Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab37


__ADS_3

Siska merasa dirinya baru saja tertidur tapi sudah ada yang mengetuk pintu kamarnya


"Enghhhh, ada apa bi?." teriak nya dari dalam dengan masih berbaring


Karena tidak mendapat jawaban dari asisten rumah tangga nya, Siska segera bangun lalu turun dari ranjang. Dia segera berjalan ke arah pintu lalu membuka nya


"ada apa bi?," tanya nya dengan menunduk dan mata yang sesekali terpejam karena dia masih sangat mengantuk, dia masih mengira jika yang mengetuk pintu adalah art nya


Karena masih belum mendapat jawaban, sehingga membuat nya membuka mata. Saat kedua matanya sudah terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat, setelah mengetahui ada sepatu mahal milik seorang pria di depan kamar nya, dia segera mengangkat pandangan nya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan nya dengan mata yang memandang nya dengan tatapan tajam


"hi-hisyam, ada apa kamu kemari?,"tanya nya dengan gugup, setelah berkata seperti itu Siska langsung memukul pelan mulutnya sendiri


"dasar bodoh kamu Siska, tentu saja dia kesini untuk menjemput istrinya," ucapnya dalam hati


Sedangkan Hisyam, tanpa menghiraukan wanita yang berdiri di depan nya dia segera membuka pintu dengan lebar, sehingga membuat Siska segera menyingkir. Lalu dia masuk begitu saja tanpa meminta izin terlebih dahulu pada pemilik kamar


"anggap saja rumah sendiri tuan," sindir nya saat melihat suami sahabatnya melenggang begitu saja memasuki kamarnya, lalu dia segera keluar dan berdiri di depan kamar nya


"Astaga," ucapnya terkejut, saat melihat ternyata masih ada seorang pria lagi yang sedang berdiri di depan kamar nya bersama sang art. Karena posisi kedua orang itu memang tidak di depan pintu, sehingga pandangan nya juga terhalangi oleh suami sahabatnya tadi


Sedangkan Frans yang melihat keterkejutan wanita di depan nya hanya menatap nya dengan datar, lalu berkata

__ADS_1


"Maafkan atas kelancangan tuan saya nona," ucapnya mewakili tuannya


"Hmm," sahutnya dengan ketus dan pandangan sinis. Sedangkan Frans yang di pandang dengan tatapan sinis hanya acuh


lalu atensinya terarah pada Hisyam yang keluar dari kamar nya dengan menggendong sang istri ala bridal style. Sedangkan Arumi yang di gendong masih tertidur


"Terimakasih," ucapnya dengan suara dingin nya setelah dia sampai di depan sahabat istrinya


"Iya sama sama," ucap Siska, setelah itu Hisyam kembali melanjutkan langkah nya dengan di ikuti oleh asisten nya


"Oh ya Hisyam, tadi ada yang mengikuti Arumi," ucapnya setelah dia mengingat kejadian sore tadi. Dia merasa suami sahabatnya itu berhak tahu, untuk meminimalisir kejadian yang tidak di inginkan


"Hm," sahutnya setelah sempat berhenti melangkah karena ucapan Siska, lalu setelah nya dia melanjutkan langkah nya


"Apa sudah siap semuanya Frans?," ucapnya setelah mobil melaju meninggalkan kediaman sahabat istrinya itu


"Sudah tuan," jawabnya, setelah itu tidak ada lagi yang berbicara


"Kita sudah sampai tuan," ucapnya setelah mobil berhenti di sebuah bandara. Ya, sebelum berangkat menjemput istri tuannya tadi, Hisyam menyuruh nya untuk menyiapkan penerbangan malam ini juga


Frans segera turun lalu membuka kan pintu mobil untuk tuannya, mereka segera menuju pesawat yang berlogo Lubis pada landasan pesawat dan badan pesawat nya

__ADS_1


"apa anda yakin tidak ingin ada pengawal yang ikut tuan?," tanya nya memastikan, sebenarnya dia sedikit khawatir karena tuannya pergi tanpa pengawalan seperti ini


"Ya. Kamu tidak perlu khawatir Frans, aku titip perusahaan," ucapnya


"Baik tuan. Saya akan melakukan nya dengan baik, saya tidak akan membuat Anda kecewa," ucapnya


"hm aku percaya padamu," ucapnya


"Hati hati tuan," ucapnya


Tanpa membalas perkataan sahabat sekaligus asisten nya, dia segera melangkahkan kakinya menaiki tangga pesawat dengan Arumi yang masih berada di dalam gendongan nya.


Setelah melihat pesawat milik tuannya lepas landas, Frans segera pergi dari bandara lalu pulang ke apartemennya. Dia ingin segera istirahat, karena besok pekerjaan yang menumpuk sudah menantinya


sedangkan di dalam pesawat, Hisyam baru saja membaringkan tubuh istrinya dengan hati hati. Kemudian dia ikut berbaring sambil memeluk istrinya. Dia pandangi wajah sang istri yang terlihat teduh saat tertidur, kemudian tersenyum sendiri lalu berkata


"Bisa bisanya kamu tidak terbangun sama sekali sayang," ucapnya tidak habis pikir. Meski dia tahu istrinya itu ketika tidur memang sudah seperti kerbau yang susah di bangun kan


"maaf," ucapnya setelah mengecup kening sang istri. Pikiran nya kembali melayang pada saat dia belum mengambil keputusan seperti ini


tadi setelah membereskan kekacauan di kantor nya, Hisyam mendapat laporan jika istrinya tidak pulang dan menginap di rumah sahabat nya. Mendengar hal itu membuat Hisyam memutuskan untuk membawa pergi istrinya ke tempat yang di mana hanya ada mereka berdua. Hitung-hitung berlibur meski tanpa persetujuan sang istri, pikirnya.

__ADS_1


Dia sudah tidak sanggup di diamkan oleh istrinya itu, hingga dia berpikir untuk segera menyelesaikan masalah mereka. Bisa saja mereka menyelesaikan masalah tanpa pergi ke luar negeri seperti ini, tapi melihat istrinya yang sudah berani tidak pulang ke rumah, tidak menutup kemungkinan istrinya itu akan pergi tanpa izin lagi. Jadi membawa istrinya kabur adalah keputusan yang tepat. Karena rasa lelah yang mendera tubuh nya hingga tanpa sadar dia ikut terlelap bersama sang istri


__ADS_2