CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Jatuh Cinta


__ADS_3

Nora mendapat panggilan dari rumah saat dia mengantarkan Isaiah ke sebuah mansion mewah tempat Isaiah akan menghabiskan seminggu berharga di Indonesia.


Ternyata, selain datang untuk liburan dan bertemu dengan Nora, Isaiah juga akan melakukan sedikit dari pekerjaannya untuk mencari pertambangan di Indonesia, dia adalah seorang antropolog. Ilmu itu turun temurun dari ayah hingga kakeknya.


"Apa kau keberatan? Aku harus pulang ke rumah. Ayah dan ibuku mencariku."


Isaiah masih menatap mansion mewah tanpa berkedip sehingga dia tidak mendengar ucapan Nora dengan jelas. "Pergilah."


Nora mengangguk. "Hubungi aku kalau kau butuh bantuan. Banyak orang tak bisa bahasa Inggris disini. Aku tau kau tidak bisa bahasa Indonesia."


Isaiah mengalihkan perhatian ke arah Nora. "Aku tau satu kalimat dalam bahasa Indonesia. Kalimat ini sering diucapkan oleh orang-orang Indonesia."


"Apa itu?"


"An_jir! Apa aku benar?"


Nora membelalak mendengar istilah umpatan itu adalah satu-satunya kalimat yang diketahui Isaiah. Dia menggeleng tak kentara. "Tolong jangan ucapkan kalimat itu kepada rekan kerjamu, apa lagi klienmu, mereka tidak akan menyukainya."


"Kenapa? Apakah itu buruk?"


Nora mengulum senyum. Dia berjalan mundur untuk menghindar. "Eh, aku terburu-buru. Sampai jumpa nanti!" katanya sambil berjalan keluar mansion mewah itu untuk pulang ke rumahnya.


Setiap kali Eza menyuruh Nora pulang adalah untuk memarahinya karena suatu hal. Nora yakin setelah dia sampai rumah nanti, dia akan mengalami hal yang sama. Dia pasti akan dimarahi meskipun dia tidak tau kesalahan apa yang sudah dia perbuat, leih tepatnya, terlalu banyak masalah yang ia hadapi sehingga dia tidak tau kesalahan yang mana yang membuat ayahnya marah kali ini.


Nora memarkirkan mobilnya di taman rumah. Langsung berlarian ke dalam area rumah karena panggilan itu sudah bisa dibendung lagi. Ayahnya pasti sudah berapi-api menunggu dia menjawab panggilan dan pulang ke rumah.


"Ada apa?!" tanya Nora setelah kakinya melangkah masuk lantai rumah, bahkan sebelum dia belum sepenuhnya menutup pintu.


"Dikeluarkan dari kantor, mencoreng nama baik orang lain, dan kau bertingkah seolah kau baik-baik saja?!" kata Eza bahkan sebelum Nora berhasil menghirup napas santai.

__ADS_1


Nora menautkan alis ke arah ibunya dan Andin yang duduk tertunduk di atas sofa, hanya ayahnya yang berdiri sambil berkacak pinggang. Rautnya seperti biasa, datar dan mengerikan.


"Kau sudah membuat keluarga kita rugi berat," jelas Eza.


"Maksud Ayah?"


"Maksudku adalah, kau tinggal di rumah ini sebagai pengangguran. Hanya ada satu pengangguran yang boleh tinggal di rumah ini, yaitu ibumu. Dia tidak bekerja, cuma memasak di dapur dan merawat fasilitas rumah. Tetapi kau tidak melakukan apa-apa. Kau keluar tanpa diketahui tujuan kepergianmu, lalu tiba-tiba aku dengar bahwa kau sudah dikeluarkan dari kantor karena kasus itu."


Nora sedang membatin dengan perasaan emosi. Kemana saja ayahnya selama ini sampai tak mendengar berita besar itu sehingga dia baru dimarahi hari ini? Itulah akibatnya mengabaikan anak sendiri, pikir Nora sambil mengalihkan pandangan ke arah lantai.


"Kalau kau masih ingin tetap tinggal di rumah ini dan berada di bawah perhatian kami, kau harus cari kerja sampai dapat. Aku tidak mau punya anak pengangguran, sementara aku menyekolahkanmu sampai tinggi. Lihat kakakmu! Dia seorang guru yang berpendidikan. Dia punya pekerjaan yang mulia. Dia membagi ilmunya dengan orang-orang yang belum berilmu, betapa besar jasanya!"


