Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab25


__ADS_3

Keesokan harinya, Arumi terbangun karena cahaya matahari yang menyilaukan mata memasuki kamarnya melalui cela cela jendela. Dengan mata yang masih mengerjap- ngerjap dia duduk dan merenggangkan otot tubuh nya yang terasa remuk dan menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang, lalu menyampirkan selimut sebatas lehernya karena tubuh nya yang masih polos karena ulah suami nya semalam,


mengingat kegiatan mereka tadi malam, pipinya terasa panas hingga memerah apalagi stamina suaminya itu seperti kuda yang tidak mengenal lelah. Mereka bahkan melakukan nya hingga hampir fajar, ia lalu mengedarkan pandangannya mencari suaminya yang ternyata sudah tidak ada.


"Mungkin sudah ke kantor", pikirnya


"Jam berapa sih ini?", ucapnya sambil mengarahkan pandangan nya ke arah jam yang berada di dinding kamar nya


"What????? aku kesiangan", teriak nya panik setelah melihat waktu menunjukkan pukul 12 siang


setelah mengetahui dirinya kesiangan, dengan terburu-buru dia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh nya dan hendak menuju ke kamar mandi, tapi saat akan menggerakkan kakinya bagian inti tubuh nya terasa perih


"Awhhhh, perih banget", ucapnya sambil meringis menahan perih


"ck bener bener ya, punya suami gak ada peka peka nya, udah dapet enak nya di tinggal gitu aja", gerutunya sambil menurunkan kaki nya dengan hati hati


Saat akan melangkah, kakinya tersandung selimut yang menjuntai ke bawah hingga membuat nya terjatuh ke lantai


"sialan nih selimut, gak tahu orang lagi buru buru apa", umpatnya sambil menyingkirkan selimut yang berada di kakinya lalu berdiri dan menuju kamar mandi dengan menahan sakit di kaki nya


Setelah selesai mandi, masih dengan menggunakan kimono dan handuk kecil yang di lilitkan di kepala nya dia mengambil handphone yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya


setelah membuka handphone terlihat 50 panggilan tak terjawab dan entah berapa banyak pesan yang berasal dari sahabat nya


"astaga, bisa ngomel sepanjang tahun nih si Siska", gumamnya setelah mengetahui banyak sekali telepon dan pesan dari sahabat nya, dia pun menelpon kembali nomor sahabat nya


Tuut tuut,,,,,suara sambungan telepon


Baru saja dia akan bicara saat panggilan di angkat oleh sahabat nya, tapi teriakan Siska dari seberang telepon membuat nya urung untuk berbicara dan segera menjauhkan handphone nya dari telinga


"Rumiiiiiiiii, bisa bisanya kamu gak angkat telpon aku dari tadi. Kemana aja kamu ha jam segini belum berangkat ke kafe?, pekerjaan kita itu numpuk hari ini arumi", teriak nya dengan kesal dan berkacak pinggang, dia begitu khawatir dengan sahabat nya itu saat di telpon tidak di angkat, bahkan pesan nya tidak ada yang di balas satu pun, dia takut terjadi apa-apa dengan sahabat nya. Karena tidak biasanya sahabat nya belum sampai ke kafe padahal hari sudah siang.


Belum lagi pekerjaan mereka hari ini sangat banyak, tapi bos sekaligus sahabat nya ini malah tidak datang ke kafe. Apalagi saat di telpon malah tidak di angkat, jadi saat handphone nya berbunyi dan ternyata sahabat nya yang menelpon, dia pun segera mengangkat nya dan mengeluarkan kekesalan nya


"Maaf sis, aku baru bangun, jadi gak denger pas kamu nelpon", ucapnya setelah sahabat nya itu berhenti berteriak

__ADS_1


"What????? baru bangun?", teriak nya lagi karena tidak habis pikir sahabat nya ini malah bangun sesiang ini padahal sudah di beri tahu dari kemarin jika jadwal nya hari ini sangat padat,


"Ck gak usah teriak teriak deh sis, sakit kuping ku", ucapnya sembari menjauhkan handphone nya dari telinga, lama lama kesal juga dirinya dengan sahabat nya ini yang selalu berteriak membuat telinga nya sakit saja


"Ya abis nya kamu tu aneh banget, biasanya juga gak pernah bangun sesiang ini, abis ngapain kamu semalem? Begadang", ucapnya sambil menurunkan intonasi suara nya


"nanti deh aku cerita, ya udah aku siap siap dulu buat berangkat ke kafe", ucapnya, tanpa menunggu jawaban dari sahabat nya Arumi mematikan telpon begitu saja,


setelah nya dia menuju walk in closet untuk berganti pakaian,


sedikit informasi meski sumber keuangan Arumi hanya dari kafe tetapi kafe milik nya itu sudah memiliki beberapa cabang di setiap kota dan bahkan sekarang dia sedang mengembangkan bisnisnya dengan membangun sebuah resort di pinggir pantai.


