
...🌻Selamat Membaca🌻...
Stela memandang Tristan yang masih terpejam. Kekasihnya itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Beberapa saat yang lalu pria itu sempat sadar, tapi tak lama karena setelah itu dia tidur kembali karena mengeluhkan kepalanya yang pusing. Stela setia menungguinya. Duduk di kursi samping ranjang Tristan sambil terus menggenggam tangan pria itu.
Selama matanya memandang sang kekasih, pikiran Stela melayang pada kejadian saat Tristan dipindahkan tadi. Wanita yang ikut menjadi korban kecelakaan bersama Tristan juga turut dipindahkan, dan Stela terkejut begitu mengetahui siapa wanita itu. Dia adalah Vania. Masih menjadi pertanyaan bagi Stela saat ini, kenapa Tristan bisa kecelakaan bersama dengan Vania. Jawabannya akan Stela minta saat Tristan pulih nanti.
"Aku harus menghubungi Kak Jo," gumamnya. Terlalu panik, ia sampai lupa untuk mengabari sahabat kekasihnya itu.
Mengambil ponsel, Stela segera menekan nomor Jovanka. Mereka berbicara cukup lama di telepon, Stela menjelaskan bagaimana keadaan Tristan saat ini.
Selesai dengan urusan menelepon, Stela kembali mengamati sang kekasih. Tangannya terangkat guna membelai wajah pucat itu dengan lembut.
"Cepat sehat sayang, jangan buat aku khawatir lagi." Wajah Stela mendekat, ia berbisik lirih tepat di telinga Tristan.
.......
Setelah menerima telepon dari Stela, Jovanka duduk termenung bersandar di kepala tempat tidur. Ia memikirkan hal yang sama dengan Stela. Kenapa Tristan bisa kecelakaan bersama dengan Vania.
Perempuan itu kembali meraih ponsel yang sebelumnya di taruh di nakas. Menghidupkannya dan mengetuk ikon browser pada layar. Mengetik di pencarian tentang kecelakaan yang dialami oleh Tristan beberapa jam lalu.
Dua model kenamaan Indonesia, Tristan Gautama dan Vania Hermawan mengalami kecelakaan
Tristan Gautama diduga berselingkuh dengan Vania Hermawan hingga mereka mengalami kecelakaan
Apakah penyebab kecelakaan yang menimpa Tristan Gautama dan Vania Hermawan? Apakah mereka bertengkar?
Deg
Jovanka memejamkan mata. Tepat seperti dugaannya. Baru beberapa jam saja, sudah banyak berita mengenai kecelakaan itu tersebar, dan banyak sekali situs gosip yang menduga-duga hubungan Tristan dan Vania karena mereka berada dalam satu mobil saat kecelakaan itu terjadi, berdua pula. Berbagai macam spekulasi itu masih tidak jelas kebenarannya sebelum kedua korban yang bersangkutan mengklarifikasi semuanya.
Jovanka menoleh ke samping, Arabella tampak tidur dengan nyenyak setelah ia membacakan dongeng untuknya. Tunangan Gara itu mengelap peluh yang membasahi kening si kecil. Ia menatapnya iba. Ia berharap semoga setelah ini tak ada lagi hal yang menghambat kebahagiaan Ara. Tentu saja bahagia yang didapat dari kedua orang tua sambungnya yang tak lain adalah Tristan dan Stela. Entah kenapa Jovanka memiliki firasat buruk akan hal ini.
"Ya Tuhan, semoga semua baik-baik saja."
.......
Evan duduk di luar kamar perawatan Vania bersama dengan tuan Thomi. Setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit, ia sekeluarga segera menuju ke sana. Saat ini ibu Vania berada di dalam ruang rawat menemani putrinya.
"Adikmu keterlaluan, kau sibuk mencarinya sementara dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya," ucap Thomi berwajah masam.
"Pria itu bukan kekasihnya, Yah." Evan menyanggah. Ia tak ingin sang ayah salah paham, walaupun ia sendiri belum tahu pasti kenapa Vania bisa bersama dengan Tristan.
"Bukan kekasih, ck. Lalu kenapa mereka berada dalam satu mobil yang sama? Sudah jelas, adikmu itu kabur bersama kekasihnya," rutuk pria paruh baya tersebut.
Evan memilih diam. Jika ia teruskan berdebat, maka tidak akan ada habisnya. Ia paham akan sifat keras kepala sang ayah. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu Vania siuman.
