Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab30


__ADS_3

Malam harinya, Hisyam pulang ke rumah dan langsung menuju ke ruang kerja nya


"Bi, tolong jangan kasih tahu istri ku kalau aku sudah pulang," ucapnya pada bi sumi ketika dia membuka kan pintu


"Baik den." ucapnya dengan patuh


Lalu setelah nya dia kembali menutup pintu setelah tuannya pergi menuju ruang kerja


"Akhhhh," teriak nya setelah menutup pintu ruang kerja nya sambil menghamburkan semua berkas yang ada di atas meja. Rahang nya sampai mengeras, otot-otot di tangan nya sampai terlihat saat tangan nya mengepal, sorot matanya menggelap menandakan dia tengah diliputi amarah


Belum puas dengan apa yang sudah ia lakukan, dia pun kembali melampiaskan nya dengan memukul tembok


"Sialan, dasar brengsek kamu Hisyam, kamu emang pengecut." umpatnya pada diri sendiri sambil memukulkan kepalan tangannya pada dinding di ruangannya. Setelah mengatur nafasnya yang naik turun akibat menahan amarah sedari tadi, dia pun menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya.


"Apa yang udah aku lakuin?, aku benar benar bego," ucapnya dengan frustasi sambil menjambak rambut dengan kedua tangannya. Dia pun membuka laci meja nya lalu mengeluarkan selembar foto dari dalamnya


"Maaf." ucapnya lirih dengan pandangan kosong. Sambil mengusap foto tersebut, lama dia duduk termenung sambil memikirkan kesalahan nya. Setelah dia rasa emosi nya sudah stabil, dia pun memasukkan kembali foto tadi ke dalam laci. Lalu dia beranjak dan keluar menuju dapur untuk meminum air dingin


"Apa istri ku sudah makan bi?," tanya nya saat melihat bi Sumi yang masih berada di dapur


"Eh Aden. Sudah den, tadi non Arumi juga nanyain Aden seperti biasanya." ucapnya sembari menoleh ke arah majikan nya, yang hanya di sahuti deheman oleh Hisyam. Ya, setiap hari Arumi pasti akan menanyakan suami nya pada bi Sumi. Entah itu malam, maupun pagi hari nya. Karena memang seminggu ini Hisyam selalu menghindarinya. Lebih tepatnya, dia belum siap bertatap muka dengan istrinya. Dan bi Sumi yang sudah di beri tahu oleh tuannya hanya menjawab seperti apa yang tuannya ajarkan


"Aden mau makan malam?, biar bibi siapkan ," tanya nya lagi


"Tidak usah bi." ucapnya sembari membuka pintu kulkas, kemudian mengambil air minum yang berada di botol. Selesai minum, Hisyam berlalu meninggalkan dapur dan menuju kamar nya


Di depan pintu, ia berdiri sebentar untuk memutuskan masuk atau tidak. Setelah menghilangkan keraguan di hati nya, akhirnya dia pun memutuskan untuk masuk


Ceklek


Arumi yang saat itu duduk di depan meja riasnya sedang memakai skin care malam yang sudah menjadi rutinitas nya pun menoleh setelah mendengar pintu kamar nya terbuka


"Mas, kamu sudah pulang?," tanya nya lalu berdiri dan menghampiri suami nya setelah selesai dengan kegiatannya

__ADS_1


Hisyam yang di tanya hanya diam sambil terus menatap lurus ke arah istrinya yang sedang berjalan menghampiri nya


"Mas, kamu kenapa?," tanya nya dengan khawatir. Setelah sampai di hadapan suaminya dan melihat penampilan nya yang berantakan, dua kancing kemeja atas nya sudah terbuka, dan rambutnya yang acak-acakan. Berbanding terbalik dengan penampilan suami nya setiap hari yang selalu rapi


"Ini lagi. Ini kenapa mas?, apa yang terjadi?," tanya nya semakin khawatir saat melihat bibir suaminya yang terluka. Bahkan terlihat ada sedikit darah yang sudah mengering


"shhhhh ", ringisnya ketika tangan istrinya itu menyentuh bibirnya yang terluka


"Apa sangat sakit mas?," tanya nya sambil mendongak, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengusap bibir suaminya, lalu ke rahangnya yang juga terlihat lebam di sana.


Sedangkan Hisyam, dia tidak memperdulikan pertanyaan istrinya, dan hanya fokus menatap lekat ke arah sang istri. Ia mengambil tangan istrinya yang berada di wajahnya lalu ia genggam dan ia kecup punggung tangan istrinya


"Maaf", ucapnya setelah mengecup tangan istrinya, kemudian ia rengkuh tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam dekapannya. Ia letakkan kepalanya di ceruk leher istrinya, ia hirup dalam dalam aroma yang begitu ia rindukan selama ini. Sungguh, ingin sekali rasanya ia menangis karena mengingat kebodohan nya. Ia merasa begitu bersalah pada istri nya itu, tapi ia malu, sehingga ia memutuskan untuk mendekap erat tubuh istrinya.


