
Nora membawa Daren yang sudah melemas keluar trem. Dia sampai lupa masih ada Nelan di dalam sana.
"Daren ..." Nora menggoyangkan bahu Daren yang penuh keringat dingin. Lebam-lebam memenuhi wajah laki-laki itu membuat Nora tak tega.
Nelan muncul dari balik pintu trem. Dia mendekat ke arah Daren. Bukan untuk menangis dan menaruh perhatian, melainkan tersenyum puas.
Nora kehilangan kata-kata saat Nelan meraba dada Daren untuk mencari kalung emas di leher pria itu. Setelah menemukannya, dia menarik kalung itu keluar. Lalu tersenyum. "Terima kasih sudah membawaku sampai di tempat lahirku. Inilah yang kutunggu selama dua tahun hubungan kita." Lalu dia pergi bersama para bandit itu menggunakan trem yang baru saja mereka tumpangi.
Daren masih bisa melihat meskipun samar-samar dengan ujung matanya. Tidak ada yang bisa mendeskripsikan, betapa besar rasa kecewa yang ia rasakan terhadap Nelan.
***
Pertolongan datang tidak lama setelah kejadian itu. Nora dan Daren beserta korban lainnya di bawa ke pos penyelamatan terdekat di tepian gurun.
Nora mengompres beberapa bagian Daren yang lebam atas suruhan perawat. Dia masih tak menyangka dan tak sedikitpun berani membicarakan masalah Nelan. Dia tau rasa kecewa yang Daren perlihatkan lewat rintihan sakita sekaligus tatapan matanya yang menyedihkan.
Nora tidak yakin setelah ini Daren akan jadi Daren yang sama seperti dulu, atau dia berubah menjadi lebih dingin daripada sebelumnya.
Sekarang bagaimana mereka bisa pulang? Paspor, visa, uang, ponsel, semuanya sudah dibawa pergi. Tidak ada bantuan yang bisa membawa mereka kembali. Belum lagi, Daren dalam keadaan tak memungkinkan untuk berjalan.
"Aku baik-baik saja." Daren mengambil posisi duduk sambil menahan tangannya yang agak terluka. "Aku punya kenalan tak jauh dari sini. Kita bisa pergi ke sana untuk minta bantuan."
Nora bisa menghela napas lega meskipun itu bukan kabar terbaik yang ia inginkan. Masih ada kemungkinan dia bisa pulang selain menggunakan jasa penyelamat yang sedang mengurus masalah mereka ini.
"Seharusnya kami akan datang ke rumahnya. Maksudku ... Nelan dan aku," jelas Daren dengan nada menyedihkan. "Aku sempat berpikir kita akan ... kita akan mati saat itu juga."
"Tapi kita baik-baik saja sekarang."
"Ya, tapi aku tidak," sahut Daren membuat Nora langsung teringat akan Nelan.
"Kau mencintainya?" tanya Nora. Untuk pertama kalinya dia bertanya dengan nada sangat serius.
"Mungkin."
Nora menautkan alis. "Kenapa mungkin?"
__ADS_1
"Karena aku sudah tau dia selalu memanfaatkan aku."
Nora terperangah. "Lalu kenapa kau tetap bertahan?"
"Karena aku tidak punya pilihan. Dia gadis miskin tak punya orang tua. Kami bertemu di sebuah pameran saat dia kehilangan surat-surat penting yang bisa membawanya kembali ke Dubai."
Nora menatap tak percaya. "Kau bersamanya karena kau kasihan dengannya?"
Daren mengalihkan pandangan. Seharusnya dia mengangguk karena itu adalah benar.
"Tidak mungkin kau cuma kasihan lalu kau mempertahankan hubunganmu selama ini, 'kan?"
Daren menoleh. Dia berusaha memberanikan diri menatap ke arah Nora. "Dia pernah hamil anakku."
Nora kehilangan kata-kata. Seluruh tubuhnya seolah membeku. "A-apa?"
"Tapi dia menggugurkannya. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja," jelas Daren. Ini adalah rahasia paling besar yang ia miliki. Tidak ada satupun orang yang berhak tau, tetapi semuanya sudah terlanjur. Dia terpaksa menjelaskan kepada Nora.
"Kalian sudah menikah?" tanya Nora setelah sekian lama terdiam dalam keadaan membeku.
