
Keesokan harinya. Arumi dan Hisyam segera pulang ke mansion dengan terburu-buru. karena mereka akan melakukan penerbangan hari ini juga.
" kalian sudah datang?." tanya papa Candra, saat melihat putra dan menantunya baru saja tiba. Padahal penerbangan mereka seharusnya sudah landing dari satu jam yang lalu, tapi terpaksa harus tertunda karena putra dan menantunya belum juga tiba. Bahkan saat dia mencoba menghubungi keduanya. Nomor mereka tidak ada yang aktif satu pun. Sungguh kebetulan yang di sengaja bukan.
" maafkan kami pa." ucap Arumi dengan tersenyum hingga menampilkan deretan gigi nya. Ia sebenarnya malu pada mertuanya. Tetapi mau gimana lagi, semua ini karena ulah suami nya.
" sudahlah. Segera bersiap!. Setelah itu kita berangkat." ucapnya dengan tersenyum ke arah menantunya. Tentu saja dia mengerti, apa yang membuat mereka terlambat. Karena dirinya juga pernah muda, hingga memahami kejadian seperti ini. setelah mengatakan itu, ia segera berlalu dari hadapan anak dan menantunya.
" semua ini gara-gara kamu mas!." ucapnya dengan mendelik sebal, sembari mencubit perut suaminya. sebenarnya mereka tadi sudah bangun lebih pagi. Tapi saat ia tengah melakukan ritual mandinya, suaminya itu tiba-tiba menyusul. Hingga waktu yang mereka gunakan jadi melar berjam-jam.
" aw. Sakit sayang." ucapnya sembari mengelus perutnya yang terasa sakit karena cubitan istrinya.
" lagian papa kan juga pernah muda. Pasti papa juga mengerti lah. Apalagi kita masih terhitung pengantin baru. Sudahlah, ayo bersiap. Sebelum nyonya Lubis mengeluarkan taringnya." ucapnya lagi, lalu mengajak istrinya menuju kamar mereka.
Setelah mereka semua siap. Mereka segera menuju rooftop, kemudian melakukan penerbangan.
.
saat ini Arumi dan Siska sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di negara ini. Ia sedang menunggu kedatangan temannya, yang tidak lain adalah Sarah. Ya, setelah kepulangan nya beberapa hari yang lalu. Ia memutuskan mengajak kedua temannya untuk bertemu di sebuah restauran yang berada di pusat perbelanjaan tersebut. Dan disinilah saat ini dirinya.
" nah. Itu dia orangnya. Sarah." panggil Siska sembari melambaikan tangannya, pada Sarah yang juga tengah menggandeng putranya.
" Aduh. Maaf ya, aku terlambat. Soalnya anak aku yang kecil tadi sedikit rewel." ucapnya dengan nada tidak enak. Kemudian dia mendudukkan putranya lalu dirinya, setelah mereka cipika cipiki.
" gak apa-apa. Kita juga baru sampai kok." ucap Arumi dengan tersenyum
" hai sayang. Ganteng banget sih. Siapa namanya?." ucapnya lagi, sembari memusatkan atensinya pada putra pertama Sarah yang begitu tampan, meski usianya masih anak-anak.
" Gavin Tante." sahutnya dengan wajah tanpa ekspresi nya.
" ya ampun sayang. Masih kecil aja udah cool banget. Pasti besar nya bakalan jadi rebutan kaum hawa." ucap Siska menimpali, sembari mencubit pipi Gavin dengan gemas.
__ADS_1
"Gavin bukan anak kecil Tante." sahutnya dengan mendelik sebal, karena tidak terima di bilang masih kecil. Lalu mengusap pipinya.
" Benarkah?. Tapi bagi tante kamu itu masih kecil." jawab Siska sembari menaik turunkan sebelah alis nya. Ia semakin senang menggoda putra temannya ini.
" huh. Tidak bicara lagi dengan tante." ucapnya sebal. Dengan kedua tangan yang bersedekap di dada, lalu memalingkan wajahnya, agar tidak menatap ke teman mommy nya.
" uhhhh gemasnya." ucapnya lagi, sembari mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Gavin. Dia merasa begitu senang menggoda putra Sarah. Sedangkan Arumi hanya menggeleng kan kepalanya melihat interaksi mereka berdua.
" mom." rengeknya, pada sang mommy. Karena merasa kesal selalu di ledek oleh tante di depan nya ini.
" tidak apa sayang, tante Siska hanya bercanda." ucap Sarah dengan lembut, sembari mengusap punggung putra nya. Sedangkan Siska malah tertawa melihat wajah Gavin yang semakin tertekuk.
