
Setelah istrinya masuk kamar mandi beberapa saat lalu, Hisyam segera menyusul istrinya. Dia membuka pintu dengan hati-hati, agar sang istri tidak menyadari keberadaan nya. Setelah pintu terbuka, ia melihat sang istri tengah berdiri di bawah kucuran shower. Melihat tubuh istrinya yang polos, ia menelan saliva nya dengan jakun yang naik turun, Hisyam segera menanggalkan seluruh pakaian nya. Dengan langkah pelan, tapi pasti. Ia segera mendekati sang istri, lalu melingkarkan tangannya di perut rata istrinya. Sehingga membuat Arumi terkejut.
"mas." ucapnya sedikit keras karena tindakan suaminya yang tiba-tiba. Ia merasa terkejut, karena ia tidak mendengar langkah kaki suaminya.
"hmm." sahutnya, sembari mengeratkan pelukannya, hingga tubuh mereka menjadi lebih in tim. Sehingga menimbulkan gelenyar aneh pada keduanya.
" ngapain kamu kesini mas?, aku belum selesai." ucapnya, sembari berusaha menyingkirkan tangan suaminya, yang melingkari perutnya.
"Tentu saja mandi sayang." ucapnya santai, sembari hidungnya mulai mengendus leher jenjang sang istri.
"Tapi aku belum selesai. Seharusnya kamu tadi bilang, kalau mau mandi lebih dulu." ucapnya sedikit gugup. Ia merasa sedang tidak aman sekarang, karena dia mulai merasakan sesuatu yang menonjol di pan tatnya.
" Kita mandi bersama, biar lebih cepat." ucapnya, dengan tangan yang mulai tidak bisa di kondisikan. Karena tangannya mulai merayap, menyusuri tubuh polos istrinya.
__ADS_1
" Ck, lebih cepat apanya?, yang ada malah nambah lama." gerutunya dalam hati .
" Ehem. S-sebaiknya kamu lepasin tangan kamu, biar kita bisa cepat selesai." ucapnya. Ia berusaha menahan diri agar tidak ikut terbawa suasana, yang di ciptakan suaminya.
Hisyam tidak memperdulikan ucapan istrinya. Ia tetap melancarkan tangannya, menuju titik sensitif sang istri. Ia segera membalikkan tubuh istrinya, sehingga mereka berhadapan. Tanpa menunggu lama, ia segera menyambar bibir sang istri, yang begitu menggoda. Melihat istrinya yang masih menutup rapat mulutnya, ia memberi gigitan kecil pada bibir bawah sang istri, sehingga membuat Arumi membuka mulutnya. Setelah bibir istrinya terbuka, Hisyam segera melesakkan lidahnya, menyusuri rongga mulut sang istri. Ia segera menahan tengkuk sang istri, untuk memperdalam ciuman mereka.
Arumi memukuli dada suaminya berkali-kali, meminta di lepaskan saat merasakan nafasnya hampir habis.
"Apa kamu mau membunuh ku?." ucapnya dengan kesal, saat ciuman mereka terlepas. Ia menghirup udara sebanyak banyaknya, dengan dada yang naik turun.
Sedangkan Hisyam, dia tidak mengindahkan perkataan istrinya. Ia tetap melakukan kegiatan nya, meski mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
"ahh." desahnya. Arumi yang merasakan tangan suaminya bermain di bawah sana, tidak sanggup untuk menahan ******* yang keluar dari mulutnya, sehingga membuat Hisyam menyeringai. Melihat sang istri yang sudah terbawa oleh permainannya, ia segera mengangkat tubuh istrinya, membuat Arumi segera melingkarkan kakinya pada pinggang suaminya, karena takut terjatuh. setelah merasa cukup melakukan pemanasan, Hisyam segera menyatukan milik keduanya.
__ADS_1
🌼
Setelah dua jam lebih berada di kamar mandi, Arumi keluar dengan wajah tertekuk. Tubuhnya sudah menggigil. kulitnya bahkan sudah mengkerut, karena terlalu lama di kamar mandi. Berbeda dengan Hisyam, yang keluar dengan wajah yang berseri. Karena lagi-lagi dia mendapatkan keinginannya.
Arumi segera masuk kedalam walk in closet untuk berganti pakaian, di susul dengan Hisyam di belakang nya.
" Ayo sayang!. Kita sudah di tunggu." ucapnya, setelah mereka selesai berpakaian.
"Ini juga karena kamu mas." ucapnya dengan ketus, yang di tanggapi dengan tawa nyaring dari suaminya.
"Bukankah kamu juga menikmatinya sayang?." ucapnya menggoda sang istri, dengan alis yang di naik turun kan.
"Tau ah." ketusnya. Ia kesal dengan suaminya, yang tidak membiarkan dia istirahat barang sejenak, dari kegiatan seperti itu.
__ADS_1
Melihat istrinya yang cemberut, Hisyam semakin meledakkan tawanya. Ia segera merangkul pinggang istrinya, setelah berusaha meredakan tawanya, saat melihat sang istri semakin cemberut, dengan bibir yang mengerucut.
Mereka segera menuju area belakang villa, yang ternyata sudah ada pesawat di sana. Hisyam menuntun istrinya, untuk menaiki pesawat. Kemudia mereka segera berangkat, keluar dari pulau pribadi miliknya.