
Setelah sampai di dalam kamar, dia melihat sang istri sudah tertidur di atas ranjang king size nya. Wajar saja jika istri nya itu sudah tidur, karena waktu sudah menunjukkan dini hari. Lalu dia langkahkan kakinya mendekati sang istri.
Saat sudah sampai di samping Arumi, dia pandangi wajah istrinya yang cantik. Dia telusuri wajah istrinya, mulai dari alis nya yang tebal, bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung, dan jangan lupakan bibir mungil dan sedikit berisi yang berwarna pink. Ingin sekali dia mendaratkan ciuman ke bibir yang menggoda nya itu, tapi dia tahan. Akhirnya dia hanya mendaratkan ciuman nya di kening sang istri
Saat dia melihat mata Arumi yang terpejam, Masih bisa dia lihat ada jejak air mata di sudut mata istri nya
"Apa dia habis menangis?", gumamnya sambil mengusap sisa air mata di sudut mata istri nya
Lalu dia pakai kan selimut untuk menyelimuti istrinya agar tidak merasa kedinginan. Setelah memastikan istrinya merasa nyaman, dia pun ikut berbaring menghadap istrinya. Ingin sekali ia peluk wanita yang selama ini sangat ia rindukan itu, tapi rasa kecewa dan kebencian nya ternyata masih mendominasi, akhirnya dia pun membalikkan tubuhnya membelakangi sang istri lalu tidur.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Arumi sudah terbangun. Dia merasakan perut nya terasa berat seperti ada yang menindihnya, saat dia membuka mata, betapa terkejutnya ia saat mengetahui seseorang tengah memeluk nya.Mungkin karena kesadaran nya yang belum terkumpul, membuat nya lupa jika dia telah bersuami lalu dia pun berteriak
"Aaaaaaa", teriak nya sambil mendorong orang yang memeluk nya tersebut dengan keras, untung saja yang di dorong tidak sampai terjatuh
Hisyam yang mendengar teriakan memekakkan telinga itu pun langsung terjaga dari tidurnya, dia menyenderkan tubuhnya pada headboard, entah karena efek alkohol semalam atau karena dia terbangun dengan kondisi terkejut tapi kepala nya benar benar terasa sakit
"berisik", ucapnya ketus dengan mata yang masih mengantuk sambil tangan nya memijit pelipisnya
"Ma-maaf, aku lupa kalau sudah punya suami", ucapnya sambil menunduk karena takut karena telah berteriak
"lagian kenapa kamu pakai peluk peluk segala", ucapnya lagi yang tidak mau di salah kan karena sudah mengganggu tidur suaminya itu
"Apa ada larangan suami memeluk istrinya?, lagian aku tidak sadar saat memeluk mu", ucapnya sambil melirik ke arah Arumi
"Apa kamu mabuk semalam?", tanya nya saat menyadari suaminya itu bau alkohol, bukan karena ingin mengalihkan pembicaraan tapi memang bau alkohol pada suami nya itu sangat menyengat
"Bukan urusan mu", ucapnya dengan dingin sehingga membuat Arumi tidak lagi menjawab perkataan nya
Setelah itu Arumi turun dari ranjang nya lalu masuk ke kamar mandi. Selesai membersihkan tubuhnya dan berpakaian, dia pun menghampiri suami nya
"Bersihkan tubuh mu mas, aku akan membuat kan minuman untuk mu", setelah berkata demikian, ia pun keluar menuju dapur
setelah sampai di dapur Arumi melihat bi Sumi yang sedang memasak, lalu dia menyapa nya
"Pagi bi", sapa nya
"Pagi non", jawab nya sambil meneruskan masakan nya
"ada yang bisa bibi bantu non?", tanya nya
karena pagi pagi sekali istri tuan mudanya ini sudah masuk ke dapur
__ADS_1
"Tidak usah bi, Rumi cuma mau bikinin minuman buat mas Hisyam. Bibi lanjutin aja masak nya", ucapnya
"Baik non, kalau butuh bantuan bilang saja ke bibi ya non", ucapnya
"Iya bi, terimakasih", ucapnya, Lalu dia pun membuat kan minuman untuk suami nya
"Rumi ke kamar dulu ya bi", ucapnya setelah selesai membuat teh hijau untuk suami nya
"Iya non", ucap nya
Lalu setelah nya Rumi mengantarkan teh hijau untuk suami nya. Karena dari artikel yang pernah ia baca, jika teh hijau bisa menghilangkan efek alkohol
Saat dia masuk ke kamar, dia tidak melihat suaminya itu di dalam, lalu Rumi meletakkan teh nya di atas meja, kemudian dia merapikan tempat tidur nya. Setelah selesai, dia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, dia pun menoleh dan melihat suaminya keluar dengan keadaan yang sudah segar dan rambut yang masih basah
"Di minum dulu teh nya mas, Rumi taruh di atas meja", ucapnya pada sang suami
"Hm", sahutnya
dia pun melangkahkan kakinya menuju meja di mana teh nya berada, lalu mendudukkan dirinya di sofa sambil meminum teh nya
"Rumi ke bawah dulu ya mas, jika sudah selesai minum teh nya, mas langsung kebawah aja buat sarapan", ucapnya yang tidak di jawab sama sekali oleh sang empunya.
