
Andin buru-buru mendaratkan mobilnya di depan pintu rumah karena dia sudah tidak sabar mendengar tanggapan Nora tentang Daren yang tiba-tiba datang ke sekolah untuk menemuinya secara langsung.
Nora masuk ke dalam kamar Nora sebelum dia mengganti bajunya. "Aku punya kabar untukmu!" kata Andin dengan ekspresi antusias.
Nora menatap kedatangan kakaknya yang terlihat tidak biasa. "Apa?"
"Daren datang ke sekolah?"
Nora mengerling kebingungan? Apa maksud kedatangan Daren ke sekolah? Kenapa ke sekolah? Pikirnya. Dia baru saja bertukar pesan dengan Isaiah dan mulai merasa tenang dari seluruh konflik yang sedang melandanya, kini perasaannya kalut mendengar kabar dari Andin.
"Kenapa dia datang ke sekolah?"
"Dia bilang adiknya cedera karena mengalami pembullyan."
Nora terperangah. Itu bukanlah kabar yang ingin ia dengar. Terakhir kali dia melihat Micky, dia merasa tidak ada yang salah dengan gadis itu. Lalu kenapa tiba-tiba dia mendengar bahwa Micky cedera? Daren pasti sedang tidak baik-baik saja karena keadaan Micky.
"Dimana Micky?"
"Di rumah sakit," sahut Andin. "Kuharap keadaannya tidak seburuk yang aku pikirkan."
Nora langsung bangkit dari duduknya untuk bersiap. Dia akan segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Micky. Meskipun gadis itu cuma beberapa kali bertemu dengannya, dia merasa perlu untuk melihat keadaannya dan memastikan semuanya baik-baik saja.
"Kau mau pergi?" tanya Andin ketika melihat Nora mengenakan mantel sambil menyisir rambutnya dari depan cermin.
"Ya, aku mau ke rumah sakit."
"Untuk apa?"
"Menjenguk Micky dan Ravka."
"Boleh aku ikut?" tanya Andin membuat Nora menoleh.
"Tidak, ayah dan ibu tidak akan mengizinkanmu." Nora ingat kakaknya adalah putri kesayangan di keluarga ini yang tidak bisa keluar rumah sembarangan. Berbeda dengan Nora yang punya lebih banyak kebebasan, itu bukan karena dia lebih disayang oleh ayah dan ibunya, tapi karena orang tuanya tak peduli padanya.
Nora meninggalkan kamar untuk menuju ke mobilnya.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Nora langsung mencari tau keberadaan Micky lewat resepsionis. Ruangan Micky dan Ravka punya jarak yang cukup jauh. Micky dirawat di lantai dua sedangkan Ravka di lantai tujuh.
Nora menaiki tangga hingga sampai di lantai dua. Dia berharap setelah dia sampai di ruangan Micky tadi, tidak ada Daren di sana. Jika ada Daren, dia yakin suasana akan menjadi semakin canggung.
Nora membuka pintu perlahan. Dia mengintip dari celah untuk memastikan tidak ada orang selain Micky. Cahaya dari dalam bermunculan. Nora agak tegang.
Pintu itu terbuka sempurna dan menampilkan brankar tempat Micky sedang terbaring. Seperti harapan Nora, Micky cuma sendirian. Namun mata Micky menutup sempurna, Nora berusaha meyakinkan diri sendiri kalau Micky sedang tertidur alih-alih pingsan.
Nora melangkahkan kakinya masuk ke dalam, lalu menutup pintu. Berjalan tanpa menimbulkan suara ke arah brankar. Menatap wajah polos yang sedang tertidur itu. Dia menghela napas, siapa yang berani membully gadis ceria seperti Micky?
Nora agak terkejut melihat lebam-lebam di wajah Micky dan juga lengannya. Pembullyan yang Micky hadapi adalah kekerasan fisik, tetapi siapa yang melakukannya? Dan kenapa Daren menyalahkan kakaknya?
Nora tidak ingin membangunkan Micky, dia cuma memastikan Micky dalam keadaan tenang meskipun tidak terlihat baik-baik saja.
