CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Perhatian


__ADS_3

"Daren, kapan kau punya waktu untuk mengantarku ke Korea?" tanya Micky ketika mereka sedang menuruni tangga di rumah sakit menuju ke lantai dasar untuk pulang.


"Aku akan mengantarmu secepatnya seandainya aku bisa, Micky," sahut Daren.


"Sebentar lagi liburan musim panas, aku harap kau punya waktu lebih banyak untukku."


"Aku akan usahakan."


Micky menyipitkan mata saat melihat sesuatu yang aneh di kejauhan. Dia menarik lengan Daren dan menghentikan langkah.


"Kau lihat!" Micky menunjuk pintu lift yang terbuka dan memperlihatkan lima orang keluar dari sana. Salah satu dari kelima orang itu adalah gadis yang ia kenal. "Itu Nora, 'kan?"


Daren ikut menatap ke arah di gadis berkemeja putih yang sedang berjalan keluar lift tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di depan wajahnya.


"Nora!" seru Micky, padahal Daren baru saja ingin melarang adiknya untuk memanggil Nora.


"Micky, apakah sebaiknya kita pergi saja? Aku harus ke kantor." bisik Daren tidak mendapat sahutan apapun dari Micky.


Nora mengalihkan pandangan dari ponselnya untuk menoleh ke arah Micky. Dia kikuk di tengah jalan, sampai suster menyuruhnya untuk minggir karena menghalangi pasien yang ingin lewat.


"Hay!" sapa Micky langsung berlarian ke arah Nora sambil menarik lengan Daren.


Nora pura-pura tersenyum padahal sebenarnya dia ingin kabur seandainya dia tau lebih dulu ada orang yang ia kenal sedang berada di rumah sakit yang sama.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Micky setelah sampai di hadapan Nora. Daren mengawasi sekitar, dia khawatir ada yang mengenalnya dan melihatnya bergaul dengan seorang gadis.


"Ehm ... aku …." Nora mengalihkan pandangan ke arah Daren. "Apa yang kalian lakukan di sini?"


Micky menatap antusias. "Aku baru saja minta konsultasi dari dokter tentang operasi plastik."


"Jadi, kau serius dengan rencanamu itu?"


"Kau pikir aku bohong?"


"Eh ... tidak. Aku pikir kau cuma bercanda."


Micky tertawa. "Aku tidak pernah bercanda masalah penampilan, termasuk pujianku tentangmu bahwa kau sangat cantik, makanya aku mengangkatmu jadi modelku. Iya, kan, Daren?" Micky mengerling ke arah Daren.


"Hm ... ya," sahut Daren tak bersemangat.

__ADS_1


"Ouh, kau bilang kau harus ke kantor? Bukankah kalian sekarang satu kantor? Kenapa tidak berangkat berdua saja?"


"Aku harus mengantarmu ke kampus," sahut Daren kikuk.


"Tidak usah, aku sudah telpon Oliver. Dia akan menjemputku."


"Aku tidak suka kau dengan Oliver, Micky." ekspresi Daren terlihat lebih tegas daripada sebelumnya.


"Aku tidak peduli, yang penting, kalian akan berangkat bersama." Micky meninggalkan Daren dan Nora berdiri dalam keadaan canggung. Sementara dirinya berjalan keluar area rumah sakit dengan eskpresi tenang dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Daren mengambil napas lalu berdehem. Dia menatap ke arah Nora.


"Apa?" tanya Nora ketus.


"Kau ingat apa yang kubilang kemarin? Kita akn ke One Star. Karena kita sudah bertemu di sini, kurasa tak perlu pergi ke kantor terlebih dahulu untuk berangkat ke sana. Bagaimana?"


Nora mengedikkan bahu. "Itu terserahmu. Aku cuma ikutan saja."


"Apa tidak ada satupun barang yang ingin kau ambil dari kantor?" Daren menyipitkan mata.


"Tidak. Tasku masih kubawa. Lihatlah!" Nora memperlihatkan tas gendong di balik punggungnya.


Nora mengikuti Daren, berjalan keluar area rumah sakit. Di tengah jalan, tepat di ambang pintu utama, Daren menghentikan langkah. Itu membuat Nora yang berjalan tepat di belakang Daren, langsung terlonjak kaget.