"Jangan lama lama", ucapnya lagi sambil menoleh ke arah suami yang hanya di jawab dengan deheman
"Hm", sahutnya
Lalu dia pun keluar
"issss dasar si kulkas, ham Hem ham Hem aja kalau di ajak bicara", gerutu nya sepanjang jalan
Rumi pun di kejutkan oleh suara mama mertua nya yang ternyata sudah ada di depan nya bersama sang suami. Karena saking fokusnya mengatai suaminya, dia bahkan tidak sadar jika di depannya sudah ada mertua nya
"Kenapa sayang?, pagi pagi kok sudah menggerutu", tanya nya pada sang menantu yang tidak menyadari keberadaan nya
Rumi yang terkejut pun terlonjak kaget
"eh mama, sejak kapan mama di sini?", tanya nya karena Mama mertua nya itu tiba tiba saja sudah ada di depannya
"Kamu itu, makanya kalau jalan yang fokus", ucapnya dengan tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang menantu
"maaf ma", ucapnya dengan tersenyum dan salah tingkah karena malu
__ADS_1
"Ya sudah, ayo ke ruang makan", ucapnya sambil menggandeng tangan menantunya dan meninggalkan sang suami
Sedangkan papa Candra yang di tinggalkan istrinya begitu saja hanya bisa menghela nafas
"Hahhhhh, dasar wanita. Kalau sudah ketemu sesamanya, suaminya sampai di lupakan", lirihnya lalu melanjutkan langkah nya menuju meja makan
"Sabar pa", ucap Hisyam sambil menepuk pundak papa nya
"Astaga Hisyam, kau itu mengagetkan papa saja", ucapnya dengan kesal karena terkejut lalu memukul lengan sang putra
"Awhhhhh, sakit pa", ucapnya sambil mengusap lengan nya yang kena pukul sang papa, meski tidak keras tapi tetap saja terasa panas
"Salah mu sendiri, mengagetkan papa saja", ucapnya sambil berlalu menyusul sang istri, sedangkan Hisyam mengikuti papa nya di belakang
Setelah semua berkumpul di meja makan, mereka pun sarapan. Selesai sarapan mereka berkumpul di ruang keluarga, karena hari ini masih dalam suasana berduka jadi belum ada yang melakukan aktivitas pekerjaan seperti biasanya.
"Hisyam, pimpinlah perusahaan kita yang ada di sini, kamu tidak usah kembali ke Washington lagi", ucapnya pada sang putra saat mereka sudah duduk di ruang keluarga
"tapi pa, bagaimana dengan perusahaan kita yang ada di Washington?", ucapnya
Karena jujur saja dia sudah merasa nyaman tinggal di sana
Sebenarnya yang di Washington hanya perusahaan cabang, sedangkan perusahaan inti berada di Indonesia. Perusahaan mereka adalah perusahaan properti terbesar di negara ini, bahkan semenjak perusahaan cabang yang di pimpin oleh Hisyam sekarang, perusahaan itu semakin di kenal di Amerika, dan Hisyam pun masuk dalam jajaran pebisnis muda yang bisa di perhitungkan kredibilitas nya.
"Perusahaan yang di sana biar papa yang mengurus nya, semalam papa sudah membicarakan ini dengan mama mu", ucapnya dengan menatap sang anak
Sedangkan Rumi dan mama Nisa hanya diam mendengarkan para suami mereka bicara
"Tapi pa, kenapa bukan papa saja yang di sini?, Hisyam sudah terbiasa dengan perusahaan yang di sana", ucapnya keberatan dengan keputusan sang papa
"Keputusan papa sudah mutlak. Minggu depan, papa dan mama akan berangkat ke Washington", ucapnya dengan tegas tanpa bisa di ganggu gugat. Meski umurnya sudah lebih dari enam puluh tahun, tapi wibawa dan ketegasan nya masih tidak berkurang. Bahkan badan pun masih segar bugar, begitu pula dengan sang istri yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah lebih lima puluhan
Bukan tanpa alasan dia memindahkan sang putra ke perusahaan inti, dia ingin menunjukkan kemampuan putra nya pada rekan bisnis nya. Meski di Amerika putra nya ini sudah di kenal sebagai pebisnis muda yang di perhitungkan, tapi selama ini yang memimpin perusahaan di sini adalah putra sulungnya yang kini telah tiada. Selain itu juga banyak pertimbangan lainnya sehingga dia memberikan keputusan seperti itu
jika sudah seperti itu, Hisyam pun hanya bisa menerima keputusan sang papa, karena membantah pun akan percuma saja
"baiklah", ucapnya pasrah
Setelah pembicaraan mereka selesai, kedua orangtuanya pun masuk ke dalam kamar. Sedang kan dirinya menuju ruang kerja untuk menenangkan diri dan kini tinggal lah Rumi seorang diri yang di ruangan itu
"Sebaiknya aku menonton tv saja", ucapnya setelah di tinggal semua orang, lalu dia pun beranjak dari tempat duduk nya. Sebenarnya ada banyak pembicaraan yang ingin ia bahas bersama suami nya, tapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat, dia akan menunggu saja sampai punya waktu yang tepat untuk bicara dengan suaminya itu
__ADS_1