Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab51


__ADS_3

Arumi mengistirahatkan tubuh nya di atas ranjang. Ia berbaring sembari menatap langit-langit kamar yang di dominasi warna abu-abu itu. Arumi segera beranjak, saat mengingat handphone nya baru di berikan oleh sang suami, saat mereka sudah di pesawat tadi. Ia melihat jam menunjukkan pukul delapan malam, yang artinya di Indonesia hari sudah pagi. Mungkin sahabatnya sudah berada di kafe, sehingga dia memutuskan untuk menelpon sahabatnya. Dengan posisi tengkurap di atas ranjang, ia melakukan video call dengan sahabatnya.


"Tuut, tuut."


"Arumiii!. Kamu kemana aja sih?. Kenapa nomor kamu gak pernah aktif?." teriak Siska dari sebrang sana setelah panggilan di angkat, hingga membuat Arumi menutup telinga dengan satu tangannya, dan sedikit menjauhkan handphone nya.


" Bisa gak sis, kalau gak teriak-teriak?." tanya nya santai, setelah sahabatnya selesai bicara.


" ya abisnya kamu tuh kemana aja?. Kamu bikin aku khawatir tahu gak?." ucapnya dengan kesal. Ia begitu mengkhawatirkan sahabat nya, karena setelah malam dimana, Arumi di bawa oleh suaminya. Sahabatnya itu sama sekali tidak bisa di hubungi.


"iya-iya, maafin aku. Abisnya disini itu gak ada jaringan." dustanya. Ia tidak ingin membuat sahabatnya semakin khawatir jika dia menceritakan yang sebenarnya.


" Gak usah bohong deh Rum!. Jaman sekarang mana ada gak ada jaringan?, kecuali di hutan." ucapnya. Masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan sahabat nya.


" beneran sis. Aku emang di ajak ke hutan sama Hisyam. Lebih tepatnya, aku di ajak ke villa yang ada di pulau pribadi nya sih. Dan di sana itu sekelilingnya masih hutan." ucapnya menjelaskan. Padahal dirinya juga tidak tahu, di sana ada jaringan atau tidak. Karena selama dirinya disana, handphone nya di sita oleh suaminya.


" Terus, kenapa ini bisa vc?." tanyanya


" Ya, karena sekarang aku lagi di mansion mertua." ucapnya santai. Ia mengedarkan kameranya ke sekeliling kamar.


" Demi apa?, jadi sekarang kamu lagi di Amerika?." tanya nya memastikan.


" hmmm. Aku lagi di Washington DC." ucapnya, menanggapi sahabatnya.


"oh, syukurlah. Jadi, gimana kabar kamu?." tanya Siska lagi


" Telat siissssss." teriaknya. Sekarang gantian Arumi lah yang meneriaki sahabatnya. Ia tidak habis pikir, biasanya orang nanya kabar itu kan di awal. Lah ini, setelah ngobrol panjang lebar, baru nanya.

__ADS_1


Mendengar teriakan sahabatnya, bukannya kesal. Siska malah tertawa menanggapinya.


" maaf-maaf. Abisnya tadi itu, aku khawatir banget sama kamu." ucapnya di sela-sela tawanya.


" iya, makasih ya. Kabarku baik. Gimana kabar kamu?." tanya nya balik. Ia bersyukur mempunyai sahabat seperti Siska, yang selalu peduli padanya.


"Baik juga. Jadi, kapan kamu pulang?." tanya nya.


" Belum tahu juga. Maaf ya, kamu pasti repot banget ngurus kafe sendirian." ucapnya. Ia merasa bersalah pada sahabatnya. Karena sudah seminggu lebih, ia membebankan urusan kafe pada sahabatnya seorang diri.


" kalau itu si, kamu gak usah terlalu memikirkan. Lagian, aku di bantu asisten suami kamu, ngurus kafenya. Tapi aku itu udah kangen, pengen jalan bareng sama kamu." ucapnya. Ya, karena setelah kepergian sahabatnya malam itu, asisten Hisyam sering membantunya mengurus kafe.


" Iya juga si, kita kan udah lam gak jalan bareng. Terakhir, kayaknya pas kita mau ke rumah Sarah kan?. Itu aja cuma bentar." ucapnya, yang di sahuti gumaman oleh sahabatnya.


" Eh. kamu tadi bilang, Frans yang bantuin kamu?." tanya nya, setelah mengingat perkataan sahabatnya tadi.