Sedangkan Arumi yang melihat tindakan tiba-tiba suaminya hanya bisa membalas pelukan nya, lalu mengusap usap punggung sang suami. Ia bertanya tanya, ada apa dengan suaminya hingga bersikap tidak seperti biasanya


"Biarkan seperti ini sebentar lagi," ucapnya dengan suara sedikit serak sambil mengeratkan pelukannya. Karena dia tidak ingin, istrinya itu melihat dirinya menangis seperti ini. Ya, pada akhirnya pertahanan nya runtuh juga untuk tidak menangis, karena pada nyatanya air mata nya itu keluar begitu saja tanpa di minta


ia ingin melepaskan pelukan mereka dan melihat keadaan suaminya. Tapi tindakan nya itu terhenti saat suami nya malah memegang pundaknya, lalu memutar tubuhnya sehingga membelakangi sang suami. Ia mengerti, mungkin suaminya malu ia melihat keadaannya yang kacau. Ya, Arumi merasakan saat pundaknya basah dan ia menyadari bahwa suaminya sedang menangis, entah apa yang membuatnya seperti itu


"Maaf ," ucapnya sekali lagi sambil menyeka Sisa air mata nya


"Mas, Rumi tidak tahu apa maksud mas meminta maaf sedari tadi. Tapi lebih baik kita obati dulu luka mas, lalu setelah nya kita bicara ", ucap nya. Setelah membalikkan badannya, ia menarik tangan suaminya dengan pelan tanpa memperdulikan protes dari sang suami


"Awhsssss, sakit sayang," ucapnya saat istrinya itu menyentuh luka di punggung tangannya


"Astaga mas, sebenarnya kamu itu kenapa sampai terluka kaya gini?," ucapnya setelah mengetahui luka di punggung tangan suaminya


"Mas duduk di sini dulu, Rumi mau ambil obat," ucapnya. Setelah suaminya duduk di sofa, lalu ia menuju lemari untuk mengambil kotak p3k


Setelah mengambil kotak p3k, ia pun mengobati luka di bibir juga tangan suaminya yang terluka, lalu mengompres wajah suami nya yang terdapat lebam. Setelah selesai lalu mengembalikan kotak p3k, dia pun menghampiri suami nya lalu duduk di samping sang suami.


"sekarang mas cerita, apa yang terjadi sampai mas terluka kaya gini?," ucapnya tegas dan menuntut tanpa ingin di bantah

__ADS_1


"Besok saja ya, sekarang mas pengen istirahat aja," ucapnya sambil memeluk pinggang istrinya dari samping


"Nggak bisa mas, Rumi mau mas jelasin sekarang juga," tegasnya


"Sayang," ucapnya dengan merengek lalu meletakkan wajahnya di depan perut sang istri. Dia merasa sangat bodoh dan malu pada istrinya. Pantas saja, saat melakukan MP istri nya itu masih tersegel, tapi karena dirinya yang terlalu bodoh, sehingga masih saja curiga pada sang istri.


"Apa sih mas, lepasin gak," ucapnya sambil mendorong wajah suaminya karena ia merasa geli


Sedangkan Hisyam malah semakin menggelitiki perut istrinya menggunakan bibirnya


" geli mas, lepasin," ucapnya dengan tertawa ketika suami nya itu malah semakin menjadi


Sedangkan Hisyam, tanpa banyak berkata langsung mengangkat istrinya dan menuju ranjang


"Mas," protes nya saat tubuhnya tiba-tiba melayang, karena di gendong oleh suaminya. Arumi yang takut terjatuh langsung melingkarkan tangannya di leher sang suami


"kalau aku tadi jatuh gimana," sungutnya kesal saat tubuhnya sudah di letakkan di atas ranjang oleh sang suami. Sedangkan Hisyam yang melihat istrinya kesal, bukan nya segera bangkit setelah meletakkan tubuh istrinya dengan hati hati, ia malah semakin mendekatkan wajah mereka hingga bibir mereka hampir menempel sedikit lagi


"Mana mungkin mas jatuhin kamu sayang," bisiknya dengan lembut di depan wajah istrinya, ia menatap lembut manik mata sang istri


"Massss, jangan dekat dekat deh wajah nya," ucap Arumi saat merasakan jantung nya tidak baik baik saja, saat wajah nya berada begitu dekat dengan wajah suaminya. Wajahnya terasa panas bahkan menjalar sampai ke telinga


Cup


"Cantik," ucapnya setelah mengecup bibir istrinya. Sedangkan Arumi yang di cium serta di puji oleh suaminya, langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Ia yakin, wajahnya tambah memerah seperti kepiting rebus sekarang


"Jangan di tutup sayang," ucapnya mengambil tangan istrinya yang menutupi wajah cantiknya


"Mas ingin, boleh ya?," ucapnya meminta izin, sambil pandangan nya tidak terlepas sedikit pun dari wajah istrinya


Sedangkan Arumi yang di tatap seperti itu, ia merasa seperti di hipnotis sehingga tanpa sadar ia menganggukkan kepalanya. Ia bahkan lupa dengan ucapannya sendiri saat mengatakan tidak akan mau lagi jika suami nya itu mengajak nya berhubungan badan, ah entahlah dia rasa dirinya itu sudah gila


Sedangkan Hisyam yang sudah mendapat izin dari istrinya segera menyambar bibir sang istri yang sedari tadi sudah menggoda nya, lalu setelah nya mereka pun menuntaskan apa yang seharusnya mereka tuntas kan

__ADS_1


__ADS_2