
" Bawa dia kemari Frans!." titahnya pada sang asisten. Saat ini, ia tengah berada di kantor, dengan berkas yang sudah menumpuk di atas mejanya. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan yang sudah ia tinggalkan beberapa hari kemarin. Belum lagi, tinggal seminggu lagi, resepsi pernikahan nya. Jadi, kemungkinan ia akan lembur beberapa hari kedepan.
" Baik tuan." ucapnya. Setelah mengatakan itu ia segera keluar dari ruangan tuannya.
Setelah beberapa saat, terdengar pintu ruangannya di ketuk.
Tok tok tok
" masuk." ucapnya dari dalam. Setelah mendengar pintu yang terbuka, ia segera memutar kursi kerjanya. Hingga bisa melihat orang yang masuk kedalam ruangan nya.
Ia menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, dengan satu kaki ia naikkan pada kaki satunya. Kemudian ia berkata.
" Bisa kamu jelaskan kejadian seminggu yang lalu Erick!." ucapnya dengan tegas dan tatapan matanya yang tajam, memandang pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga sang istri. Ya, dia mempertanyakan soal di mana istri nya merasa diikuti oleh seseorang. Yang ternyata, itu adalah kecerobohan dari anak buahnya. Sehingga membuat istrinya merasa tidak nyaman.
" m-maaf tuan. Saat itu saya tengah mengambil cuti. Karena ibu saya sedang sakit di kampung. Jadi saya meminta rekan untuk menggantikan saya untuk sementara waktu." ucapnya dengan menunduk karena takut. Aura tuannya itu begitu kuat. Padahal tuannya bicara dengan nada biasa yang sering ia gunakan pada anak buahnya. Tetapi kenapa dia merasa begitu terintimidasi.
" Apa kamu tahu di mana kesalahan mu?." tanyanya lagi, sembari memainkan pena yang ada di tangan nya. Ia sebenarnya malas mengurusi hal remeh seperti ini. Tapi jika sudah menyangkut istrinya, tentu dia tidak akan membiarkannya begitu saja. Ia tidak ingin memberikan celah, hingga kejadian serupa terjadi lagi kedepannya.
" m-maaf tuan. Saya salah. Karena tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu pada asisten Frans." ucapnya lagi. Keringat sudah mulai keluar dari dahinya. Padahal suhu di ruangan ini tidak panas sama sekali. Tetapi aura tuannya, seperti atmosfer bagi yang berada di sekelilingnya.
" Bagus." ucapnya. Kemudian ia berdiri. Lalu mendudukkan setengah dirinya di atas meja, dengan kaki yang menyilang. Dan kedua tangan bersedekap di depan dada.
" Pecat dia Frans!." titahnya dengan tegas.
Mendengar hal itu, tentu saja membuat Erick begitu terkejut. Hingga ia bersimpuh di lantai, kemudian berkata.
" tuan. Maafkan atas kesalahan yang telah saya lakukan. Tapi saya mohon tuan!, jangan pecat saya!. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini." ucapnya dengan kedua tangan yang ia tangkupkan di depan dada. Ia tidak tahu harus kemana lagi ia mencari pekerjaan, jika dirinya di pecat. Karena di kota besar seperti ini, begitu sulit mendapatkan pekerjaan. Apalagi saat ini ia sedang membutuhkan biaya yang banyak. Untuk pengobatan ibunya. Ia sungguh menyesali kecerobohannya.
__ADS_1
" saya mohon tuan. Saya berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi." ucapnya lagi. Ia sangat takut, jika tuannya benar-benar memecatnya.
tanpa mendengar perkataan pengawal nya. Ia segera menyuruh asisten nya untuk mengeluarkan pengawalnya dari ruangan.
" Bawa dia Frans." ucapnya sembari mengibaskan tangannya. Kemudian kembali duduk di kursi kerjanya, dengan membelakangi kedua anak buahnya. Ia kembali fokus dengan pekerjaan nya, tanpa memperdulikan permohonan dari pengawalnya.
.
Waktu sudah menunjukkan dini hari. Dan Hisyam baru menginjak kan kakinya di rumah.
ia segera memasuki kamarnya, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyama nya, ia segera melangkahkan kakinya menuju ranjang. Dimana istrinya sudah terlelap ke alam mimpi. Ia segera naik ke atas ranjang, kemudian menyelimuti istrinya. Sedangkan dirinya, duduk sembari bersandar pada headboard ranjang.
Ia merasa begitu lelah hari ini. Dan kemungkinan, kesibukannya akan berlanjut sampai beberapa hari kedepan. Ia memejamkan mata, sembari memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sangat pening. Ia kemudian menghela nafasnya, setelah pusing di kepala nya berkurang. Ia segera merebahkan tubuhnya, lalu memeluk istrinya dari belakang. Hingga membuat Arumi terjaga dari tidurnya, karena merasa ada pergerakan di atas ranjang nya.
