Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab13


__ADS_3

setelah masuk ke dalam ruang rawat mas Taufik, aku melihat mama sedang menangis sambil memeluk sang putra yang telah berpulang. Sedangkan papa berada di samping mama sambil mengelus punggung sang istri


"ma, pa", sapa mas Hisyam setelah berada di samping ke dua orang tuanya


Keduanya pun menoleh, mama Nisa langsung menghampiri suami ku dan memeluk nya dengan erat


"Hisyam, kakak kamu nak, dia sudah pergi meninggalkan kita", ucap mama Nisa dengan sesenggukan karena terus menangis


"Sudah ma, ikhlas kan kepergian kakak agar jiwanya tenang", ucap suamiku sambil membalas pelukan mama nya


Aku tahu dia hanya berpura-pura tegar di hadapan kami


aku pun mendekat ke arah ranjang tempat mas Taufik berbaring, lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang nya


Ku pegang tangan nya yang ada di hadapanku yang sudah terasa kaku dan dingin lalu ku genggam dengan erat, ku letakkan tangan kami di pipiku

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menunggu ku sampai di sini?, jika aku tahu tadi adalah pembicaraan terakhir kita, aku pasti tidak akan meninggalkan kamu untuk pulang. Kenapa kamu meninggalkan kami secepat ini mas?, bukan kah aku sudah memenuhi keinginan mu, kenapa kamu tidak berusaha untuk sembuh?, kenapa kamu tega meninggalkan aku sendiri mas?", ucapku sambil menangis


Perasaan ku begitu hancur. Aku tidak pernah menyangka orang yang selama ini selalu ada di saat aku terpuruk, orang yang selalu membuat ku ceria, orang yang telah menjadi obat dari luka masa lalu ku dan orang yang telah menjadikan aku wanita yang kuat kini telah meninggalkan aku untuk selamanya


"Sudah nak, ikhlas kan kepergian nya", ucap papa Candra sambil mengelus pucuk kepala Ku


"kenapa mas Taufik begitu cepat meninggalkan kita pa?", ucapku sambil terus menangis


"Setidaknya sekarang dia sudah tidak merasakan sakit lagi nak, sekarang dia sudah sembuh dari sakitnya", ucap papa dengan suaranya yang sedikit serak, mungkin karena tadi papa juga menangis


Lalu aku melihat ke arah nya


"Tapi pa, sekarang Rumi sendirian, sudah tidak ada lagi yang menjaga dan melindungi Rumi", ucapku dengan lirih


"Kamu masih memiliki kami nak, memiliki mama dan papa. Kamu juga memiliki Hisyam yang sekarang sudah menjadi suami mu. Bukan kah Taufik begitu menyayangi mu?, dia bahkan mencari kan seseorang yang dapat di percaya untuk menggantikan dirinya agar bisa menjaga mu", ucap papa pada ku

__ADS_1


"Papa benar, mas Taufik sangat menyayangi ku", ucapku sambil meletakkan kembali tangan nya


"Papa keluar dulu untuk mengurus jenazah Taufik, agar bisa segera di makam kan", ucap papa, yang kemudian keluar


Setelah papa keluar, aku menghampiri mama Nisa untuk menenangkan nya yang masih menangis di pelukan suamiku


"Sudah ma, kasihan mas Taufik jika melihat mama seperti ini", ucapku sambil mengelus pundak mama Nisa


"Tapi nak, mama masih belum siap kehilangan nya. Kenapa putra mama pergi secepat ini?, bahkan Taufik tidak memberikan kesempatan kepada mama untuk merawatnya dengan tangan mama sendiri", ucap mama Nisa sambil melepaskan pelukan nya pada suami ku


"Mama yang sabar ya, ikhlas kan kepergian mas Taufik agar dia bisa tenang", ucapku lagi


Ku lihat suamiku yang sekarang sudah duduk di samping ranjang kakak nya, di pegang nya tangan sang kakak lalu setelah nya hanya diam


Mungkin dia mencurahkan segala kesedihan nya hanya di dalam hati. Entah karena malu atau agar terlihat lebih tegar. Tetapi yang pasti, hanya dengan melihat wajahnya kita semua tahu jika dia sangat terpukul dan bersedih

__ADS_1


Beberapa saat kemudian papa sudah kembali


bersama beberapa perawat yang akan membantu jenazah mas Taufik untuk segera di makam kan


__ADS_2