CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Hamil Anak Darren


__ADS_3

Seminggu berlalu sangat lama bagi Nora. Itu berarti bahwa waktunya bersama Daren tinggal seminggu lagi.


Nora tidak pernah absen berprasangka tentang perasaan Daren kepadanya. Dia agak curiga bahwa Daren menyukainya, tetapi dia menyangkal itu kuat-kuat karena dia tidak akan pernah bisa suka dengan orang seperti Daren.


Sementara itu, ada puluhan postingan di internet tentang foto-foto Daren dan Nora yang diambil diam-diam saat kebersamaan mereka di luar ruangan. Pada awalnya Nora sangat kesal, tapi Indah bilang itu adalah kabar penting baginya.


Bukannya membelok ke perusahaan Daren, Nora justru menuju ke arah kantornya. Dia punya beberapa laporan yang harus ia kumpulkan kepada bosnya sekaligus menyapa seisi kantor setelah lebih dari satu minggu tidak saling menyapa secara langsung.


Nora memarkirkan mobilnya di samping mobil Oki. Ngomong-ngomong tentang Oki, dia masih penasaran apa yang terjadi dengan hubungan gadis mata keranjang itu.


Orang-orang kantor menatap takjub saat Nora masuk lewat pintu utama. Nora merasa dia sedang berjalan di karpet merah sungguhan karena jadi bahan perhatian puluhan pasang mata.


"Nora, apa kabar?" tanya karyawan yang seumur-umur belum pernah menyapa Nora.


"Aku baik," sahut Nora. Dia merasa menjadi seorang selebriti secara tiba-tiba.


Langkah Nora tak berhenti meskipun dia ingin sekali menjawab satu persatu orang yang baru saja menyapanya. Dia akhirnya sampai di lift sendirian. Barulah dia menghela napas lega.


Lift mengantarkan Nora ke lantai tiga. Dia langsung membelok ke ruangan Indah.


Indah langsung menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka seolah sudah menunggu kedatangan Nora sejak tadi. "Oh ... ini dia masterku!" Indah bangkit dari duduknya. Ekspresi bangga di wajahnya memancar. Dia langsung memeluk Nora seolah memeluk anaknya sendiri.


"Astaga, kau tambah langsing," pekik Indah sambil menatap postur tubuh Nora.


"Ya, kau memaksaku melakukan pekerjaan ini, inilah hasilnya."


"Bukankah itu bagus? Kau punya badan yang lebih ideal dan Daren akan semakin jatuh hati padamu."


"Bos ... kau bilang apa?"


Indah tertawa. Dia menuntun Nora untuk duduk di kursi agar mereka bisa mengobrol dengan lebih nyaman. Nora melempar berkas yang ia bawa ke hadapan Indah. Seharusnya Indah marah karena Nora sama sekali tak sopan padanya, tetapi dia terlanjur tak sabar ingin mendengar cerita tentang Daren dari Nora.

__ADS_1


"Aku sangat terkejut melihat jawaban-jawaban yang kau rekam dari Daren. Dia ternyata lebih mengagumkan dari kelihatannya. Aku baru saja promosi tentang buku biografi Daren, tapi penonton sudah melonjak bahkan sebelum aku memberitahu kapan biografi itu akan diriliskan." Indah tersenyum bangga ke arah Nora. "Percayalah, pekerjaanmu ini membawa kebaikan untuk semua orang."


"Tidak," bantah Nora. "Bukan membawa kebaikan untuk semua orang, tapi memberi keuntungan berkali lipat kepada perusahaan ini," sahut Nora sarkas.


"Ya, memang itulah yang sebenarnya kita inginkan."


"Itu namanya memanfaatkan identitas orang lain."


"Seharusnya kau terbiasa dengan hal itu, mengingat kau hampir empat tahun bekerja di dunia entertainment." Nada Indah berubah semakin dingin karena Nora tak pernah mengindahkan ekspresi antusiasnya.


"Sudah cukup, bos. Aku mau balik saja." Nora bangkit dari duduknya.


"Kau serius? Bukankah ini terlalu cepat? Aku mau tanya-tanya lebih banyak soal Daren."