" mas." panggilnya dengan suara serak, khas bangun tidur. Lalu membalikkan badannya, menghadap ke arah suaminya.
" Apa mas baru pulang?. Jam berapa ini?." tanyanya, tanpa menjawab perkataan suaminya.
" hmm." gumamnya
" tidurlah lagi sayang!. Ini masih malam." ucapnya, tanpa menghentikan usapan pada punggung sang istri.
" Apa mas begitu sibuk?, hingga pulang selarut ini?." tanyanya. lalu mendongak, untuk menatap suaminya.
" hmmm. Kerjaan mas sangat menumpuk hari ini. Mungkin beberapa hari kedepan, mas juga masih lembur" ucapnya
" maafkan Arumi. Karena tidak menyambut kepulangan mas." ucapnya, merasa bersalah. ia tadi merasa begitu lelah. Jadi, setelah dirinya makan malam bersama kedua mertuanya tadi, ia pamit kembali ke kamar. Dan malah ketiduran.
__ADS_1
" tidak apa sayang. Bagaimana tadi?. Apa jadi bertemu dengan teman-teman mu?." tanyanya dengan lembut. Baginya, bukan suatu masalah jika sang istri tidak menyambut kepulangan nya. Karena ini memang salahnya. Yang baru pulang, saat waktunya orang istirahat.
" hmmm. Kami bertemu di restauran yang ada di mall tadi." ucapnya memberi tahu. Arumi tidak tahu saja, jika Hisyam tadi hanya berbasa-basi bertanya hal itu. Karena, tanpa istrinya mengatakan pun, dia sudah tahu dari pengawalnya.
" Apa kalian bersenang-senang hmm?." tanyanya lagi, sembari menghirup aroma dari rambut istrinya.
" iya. Kami bersenang-senang tadi. Rumi juga menggunakan kartu dari mas, untuk membeli banyak barang." ucapnya dengan antusias sembari terkekeh. Ia bahkan sudah tidak merasakan kantuk lagi sekarang. Mungkin juga karena dia sudah tidur terlalu lama.
" Gunakan lah sesuka mu sayang. Kartu itu kan memang milikmu." ucapnya dengan tersenyum, lalu mengecup kening istrinya. Ia merasa bahagia, melihat binar di mata istri nya. Ia merasa lelah yang sejak tadi ia rasakan, menghilang entah kemana. Setelah melihat istrinya yang begitu antusias.
" Benarkah?. Kalau Rumi habiskan apakah boleh?." tanya nya, kembali mendongak.
Hisyam lantas tertawa saat mendengar perkataan istrinya, yang akan menghabiskan uang di dalam black card pemberian nya. Memangnya apa yang akan di beli istrinya itu?." pikirnya. Dia sudah sangat hapal dengan sifat istrinya. Meski Arumi gemar berbelanja, seperti kebanyakan wanita lainnya. Tetapi istrinya ini, bisa mengatur keuangan dengan baik. Itulah mengapa, kafe peninggalan mertuanya bisa semakin maju. Bahkan sudah merambah ke sebuah resort.
" sayang, jika uang di kartu milik mu habis. Mas bahkan masih punya yang lainnya. Jadi, kamu jangan khawatir. Oke!." ucapnya menanggapi ucapan sang istri.
Mendengar hal itu, membuat Arumi lantas mencebikkan bibirnya.
" dasar sombong." ucapnya, seraya memukul pelan dada suaminya. Yang membuat Hisyam, semakin tertawa.
" sudahlah. Sebaiknya kita tidur sekarang!." ucapnya. Ia menarik kepala istrinya, hingga wajah sang istri terbenam pada dada bidangnya. sehingga membuat Arumi, mencoba melepaskan diri.
" mas." teriak nya. Setelah berhasil melepaskan diri dari dekapan suaminya. Dia memang suka di peluk. Tapi kalau sampai, wajahnya terbenam di dada suaminya. Dia juga jadi kesulitan bernapas bukan?. Sungguh menyebalkan sekali suaminya ini.
mendengar teriakan istrinya, membuat Hisyam kembali tertawa. Dia tidak habis pikir, kenapa istrinya ini cepat sekali kesal?." pikirnya.
" baiklah-baiklah. Kita tidur beneran. Kemarilah!." ucapnya, setelah meredakan tawanya. Ia kembali membawa sang istri ke dalam pelukannya. Tetapi tidak seperti tadi. Setelah menemukan posisi yang nyaman. Mereka kemudian memejamkan mata, untuk tidur. Mengingat hari masih malam. Apalagi, Hisyam belum tidur sama sekali. Hingga membuat nya cepat terlelap.
__ADS_1