"Apa yang kau ...." Nora ingin mengumpat, tapi suaranya tidak muncul karena beberapa orang lebih dulu menoleh saat mendengar pekikannya.


"Maaf, aku cuma mau bilang. Tolong untuk hari ini jangan banyak tanya. Oke?" kata Daren membuat Nora menatap kesal.


"Bukan salahku punya banyak pertanyaan."


"Ya, tapi jangan bertanya di tengah meeting nanti. Ini adalah meeting yang sangat penting."


"Oh tidak, kau pikir aku tidak tau waktu penting dan waktu yang kurang penting?"


Daren menghela napas. "Bisakah kau menjawabku dengan nada normal?"


"Ini nada normalku. Apa maksudmu?"


"Kau selalu menjawabku dengan nada seolah kau memusuhiku."

__ADS_1


Nora mengalihkan pandangan. "Bukankah memang begitu---"


"Maaf, Pak!" seru seseorang membuat perdebatan Nora dan Daren terhenti. Mereka berdua menoleh ke arah wanita bersanggul di samping Daren. "Anda Daren Mahendra?" tanyanya dengan nada tak menyangka.


Daren mengunci mulutnya rapat-rapat. Ekspresinya berubah lebih dingin. Dia menarik lengan Nora keluar dari area itu. Wanita yang sempat menyapa Daren menatap keheranan.


Daren menyuruh Nora masuk ke dalam mobilnya. Beruntung Nora menurut dengan perintahnya, sedangkan dia masuk ke kursi kemudi dan langsung meninggalkan area rumah sakit dengan kecepatan di atas rata-rata.


Nora tau apa yang membuat Daren terlihat marah. Itu pasti karena wanita yang baru saja menanyakan identitasnya. Daren selalu menghindar dari kejaran para wanita.


"Tumben, tidak bawa dua penjaga berotot besar itu? Kemana mereka?" tanya Nora untuk memecah keheningan.


"Micky tidak suka dikawal."


Nora mengangguk mengerti. "Jadi, karena itulah mereka tidak membuntutimu." Nora menatap ke wajah Daren yang masih terlihat dingin. Dia langsung teringat emosi Daren yang menakutkan kemarin. Emosi itu membuat Nora merinding dan beralih merasa takut karena mengajak bicara orang emosian seperti Daren.


***


Ini jam dua siang, meeting baru saja selesai. Nora punya kesempatan datang ke One Star, sebuah perusahaan tekstil yang bangunannya masih direvisi. Jika tidak bersama dengan Daren, mungkin dia tidak akan pernah mengunjungi tempat paling mewah di kotanya ini.


Daren dan Nora berjalan beriringan ke arah tangga untuk turun ke lantai dasar. Mereka sudah sampai di lantai tiga. Nora bisa melihat bagian paling bawah bangunan dari area yang masih direvisi.


"Jangan lihat ke bawah, bahaya!" perintah Daren. Dia berjalan ke posisi Nora. Melindungi gadis itu dari tepian tak berpagar.


Nora sama sekali tidak peka Daren sedang perhatian padanya, dia justru mengira Daren sedang sok pemberani.


"Nora!" pekik Daren sambil menahan bahu Nora saat Nora tak mau mendengarnya. "Kau bisa jatuh kalau dekat-dekat ke tepian."


Nora melepaskan pegangan Daren. "Kalau aku jatuh, memangnya kenapa?"


"A-aku yang akan disalahkan."


Nora tertawa. "Polisi pasti akan mengira kau yang mendorongku ke bawah. Iya, 'kan?"


Untuk pertama kalinya Daren setuju dengan Nora. Dia senang bisa melihat senyuman tercetak di bibir Nora yang biasanya membengkok ke bawah tiap kali menatap ke arahnya.


Keduanya sampai di lantai bawah. Juan dan Doni sudah menunggu di samping mobil Daren.


"Kalian bawa mobil sendiri, 'kan?" tanya Daren kepada kedua penjaganya. "Aku akan pergi dengan Nora."

__ADS_1


Nora mengerling. Semakin ke sini, dia semakin yakin tingkah Daren kepadanya sama sekali tidak normal.


__ADS_2