Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku

Calon Adik Ipar Ku Menjadi Suami Ku
bab47


__ADS_3

Arumi merasa dirinya baru saja tidur, tetapi kenapa hari sudah pagi?. Arumi merasa sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. pagi ini, ia merasa tubuhnya terasa remuk karena ulah suami nya yang selalu menggagahinya setiap hari, bahkan tidak mengenal waktu dan tempat. Tetapi dia ingin segera berendam dengan air hangat, untuk merilekskan otot tubuh nya yang terasa kaku.


Ya, setelah perkataan nya waktu itu, Hisyam benar-benar membuktikan ucapannya. Dia selalu memasuki dirinya tanpa mengenal lelah.


"Sebenarnya dia itu makan apa?, kenapa staminanya tidak pernah berkurang." ucapnya sembari menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya.


Ketika dia menurunkan kaki nya, Inti tubuhnya terasa perih dan seperti bengkak, Kakinya bahkan terasa gemetar untuk berdiri. Sehingga membuat nya harus berpegangan pada headboard agar tidak terjatuh.


Dengan langkah pelan nya dia segera menuju kamar mandi dengan keadaan polos. Dia sudah tidak peduli jika suaminya melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.


"hah, nyaman sekali rasanya." ucapnya, setelah tubuh nya terkena air hangat. Saat ini dirinya tengah berendam di dalam bathtub. Dia memejamkan mata sembari menyenderkan kepalanya pada sisi bathub untuk merilekskan tubuh nya.


Dia tidak habis pikir dengan suaminya, yang tidak mengenal lelah dalam melakukan hubungan suami istri, apa suaminya itu man iak?, pikirnya . Terhitung sudah satu Minggu ini setelah pembicaraan mereka hari itu. Dan suaminya tidak pernah absen dalam melakukan penyatuan.Selain tidak mengenal waktu dan tempat, suaminya itu selalu melakukannya dengan durasi yang lama. Seperti tadi malam, suaminya itu baru berhenti saat hari sudah menjelang pagi, padahal mereka sudah melakukannya semalaman.


"Gak bisa di biarin nih. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku tidak bisa berjalan beneran." gumamnya dengan memejamkan mata


Dia harus segera menemui suaminya setelah ini, dia sudah kapok merasakan kebrutalan sang suami. Suaminya itu malah semakin menjadi di saat dirinya mendiamkannya. Sehingga dia memutuskan untuk mengikuti keinginan suaminya. Dia akan memberikan kesempatan sekali lagi pada suaminya.


Setelah berendam, Arumi segera membilas tubuhnya di bawah pancuran shower. Selesai membersihkan diri dan berpakaian, Arumi segera mencari keberadaan suaminya.


"mas." panggilnya setelah menemukan suaminya yang tengah duduk di taman, di temani secangkir kopi dan laptop di pangkuannya.


"hmm." sahutnya, tanpa mengalihkan pandangan nya dari laptop.

__ADS_1


"Aku mau bicara!." ucapnya seraya duduk di kursi yang sama dengan suaminya.


"bicaralah!." ucapnya santai. Masih fokus dengan pekerjaan nya, tanpa memperdulikan lawan bicara nya.


"Aku sudah memutuskan untuk memaafkan mu dan memberimu kesempatan kedua. Aku juga tidak akan meminta cerai lagi selama kamu bisa membuktikan keseriusan dari ucapanmu." ucapnya tanpa keraguan.


Mendengar hal itu, membuat Hisyam mengalihkan atensinya pada sang istri.


"Kenapa?, aku rasa keputusan mu itu tidak merubah apapun. Bukankah keputusan mu yang pertama malah menguntungkan." ucapnya santai, lalu kembali lagi mengalihkan pandangan nya pada laptop di pangkuannya.


Mendengar hal itu, membuat Arumi berdecih di dalam hati. Menguntungkan katanya?. Tentu saja hanya dia yang di untungkan, sedangkan dirinya merasa dirugikan, karena merasa kelelahan yang tiada habisnya. Ia lantas menghela nafas untuk menghilangkan gemuruh di dada nya.


"Tapi mas, aku ingin segera pulang." ucapnya dengan lirih.


"Tentu saja bukan. Aku memang ingin memperbaiki hubungan kita." dustanya. Tentu saja alasan terbesarnya bukanlah itu. Keputusan itu ia ambil setelah mempertimbangkan berbagai hal. Salah satunya, karena dia sudah tidak sanggup dengan kebrutalan sang suami. Tapi tidak mungkin kan dia mengatakan hal itu.


"Apa jaminannya?." tanya nya dengan menatap sang istri.


"Maksudnya?." tanya Arumi. Dia bingung dengan perkataan suaminya, yang meminta jaminan.


" Apa jaminannya?, kalau kamu tidak akan meminta cerai lagi." ucapnya menjelaskan. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu, dia tidak ingin setelah mereka pulang, istrinya itu masih meminta berpisah.


" jaminan apa sih mas?. Kamu kan tahu, kalau aku tidak sekaya kamu. Jadi apa yang bisa aku jadikan jaminan?. Tanya nya.

__ADS_1


"Aku tidak membutuhkan hartamu. Seperti katamu, kalau aku lebih kaya darimu bukan?." ucapnya dengan nada arogan.


" Jadi apa mau mu?." tanya Arumi yang masih tidak mengerti. Lama-lama dia kesal dengan suaminya ini.


"Aku ingin kita melakukan resepsi, setelah pulang dari sini." ucapnya


" Apa?, tapi untuk apa?. Bukankah kita sudah menikah." ucapnya. Dia memang tidak ingin melakukan resepsi. Jika itu dulu, tentu saja itu adalah impiannya, bisa menjadi ratu satu hari. Tapi tidak untuk sekarang, karena mengingat hubungan mereka saja masih seperti ini. Jadi untuk apa melakukan resepsi?, pikirnya.


"Kalau kamu tidak mau ya sudah. Aku malah lebih suka jika kita tinggal di sini." ucapnya santai, tapi terdengar menyebalkan di telinga Arumi. Dia ingin mengadakan resepsi, karena dia ingin memperkenalkan pada seluruh dunia, jika Arumi adalah miliknya.


"Baiklah. Aku mau melakukannya." putusnya dengan ragu. Dari pada dia harus di sini terus kan, bisa-bisa dia encok di usia muda, pikirnya .


" keputusan yang bagus." ucapnya dengan tersenyum lalu mengusuk rambut istrinya. Senyum yang menyebalkan menurut Arumi.


" Kapan kita akan pulang?." tanyanya


"Kenapa?, apa kamu sudah tidak sabar ingin melakukan resepsi?," tanyanya dengan tersenyum miring, yang semakin terlihat menyebalkan di mata Arumi.


"Tentu saja, bukan." ucapnya dengan tertawa garing. Yang membuat wajah Hisyam menjadi datar.


" Maksudku, bukan hanya itu saja. Tentu saja aku ingin segera merasakan menjadi ratu sehari, dengan memakai gaun yang indah. Tapi selain itu, karena aku juga sudah merindukan suasana di negara kita." ucapnya lagi meralat. Jangan sampai, karena perkataan nya, membuat suaminya menjadi berubah pikiran.


" Baiklah. Kita keluar sore ini." ucapnya. Setelah mengatakan itu, Hisyam segera berdiri, lalu masuk kedalam dengan laptop di tangannya.

__ADS_1


Sedangkan Arumi, langsung bernafas lega setelah mendengar putusan suami nya.


__ADS_2