tiga hari Clara tidak pulang. Aku rasa dia kabur dengan kekasihnya. Aku akan menjadikan ini sebagai alasan untuk menceraikannya," jelas Evan. Ia mengusap pipi Vania yang basah karena air mata. "Lagi pula selama ini hubungan kami sangatlah buruk, rasanya tidak akan sulit untuk berpisah darinya setelah kekasihnya itu kembali," tambahnya.


"Tapi saat kalian ke rumah, kalian tampak bahagia?"


"Hanya sandiwara."


Vania tersenyum. Kembali dipeluknya tubuh pria yang sangat dicintainya itu. "Janji jangan tinggalkan aku lagi, Mas. Kita bisa kabur jika ayah masih menentang hubungan ini," pintanya.


Evan mengelus surai Vania. "Apapun akan aku lakukan. Aku tak ingin berpisah lagi denganmu." Sudah cukup Evan berpura-pura selama ini. Ia ingin menggapai bahagianya sendiri.


"Jadi sekarang, bisakan kau jujur mengenai kecelakaan itu?" tanya Evan.


... . ...


"Tristan... dia tidak bersalah. Justru dialah yang telah menyelamatkanku."


^^^ ^^^


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2