Thomi mengusap wajah gusar. Penjelasan dokter mengenai kondisi putrinya tadi membuat kepalanya mendadak pening. Anak sulungnya diprediksi akan mengalami kelumpuhan walau tidak permanen dan akan bisa kembali berjalan setelah menjalani serangkaian terapi. Tapi hal itu mau tak mau membuatnya resah. Kalau saja Vania tidak nekat kabur dengan kekasihnya itu, pasti putrinya saat ini masih baik-baik saja.
"Aku akan minta pertanggungjawaban pada pria itu." Thomi bangkit dari duduknya. Ia berniat menemui Tristan untuk meminta tanggung jawab atas kecelakaan yang dialami Vania.
"Ayah!" Evan berdiri dan menghadang langkah Surya. Pria itu berusaha menghentikan tindakan gegabah yang akan dilakukan oleh sang ayah.
"Minggir, Van! Aku harus menemui pria itu," ucap Thomi tegas. Ia menyingkirkan tubuh Evan yang menghalangi langkahnya.
"Yah, ini bukan waktu yang tepat. Pria itu juga masih sakit. Tidak bisakah kita menunggu keadaan mereka pulih dulu?" bujuk Evan.
Thomi mendecih. "Kau tidak dengar apa kata dokter tadi, pria itu hanya cedera sedikit tidak seperti adikmu yang akan lumpuh."
"Tapi, Yah-"
"Sudahlah, lebih baik kau diam saja!" Thomi kembali melanjutkan niatannya. Berjalan menuju ruang perawatan Tristan yang berada tidak jauh dari ruang perawatan sang anak. Evan mengekor di belakang, ia akan berjaga jika saja sang ayah melakukan sesuatu diluar batas. Ia tahu sifat keras sang ayah, yang tak akan mundur sebelum keinginannya terpenuhi.
.......
Stela masih menggenggam tangan Tristan ketika pria itu membuka matanya.
"Ela..." Lirih Tristan memanggil.
"Hm? Kau butuh sesuatu?" tanya Stela.
"Haus," jawab Tristan.
__ADS_1
Stela segera mengambil segelas air putih di atas meja dan membantu Tristan meminumnya. Setelah selesai, kembali ia menaruh gelas di atas meja.
"Apa yang kau rasakan? Ada yang sakit? Haruskah ku panggilkan dokter?" tanya Stela cemas saat mendengar erangan kecil keluar dari mulut Tristan.
Pria itu menggeleng lemah. "Tidak apa, hanya kepalaku yang masih sedikit pusing."
Stela mendesah lega. Ia takut terjadi apa-apa dengan kekasihnya.
"Maaf, aku pasti membuatmu khawatir." Tristan meraih dan menggenggam tangan Stela.
"Iya. Kau membuatku takut Tristan. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk denganmu. Aku sungguh tak ingin kehilangan dirimu. Ku mohon jangan lakukan ini lagi." Detik itu juga pecahlah tangis Stela. Di hadapan semua orang ia bisa berpura-pura tegar, tapi jika sudah bersama Tristan, ia lemah.
Tristan memandang sendu kekasih hatinya yang tengah menangis. Diangkatnya sebelah tangan dan perlahan mengusap bulir bening yang berjatuhan dari mata indah Stela. Kalau bukan karena menolong Vania, ia tak akan berakhir di rumah sakit seperti ini. Wanita itu memang selalu membawa masalah bagi hidupnya dan juga Stela.
"Maafkan aku, El.." ucapnya lagi sarat akan penyesalan.
Stela berhenti menangis, ia menggenggam tangan Tristan yang masih berada di wajahnya. Ia bawa tangan itu ke depan bibir dan mengecupnya. "Berjanjilah untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi!" pinta Stela menuntut. Cukup sekali ia berada dalam posisi seperti ini. Khawatir dan takut akan kehilangan seseorang yang dicintainya.
Tristan mengangguk lantas tersenyum. "I promise."
Beberapa detik kemudian mereka terdiam. Keduanya sibuk memandang satu sama lain. Tiba-tiba terbesit di benak Stela untuk menanyakan perihal kecelakaan yang dialami Tristan dan Vania. Ia masih penasaran akan hal itu.
"Kak?" panggil Stela.
"Hm?" Tristan menanti apa yang akan diucapkan oleh gadisnya.
