
Setelah selesai berbelanja perlengkapan bayi dan juga banyak mainan anak kecil, mereka juga membelikan hadiah untuk istri dari klien nya itu sebuah tas berlogo H. Selain itu, mereka juga membeli tas, sepatu, serta pakaian untuk diri mereka sendiri. Dan semua belanjaan itu di bayar memakai kartu sakti milik Hisyam yang di berikan pada Arumi setelah mereka menikah, tapi baru kali ini Arumi memakainya.
"Makasih ya Bu bos ", ucapnya setelah mereka selesai berbelanja
"Iya sama-sama ", sahutnya dengan tersenyum
"uang kamu masih aman kan Rumi buat belanja sebanyak ini?", ucapnya bercanda setelah keluar dari Mall sambil menenteng tas belanjaan di kedua tangan mereka masing-masing, belum lagi yang di bawakan oleh supir nya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil
"Tenang aja, karena aku tadi bayar nya pakai kartu yang di kasih mas Hisyam", ucapnya dengan santai menyahuti perkataan sahabat nya sambil berjalan menuju mobil
"Beneran kamu rum?, ah tau gitu aku banyakin lagi tadi belanjanya, lagian kapan lagi kan ngabisin duit pak bos", ucapnya dengan nada bercanda sambil berjalan di samping sahabat nya
"Ck, dasar", ucapnya sambil memukul lengan sahabat nya dengan tas belanjaan yang di bawanya
"Lagian aku itu cuma ngelampiasin kekesalan aku aja, salah siapa abis iya iya malah ngehindar gitu aja, jadi aku kuras aja duitnya", ucapnya terkekeh sambil membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam
"Istri yang bijak", sahut Siska dengan memberikan satu jempol tangan nya pada sang sahabat, yang di sambut gelakan tawa dari sahabat nya dan di ikuti oleh nya. mobil pun melaju menuju kediaman klien nya
Sedangkan itu, Hisyam yang sedari tadi menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa di apartemen sahabatnya langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar notifikasi di handphone nya.
__ADS_1
Ya, tadi pagi pagi sekali Hisyam mendatangi apartemen Frans. Frans yang saat itu sedang lari pagi di taman yang tidak jauh dari apartemen nya, langsung pulang saat di beri tahu jika tuannya sudah berada di apartemen miliknya yang ternyata juga sudah ada William di sana.
Di sinilah mereka sekarang, duduk di sofa ruang tamu sambil di temani berbagai minuman dan juga camilan. Weekend yang seharusnya menjadi waktu untuk bersantai, jadi berantakan hanya karena dia harus mendengarkan curhatan hati seorang Hisyam . Apa lagi muka William yang sedari tadi tertekuk, hari libur yang seharusnya dia nikmati bersama dengan wanita nya jadi kacau gara gara sahabatnya.
"uhuk uhuk", dia tersedak minumannya saat dirinya minum sambil melihat pemberitahuan tagihan kartu kredit nya
"pelan pelan saja, tidak akan ada yang merebut minuman mu", ucap Frans sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya, karena jika di luar jam kerja mereka berbicara layaknya sahabat bukan sebagai atasan dan bawahan
"Apa yang dia lakukan Frans? ", tanya nya sambil memperlihatkan handphone nya yang berisi tagihan belanjaan sang istri. Bukan itu yang membuat nya hingga tersedak, tapi untuk apa istrinya itu membeli begitu banyak perlengkapan bayi
"Apa iya istrinya hamil? , bukankah mereka hanya melakukan nya dalam satu waktu, meski mereka melakukan nya berkali-kali ", pikir nya,
"Bukan nya dia tidak ingin, jika istrinya itu hamil. Hanya yang jadi pemikirannya adalah, apa secepat itu?. Kalau memang benar, berarti bibitnya adalah bibit unggul kan, sekali bikin langsung jadi", tersadar dari pemikiran konyol nya Dia pun menggeleng geleng kan kepalanya untuk mengenyahkan pemikiran nya itu
"Maksud ku, buat apa dia membeli perlengkapan bayi?", ucapnya menjelaskan kebingungan nya
"Wah, selamat brother, sebentar lagi kamu bakalan jadi orang tua", sahut William yang sedari tadi diam karena belum mengerti apa yang mereka bicarakan
"benarkah Frans, istri ku sedang hamil?", tanya nya tanpa sadar karena sesuatu yang membuat nya terkejut barusan
__ADS_1
"Kau itu, ya mana aku tahu ", ucapnya kesal sambil menggeplak kepala sahabatnya.
Dia tidak habis pikir, bisa bisanya sahabat nya itu bertanya istrinya hamil atau tidak pada dirinya.
"Frans, kau mau ku pecat ya", ucapnya dengan keras setelah kepalanya di geplak oleh sahabat nya
"Aku sedang tidak bekerja jika kamu lupa ", ucapnya mengingatkan
"Lagian kamu itu yang benar saja, bertanya seperti itu padaku", ucapnya lagi yang tidak terima di salahkan begitu saja
"Lalu buat apa dia membeli semua itu? ", gumamnya
"Frans, kemana pengawal yang kamu suruh menjaga istri ku?, kenapa dia tidak pernah melaporkan apa pun", tanya nya saat mengingat bukan kah dia menempatkan pengawal pribadi untuk istri nya itu, tapi kenapa dia tidak pernah mendapat laporan apapun kegiatan istrinya selama ini, selain pertemuan istrinya dengan laki-laki tempo hari
"Bukankah kamu hanya menyuruh untuk menjaga sekaligus mengawasi istri mu, jadi dia tidak akan melapor jika tidak ada sesuatu yang penting ", ucapnya
"Kalian itu kenapa malah jadi berdebat. Sudahlah Frans, bukan kah sebaiknya kita memberikan selamat untuk sahabat kita yang sebentar lagi menjadi orang tua", ucapnya memotong ucapan sahabatnya karena dirinya sudah pusing sedari tadi melihat perdebatan keduanya
"Diamlah Will", bentak keduanya bersamaan, sedangkan William yang mendapat respon seperti itu hanya berdecih, ingin sekali dia pergi dari sana dan segera menemui wanita nya, tapi dia tidak mau di buang ke laut Alaska oleh kedua sahabat nya
__ADS_1
"Frans, telpon Eric dan suruh beritahu di mana istri ku sekarang. Dan jangan lupa, mulai sekarang laporkan semua kegiatan istri ku", ucapnya tanpa bantahan sambil berdiri lalu keluar
"Baik tuan", ucap Frans dalam mode kerja nya sambil mengikuti tuan nya, sedangkan William yang ditinggal kan begitu saja segera mengikuti keduanya