Sebelum meninggalkan tempat itu, dia sempat menyentuh punggung tangan Micky dan tersenyum menenangkan. "Cepatlah pulih!" bisiknya hampir tak bersuara.
Nora membalik untuk pergi, tetapi dia melihat sosok Daren sedang berdiri mematung di depan pintu, menatap ke arahnya dengan ekspresi sedih. Nora kaget melihatnya.
"S-sejak kapan kau di sana?" tanya Nora gagap.
Daren menutup pintu. Berjalan tengah ke arah Micky tanpa menatap Nora.
"Aku turut sedih melihat Micky," kata Nora.
Daren menatap kedua mata tertutup Micky bergantian. Menantikan kelopak mata itu terbuka, tetapi tak kunjung membuka sejak tiga jam lalu.
Nora berdiri dalam keadaan canggung. Daren seolah tak mendengar satu pun kalimatnya sejak tadi. Dia tau Daren sedih, tetapi tidak bisakah pria itu hanya sekedar menoleh ke arahnya? Mendadak Nora merasa kesal.
Nora berniat pergi dari sana. Tidak ada gunanya mengucapkan bela sungkawa. Lagi pula, tujuannya datang ke sini juga sudah tercapai.
"Terima kasih, sudah datang." Daren bicara dengan tegas dan tanpa nada.
Nora mengurungkan diri untuk membalik. Tercetak senyum tipis di bibir Nora. Ini yang dia tunggu sejak tadi, tanggapan dari Daren. "Hey!" pekik Nora memaksa Daren menoleh ke arahnya agar Daren tau dia sedang berusaha serius. "Aku minta maaf soal kakakku. Aku yakin bukan dia yang sudah membuat Micky menjadi seperti ini."
Daren menautkan kening kebingungan. "Kakakmu?"
Nora terperangah melihat ekspresi di wajah Daren. Dia mengira selama ini Daren tau tentang keluarganya, termasuk kakaknya. "Andin, kau mendatanginya di sekolah. Andin cerita padaku."
__ADS_1
Daren sepenuhnya menaruh perhatian ke arah Nora. "Andin adalah kakakmu?"
"Ya."
Daren mengalihkan pandangan. Muncul rasa bersalah dalam hatinya, sekaligus rasa tak menyangka. "A-aku tidak tau kalau kalian bersaudara."
"Percayalah, Andin sangat suka anak-anak. Dia tidak mungkin melakukan pembullyan kepada Micky."
Daren terdiam sesaat untuk mencari ketenangan. "Ya, mungkin."
"Terima kasih sudah memaafkannya." Nora tersenyum.
Daren membalas senyuman Nora. "Terima kasih telah datang."
Nora mengangguk setuju. Senyumnya semakin menghilang karena sudah waktunya baginya untuk meninggalkan tempat ini.
"Mau kemana?" tanya Daren saat Nora melangkah menghindar darinya.
"Aku harus kembali."
"Jangan!" seru suara kecil melengking dan bergetar dari arah brankar.
Nora dan Daren menoleh ke arah Micky yang sudah membuka mata dengan ekspresi berseri-seri. "Jangan pergi dulu!" perintah Micky seolah dia tidak sakit sama sekali.
Daren langsung duduk di bangku untuk menatap Micky seksama. Senyumnya merekah lebar. Sedangkan Nora berdiri di sisi brankar yang lain. Ekspresinya sama-sama bahagia.
"Aku baru bangun, tapi kau sudah berencana untuk meninggalkanku," gerutu Micky ke arah Nora seraya tertawa kecil.
Micky menatap Daren dan Nora satu persatu. Tidak ada yang bisa menghentikan senyum bahagia terbit di wajahnya ketika mereka berdua di jarak pandang yang sama.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Nora untuk memastikan.
"Sakit," sahut Micky dengan nada bercanda. "Kepalaku seperti mau pecah."
Nora dan Daren saling lempar pandang.
"Oh tidak ... aku cuma bercanda. Tidak separah itu, kok. Cuma sakit sedikit." Micky tertawa lagi.
__ADS_1
Daren sama sekali tidak percaya dengan ekspresi Micky yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Daren tau, apa yang Mickry rasakan jauh lebih menyakitkan daripada kalimat yang keluar dari mulutnya.