
Nora berhasil meninggalkan perdebatan Oki dan Kenan sebelum otaknya ikutan panas memikirkan konflik mereka yang tidak selesai-selesai. Dia sendiri punya konflik yang masih harus dipikirkan dan baru beberapa menit lalu dia mendapatkan sms dari Indah untuk segera datang ke ruangan bosnya itu karena suatu hal darurat.
Nora berusaha meyakinkan dirinya sendiri, maksud kata darurat dari Indah tidak ada kaitannya dengan kedatangan Daren yang menggemparkan atau suatu hal yang akan membuatnya tak selera makan.
Gadis itu melalui beberapa ruangan untuk menuju ke ruangan Indah. Begitu sampai, Indah sedang sibuk telponan dengan seseorang sehingga Nora harus menunggu di kursi sampai Indah selesai.
"Baik, Pak. Sampai jumpa!" kata Indah ke arah ponselnya. Lalu panggilan berakhir.
Indah menoleh ke belakang. Dia melihat Nora berada di sana. Senyum manis yang semula dia perlihatkan lewat suaranya, kini luntur begitu saja membuat perasaan Nora semakin tidak enak.
"Kamera yang kau bawa itu sudah rusak parah dan tidak bisa digunakan lagi," jelas Indah dengan nada sangat pelan tapi menusuk.
Nora menatap terperangah. "J-jangan salahkan aku, salahkan saja pemilik mobil tempat kamera ini kutinggalkan."
"Yang meninggalkan kameranya siapa?" tanya Indah meskipun dia sudah tau jawabannya.
"Aku, " sahut Nora sambil menunduk.
"Kalau begitu, kenapa kau menyalahkan orang lain?"
"Karena ... karena itu bukan mobilku."
"Tapi kau yang meninggalkannya di mobil orang lain. Kalau tidak meninggalkannya, kamera ini tidak akan rusak. Apa kau mengerti?!"
"Iya, Bos."
"Gaji dipotong lima bulan ke depan."
"Bos ...," pekik Nora kehilangan kata-kata.
"Dan tidak ada cuti," sambung Nora membuat Nora semakin syok.
"Kau memperlakukanku sebagai budak atau bagaimana?"
Indah menggeleng pelan. "Aku masih akan memberi ampunan kalau kau mengerjakan artikel yang kuperintahkan kepadamu. Apa kau mengerjakannya? Tidak, 'kan? Kau justru pergi keluar dan bersenang-senang seolah tak punya pekerjaan sedikitpun."
"Lagipula, bukan tugasku di sini sebagai content writer tukang menulis artikel. Aku vlogger, Bos."
"Dan alasan kedua," tegas Indah seolah tak mendengar jawaban Nora. "Kau terus saja menjawabku ketika aku sedang marah."
"Oke, aku resign saja dari kantor ini." Nora kehilangan kesabaran.
__ADS_1
"Tidak bisa, kau terikat kontrak."
"Untuk apa masih bekerja kalau tak dapat gaji?"
"Itu sanksimu sendiri karena sudah merusak fasilitas kantor. Semua orang akan mengalami hal yang sama kalau mereka merusaknya."
Nora menghela napas. "Tapi itu terjadi karena kecelakaan, Bos. Mengertilah," rengeknya.
"Oke, kalau begitu aku memberimu keringanan. Tiga bulan tidak digaji. Kurangi dua bulan."
"Aghr ... tiga bulan? Itu masa pkl-ku waktu kuliah dulu. Aku sudah tidak kuliah lagi, aku punya asuransi dari pemerintah untuk mendapat gaji setiap bulannya," jelas Nora dengan nada menceramahi.
Indah menggeleng perlahan. Tak tau lagi harus menjawab Nora bagaimana. "Kita lihat performamu untuk bulan depan, kalau lebih baik, aku akan memberimu keringanan."
"Aku pastikan, kau bukannya akan menghukumku, tapi menambah gajiku dengan bonus berlipat ganda. Aku harus kembali ke ruanganku, Bos. Sampai jumpa!" kata Nora sambil bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan ruangan Indah begitu saja.
Indah baru saja ingin menyuruh Nora membawa kamera rusak itu kembali ke ruang kamera, tetapi Nora lebih dulu menghilang di balik pintu.
Nora menjeblak pintu ruangannya sangat keras hingga orang-orang di luar memandang heran. Nora lebih heran lagi melihat Oki sedang duduk di kursi kerjanya sambil menonton sesuatu dari laptopnya.
