
Nora sedang menghubungi Isaiah sebelum dia benar-benar lepas landas menuju ke Dubai. Dia mengabarkan bahwa dia benar-benar pergi.
"Aku akan menjemputmu di bandara," sahut Isaiah yang sudah tidak tahan menahan rasa bahagianya begitu mendengar kabar itu.
Nora memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Meskipun sangat ramai, Nora masih bisa merasakan kesegaran udara di sini. Dia merasa paru-parunya bernapas lebih tenang ketika membayangkan Isaiah.
Dalam beberapa saat, pesawat benar-benar lepas landas seperti perkiraan Nora. Dia menikmati perjalanan. Sengaja memesan kursi kelas bisnis agar bisa menikmati kesendirian lebih lama.
Setelah hampir menghabiskan waktu selama lebih dari lima belas jam, akhirnya dia bisa bangun dari tidur lamanya dan menghirup udara Dubai yang sudah lama dia rindukan.
Nora sangat suka betapa ikoniknya gedung Burj Khalifa, tetapi dia sama sekali tidak menyangka negara ini akan punya tempat spesial di dalam hatinya setelah peristiwa bersama Daren.
Nora berjalan dengan dua kopernya yang luar biasa berat. Tangannya mendorong koper itu keluar. Kedua matanya menatap sekeliling. Mencari keberadaan sosok yang sedang menunggunya.
Nora menarik keluar ponsel. Menghubungi Isaiah. "Kurasa dia sedang di kamar mandi," gerutu Nora sambil memasukkan ponselnya ke tas lagi.
Nora mengedarkan pandangan lagi. Setelah yakin Isaiah tidak ada dimanapun, dia melanjutkan perjalanan ke arah supermarket untuk membeli beberapa barang.
Setelah menyibukkan diri membeli barang-barang, dia menuju ke parkiran. Namun dia mendengarkan sesuatu di tengah keramaian. Nora merasa ada yang sedang berusaha memanggilnya dari kejauhan.
__ADS_1
Nora mengedarkan pandangan. Dari ribuan orang yang sedang lewat di sekelilingnya, bagaimana mungkin dia akan menemukan sosok itu?
"Apa itu Isaiah?" pikir Nora.
Beberapa orang yang sedang lewat menatap kesal ke arah Nora yang memblokir jalan mereka. Nora buru-buru menepi.
"Hey!" seru seseorang dari balik bahu Nora.
"Astaga!" umpat Nora sambil membalikkan badannya. Isaiah sedang tersenyum riang ke arahnya.
Nora menatap kesal sambil menghela napas. "Kau membuatku jantungan."
"Bagaimana perjalanannya?" tanya Isaiah setelah hampir satu menit mereka jadi pisat perhatian beberapa pengunjung.
Nora melepas pelukan. "Cukup menyenangkan."
"Syukurlah. Aku tidak mau kau sampai dalam keadaan mabuk perjalanan."
Nora mengerling. Ya, biasanya dia mengalami mabuk perjalanan sangat parah setelah lama naik pesawat. Dia baru sadar, baru kali ini dia tidak mengalami hal itu. Padahal dia sendiri tidak tau apa alasannya.
__ADS_1
"Jangan melamun, aku sudah siapkan tumpangan spesial untukmu. Ayo!" Isaiah membantu membawakan salah satu koper Nora.
Nora mengikuti Isaiah. Mereka menyibak kerumunan. Jika tidak, mereka tidak akan bisa keluar dari sini dalam waktu lima menit karena keadaan tidak memungkinkan untuk berjalan normal. Nora beberapa kali berusaha menghindar agar tidak menabrak orang lain.
"Aku sudah siapkan semua berkas yang dibutuhkan untuk perusahaan entertainment itu," kata Nora saat mereka sampai diluar bandara.
"Bisakah kau bantu carikan aku tempat untuk tinggal terlebih dahulu?" Nora mengerling ke arah Isaiah yang sedang tertawa.
"Untuk apa kau cari tempat tinggal? Kau bisa tinggal bersamaku."
Nora membelalak. "Eh ... mana bisa."
"Kenapa?"
Nora tidak ingin menjelaskan rasa takutnya karena tinggal serumah dengan laki-laki asing. Dia tau Isaiah baik, tetapi dia tidak ingin mendapatkan label buruk dari orang-orang.
"Baiklah," kata Isaiah. "Aku akan mengantarmu mencarikan tempat penginapan, tetapi sebelum itu, kau bisa menginap di rumahku selama beberapa hari. Lalu kau akan putuskan sendiri apakah kau akan pergi atau tidak."
Nora mengedikkan bahu. "Setuju," sahutnya enteng.
__ADS_1