
Nora melepas jas kerjanya saat jam menunjukkan pukul sepuluh siang keesokan harinya. Dia sudah siap untuk berangkat ke taman kota, menunggu jemputan bodyguard Daren yang akan membawanya entah kemana.
Nora tidak ingin menambah masalah, karena itulah dia keluar diam-diam. Tidak ada yang tau, bahkan Oki pun tidak.
Nora melangkah hati-hati. Menyelinap di antara para karyawan yang sibuk mengobrol masalah pekerjaan sehingga mereka tidak menyadari Nora lewat.
Nora terus melangkah hingga sampai luar gedung. Langkahnya semakin cepat setelah dia sampai di gerbang. Dia takut Indah akan melihatnya kabur lewat jendela di lantai tiga.
Nora naik taksi online yang sudah dia pesan lima belas menit yang lalu. Tidak mungkin membawa mobil sampai ke taman kota sedangkan dia akan dijemput dengan mobil juga oleh Juan.
Jantung Nora berdetak tak normal tanpa alasan. Seharusnya dia tidak perlu segugup ini. Apalagi dia bukannya akan jadi model yang benar-benar berjalan di karpet merah. Dia cuma akan jadi model desainer amatir yang masih berstatus mahasiswa. Nora tidak mau mengharap lebih.
"Terima kasih, Pak," kata Nora setelah dia sampai di taman kota.
Taksi itu meninggalkannya sendirian di tengah lalu lalang pengunjung. Nora menatap sekeliling untuk memastikan Juan belum sampai untuk menjemputnya. Dia menyempatkan diri duduk di salah satu bangku kosong. Mengisi waktu menunggu sambil memainkan ponselnya.
Belum genap lima menit, sebuah mobil abu-abu berhenti tepat di depan Nora. Itu adalah mobil yang sama seperti milik kantornya. Mobil tempat dia salah masuk beberapa hari yang lalu.
Sosok bertubuh kekar keluar dari pintu kemudi dengan langkah tegap dan ekspresi sangar. "Nona Micky sudah menunggumu di rumah," kata Juan membuat Nora mengerling kebingungan.
Micky? Nora berpikir mungkin itu adalah nama adiknya Daren. Dia mengira adiknya Daren laki-laki bukan perempuan.
"Apa yang kau tunggu?" tanya Juan membuat Nora mengaburkan lamunannya.
Nora segera bangkit dari duduknya. Masuk lewat pintu belakang. Juan menyusulnya. Langsung melajukan mobil tanpa mengatakan apa-apa.
Nora berharap adik Daren tidak semenyebalkan kakaknya atau keputusannya menerima tawaran ini justru akan menyiksanya.
Mobil melaju meninggalkan taman kota. Nora tidak tau dia mau dibawa kemana, dalam artian dia tidak tau dimana rumah Daren dan adiknya berada.
Untuk mengisi kekosongan, Nora memainkan ponselnya. Sebisa mungkin menghindari media sosial, karena dia tau orang-orang kantor sedang mencarinya yang menghilang secara tiba-tiba.
__ADS_1
Nora ingat satu hal, tanda pengenal yang terkalung di dadanya belum dia lepaskan. Dia lekas melepas tanda pengenal itu agar tidak ada yang tau dia berasal dari perusahaan entertainment. Meskipun banyak orang yang mengenal wajah Nora meskipun belum pernah bertemu karena wajahnya familiar di vlog-vlog terkenal di media sosial.
Nora mengira mobil ini akan membelok ke jalan luar kota. Rupanya, Juan membawanya masuk ke area sebuah rumah berlantai dua.
Nora menarik napas dalam untuk menetralkan gugupnya. Dia tidak ingin kelihatan gugup hanya karena bertemu dengan seorang bocil mahasiswa.
Juan keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Nora. Nora sempat kaget, mengira dia akan ditarik keluar. Rupanya, Juan cuma mau menyambutnya keluar. Nora jadi salah tingkah.
Nora dituntun masuk lewat pintu utama. Rumah itu tenang dan terlihat menyenangkan daripada Daren. Seluruh bagian terawat sangat rapi.
Juan menekan bel beberapa kali. Nora pikir Juan bisa keluar masuk semaunya tanpa perlu menekan bel, rupanya dia masih harus belajar mengerti bagaimana sikap seorang bodyguard yang sebenarnya.
