
tok tok tok
" masuk." sahut Arumi dari dalam. Ia segera bangun, saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. Saat ini dirinya sedang berbaring di kamarnya, dengan kedua kaki yang menjuntai.
Setelah menghabiskan waktu nya untuk berbelanja, ternyata dirinya merasa lelah juga. Sehingga saat sampai di mansion, ia mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
" permisi nyonya." ucap seorang maid, setelah dirinya di izinkan masuk.
" ada apa bi?." tanya Arumi
" ini nyonya, ada titipan dari tuan muda. Katanya nyonya di suruh memakai ini. Nanti jam 19:00 nyonya akan di jemput." ucapnya sembari memberikan dua paper bag di tangannya.
" apa ini bi?." tanya Arumi setelah menerima paper bag.
" saya tidak tahu nyonya. Tadi sopir pribadi tuan besar yang mengantarnya." ucapnya dengan sopan.
" terimakasih ya bi." ucapnya dengan tersenyum.
" sama-sama nyonya. Kalau begitu saya permisi." ucapnya dengan membungkukkan badannya. Setelah itu ia segera keluar dari kamar majikannya, dan tidak lupa menutup pintu kembali.
" Emang ada acara apa?." tanya nya pada diri sendiri. Setelah melihat isi di dalamnya, yang ternyata sebuah gaun dan heels.
Karena penasaran, Arumi memutuskan untuk menghubungi suaminya. Untuk menanyakannya langsung. Tetapi sayang, nomor suaminya ternyata tidak bisa di hubungi. ia melihat jam, yang ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 18:00, yang berarti dia hanya mempunyai waktu 1 jam untuk bersiap.
Tanpa membuang waktu, Arumi segera bersiap. Setelah hampir satu jam lamanya, akhirnya dirinya selesai berdandan. Ia segera keluar dari kamar nya, kemudian masuk kedalam lift untuk sampai di lantai bawah.
Bunyi ketukan heels yang beradu dengan lantai terdengar nyaring setelah ia keluar dari lift. Membuat dua orang yang tengah bersantai di ruang keluarga, memusatkan atensinya pada asal suara.
" kamu sudah siap sayang?." tanya mama mertuanya, setelah melihat ternyata menantunya yang datang.
__ADS_1
" sudah ma. Sebenarnya, Rumi mau di bawa kemana sih ma?." tanya Arumi, lalu ia mendudukkan dirinya di samping sang mertua.
" mama juga tidak tahu nak. Kamu cantik sekali sayang." ucapnya memuji kecantikan sang menantu, sembari mengelus rambut Arumi yang begitu halus. Arumi begitu cantik mengenakan gaun panjang tanpa lengan berwarna putih, dengan belahan sebatas paha. Ia mengenakan heels yang senada dan rambut yang ia buat Curly, sehingga menambah kesan anggun pada dirinya.
Belum sempat Arumi menyimbati pujian mertuanya, seorang maid datang menghampiri nya. memberi tahu, jika yang menjemputnya sudah datang dan menunggu di depan.
"permisi nyonya. nyonya sudah di tunggu di depan." ucapnya sembari membungkukkan tubuhnya.
" iya bi." ucapnya
" ya sudah ma, pa, Arumi berangkat dulu ya." ucapnya berpamitan. Setelah mendapat jawaban dari mertuanya, ia segera beranjak dan menuju mobil yang menjemputnya.
.
" hati-hati bawa mobilnya pak." ucap mertuanya, setelah menantunya masuk kedalam mobil.
" baik nyonya. Saya permisi dulu nyonya." ucapnya dengan membungkukkan badannya. Setelah mengatakan itu, ia segera menuju kemudi dan melajukan mobil nya.
" Tuan sudah menunggu di tempat nyonya." ucapnya dengan sopan. Dia sebenarnya merasa sungkan untuk menyahuti, karena dia sudah di beri perintah agar jangan terlalu dekat dengan istri tuan mudanya.
" memang nya kita mau kemana pak?." tanya Arumi yang masih penasaran.
" maaf nyonya." ucapnya sekedar nya, tanpa ingin memberitahu.
Arumi yang mendengar itu lantas tidak bertanya lagi, karena dia paham sang sopir tidak akan memberitahu nya.
beberapa saat kemudian, mobil yang ia tumpangi berhenti di sebuah hotel mewah. Sang sopir segera membukakan pintu untuk nya.
" silahkan nyonya." ucapnya
__ADS_1
" dimana ini pak?." tanya Arumi setelah dia turun dari mobil. Ia celingukan mencari keberadaan suaminya.
" mari nyonya. Tuan sudah menunggu di dalam." ucapnya tanpa menjawab pertanyaan majikan nya. Lalu mempersilahkan istri majikan nya, untuk mengikuti dirinya.
