
Nora agak kecewa setelah dia tiba di rumah sakit. dia tidak menemukan Ravka telah bangun dari komanya seperti yang ia kira. Meskipun begitu Nora senang karena dia mendengar kabar dari dokter bahwa Ravka mengalami gejolak singkat yang berarti bahwa bagian tubuhnya sudah mengalami perubahan dan berpotensi bekerja secara normal. Itu artinya, Nora akan melihat Ravka bisa bernapas sendiri tanpa bantuan alat lagi, itu cukup membuat Nora bahagia.
Di samping itu, Daren masih memikirkan tentang foto Nora bersama dengan laki-laki tak dikenal itu. daren sempat memotret foto dari furga itu untuk mencari tau, tapi bahkan Juan dan Doni tidak bisa mencari tau tentang si pria misterius itu. Daren tidak mengerti apakah pria itu masih hidup atau cuma berada di angan Nora.
Seminggu berlangsung sangat cepat. Nora masih senantiasa menanti Ravka, sedangkan Daren masih tak punya jawaban tentang si pria padahal pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi. Jika saja Daren tau siapa laki-laki itu, dia akan mendatanginya dana mengatakan meminta izin menikahi Nora degan baik-baik.
"Ada yang ingin bertemu denganmu, Bos!" kata Juan sambil dari mbang pintu.
Daren mengerling ke balik kaca. Ada sosok yang dia kenal, dia adalah Oki. Daren menautkan alis, untuk apa Oki datang ke sini?
"Biarkan dia masuk!" perintah Daren membuat Juan mengangguk.
Oki masuk ke dalam ruangan Daren. Kali ini tidak dengan ekspresi histeris seperti beberapa saat yang lalu. Hanya ada senyum singkat tetapi bermakna, mungkin dia sedang berusaha profesional.
"Selamat pagi, Pak!" sapa Oki sambil mendudukkan diri di hadapan Daren tanpa diperintahkan pemiliknya.
"Pagi," sahut Daren dengan suara serak dan dalam.
Oki menelan ludah untuk menahan rasa gugup. "Aku datang kesini untuk meminta izin melakukan kerja sama dengan Anda."
"Kerja sama denganku? Untuk apa? Bukannya kalian mencari seorang bintang yang sedang bersinar? Aku sudah redup."
"Tidak, itu tidak benar," sela Oki sambil menggeleng. "Anda masih seorang bintang. Lagipula, proyek bersama dengan temanku ... maksudku Nora, tidak berjalan dengan lancar dan aku yang akan menggantikannya."
__ADS_1
Daren berdecak, menganggap alasan Oki hanya ditujukan untuk menyenangkannya saja. "Tidak sekarang ataupun besok. Karena aku akan segera menikah."
Ekspresi Oki berubah syok. "menikah?" Dia sedang membatin apakah si mempelai perempuan adalah Nora?
"Bersama dengan Nora," sambung Darena membuat Oki tak sengaja menjatuhkan bukunya dari tangan hingga bergedebuk di lantai. Oki sempat menatap Daren dalam diam, lalu dia mengambil buku itu sambil mengalihkan pandangan.
"K-kapan?" tanya Oki. Dia bingung ingin bertanya yang mana dulu karena ribuan pertanyaan sudah menggenang di otaknya.
"Tidak lama lagi."
Oki semakin terperangah. Ini adalah kabar yang sangat penting. Setidaknya untuk dirinya dan Indah, lalu dia akan memutuskan apakah dia akan mempublikasikannya di depan publik. Mungkin Daren tidak keberatan, karena itulah dia dengan percaya diri mengatakan di hadapan wartawan seperti Oki.
"Tetapi aku masih bingung dengan sebuah hal. Mungkin kau tau jawabannya." Daren berubah melunak. Dia berpikir, mungkin Oki bukan seperti wartawan yang lain. Oki sepuluh kali bisa dipercaya daripada Nora.
"Kau tau siapa dia?" Daren memperlihatkan gambar yang ia dapatkan dari kamar Nora.