Stela diam sejenak. Ia masih menimbang-nimbang apakah pantas ia tanyakan hal ini pada Tristan atau tidak, mengingat kekasihnya itu masih terbaring lemah di ranjang pesakitan. Namun jika dilihat, kondisi Tristan sudah baik-baik saja, tidak akan sulit jika harus menjawab satu atau dua pertanyaan darinya. Gadis itu kemudian menarik dan menghembuskan napas perlahan. Ia sudah membuat pilihan.
"Kak, aku mau menanyakan sesuatu," mulai Stela.
"Apa?"
"Kenapa kau dan wani-..."
Cklekk
Bunyi pintu ruangan yang terbuka menghentikan ucapan Stela. Gadis itu menoleh dan mendapati dua pria beda generasi memasuki kamar perawatan Tristan. Satu diantaranya Stela kenal. Bukan kenal, hanya pernah melihat saja. Yaitu saat pesta pernikahan Rafandra. Siapa gerangan mereka?
"Maaf, kalian siapa?" tanya Stela. Ia merasa sedikit kesal dengan tingkah pria tua yang kini tengah berdiri di samping ranjang Tristan.
Tak ada jawaban sampai pria lainnya yang terlihat masih muda, sudah berdiri di samping Stela.
"Maaf mengganggu. Kami keluarga Vania. Perkenalkan aku Evan, kakaknya Vania. Dan itu ayah kami, Thomi Hermawan." Dengan ramah Evan memperkenalkan diri, tangan kanan pun ia ulurkan untuk mengajak Stela berkenalan.
"Stela Wijaya." Stela balas menjabat uluran tangan Evan dengan hangat. Ia sedikit kagum dengan sifat ramah dan sopan Evan, tidak seperti pria tua yang berwajah menakutkan itu.
Masih berbaring di tempat tidur pesakitannya, Tristan memandang pria tua di hadapannya dengan kening berkerut. Ia tahu siapa pria itu, dialah Surya Hermawan. Salah satu pengusaha terkenal Indonesia dan juga merupakan ayah dari wanita yang sudah membuatnya tak berdaya seperti saat ini. Mau apa pria ini, pikirnya.
"Kau, Tristan Gautama?" tanya Thomi dengan nada tegas dan terkesan dinginnya.
"Hm. Kenapa?" bukan Tristan namanya jika ia tidak bisa membalasnya dengan tak kalah dingin. Walaupun ia sedang terluka dan sakit, tapi itu tidak membuatnya harus terlihat lemah, kan. Terlebih di depan pria yang terlihat angkuh ini. Persis sekali seperti anaknya, batin Tristan.
"Dasar tidak punya sopan santun, begitu caramu berbicara pada seseorang yang lebih tua, huh?"
"Tidak usah berbasa-basi, sekarang katakan saja apa yang anda inginkan. Untuk apa anda datang kemari?" tanya Tristan. Ia tak ingin membuang waktu untuk berdebat hal yang tak penting. Jujur saja, saat ini kepalanya berdenyut lagi.
Thomi tersenyum miring. "Untuk apa lagi? Tentu saja untuk meminta pertanggungjawabanmu!"
Deg
Tidak hanya Tristan, Stela yang berdiri tak jauh dari mereka juga ikutan terkejut. Sementara Evan hanya bisa memejamkan mata, tidak bisa mencegah ataupun melarang apa yang akan dilakukan oleh ayahnya.
"Maaf, pertanggungjawaban seperti apa yang anda maksud?" Bukan. Itu bukan Tristan yang bertanya melainkan Stela. Gadis itu kini sudah melangkah maju dan berdiri di samping brankar Tristan, berseberangan dengan Thomi. Matanya menatap tajam dan menuntut pada pria tua itu.
"Sama saja," Thomi berdecih. "Kalian tidak memiliki sopan santun. Apa orang tua kalian tidak mengajarkan pada kalian tentang sopan santun pada orang yang lebih tua, huh?"
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Dan jangan bawa-bawa nama kedua orang tuaku dalam masalah ini!" ucap Stela penuh penekanan.
Thomi tidak mempedulikan ucapan Stela, ia beralih pada Tristan
"Tristan, kau harus bertanggung jawab karena telah membuat putriku celaka!" tuntutnya.
__ADS_1
Tristan tertawa kecil mendengar penuturan Thomi, walaupun ia harus menahan nyeri saat melakukan hal itu. "Seharusnya saya lah yang meminta pertanggungjawaban pada anda, karena putri anda lah yang telah membuat saya celaka seperti ini!"
