
Arumi baru saja terbangun dari tidur siangnya. Saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore,Ia segera bergegas menemui sang suami. Ia melihat siluet suaminya tengah berdiri di balkon, dengan handphone yang menempel di telinganya. Dengan langkah pasti, ia segera menghampiri suami nya
" Kapan kita pulang mas?, bukankah ini sudah sore?." Tanya nya, setelah berada di dekat suaminya.
Hisyam yang mendengar suara istrinya lantas menoleh, dan mendapati sang istri sudah berada di belakangnya. Ia segera mematikan telpon, lalu memasukkannya ke dalam saku.
"Kenapa kamu begitu tidak sabar ingin pulang?. Apa kamu tidak ingin ke rumah pohon dulu?, kita belum sempat kesana kan?." tanya nya, dengan mengalihkan atensinya pada sang istri.
"Tidak usah lah mas. Kita pulang saja!." ucapnya. Sebenarnya dia ingin, tapi teringat dengan keme suman suaminya akhir-akhir Ini. Dia jadi kehilangan minat. Dia takut suaminya kembali menerkamnya, seperti di air terjun waktu itu.
"Baiklah. Ayo masuk!. Ada yang ingin mas katakan." ucapnya. ia segera meraih pinggang istrinya, lalu masuk ke kamar.
"Ada apa?." tanya Arumi, setelah mereka duduk di sofa panjang yang ada di kamar.
__ADS_1
"Bisakah mas minta sikapmu kembali seperti dulu?." ucapnya dengan bersungguh-sungguh, sembari memegang tangan istrinya. Dia tahu, jika permintaannya ini terlalu jauh, karena sang istri belum sepenuhnya menerima dirinya. Dia mengatakan itu karena dia tidak ingin, mereka menjalani kehidupan pernikahan dengan hambar.
mendengar itu, Arumi lantas menatap kedalam manik mata sang suami. Setelah melihat kesungguhan di mata suaminya, yang tersirat sebuah permohonan didalamnya, ia segera berkata.
"Mas. Kamu tentu tahu, itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk ku." ucapnya yang di angguki oleh suaminya. Ia menjeda ucapnya lalu kembali berkata.
"Tapi, karena aku sudah memutuskan untuk memperbaiki pernikahan kita. Aku akan mencobanya. Aku harap kamu juga bersabar, sampai aku bisa menata kembali hatiku." ucapnya lagi. Tentu saja Arumi sudah memikirkan semua itu, sebelum dia mengambil keputusan.
"Tentu. Tentu saja, mas akan bersabar sayang. Mas sadar, karena semua kekacauan ini adalah mas sendiri penyebabnya. Terimakasih, karena kamu mau memberi kesempatan pada suami mu yang bodoh ini." ucapnya dengan haru. Ia lantas menarik istrinya kedalam pelukannya, ia kecupi pucuk kepala istrinya, untuk menyalurkan rasa bahagianya.
"sudahlah mas, jangan berkata seperti itu!. Mungkin ini juga sebuah ujian dalam pernikahan kita." ucapnya. Ia berharap, semoga dengan masalah ini, bisa menjadikan mereka lebih dewasa kedepannya.
"Terimakasih. Mas merasa beruntung sekali, mempunyai istri yang begitu baik sepertimu." ucapnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan menyakiti istri nya, apalagi sampai menyia-nyiakan nya lagi.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu mas!. sebagai manusia biasa, aku juga memiliki banyak kekurangan." ucapnya. Ia tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Karena nyatanya, karena perkataan manis itulah yang membuatnya juga merasakan sakit yang teramat di hatinya.
Hisyam tidak menanggapi lagi perkataan istrinya, tetapi ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang, bagaimana kalau kita singgah dulu ke tempat mama, papa?." tanya nya.
" Iya mas. Aku juga kangen sama mama." ucapnya. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Entah kenapa?, posisi seperti ini membuatnya nyaman.
" Kalau begitu, segeralah bersiap!. Kita berangkat setelah ini." ucapnya.
" Baiklah." ucapnya. Setelah mengatakan itu, ia segera bangkit menuju kamar mandi.
Sedangkan Hisyam masih duduk di sofa, sembari menatap punggung istrinya, sampai menghilang di balik pintu.
__ADS_1