Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab42


__ADS_3

pagi harinya, Arumi terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan mata. Ia mengerjap-ngerjap kan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kemudian duduk


"Pagi sayang," sapanya saat melihat istrinya sudah terbangun


"Pagi," ucapnya dengan bersandar pada headboard. Ia melihat sang suami tengah membuka gorden kamar mereka. Setelah selesai, suaminya itu berjalan ke arah nya


"Bagaimana tidur mu?, apa nyenyak?," tanya nya saat sampai di dekat istrinya kemudian mendudukkan dirinya di sisi ranjang


"Hmm," gumamnya dengan lesu. Tidur nya sangat nyenyak semalam, dia bahkan baru bangun setelah matahari menampakkan sinarnya


tunggu tunggu, dia ingat, semalam dia bersandar di dada suaminya sambil memeluk sang suami hingga tanpa sadar dia tertidur. Mengingat itu, tiba-tiba wajah nya terasa panas. Dia malu dengan tingkah nya sendiri


Sedangkan Hisyam yang melihat wajah istrinya memerah menjadi khawatir


"sayang, apa kamu sakit?," tanya nya dengan menempelkan punggung tangan nya pada dahi sang istri


"Apaan sih mas. Aku gak sakit," ucapnya sambil menyingkirkan tangan suaminya


"Iya, kamu tidak panas. Tapi kenapa muka kamu memerah?," tanyanya dengan bingung karena perubahan wajah istrinya yang tiba-tiba


"Kan udah aku bilang, aku gak sakit. Kamu aja yang lebay," ucapnya dengan memutar bola matanya jengah

__ADS_1


"Mas cuma khawatir sayang," ucapnya gemas. Lantas ia mencuri kecupan di bibir istrinya yang membuat Arumi terbengong untuk beberapa saat


"Morning kiss," ucapnya setelah mengecup bibir sang istri, dan membuat Arumi tersadar dari apa yang dilakukan suaminya barusan


"Mas," teriak nya. Ia mengambil bantal kemudian ia pukul kan pada sang suami


"Kenapa sayang?," ucapnya sembari menangkap bantal yang digunakan istrinya untuk memukulinya. Setelah membuang bantal itu ke sembarang arah, ia segera mendorong tubuh istrinya hingga sang istri berbaring kemudian ia mengungkungnya


"Kenapa hmm?," ucapnya dengan lembut tepat di depan wajah sang istri. Wajah keduanya sangat dekat, bahkan bibir mereka hampir menempel


"Masss, aku malu," ucapnya dengan memalingkan wajahnya ke samping


"Rumi baru bangun tidur, pasti mulut Rumi bau karena belum sikat gigi," ucapnya dengan wajah yang sudah memerah. Ia terpaksa berhadapan dengan wajah suaminya karena dagunya masih di apit oleh jari suaminya


"Benarkah?, biar mas coba mulut istri mas ini bau atau tidak," ucapnya dengan menampilkan senyum tengilnya. Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Hisyam segera membungkam mulut sang istri dengan mulut nya. Kemudian ia ***** bibir yang sudah menjadi candu nya itu, setelah memberi gigitan kecil pada bibir bawah istrinya, ia segera melesakkan lidah nya untuk menyusuri rongga mulut sang istri


Sedangkan Arumi tidak bisa mengelak karena tindakan suaminya yang tiba-tiba. Ia memukuli dada bidang suaminya meminta untuk di lepaskan, tetapi tidak di hiraukan sang suami. Hingga akhirnya ia hanya pasrah, lama mereka di posisi itu hingga Arumi merasa pasokan oksigen nya hampir habis, ia lantas mendorong dada suaminya. Setelah terlepas, ia lantas meraup oksigen sebanyak banyaknya


"Kamu mau membunuh ku mas,"ucapnya sedikit keras dengan napas yang masih tersengal


Sedangkan Hisyam yang mendengar itu hanya terkekeh, ia lantas menyingkirkan tubuh nya dari sang istri

__ADS_1


"Mas kan hanya membuktikan mulut kamu bau atau tidak. Ternyata masih wangi," ucapnya tanpa rasa bersalah. Ia merasa lucu melihat wajah istrinya yang kesal karena tindakan nya. Jika saja dia tidak mengingat istrinya itu masih dalam mode marah karena masalah tempo hari, tentu dia akan melanjutkan nya lebih jauh. Tapi karena dia tidak ingin sang istri bertambah marah akhirnya dia menahan sendiri has rat nya.


Sedangkan Arumi yang mendengar itu hanya mencebikkan bibirnya, ia sangat kesal dengan Suaminya


"Bersiaplah. Mas akan mengajak mu jalan setelah makan," ucapnya lalu berdiri kemudian keluar dari kamar


Setelah suaminya menutup pintu, Arumi segera turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri


Sedangkan Hisyam, setelah keluar dari kamar mereka, ia segera menuju kamar lain kemudian masuk ke kamar mandi. Ia harus segera menuntaskan apa yang tertunda, ia sudah tidak tahan karena adik kecil nya sudah meronta minta di puaskan sedari tadi. Ia terpaksa melakukan ini karena dia takut jika memaksa Arumi untuk melayaninya, istrinya itu akan mengira jika dia hanya di jadikan bahan pelampiasan saja. Ia harus bersabar sedikit lagi hingga istrinya sudah benar benar menerima nya


selama satu jam menyelesaikan ritualnya, akhirnya adik kecil nya itu sudah tertidur kembali setelah mengeluarkan lahar panas nya dengan membayangkan wajah sang istri. Setelah selesai ia segera membersihkan tubuhnya. Pagi ini dia sudah dua kali mandi. Selesai mandi dan berpakaian, ia segera keluar kamar dan menuju dapur untuk sarapan, sebenarnya bukan sarapan karena hari sudah siang.


Sesampainya di dapur, ia melihat sang istri yang ternyata sudah berada di sana. Istrinya itu sangat cantik mengenakan dress selutut berwarna putih tulang, sangat selaras dengan warna kulit nya yang putih bersih. Sesampainya di meja makan, ia lantas menarik kursi lalu mendudukkan dirinya di samping sang istri


"mas dari mana?, tadi Rumi panggil kok gak nyahut?," tanya nya setelah suaminya duduk. Tadi setelah dia selesai mandi dan berpakaian, ia segera keluar kamar mencari suaminya. Tapi karena dia tidak menemukan sang suami, akhirnya dia memutuskan menunggu suaminya di meja makan. Saat sampai di meja makan, dia melihat omelette yang sudah tersaji di sana, mungkin suaminya yang memasak, pikir nya.


"Mas tadi mandi di kamar lain," ucapnya santai, agar istrinya tidak curiga dengan apa yang dilakukan nya. Bisa turun harga dirinya jika istrinya itu tahu dia habis bermain solo


"Oh," jawabnya singkat. Perasaan tadi suaminya itu sudah rapi, bahkan rambutnya saja masih sedikit basah tadi, kenapa harus mandi lagi, ah entahlah, pikir nya


Setelah itu mereka makan dengan hening

__ADS_1


__ADS_2