Saat dirinya baru saja tiba di lantai bawah, asisten rumah tangga nya itu menghampiri nya


"Non Arumi sudah bangun?", tanya nya saat sudah berada di hadapan istri tuan mudanya, sebenarnya dia ingin memanggil istri tuannya ini dengan sebutan nyonya, hanya saja Arumi sendiri yang menolak di panggil nyonya dan minta di panggil nama saja, karena merasa tidak enak jika hanya memanggil nama sehingga bi Sumi memutuskan untuk memanggil nya non saja


"Sudah bi, Arumi baru saja bangun", ucapnya dengan tersenyum dan malu saat bangun kesiangan


"iya non, kata den Hisyam tadi non Arumi jangan di bangunin, biar bangun sendiri. karena kasihan non Arumi kecapean katanya", ucap Bi Sumi dengan tersenyum.


"Masa sih bi, mas Hisyam ngomong gitu", ucapnya dengan tidak percaya, karena sikap Hisyam selama ini sangat dingin pada nya


"Beneran non, bibi gak bohong", ucapnya dengan meyakinkan


"Tuan juga tadi berpesan, kalau non sudah bangun di suruh sarapan dulu. Terus di suruh minum obat ini", ucapnya lagi sambil memperlihatkan kantong plastik yang di pegang nya


"Obat apa ini bi?", tanya nya sambil menerima obat tersebut


"Bibi juga gak tahu non, emang non Arumi sedang sakit?", ucapnya yang malah balik bertanya


"Enggak kok bi, Rumi gak sakit, ya udah Rumi mau ke kafe dulu", ucapnya


"Loh, tapi non sarapan nya udah bibi siapin", ucapnya memberi tahu


"Rumi sarapan di kafe saja bi, Rumi berangkat dulu ya", ucapnya

__ADS_1


"Iya non hati hati", ucapnya


Lalu setelah nya, Arumi pun melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah, hari ini dia meminta supir pribadinya untuk mengantar nya, karena tubuhnya yang masih terasa lelah.


Saat mobil sudah melaju membelah jalanan menuju kafe milik nya, dia pun membuka kantong plastik yang di berikan bi Sumi tadi, setelah di buka ternyata ada obat dan juga salep untuk mengurangi sakit di bagian bawah nya, saat mengetahui obat apa yang di dalam plastik tersebut wajahnya tiba-tiba saja kembali memerah, dia tidak menyangka jika Hisyam masih peduli padanya. Dan yang menjadi pertanyaan nya dari mana suami nya itu tahu obat semacam ini, sedangkan dia yang perempuan saja tidak terpikirkan ke arah sana.


Tidak mau pusing dengan memikirkan semua itu, dia pun menutup kembali kantong plastik yang berisi obatnya tadi dan memasukkan nya ke dalam tas. Lalu mengarahkan pandangan nya ke luar jendela mobil untuk melihat pemandangan meski yang ia lihat hanya ada mobil dan motor yang berseliweran, hingga tanpa sadar mobil yang di naikinya sudah berhenti di depan kafe milik nya.


"Kita sudah sampai nyonya", ucapnya menyadarkan sang nyonya dari lamunannya sambil membuka kan pintu mobil untuk sang nyonya


"Eh iya, terimakasih pak", ucapnya saat pintu mobilnya sudah di buka kan oleh sang supir


ck ternyata dia tadi melamun", pikirnya


setelah keluar dari mobil dia berjalan menuju ruangannya yang mana di dalam sudah ada Asisten nya yang sudah menunggu kedatangan nya sedari tadi


Siska yang melihat pintu terbuka lantas menoleh kan pandangan nya dan melihat bos sekaligus sahabat nya itu menuju ke arah nya dengan jalan yang sedikit aneh


"Kenapa jalannya kaya gitu Bu bos?, aneh banget", ucapnya dengan heran saat melihat bos nya itu berjalan dengan kaki yang sedikit mengangkang


"mending suruh Dea nganterin makanan dulu deh sis, aku udah laper banget", ucapnya setelah mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya


"Oke" ucapnya tanpa bantahan, lalu setelah nya dia menelpon Dea untuk mengantarkan makanan, karena selain dia ingin segera mendengar cerita sahabat nya dia juga sudah merasa lapar.


Setelah makanan datang, mereka pun langsung memakan makan siang mereka. Tapi bagi Arumi, itu adalah makan pagi nya, setelah selesai makan Arumi pun menceritakan apa yang terjadi semalam sehingga membuatnya bangun kesiangan, dia tidak malu menceritakan semua itu karena memang di antara mereka tidak ada hal yang di rahasiakan.


Sedangkan Siska yang mendengar cerita sahabat nya hanya melongo dan menatap tidak percaya ke arah sahabat nya


"Jadi, kamu bangun kesiangan sampai gak ngangkat telpon aku, sampai buat aku khawatir takut kamu kenapa kenapa, cuma gara gara Kamu abis iya iya?", ucapnya sambil tertawa dan geleng-geleng kepala, dia juga merasa lucu dengan dirinya sendiri yang terlalu mengkhawatirkan sahabat nya sedang kan yang di khawatirin malah enak enak tidur


"Gak usah ngeledek deh sis", ucapnya sambil melempar camilan ke arah sahabat nya


"Sorry sorry, jadi gimana rasanya MP", ucapnya lagi semakin gencar menggoda sahabat nya itu


"Sissssass", ucapnya dengan bibir yang mengerucut karena kesal sudah di ledek

__ADS_1


"Iya iya maaf", ucapnya sambil berusaha menahan tawa nya, setelah lama bercerita dan terus terusan jadi bahan ledekan sahabat nya akhirnya mereka pun melanjutkan pekerjaan


__ADS_2