Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab45


__ADS_3

"aku belum selesai bicara ya mas," ucapnya dengan sesenggukan, ia kesal dengan Suaminya itu yang bertindak sesukanya


"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Lebih baik sekarang kita tidur agar besok pagi kamu bisa berpikir lebih jernih," ucapnya. Ia segera naik ke atas ranjang lalu menarik sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya, ia tidak perduli meski istrinya itu tetap berontak


" Keputusanku sudah bulat mas. Aku bahkan sudah memikirkannya dari beberapa hari yang lalu," ucapnya kekeh. Ia berusaha lepas dari dekapan sang suami, tapi apalah daya tubuhnya yang mungil tidak sebanding dengan tenaga suaminya, hingga dia memutuskan pasrah saja


" mas tidak akan menceraikan mu, tidak akan ada perceraian di antara kita," ucapnya dengan tegas dan dingin. Dia akan melakukan apapun agar mereka tetap bersama, bila perlu mereka tidak akan keluar dari pulau pribadi nya agar tidak ada perceraian. Jika sang istri masih kekeh dengan keputusan nya, dia akan berusaha keras membuat istrinya cepat hamil. Jika seperti itu mereka tidak akan bisa bercerai bukan


" Tidak mas, untuk apa pernikahan ini di pertahankan ?, sejak awal kamu tidak pernah percaya dengan ku. Lagipula pernikahan ini ada karena permintaan almarhum, yang penting kita sudah memenuhi keinginan terakhirnya kan," ucapnya dengan lirih. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas kecewa dan marah menjadi satu. Beberapa hari ini dia berusaha untuk menekan amarahnya dan hanya memperlihatkan kekecewaan nya, tapi sekarang tidak lagi, dadanya terasa sesak sekali setiap mengingat semua itu. Tapi di sisi lain dia juga tidak bisa berbohong bahwa dia selalu nyaman dengan sikap lembut suaminya


" Sayang, maafkan mas. Beri mas kesempatan sekali lagi untuk mempertahankan hubungan kita," ucapnya memohon. Ia berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi, dia akan berusaha bicara pelan pelan agar istrinya berubah pikiran tentang perceraian mereka. Sungguh, dia menyesal sekali atas tindakannya, andai waktu bisa di ulang, dia tidak akan meninggalkan kekasihnya tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu. Ia sangat merutuki dirinya, karena kebodohannya lah hubungan mereka menjadi seperti ini

__ADS_1


" Untuk apa mas ?, lebih baik kita bercerai dan menjalani kehidupan masing-masing seperti dulu," ucapnya dengan mendongak untuk menatap sang suami meski yang terlihat hanya dagunya


" Jangan pancing emosi mas dengan kata-kata itu lagi!," ucapnya lirih tapi penuh dengan penekanan, pertanda ia tengah berusaha keras menahan diri agar emosi nya tidak meledak


" kenapa kamu begitu egois mas," ucapnya. Dia memukul dada bidang suaminya sekeras yang ia bisa, ia ingin melampiaskan kekecewaan nya terhadap pria yang menjadi suaminya ini, tapi bukan nya suaminya yang merasa sakit malah tangan nya yang sakit, hingga tindakan nya itu di hentikan oleh sang suami


" terserah bagaimana penilaian mu. Tapi yang pasti, apapun caranya kita akan tetap bersama," ucapnya lalu mengecup tangan istrinya yang di gunakan untuk memukulinya


Tanpa mengatakan apapun lagi Arumi segera membalikkan badannya memunggungi sang suami, ia meringkuk seperti bayi dan menangis.


setelah mendengar nafas teratur dan dengkuran halus dari sang istri yang menandakan istrinya telah tertidur, mungkin lelah karena terlalu lama menangis, ia segera turun dari ranjang dan memutuskan keluar dari kamar.

__ADS_1


Ia memutuskan duduk kembali di sofa yang tadi mereka duduki dengan membawa beberapa botol sampanye untuk menemani dirinya. Ia tuangkan minuman memabukkan itu ke dalam sloki lantas ia minum sedikit, kemudian ia letakkan kembali gelas itu ke atas meja, pikirannya melayang jauh memikirkan sang istri


Dia tidak bisa membayangkan sesakit dan serapuh apa istrinya itu saat dia meninggalkan nya tanpa pamit. Bahkan dia sangat ingat, di hari itu dia telah berjanji untuk mengenalkan sang istri kepada keluarganya, entah sehancur apa istrinya karena menanggung rasa sakit yang di sebabkan oleh dirinya, sedangkan sang istri tidak mengetahui kesalahan apa yang membuatnya di tinggalkan. Memikirkan semua itu, membuat kepalanya terasa ingin pecah dan dada nya begitu sakit


" Akhhhh", teriaknya untuk melampiaskan amarah di dalam dirinya. Dia marah pada dirinya sendiri, dan karena kesalahannya lah dia harus siap menanggung kebencian dari sang istri, meski dia tidak yakin mengingat selembut apa hati istrinya itu


Dia telah menyia-nyiakan wanita sebaik istrinya, bahkan dia tidak pernah melihat atau mendengar istrinya mengatakan kebencian meski pada seseorang yang sudah berbuat buruk kepada nya. Dan sekarang dia menjadi salah satu dari orang itu, orang yang telah berbuat buruk pada wanita sebaik istrinya.


Dia ingat, dulu ketika mereka masih mengenakan seragam abu-abu, teman wanita yang satu kelas dengan nya yang berarti senior sang istri melabrak istrinya, wanita itu menampar dan mengunci sang istri di toilet sekolah. Tapi meski sudah di perlakukan seperti itu, sang istri tidak membenci wanita itu, istrinya malah tidak memperbolehkan nya untuk membalas perbuatan wanita itu dan mengatakan


biarkan saja, kita tidak perlu membalasnya. Lagian aku juga tidak kenapa kenapa, aku tidak ingin membenci nya karena itu hanya akan membuat hatiku sakit," ucapnya saat itu saat aku ingin membalas perbuatannya

__ADS_1


Dan aku mengikuti kemauan nya karena tidak ingin membuat nya lebih sedih, tapi tentu saja aku tetap membuat perhitungan tanpa diketahui oleh Arumi.


Entah sudah berapa banyak alkohol yang telah ia konsumsi, dia bahkan sampai ketiduran di sofa dan tidak kembali ke kamar


__ADS_2