Butuh waktu sekitar satu menit sampai ada yang membuka pintu.
Seorang gadis berkuncir kuda tingginya cuma sebatas dagu Nora muncul dari sana. Bibirnya tipis, tersenyum lebar, memperlihatkan gingsul di bawah sudut kanan bibirnya. Nora tidak ingin bohong, dia mengharapkan sosok yang muncul akan lebih cantik dari perkiraannya.
Yang membuat Nora senang adalah ekspresi Micky yang terlihat lebih baik daripada Daren yang super datar mirip permukaan kaca ruang kerjanya.
"Kau pasti Nora!" tebak Micky. Menatap antusias.
"Ya," sahut Nora. Mengangguk.
"Terima kasih, Juan. Sampaikan salamku untuk kakakku dan Doni. Katakan kepada mereka aku sudah bertemu dengan Nora!" pesannya kepada Juan membuat laki-laki itu mengangguk paham. "Pergilah!" kata Micky. Juan mengangguk dan meninggalkan tempat itu begitu saja.
Nora mengalihkan perhatian ke arah Micky lagi. "Ayo, aku akan tunjukkan baju-bajuku yang sangat cocok dengan postur tubuhmu."
Nora ikut Micky masuk ke dalam rumah. Hal pertama yang membuat Nora gugup adalah suasana rumah yang begitu asri dan tenang, juga gandengan Micky yang mendadak akrab seolah mempercayakan segalanya padanya tanpa alasan.
"Kenapa kau memilihku jadi modelmu?" tanya Nora penasaran.
Micky terkikik kecil. "Kemarin aku sedang mengunjungi abangku di kantornya dan aku melihatmu duduk di bangku tunggu bersama sahabatmu. Kalian sedang bertengkar ketika aku berusaha mendekat untuk menawarkan tawaran ini. Jadi, aku minta bantuan abangku untuk memberitahumu bahwa aku suka dengan postur tubuhmu."
__ADS_1
Nora menelan saliva. Dia melirik sekujur tubuhnya dan tidak menemukan ada satupun bagian yang indah dari tubuhnya. Semuanya standar-standar saja, bahkan dia sempat melakukan diet karena merasa berat badannya bertambah lebih cepat daripada biasanya.
"Aku harap kau tidak keberatan membantuku," kata Micky dengan nada lebih pelan.
"Tidak, tentu saja."
Micky membuka pintu ruangan desainnya. Ada banyak sekali gaun yang menempel di manekin, baik yang sudah jadi maupun masih setengah jadi. Kain mentahan bertumpukan di meja dan lantai. Kertas-kertas ditata rapi di atas meja.
Nora kehilangan kata-kata ketika melihat lemari khusus tempat benang dari berbagai warna dan bahan ditata rapi hingga berkilauan terkena sinar lampu. Dia menoleh ke samping, melihat mesin jahit yang masih terpasang benang dan kain yang belum selesai dijahit.
"Ini adalah baju rancanganku yang sangat cocok kau pakai." Micky memperlihatkan gaun berwarna biru berkilauan di balik lemari kaca.
Nora menatap takjub. Dia tidak familiar dengan gaun-gaun seperti ini. Pakaian yang biasa ia kenakan kasual, bukan modis mirip model sungguhan. Akan sangat menggelikan jika dia memakainya.
"Jadi, aku akan pakai pakaian itu dan berjalan di pameranmu begitu?"
Micky tertawa geli dan menggeleng. "Tidak. Kau cuma perlu memakainya untuk difoto di studioku."
Nora menghela napas. "Jadi, aku tidak akan berjalan di atas karpet merah?"
"Tidak. Tidak perlu khawatir," sahut Micky enteng.
"Kupikir aku harus menjatuhkan harga diriku dengan memakai pakaian ini di tengah orang-orang yang akan menonton tubuhku," gerutu Nora sambil menghela napas lega.
"Kalau begitu, kau bisa pakai sekarang supaya pekerjaan ini cepat selesai."
"Eh, aku ragu apakah pakaian ini akan terlihat bagus di tubuhku."
"Aku yakin seratus persen," sahut Micky sambil menatap tubuh Nora dari atas hingga bawah. "Karena itulah aku memilihmu."
Nora menarik napas dalam dan mengeluarkan perlahan. "Baiklah, aku akan memakainya."
__ADS_1