" mana aku tahu kalau kamu gak bilang." ucapnya. Kenapa suaminya tidak mengatakan apapun padanya, soal ini", pikirnya.


" oh. Kirain, kalau kamu yang nyuruh dia bantuin aku." ucapnya menanggapi.


"mana berani lah aku. Cieeee berarti kalian sering berdua nih?." ucapnya menggoda sahabat nya, dengan alis yang di naik turun kan.


" ck, gak usah mikir yang aneh-aneh deh. Aku gak terlalu dekat sama dia, orangnya kaku." ucap Siska, yang di sahuti gelak tawa oleh Arumi. Dia tidak bisa membayangkan. Bagaimana tertekannya Frans, menghadapi kecerewetan Siska.


" ngetawain apa sih Rum?. Gak lucu tahu gak." ucapnya kesal, melihat sahabatnya yang menertawakan ucapnya.


" maaf-maaf. Abisnya," belum sempat ia meneruskan, ia mendengar pintu yang terbuka, lalu menoleh. Ia melihat suaminya, sehingga ia menghentikan tawanya dengan paksa. Lalu mengakhiri percakapan mereka.

__ADS_1


" sudah dulu ya sis. Besok kita sambung lagi." ucapnya, lalu memutuskan panggilan sepihak. Dia bahkan tidak memberi kesempatan, sahabatnya untuk menjawab.


setelah mematikan telepon, dan menaruhnya di atas ranjang. Arumi segera mendudukkan dirinya, saat sang suami menghampirinya.


" kenapa belum tidur hm?, bicara sama siapa tadi?." ucapnya setelah duduk di samping istrinya, dengan membelai lembut surai panjang sang istri.


" sama Siska. Sudah selesai bicara sama papa?." tanya nya. Ia melihat guratan lelah, di wajah suaminya.


"hmmm". Gumamnya. Ia memposisikan dirinya untuk berbaring, dan menaruh kepalanya di atas paha sang istri.


" Lusa kita pulang. Untuk mengurus persiapan resepsi." ucapnya. Ya, kedua orang tuanya sepakat, mengadakan resepsi di negara mereka. Ia memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut dari tangan sang istri yang membelai kepalanya. Mendapat perlakuan seperti itu dari sang istri, membuat lelah yang sejak tadi ia rasakan, menghilang begitu saja. Di gantikan, dengan rasa bahagia di hatinya.


" Kamu ingin konsep yang seperti apa, untuk acara kita sayang?." tanyanya. ia raih satu tangan istrinya, lalu ia kecup tangan yang terasa begitu lembut itu.


" Bukankah Rumi sudah mengatakannya tadi. Rumi terserah kalian saja." ucapnya, tanpa menghentikan usapan tangannya pada kepala suaminya.


Hisyam tidak menjawab lagi perkataan istrinya. Ia membalikkan badannya, hingga wajahnya menghadap ke perut sang istri. Lalu ia lingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. Wajahnya meringsek, hingga bersentuhan dengan perut istrinya. Dalam hati, ia berharap " semoga ada janin, yang lekas hadir di rahim istrinya". Dia sudah tidak sabar, menantikan adanya buah hati dari sang istri. Lama dia di posisi itu, hingga tidak sadar membuatnya terlelap.


Arumi yang mendengar dengkuran halus dari sang suami. Dengan gerakan pelan, ia melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Ia pindahkan kepala suaminya ke bantal, lalu memperbaiki posisi tidur suaminya, agar terasa nyaman. Lalu Ia menyelimuti suaminya.


"Huhhh", ia menghela nafasnya, setelah berhasil membenarkan posisi tidur suaminya.


" Dia ini makan apa?, kenapa badannya berat sekali". Ucapnya pada diri sendiri.


Setelah mengatakan itu, Arumi segera beranjak ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Ia masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan piyama. Setelah selesai, ia segera berbaring di samping suaminya, dengan menghadap ke arah sang suami.


"Ternyata benar. Sekeras dan sejauh apapun kita pergi. Jika sudah di takdirkan berjodoh, pasti selalu ada jalan yang membuat kedua insan bersatu." gumamnya dalam hati, sembari menatap wajah suaminya yang begitu teduh ketika tertidur.

__ADS_1


Arumi lantas memejamkan mata, dan menyusul suaminya ke alam mimpi.


__ADS_2