"Cari saja di sana, siapa tau kau akan dapatkan jawabannya." Nora menunjuk berkas yang dia lempar ke atas meja Indah tadi.


Senyum tengil muncul di bibir Indah. "Oh ... pasti kau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Daren, karena itulah kau terburu-buru," goda Indah membuat Nora mencibir.


Nora sempat mengira Oki ambil cuti hari ini. Dia semakin yakin dengan perkiraannya saat mendengar keheningan di balik pintu.


"Oki!" sapa Nora sambil membuka pintu ruangan itu. Namun, apa yang ia lihat sama sekali di luar dugaan. Oki sedang ciuman liar dengan Kenan di kursi sofa. Pasangan itu menoleh ke arah Nora dan dalam keadaan tegang.


"Oh tidak ... lanjutkan saja. Aku tidak mau mengganggu," gerutu Nora sambil menutup pintu lagi.


Nora menggigit bibir bawahnya. Ini bukan pertama kalinya dia memergoki Oki melakukan hal tak senonoh di kantor. Temannya itu kadang tak terkontrol, itulah sisi negatif yang selama ini Nora hindari dari Oki.


"Hey!" sapa Oki sambil membuka pintu. "Masuk saja."


Nora menautkan alis. "Masuk? Untuk menontonmu ciuman maksudnya?"


Pipi Oki memerah. "K-kami sudah selesai."

__ADS_1


"Oh ya? Kalau mau, lanjutkan saja. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengganggu kalian."


Oki tersenyum malu. "Kami akan lanjutkan di hotel nanti malam. Sekarang waktunya mengobrol denganmu. Kau lupa kita tidak pernah bertemu selama seminggu ini?"


Nora berubah antusias. Senyum terbit di bibirnya. Dia ingin menjawab Oki saat Kenan muncul di balik pintu dengan rambut berantakan.


"Hay!" sapa Kenan terlihat tak berdosa. Dia langsung meninggalkan tempat itu untuk kembali ke ruangannya.


Nora masuk ke ruangan Oki. Sempat waspada dia akan menemukan benda tak seharusnya ada di sekitar sana. Setelah memastikan semua aman, dia duduk di kursi.


"Aku tidak menyangka kau dan Kenan ...."


"Kami balikan," sahut Oki. "Kau tau apa yang terjadi dengan Leo?"


"Si cowok yang kau temukan di demo itu?"


"Ya," sahut Oki menggebu-gebu. "Dia tidak sebaik yang kukira. Dia sangat polos dan tak tau apa-apa. Aku pernah diajak ke rumahnya sekali. Kau tau apa yang terjadi?" Oki menatap ngeri mengingat peristiwa yang pernah ia alami beberapa saat lalu. "Dia menangis di depan ibunya karena tidak diizinkan berpacaran. Aku langsung memutuskannya setelah pulang dari rumahnya. Mana bisa aku pacaran dengan bayi."


Nora tertawa. Dia tau selera Oki. Dia juga tidak menyangka kalau Leo ternyata seburuk itu, padahal Leo kelihatan lebih macho daripada Kenan.


"Bagaimana antara kau dengan Daren? Apakah ... terjadi sesuatu antara kalian berdua?"


Nora menghela napas. Dia datang ke sini bukan untuk menceritakan pengalaman buruknya selama seminggu. "Terjadi sesuatu? Apa maksudmu?"


"Kalian satu ruangan, seharusnya sudah terjadi sesuatu di antara kalian berdua."


Nora melempar Oki dengan bolpoin yang ia temukan di atas meja. "Cuci otak kotormu itu."


Oki tertawa melihat ekspresi kesal Nora. "Aku cuma sarankan. Sebaikanya kau hamil anaknya agar dia jadi suamimu. Aku yakin dia mau tanggung jawab kalau kau sampai hamil anaknya. Dia kaya, tampan, dan populer. Ini adalah kesempatan besarmu."


Nora menepuk keningnya karena tak tau dengan jalan pikiran temannya yang sudah tak waras ini. "Kau kebanyakan nonton drama. Coba kau pikirkan kemungkinan kedua, bagaimana kalau dia tidak mau tanggung jawab?"

__ADS_1


__ADS_2