"Hey, apa yang kau lakukan!" tegur Nora sambil menarik laptopnya dari jangkauan Oki.
"Aku sedang nonton film," sahut Oki sambil mengunyah kerupuk udangnya.
Oki terheran-heran melihat Nora seprotektif itu.
"Aku bukannya makan layar laptopmu," kata Oki ketika Nora mengetuk-ngetuk layarnya beberapa kali.
"Ya, aku tau."
"Ayolah, tidak usah pelit." Oki merebut laptop di tangan Nora.
"Lepaskan, Oki!" tegas Nora. "Aku tidak mau beli laptop baru karena gajiku tidak akan dibayar selama tiga bulan ke depan!" jelasnya membuat Oki menatap terkejut.
"Kau serius?" tanya Oki penasaran. "Apa yang terjadi?"
"Bos bilang kamera yang kita bawa rusak parah," jelas Nora dengan nada pasrah.
"Oh tidak." Oki menatap tak menyangka.
Nora menghela napas pasrah. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menikmati hukumannya tanpa gaji selama tiga bulan. Dia sudah berencana untuk absen tiga kali seminggu. Percuma berangkat tiap hari jika tak dapat gaji, pikirnya.
__ADS_1
"Sekarang, bagaimana?" tanya Oki dengan nada kasihan.
Nora mengedikkan bahunya tak bersemangat.
"Aku punya ide. Tapi kau jangan marah."
"Ide apa?"
Oki duduk di samping Nora. Menatap serius ke arahnya. "Janji jangan marah?"
"Ide apa yang kau maksud?"
"Ideku ... kenapa kau tidak jadi model adiknya Daren saja? Dia menawarkan secara khusus untukmu. Kau bisa dapatkan keuntungan sebanyak yang kau mau."
"Maksudmu, aku berjalan di atas karpet merah pakai pakaian konyol yang tidak layak dipakai manusia?"
"Aku tidak yakin desain adiknya Daren seburuk itu. Coba saja dulu, mungkin kau akan dapat uang dari sana tiga kali lipat dari jumlah gaji kita sebulan."
Nora tidak lekas menjawab. Dia sempat memikirkannya sambil merenung. Itu membuat senyum terbit di bibir Oki.
"Meskipun aku mau jadi model adiknya pun, aku akan melakukannya dengan cuma-cuma. Adiknya Daren masih kuliah, artinya dia butuh seorang model untuk mendapatkan nilai, bukan uang. Kenapa aku harus mengharapkan dapat bayaran?"
"Bukan adiknya Daren yang akan membayarmu, tapi Daren. Ayolah, kau harus bisa peka. Ada satu hal kenapa Daren datang ke sini siang tadi. Pertama, karena dia sangat menyayangi adiknya sampai rela melakukan apapun bahkan menemui gadis asing sepertimu. Kemungkinan kedua, karena dia tertarik padamu dan ingin lebih mengenalmu sehingga dia mendatangimu dengan dalih membantu adiknya," jelas Oki panjang lebar membuat Nora seketika merinding.
"Eh ... aku tidak suka kemungkinan kedua," sela Nora dengan ekspresi kesal.
Oki tertawa. "Aku harap dia kemungkinan itu benar semua. Anyway, itu masalahmu. Aku tidak mau ikut campur, karena masalahku sendiri masih cukup sulit untuk kutangani sendiri."
"Biasanya, kau juara satu tukang ikut campur urusan orang lain."
"Aku punya masalahku sendiri. Sebenarnya aku datang ke sini karena mau bercerita, tapi kau juga punya masalah. Jadi, akan kuceritakan lain kali. Bye!" Oki menghilang dari balik pintu ruangan Nora.
Nora menghela napas panjang. Dia ingin hari segera berakhir dan berganti menjadi esok hari yang indah.
Gadis itu memikirkan kembali saran yang Oki berikan. Oki benar, kenapa dia tidak menerima tawaran eksklusif itu? Setidaknya, dia bisa jadikan itu sebagai alasannya tidak berangkat ke kantor selama hukumannya belum berakhir.
Nora mengirim pesan ke nomor Daren.
Nora : Aku bersedia jadi model adikmu. Apa yang harus aku lakukan?
Tak sampai satu menit, terlihat balasan.
__ADS_1
Daren : Juan akan menjemputmu di taman kota besok. Datanglah ke sana.