"Jangan memutar balikan fakta," bentak Thomi.
"Anda jangan asal menuduh jika tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya!" balas Tristan sengit.
Stela hanya menyimak. Ia semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi antara kekasihnya dan wanita angkuh itu.
"Saya tidak mau tahu, kau harus bertanggungjawab. Kau telah membuat putriku lumpuh!"
"Saya tidak akan melakukannya. Itu salah putri anda sendiri dan saya tidak mau bertanggungjawab pada kesalahan yang tidak saya perbuat!"
"Baik, jika itu maumu. Bersiap-siaplah setelah keluar dari rumah sakit ini, kau akan segera masuk penjara."
Deg
"Argghh..." Tristan mengerang saat nyeri di kepalanya tidak tertahankan lagi. Stela segera menghampirinya.
"Kak, kau kenapa?" tanyanya panik.
"El, kepalaku...." rintihnya kesakitan.
Stela langsung menatap tajam Thomi. Baru kali ini ia berjumpa dengan orang tua yang membuatnya kesal. Sama saja seperti anaknya.
"Tuan Evan, tolong bawa ayah anda keluar dari ruangan ini. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihku, maka aku tidak akan tinggal diam!" desis Stela, pelan namun mengancam.
Evan terpaksa menyeret sang ayah keluar sebelum pria tua itu naik darah dan membuat semuanya menjadi semakin runyam. "Maaf, kami permisi dulu."
Sepeninggal dua pria itu, seorang dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam kamar perawatan Tristan. Sebelumnya Stela sudah memencet berkali-kali bel pemanggil yang ada di dekat ranjang kekasihnya.
"Dokter, tolong!" mohon Stela. Ia panik melihat Tristan yang terus mengerang dan merintih.
"Kami akan memeriksanya, dimohon anda keluar dulu," pinta si di dokter.
Mau tak mau Stela keluar dari ruang perawatan. Ia terduduk lemah pada kursi tunggu di luar kamar.
"Tristan...." Stela menutup wajahnya menggunakan kedua telapan tangan. Ia menangis.
"Dia pasti baik-baik saja..." sebuah suara terdengar. Stela segera menghapus air matanya dan melihat siapa yang sudah duduk di sebelahnya.
"Tuan Evan?" Stela kaget melihat kembali kemunculan pria itu. Ia kemudian melirik ke segala arah, mencari keberadaan pria tua yang menjengkelkan itu.
Evan yang seperti tahu apa yang tengah dipikirkan Stela segera bersuaran. "Tenang saja, Ayah saat ini ada di ruangan dokter," katanya.
Stela menghembuskan napas lega. Ia tidak ingin berkata kasar lagi jika sampai harus bertemu kembali dengan Thomi. Ia mengakui jika tindakannya tadi itu sangat tidak sopan.
"Bagaimana keadaan Vania?" tanya Stela. Sebenarnya ia tak peduli, hanya ingin berbasa-basi.
"Dia sudah sadar, namun sempat histeris saat tahu jika kedua kakinya kaku dan tak bisa digerakkan. Alhasil dokter harus memberinya suntik penenang," jelas Evan. Raut wajah pria itu kentara sekali sedihnya saat menceritakan bagaimana kondisi Vania.
"Semoga dia baik-baik saja," harap Stela. Ia turut prihatin. Walaupun tak pernah akur dengan Vania, tapi sesama manusia ia tetap harus mendo'akan yang terbaik.
"Semoga. Setelah mereka siuman nanti, pelan-pelan kita akan menanyakan tentang apa yang sudah terjadi sebenarnya," kata Evan.
"Ya," balas Stela.
Beberapa saat kemudian, dokter disusul perawat keluar dari kamar inap Tristan.
"Bagaimana dokter?" tanya Stela.
"Cedera di kepalanya masih belum sembuh total, jadi sebaiknya jangan buat pasien memikirkan hal-hal yang berat untuk saat ini," saran sang dokter.
"Baik. Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama." Dokter bersama pasukannya pergi meninggalkan Stela dan Evan.
"Kalau begitu saya masuk dulu," pamit Stela.
"Silakan, saya juga mau kembali ke ruangan Vania," jawab Evan
...Bersambung...
__ADS_1
Pembacanya sedikit sekali😢 tapi nggak apa, terima kasih bagi yang sudah membaca...😊