Nora melirik ke arah Andin yang masih menunduk. Api berkobar di dalam hatinya, rasanya sangat panas ketika dibanding-bandingkan.


"Sedangkan kau? Berjalan di depan kamera, tukang mencari keburukan orang lain tanpa berkaca pada diri sendiri. Apa yang kau dapatkan dari pekerjaanmu itu? Sekarang kau dapat masalah dari pekerjaan ini. Salah siapa dulu tidak mendengar perintahku untuk masuk kedokteran, bukannya ilmu komunikasi!"


Satu-satunya hal yang bisa Nora lakukan setiap kali diceramahi adalah diam dan mendengar setiap kata yang dilontarkan kepadanya. Tidak peduli seberapa besar tekanan yang ia hadapi, dia tidak berani menjawabnya. Tetapi entah untuk saat ini. Rasanya, Nora sudah tidak kuat untuk dibanding-bandingkan di tengah masalah-masalah yang sedang ia alami saat ini.


Daren keluar dari mobilnya dengan perasaan agak lega. Dia baru saja mengutarakan gagasannya untuk menghentikan penurunan kualitas perusahaannya akibat kasus video itu. Meeting baru selesai pukul sembilan malam dan disinilah dia sekarang, di depan rumahnya. Siap menghadapi sang ayah yang pastinya sudah kembali dari Jerman, khusus untuknya.


Daren mendapat sambutan dari para pelayan. Dia menyerahkan jas dan tas kerjanya, menyuruh Doni dan Juan untuk kembali, lalu masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Dia tidak ingin ada lebih banyak orang yang tau tentang drama keluarga yang sedang dia hadapi.


Sang ayah, seorang laki-laki tinggi berambut kecoklatan dan bercamabang lebat menatap kedatangan Daren dan raut datar. Bibirnya tebalnya lurus ke samping, tidak ada bengkokan sediktipun. Daren tidak suka melihat ekspresi itu di wajah anaknya.


"Gadis bernama Nora, siapa dia?"


Daren menghentikan langkah. Menoleh ke arah sang ayah.


"Daren, aku tidak tau ternyata kau punya simpanan gadis yang selama ini tidak kami ketahui. Kau tau, aku sudah berencana untuk menjodohkanmu dengan seorang gadis dari anak rekan kerjaku di Jerman?"

__ADS_1


Daren duduk di sofa, dia samping ayahnya.


"Ibumu sangat setuju jika kau dijodohkan dengan gadis pilihan kami," sambung Ayah.


Daren menelan saliva untuk berancang-ancang. "Ayah aku ... aku benar-benar minta maaf."


Krish menghela nafas panjang hingga dia butuh setengah menit untuk menjawab. "Sekarang, reputasimu telah hancur karena video itu. Benar, 'kan?"


Daren menunduk pasrah.


"Siapa dia? Kau punya hubungan dengannya?"


Daren mengalihkan pandangan.


"Aku dengar dari ibumu bahwa kalian pura-pura pacaran, kenapa?"


"Karena ku tidak ingin kalian menjodohkanku dengan gadis yang tidak aku kenal."


"Kalau begitu, kau akan menikahi gadis yang kau kenal?"


Daren ragu-ragu mengangguk, padahal itu tidak sebenarnya benar.


"Kau akan menikahi Nora?"


Deg ...


Daren merasa kalimat itu tepat sasaran. Dia merasa ada sesuatu yang mengetuk hatinya begitu saja. Kenapa tebakan ayahnya begitu tepat sampai dia merasa campur aduk seperti ini?


"Dia harus tanggung jawab atas perlakuannya, sudah menjatuhkan nama baikmu. Lagi pula, itu salahmu sendiri. Kau membangun nama tanpa menyimpan rahasia kelammu dari orang-orang seperti Nora, orang-orang seperti dialah yang seharusnya jadi ancaman untukmu. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa tau."

__ADS_1


Daren memikirkan lebih dalam tentang perkataan ayahnya. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Kenapa dia menemerima tawaran Nora untuk meliput kesehariannya, apalagi sampai menyruuh gadis itu satu ruangan dengannya ketika bekerja? Daren tidak pernah seperti itu pada orang lain. Dia membenci gadis banyak tingkah, tetapi kenapa dia tidak memberi Nora?


Daren hanya tau satu hal, dia jatuh cinta. Dia tidak salah berusaha melamar Nora beberapa saat yang lalu. Tujuannya bukan cuma untuk mengikuti perintah orang tuanya, tapi juga untuk dirinya sendiri. Dia mencintai Nora.


__ADS_2