Nora mengerjapkan matanya beberapa kali. Begitu banyak informasi mengejutkan dan dia butuh banyak waktu untuk memasukkan ke dalam otaknya. Daren bukan cuma sekedar laki-laki arogan yang tak tersentuh wanita, dia tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, pikir Nora sambil menunduk dalam.
"Tolong jangan beritahu rahasia ini kepada siapa-siapa. Aku akan melakukan apapun yang kau mau asalkan kau simpan rahasia ini."
Nora mengangguk. Masih berusaha menenangkan diri.
"Maaf, jika aku mengecewakanmu," kata Daren membuat Nora menoleh lagi. "Aku tidak sempurna seperti yang kalian bayangkan. Terkadang aku juga brengsek seperti bandit-bandit itu."
Nora berusaha menahan tawa. "Ya, itu nyata," sahutnya sarkas.
"Kau tidak kecewa?"
Nora mengulum senyum. "Aku suka pria yang agak brengsek daripada terlalu terikat aturan." Lalu dia menggigit bibirnya karena keceplosan. "Itu bukan berarti aku menyukainya," jelasnya cepat-cepat, sebelum Daren sempat memikirkan apa yang ia pikirkan.
"Baiklah. Pertama, kita akan pergi ke rumah Isaiah. Kita akan menginap di sana malam ini, lalu kita akan kembali ke hotel untuk mengurus kepulangan kita bersama Juan dan Doni. Aku yakin mereka berdua sudah mendengar kasus ini."
__ADS_1
***
Nora dan Daren berhasil tiba di depan sebuah rumah mewah tempat teman Daren tinggal atas bantuan tim penyelamat. Mereka tidak perlu repot-repot mengurus kepulangan mereka dengan pihak negara selagi masih ada orang yang bisa membantu mereka.
Daren berjalan dengan hati-hati ke pintu utama. Dia tau kedatangannya akan membuat temannya agak terkejut.
"Namanya Isaiah. Dia bukan orang Dubai asli. Kami bersahabat saat masih kuliah," jelas Daren dengan mudahnya menutupi luka yang sedang menggerogoti perasaannya karena kecewa dengan Nelan.
Nora membantu Daren menekan bel. Mereka nyaris kehilangan harapan saat tak ada satupun orang yang membukakan pintu.
Nora menekan bel berkali-kali. Dia ingin menunjukkan keadaan darurat yang sedang dia alami agar seseorang di dalam sana segera membukakan pintu untuknya.
Sosok laki-laki berambut kecoklatan muncul dari dalam sana. Nora mengerjapkan mata berkali-kali sambil mengalihkan pandangan saat kedua mata mereka bertemu.
"Daren ... apa yang terjadi?" Isaiah menatap wajah lebam Daren. "Kau Daren, 'kan?"
"Ya," sahut Daren dengan nada tegas.
"Masuklah ..." Isaiah menuntun Daren dan Nora masuk ke dalam rumahnya. "Duduk saja di kursi!"
Nora mendudukkan Daren di kursi. Sementara dia sempat bertukar senyum dengan teman Daren itu.
"Oh tidak, apakah kalian adalah korban perampokan yang sedang diberitakan di televisi?" tebak Isaiah.
"Ya, kami mengalaminya."
"Aku sempat membayangkan orang Asia yang disebut adalah kau, ternyata benar. Astaga, aku bahkan tidak pernah berpikir kau datang kemari tanpa memberitahuku."
"Kami kehilangan barang-barang berharga kami, kuharap kau bisa membantu," jelas Daren mendapat anggukan setuju dari Isaiah.
"Tentu saja aku akan bersedia membantu, kawan. Tapi sepertinya kau butuh istirahat sebelum menjelaskan apa yang terjadi. Aku tidak tega melihatmu dalam keadaan seperti ini." Dia melirik ke arah perban di sekitar leher dan bahu Daren.
Isaiah menunjukkan kamar terdekat agar Daren tak perlu berjalan jauh untuk menjangkaunya.
"Ini temanku, Nora," kata Daren sebelum dia mengistirahatkan diri di atas tempat tidur. "Bolehkah dia ikut menginap di sini?"
__ADS_1
"Kenapa tidak?" sahut Isaiah. "Aku akan tunjukkan kamar untukmu, Nona." Isaiah keluar dari kamar Daren, tetapi Nora tak lekas mengikutinya. Dia masih bertahan di hadapan Daren yang merintih kesakitan.