
Pelayan menyiapkan soda dingin dan beberapa cemilan yang diletakkan di atas meja. Nora duduk di kursi jemur, di bawah payung, sedangkan Micky duduk di tepi kolam renang, membiarkan kakinya tercelup ke dalam air.
"Kurasa kau sedang tidak banyak pekerjaan di kantor, karena itulah kau mau kuajak bersantai di sini."
Nora mengangguk. "Ada banyak masalah, aku tidak ingin kembali terlalu cepat."
"Oh ya?" tanya Micky antusias. "Apa itu? Apakah kendala terbesar vlogger adalah saat video yang diposting hanya dapat lima like?"
Nora menatap tak percaya. Sama sekali tak menyangka Micky akan bertanya seperti itu. "Tidak," sahutnya sambil menertawakan kepolosan Micky. "Itu bukan masalah terbesar vlogger, Micky. Masalah terbesar vlogger adalah, saat mereka berusaha jujur, mereka akan dihujat. Saat mereka berakting, netizen akan menganggapnya tidak realistis. Sangat sulit."
"Apa kau pernah mengalaminya?"
"Sering," sahut Nora. Mengingat masalah yang ia alami beberapa saat yang lalu di restoran Daisy.
Micky mencipratkan air ke atas betisnya sambil mengingat mimpi-mimpinya waktu kecil. "Dulu saat aku kecil, aku sering nonton vlogger seorang pecinta alam. Aku pernah bercita-cita jadi vlogger, lalu aku sadar aku tidak cantik."
"Hey," pekik Nora. "Siapa bilang kau tidak cantik? Kau cantik, karena itulah Oliver mau jadi pacarmu. Dan jadi vlogger tidak harus cantik."
"Kalau wajahmu tidak cantik, tidak ada yang mau menonton videomu," sanggah Micky membuat Nora tertawa.
"Semua gadis di dunia ini cantik dengan caranya masing-masing. Cantik itu relatif, menurutku kau cantik."
"Aku tidak percaya diri dengan dagu datarku, pipi bulat ini," dia menggerakkan pipi menggelembungnya. "Dan mata yang sipit."
Sebenarnya Nora agak setuju, mengingat Daren cukup rupawan, dia sama sekali tidak menyangka adiknya tidak seperti yang ia bayangkan. "Tapi kau punya gingsul yang manis."
"Justru ini menggangguku," sahut Micky dengan segala kegelisahannya. "Aku ingin punya alis tebal seperti abangku, rahang tegas sepertinya, pipi tirus, dan juga kulit yang bersih. Siapapun yang melihat kami tidak akan menyangka kalau kami adalah kakak beradik," jelas Micky. Nora diam-diam setuju.
"Jadilah dirimu sendiri, itu lebih baik."
"Aku akan minta abangku mengantarku ke Korea untuk operasi plastik."
"Wow!" pekik Nora sama sekali tak menyangka Micky akan bilang seperti itu. "Itu langkah yang sangat … fantastis. Kau yakin abangmu mau melakukannya?"
__ADS_1
"Dia selalu melakukan apa yang kuinginkan. Kau lihat, dia mau mendatangimu demi aku padahal dia terlihat tak suka padamu."
"Dia tak suka padaku?" tanya Nora penasaran.
"Ya," sahut Micky. "Dia selalu membuang muka setiap kali membicarakan tentangmu. Tapi dia tetap datang untuk menemuimu."
Nora mengingat bagaimana sikap Daren padanya selama dua pertemuan terakhir mereka. Sekarang dia kenapa cuma dia yang melihat Daren dari sisi buruknya saja, karena Daren sendiri membencinya. Namun Nora tidak peduli. Mau benci atau pun tidak, itu bukan urusannya.
"Kau tidak perlu khawatir," kata Micky membuat Nora mengalihkan pandangan. "Daren selalu begitu. Dia memang tidak suka gadis kecuali padaku."
"Jadi benar kalau dia memang tidak tersentuh oleh satupun gadis?"
"Mungkin, ya. Tapi aku sempat memergokinya bicara lewat telepon dengan seorang gadis. Aku masih ragu-ragu saat dia menjawab bahwa itu adalah rekan kerjanya."