"Oki!" pekik Daren sambil membuyarkan lamunan Oki. "Aku ingin tau siapa dia, kalau kau tau jawabannya."
"D-dia Ravka," sahut Oki. Niat awalnya untuk bekerja sama, kini terlupakan. Dia lebih dulu terkejut dengan fakta bertubi-tubi tentang Nora dan daren.
"Ravka? Siapa dia?" Daren sedang mengesampingkan nama Isaiah sebagai seseorang yang selama ini Nora sukai. Dia salah besar.
"Dia teman masa kecil kami. Maksudku, aku, Nora, dan Isaiah, dulu kami berteman."
__ADS_1
Itu masuk akal bagi Daren. Ternyata Ravka adalah cinta pertama Nora, pantas saja sangat susah untuk berpindah hati. "Dimana dia?"
"D-di ....," Oki teringat akan rahasia ini. Dia dan Nora sudah berjanji untuk menutup mulut di depan semua orang tentang Ravka, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan lebih lama, apalagi di depan Daren, orang yang seharusnya sudah tau tentang ini sejak dulu. "Dia di rumah sakit."
Ini yang tidak masuk akal, pikir Daren yang mulai menautkan alis kebingungan. "Rumah sakit?"
"Dia mengalami kecelakaan dan koma selama lima tahun terakhir. Selama itulah Nora berusaha untuk tidak jatuh cinta dengan siapa-siapa hanya untuk menunggu Ravka bangun dari komanya."
Daren terlonjak kaget. Ada sesuatu yang menoreh luka di hatinya. Mendadak dia merasa iba, prihatin, sekaligus cemburu. "Itulah sebabnya Nora sering datang ke rumah sakit?" gerutu Daren mulai menyambungkan seluruh fakta yang pernah ia alami secara langsung.
"Nora tidak memberitahumu?"
"Tidak," sahut Daren. Dia masih memikirkan betapa kalutnya Nora selama ini karena bimbang dengan pilihannya, antara menikah dengannya atau menunggu Ravaka sadar, seperti dia bimbang dalam mengambil keputusan tentang Micky.
"Nora dan Ravka sudah menjalin janji. Mereka hampir tunangan, tapi Ravka lebih dulu jatuh koma. Aku tidak tau apakah Nora masih punya perasaan yang sama seperti dulu, tetapi Nora masih menunggu Ravka sadar untuk menepati janji mereka untuk selalu bersama," jelas Oki. Mengingat masa-masa terakhir mereka di SMA.
***
Daren keluar dari ruangannya dengan ekspresi tegas sore itu. Dia sudah menolak kesepakatan dengan Oki, tetapi berterima kasih karena sudah memberikan informasi yang sangat penting tentang Ravka. Kali ini Daren ingin menemui Nora di uang kerjanya.
Begitu Daren sampai, dia melihat bagaimana ekspresi fokus Nora yang terlihat polos seperti gadis yang tak berdosa. Mendadak Daren luluh, dia tidak tega menegur Nora karena sudah menyembunyikan berita besar yang membuat seluruh mindsetnya berubah.
Ini bukan salah Nora, pikir Daren. Ini adalah salah keadaan. Aku tidak berhak menyalahkan Nora karena semua terjadi bukan karena kehendaknya. Daren mundur dari langkahnya dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan kalut.
__ADS_1
Ravka, saingannya. Daren sempat berencana untuk menemui pria itu sebelum Daren tau dia koma. Sekarang, Daren tidak bisa meminta izin kepada Ravka untuk menikahi Nora.
Daren terharu menyadari cinta sejati Nora dan Ravka. Dia tidak menyangka hubungan yang terjalin sepihak akan berjalan selama itu. Belum lagi, Nora yang begitu setia menunggu Ravka yang begitu alam. Hubungan itu sangat indah tanpa adanya pengganggu seperti Daren. Di sini, posisi Daren adalah sebagai orang ketiga. Meskipun Daren seorang pria, dia masih punya perasaan dan menikah dengan gadis pemilik cinta sejati yang sudah dijalin selama bertahun-tahun adalah dosa baginya.