Sesampainya di dalam, mereka sudah di sambut oleh seorang wanita muda, yang sepertinya pegawai di hotel tersebut. Arumi lantas di arahkan untuk memasuki lift, yang dimana di depan lift itu sudah ada dua orang pria yang berjaga. lift itu langsung tertutup setelah dirinya masuk. Mungkin dirinya akan di bawa ke lantai 30, karena hanya ada angka itu di sana.
Setelah lift berhenti, ia segera keluar begitu pintu lift sudah terbuka. Saat kakinya keluar dari lift, ia menginjak sebuah karpet berwarna merah, yang di samping kanan dan kirinya di penuhi oleh lilin kecil yang di taruh dalam wadah dan bunga mawar putih. Ia melangkahkan kakinya mengikuti karpet yang ia injak, hingga kakinya mengantarkan nya pada sebuah ruangan yang sudah terbuka pintu nya.
Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja berbentuk bundar dengan dua kursi yang berhadapan. Di atas meja tersebut juga terdapat rangkaian bunga serupa yang berbentuk hati dan sebuah lilin yang di letakkan di dalam sebuah gelas kristal. ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang sudah di penuhi dengan rangkaian bunga tersebut, hingga ia berdiri di samping meja. Saat ia tengah mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sang suami, terdengar lantunan biola yang membawakan musik romantis. sehingga membuat nya membalikkan badan.
Di depan sana, tepat di depan pintu tadi, ia melihat suaminya tengah berjalan kearah nya dengan sebuket mawar putih di tangannya. Dan di belakangnya ada seorang violinis yang tengah memainkan biola nya.
Suaminya itu terlihat tampan mengenakan kemeja putih dan tuxedo hitam. Dengan celana bahan yang senada dengan tuxedo nya. serta dasi kupu-kupu yang terpasang di lehernya, menambah kesan gagah pada diri suaminya.
" mas." ucapnya dengan menutup mulut menggunakan satu telapak tangannya, saat melihat sang suami berlutut di depannya sembari menyerahkan buket bunga yang ia bawa.
Arumi segera mengambil bunga yang di berikan oleh suaminya, lalu ia pegang dengan satu tangan nya. Setelah itu sang suami segera berdiri, lalu menarik kursi untuk di duduki istrinya, kemudian dirinya.
" ada apa ini mas?." tanya Arumi setelah ia duduk dan menaruh bunga di atas meja.
" sayang. Maaf, mungkin apa yang akan aku ucapkan dan lakukan sebenarnya semua ini sudah terlambat. Tetapi, aku ingin mengatakan. Aku meminta maaf atas segala kesalahan yang telah aku lakukan di masa lalu. sayang, kamu tahu kalau aku bukanlah orang yang romantis, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata manis. kamu tahu?, sedari dulu cintaku tidak pernah lekang ataupun pudar seiring berjalannya waktu. Kamu tahu betul, bahwa wanita yang paling aku cintai adalah dirimu. Wanita yang paling aku inginkan untuk menjadi pendamping hidup dan ibu dari anak-anakku adalah kamu. Dulu, banyak sekali impian yang sudah kita rangkai untuk masa depan, tetapi yang menghancurkan semua itu adalah diriku sendiri. Sayang, aku meminta maaf untuk semua itu. Dan kini, aku meminta maaf lagi, karena dengan tidak tahu malunya, aku meminta mu untuk tetap berada di sisi ku. Sayang. Maukah kamu membuka lembaran baru lagi bersama ku?, maukah kamu tetap melanjutkan impian kita yang sempat tertunda?, dan tolong, berikan kesempatan pada lelaki bodoh ini agar bisa hidup dengan wanita yang di cintai nya." ucapnya dengan lembut sembari memegang kedua tangan Arumi.
Hisyam segera merogoh saku celana nya, lalu mengeluarkan kotak beludru berwarna merah berbentuk hati. Ia buka kotak itu hingga memperlihatkan sebuah cincin berlian 21 karat yang di pesan dari New York pada desainer perhiasan ternama Richard Nektalov. Harga cincin tersebut berkisar antara 38 miliar.
" Arumi Prameswari. Will you marry me?." ucapnya dengan berlutut sembari menyodorkan kotak cincin tersebut.
Arumi yang mendengar kesungguhan dari perkataan suaminya, dan melihat tindakan sang suami yang sudah menyiapkan semua ini untuk dirinya menjadi terharu. Dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca, ia menganggukkan kepalanya
" yes i Will." ucapnya dengan pasti, tanpa keraguan.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban dari istrinya, Hisyam segera bangkit kemudian memasangkan cincin tersebut di hari manis sang istri.
" terimakasih sayang." ucapnya lalu mengecup kening istrinya. Ia begitu bahagia saat ini, karena dia melihat tidak ada keterpaksaan di mata istrinya