Nora menggeleng tak mengerti. Baru kali ini dia mendengar ada seorang laki-laki yang umumnya paling semangat melihat gadis, justru menghindari seorang gadis.
"Aku akan bilang padanya nanti setelah dia pulang, kalau kau sangat menyenangkan."
"Untuk membuktikan tidak semua gadis itu sama."
Senyum Nora terbit. Tidak ada ruginya dia datang ke rumah ini untuk jadi model dadakan, selain dipotret dan dijanjikan akan jadi sampul majalah, dia juga tau banyak tentang Micky dan Daren. Mungkin satu-satunya kesialan yang menimpa Nora adalah ketika dia kembali ke kantor nanti.
***
Nora kembali ke kantor tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelum jam pulang. Dia meninggalkan rumah Micky sekitar tiga jam lalu. Memilih menghabiskan dua jamnya di kafe daripada kembali ke kantor untuk mendapatkan amarah.
Nora kembali ke kantor hanya untuk mengambil tas dan alat elektroniknya, lalu dia akan langsung pulang.
Namun rencana Nora tidak semudah itu. Dia bertemu dengan Indah di lift. Keduanya satu lift meskipun Indah memusatkan perhatiannya ke arah ponsel. Nora agak lega. Cuma butuh berdiri agak jauh di belakang agar Indah tidak tau keberadaannya.
"Dari mana saja kau?" tanya Indah membuat dua karyawan lain di samping Nora ikut menoleh.
Nora tidak lekas menjawab. Suara desingan lift yang turun memenuhi pendengarannya.
__ADS_1
"Berenang di kolam?" Indah menatap ke arah Nora.
"Kau tanya padaku, Bos?" tanya Nora pura-pura ramah. "Ah, ya. Maksudku ... ya, aku baru keluar."
"Dari jam sepuluh hingga jam tiga? Melewatkan meeting?"
"Meeting?" Nora mengerutkan kening kebingungan. "Aku tidak tau hari ini ada meeting."
Indah menggeleng pasrah. Lalu mengabaikan Nora seolah gadis itu tidak ada di sana.
Nora lega pintu lift terbuka sepuluh detik kemudian. Dia bisa menjaga jarak sejauh mungkin dengan Indah agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan Indah.
Nora lebih lega lagi saat dia menyadari Indah sama sekali tidak marah padanya. Mungkin Indah masih bahagia karena berhasil bercerai dengan suaminya si tukang bengkel itu.
***
Keesokan harinya, Nora berangkat ke kantor dengan riang gembira setelah dia menyadari Indah sama sekali tidak marah padanya karena peristiwa kemarin. Mungkin hari ini dia bisa jalan-jalan ke tempat lain untuk menenangkan diri sepuasnya tanpa takut bosnya marah padanya.
Ketenangan Nora terusik saat seseorang mengetuk pintu ruangannya. Nora pikir itu adalah tukang pengantar kopi karena sejak pagi dia sudah menunggu tukang itu meletakkan kopi di ujung mejanya yang kosong. rupanya sosok di balik pintu adalah Kenan.
"Ada apa?" tanya Nora kebingungan. Dia pikir Kenan ingin bertanya tentang Oki padahal sejak kemarin Nora belum bertemu dengan Oki.
"Ada yang sedang mencarimu di bawah," kata Kenan membuat darah Nora berdesir. Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya. Dia sedang menebak nama pertama yang terpikir di otaknya adalah sosok yang Kenan maksud.
"Siapa?" tanya Nora dengan ekspresi tegang.
"Daren," sahut Kenan membuat Nora menghela napas panjang.
Nora mengumpati Daren dalam hati, tidak seharusnya laki-laki itu mendatanginya secara langsung di kantor. Mereka pernah saling berhubungan melalui pesan di ponsel. Kenapa tidak memanfaatkan teknologi dan memilih repot-repot datang secara langsung? Belum lagi, kedatangan Daren akan menggemparkan satu kantor.
Bagaimana kalau mereka menganggap Nora dan Daren punya hubungan khusus, karena itulah mereka sering bertemu, padahal kenyataannya mereka cuma bertemu karena kesalahpahaman.
"A-aku akan segera datang," kata Nora membuat Kenan mengulum senyum dan keluar dari ruangannya.
__ADS_1