
Hening beberapa saat Setelah mama Nisa dan Hisyam keluar
"Mas mau ngomongin apa sama Rumi?", tanyaku pada akhirnya karena sedari tadi mas Taufik hanya menatap ku
"Biarkan mas menatap mu sedikit lebih lama", ucapnya sambil tersenyum
"Mas ihhh, Mas kan bisa menatap Rumi lagi nanti, katanya ada yang mau di omongin", ucapku dengan malu-malu, bahkan mungkin sekarang mukaku sudah memerah
"Bentar aja sayang, itu kenapa pipinya jadi merah hmmmmm?", ucapnya lagi menggoda ku
"Massssss, Rumi keluar nih", ucapku ngambek
"Iya sayang, maaf-maaf. Jangan ngambek ya", ucapnya membujuk ku
"Ya udah, mau ngomongin apa si?", tanyaku lagi
"Sebelumnya, mas mau kamu berjanji setelah apa yang mas omongin kamu jangan marah", ucapnya
"Iya. emangnya mau ngomong apa sih?, jangan bikin Rumi penasaran deh mas", ucapku
"Berjanjilah kalau kamu akan menuruti permintaan mas, anggap saja ini adalah keinginan mas yang terakhir kalinya", ucapnnya sambil menatap ku dengan serius
__ADS_1
"Mas kenapa ngomong gitu, selagi Rumi bisa pasti Rumi akan turuti keinginan mas. Jangan katakan ini adalah permintaan mas yang terakhir kalinya seakan-akan mas akan meninggalkan Rumi", ucapku sambil membalas tatapannya
aku sangat menyukai tatapan mas Taufik padaku, tatapan yang sangat dalam dan begitu tulus. Tapi mendengar dia mengatakan bahwa itu adalah permintaannya yang terakhir entah kenapa perasaanku jadi tidak enak, ada rasa takut jika dia akan meninggalkan ku
"Sayang", panggilnya
"Eh iya mas, kenapa?", tanyaku
"seharusnya mas yang nanya, kenapa malah bengong hmmmm?", ucapnya
"Enggak apa-apa. Jadi apa yang mas minta dari Rumi?", tanyaku
"Apa????? ", ucapku
"Apa yang mas katakan, mas pasti bercanda kan?", ucapku lagi karena masih belum percaya dengan apa yang ku dengar
"Mas tidak bercanda Rumi, itu adalah permintaan mas", ucapnya
"tapi kenapa mas?, apa Rumi ada salah sama mas, sehingga mas meninggalkan Rumi?", kataku dengan tatapan tidak percaya
Bagaimana bisa aku mempercayai semua ini, dua tahun kami bertunangan dan sebentar lagi kami menikah. Setelah kecelakaan yang menimpa mas Taufik pun aku masih bersabar menunggu nya, meski ditunda sedikit lebih lama lagi untuk memulihkan kesehatan mas Taufik aku tidak masalah. Tapi apa yang aku dengar ini, setelah mas Taufik sadar dia malah menyuruh ku menikah dengan adiknya. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dia katakan
__ADS_1
"Tidak sayang, Rumi tidak punya salah apapun dengan mas. Ini bukan perkara mas tidak menyukai mu lagi ataupun masalah lain, tapi ini memang keinginan mas sebelum mas pergi untuk selamanya", ucapnya
"apa maksud mas bicara seperti itu?", tanyaku dengan jantung yang sudah berdebar karena menduga-duga kemana arah pembicaraan kami
"Maaf jika selama ini mas tidak pernah bercerita tentang keadaan mas pada Rumi. Sebenarnya mas menderita kanker stadium akhir. Itu juga yang menyebabkan mas mengalami kecelakaan pada saat itu, mas sudah tidak bisa menahan sakit ini lebih lama lagi", ucapnya dengan tersenyum
"apa maksud mas?, ini pasti cuma alasan mas saja kan supaya bisa ninggalin Rumi?", ucapku dengan air mata yang mulai berjatuhan tanpa bisa ku tahan
"Maaf. Ini alasan mas meminta mu menikah dengan Hisyam. Mas ingin sebelum mas pergi sudah ada yang menjagamu", ucapnya
"alasan konyol macam apa itu mas?. Aku tidak mau", ucapku sambil terisak
Lalu ku peluk tubuh tunangan ku yang masih terbaring lemah, aku benar benar tidak menyangka jika sosok yang selama ini selalu ceria menyimpan sendiri rasa sakit yang menggerogoti nya
"Maaf", ucapnya sambil membalas pelukan ku dengan satu tangannya dan mengelus punggung ku yang bergetar karena menangis
"Rumi tidak mau mas. Bagaimana bisa kamu menyuruh ku menikah dengan adik mu mas?", tanya nya dengan nada tidak percaya
"sayang, maafkan mas. Tapi mas mohon kamu mengerti dan mau menuruti keinginan terakhir mas", ucapnya lagi
Sedangkan Arumi tidak menjawab dan hanya menangis
__ADS_1