" sudahlah Sis. Kamu itu." ucap Arumi, agar Siska berhenti menggoda Gavin.
Arumi lantas, memanggil waiters lalu memesan makan dan minuman untuk mereka. Kemudian mereka bercerita sembari menunggu pesanan datang.
" Jadi kamu baru pulang dari Washington?." tanya Sarah, setelah Arumi bercerita.
" hmmm." gumamnya sembari menganggukkan kepala.
" wah. Terimakasih tante Arumi." ucapnya sembari mengambil paper bag yang di berikan oleh temannya itu.
" sama-sama." ucapnya dengan tersenyum.
Lalu datang waiters, yang mengantarkan pesanan mereka.
" btw. Ada yang mau aku omongin sama kalian." ucapnya lagi. Setelah kepergian waiters.
" apaan?." tanya Siska
" Minggu depan, aku mau ngadain resepsi." ucapnya yang mengejutkan Siska yang tengah meminum jus nya.
__ADS_1
" uhuk-uhuk." Siska tersedak minumannya, sembari menepuk-nepuk dada nya.
" pelan-pelan Sis." ucap Arumi. dengan mengusap-usap punggung sahabatnya.
" kamu tadi bilang apa?." tanyanya lagi setelah rasa sakit di tenggorokan nya sudah berkurang.
" Minggu depan mau resepsi." ucapnya mengulang perkataan nya.
" kamu gila!. Kenapa mendadak sekali?." ucap Siska dengan sedikit keras.
" pelan sis!." desis Arumi, sembari menutup mulut sahabat nya. Sedangkan Sarah hanya melihat interaksi mereka. Ia juga sebenarnya terkejut dengan perkataan sahabatnya. Bukannya dia tidak bahagia. Tentu saja dia merasa bahagia untuk sahabat baru nya itu. Hanya saja, waktu satu minggu itu terlalu singkat untuk mempersiapkan sebuah pesta pernikahan.
" kenapa mendadak Rumi?. Apa bisa mempersiapkan segala sesuatunya dalam waktu sesingkat itu?." tanyanya. yang membuatnya terkejut adalah. Ia tidak habis pikir, kenapa sahabat nya baru memberi tahu nya soal ini?. Kenapa tidak dari jauh-jauh hari?. Sehingga dia juga bisa membantu persiapan nya.
" ck. Itu juga keputusan mertua aku Sis. Bahkan keputusan itu baru di ambil tadi malam." ucapnya sembari berdecak.
" aku meminta bertemu kalian di sini, karena aku ingin kalian menjadi Bridesmaids di acara aku." ucapnya lagi, sembari menoleh pada Siska, lalu Sarah.
" oh sayang. Aku turut bahagia untukmu." ucap Siska sembari memeluk erat sahabat nya.
" biasa aja meluknya sis. Sesak aku nya." ucap Arumi dengan memukul pelan lengan sahabat nya, yang membuat Siska tertawa.
" selamat ya Rumi. Aku turut bahagia mendengar nya." ucap Sarah, ia kemudian bangkit dari duduknya, lalu memeluk Arumi.
" iya. Makasih ya." ucapnya sembari membalas pelukan sahabat baru nya itu.
" jadi, apa yang bisa kita lakuin buat membantu persiapan acara?." tanya Siska, setelah Sarah kembali ke tempat duduknya.
" kalian gak perlu bantu apa-apa. Karena semua persiapan sudah di handle sama mertua. Kalian cukup doain agar semuanya lancar saja." ucapnya.
" ya mana bisa gitu dong. Aku kan sahabat kamu. Masa gak bantuin apa-apa?. Padahal aku udah rencanain, kalau aku nikah bakal repotin kamu." ucap Siska, yang membuat Arumi mendelik ke arah nya. Ia sudah sempat terharu dengan perkataan sahabatnya. Tetapi di buat kesal dengan perkataan terakhirnya. Ibarat kita udah di terbangin, tapi di hempasin gitu aja.
__ADS_1
" sialan kamu Sis." ucap Arumi, lalu melempar Siska menggunakan kentang goreng miliknya. yang di sambut gelak tawa oleh mereka, selain Gavin. Karena anak itu selalu setia dengan ekspresi datarnya.
Setelah itu mereka lantas bercerita tentang banyak hal. Setelah selesai dengan makanan mereka. Mereka lantas memutuskan untuk berbelanja terlebih dahulu sebelum pulang.