CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Bar


__ADS_3

Nora sedang mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai. Dia sudah berencana untuk pergi bersantai di tepi pantai karena tak punya rencana lain.


Tidak masalah sendirian, pikirnya dengan nada sedih. Untuk apa berdiam diri di hotel sementara saat ini kau sedang berada di salah satu negara dengan tempat wisata termewah di dunia.


Nora membuka pintu ruangannya. Dia baru berjalan tiga langkah saat melihat Nelan sedang menggandeng Daren keluar dari ruangan Daren, Nora masih belum tau apakah mereka memesan satu kamar untuk berdua.


"Hay!" sapa Nelan kepada Nora. "Mau keluar juga?"


"Ya, aku tidak betah di kamar."


"Ikut saja dengan kami," ajak Daren membuat ekspresi antusias di wajah Nelan agak berkurang.


"Kemana?"


"Ke tepi pantai," sahut Daren. Agak melepaskan pegangan pada tangan Nelan.


"Aku juga mau ke sana."


"Bagus, ayo!"


Ketiganya memasuki lift untuk turun ke lantai bawah. Nora cukup senang dia punya teman keluar, meskipun dia terpaksa jadi nyamuk di belakang pasangan itu.


Nora memperhatikan bagaimana gelagat Daren, entah perasaannya atau itu memang benar, Daren agak menghindar dari Nelan, tetapi tak pernah berhasil. Nora mengerjapkan matanya. Itu hanya perasaannya. Daren terlihat sangat mencintai Nelan kemarin, mana mungkin dia berusaha menghindari gadis itu.


Mereka sampai di lantai bawah. Suasana pantai langsung menyapa begitu mereka menapakkan kaki diluar area hotel.


Nora merasakan sepatunya melesak di pasir putih pantai yang indah. Meskipun ini malam dan udara lebih dingin, masih ada banyak orang yang tetap berjalan-jalan di sekitar pantai, bahkan bermain air.


"Mau kemana?" tanya Daren saat Nora membelok sendirian ke arah lautan sedangkan dia dan Nelan lurus ke depan.


"Eh, kalian bilang mau ke pantai."


"Ya," sahut Nelan dengan nada mengejek. "Tapi bukan untuk main air, melainkan minum air. Kita akan ke bar!" jelasnya dengan nada dramatis.

__ADS_1


Nora menghela napas. Dia tidak punya pilihan selain ikut mereka. Dia kembali berjalan mengikuti pasangan itu. Melewati kerumunan yang sedang duduk di atas pasir atau pun berlarian mencari souvenir.


Mereka berhenti di sebuah bar kecil di tepi pantai, bagi Nora bar itu memang terlihat kecil. Saat dia masuk, dia sadar bar ini tidak sekecil kelihatannya, bagian dalamnya mewah dan ... mengerikan bagi seorang gadis yang tidak pernah masuk ke tempat bersuasana klub.


Ada banyak orang-orang dari seluruh penjuru dunia di sini, mereka mengenakan pakaian terbuka dan bertampang misterius. Nora merasa seperti bayi lima tahun yang masih polos saat berdiri di antara mereka. Dia tidak menyangka Daren terlihat akrab dengan suasana seperti ini, dia semakin yakin Daren sering datang ke tempat seperti ini bersama dengan Nelan.


Suara musik membuat kepala Nora semakin pusing. Dia ingin pergi dari sana, tetapi tak tau jalan keluar. Orang-orang di sekelilingnya bergerak menari tak karuan dan dia tidak bisa melihat mana timur, selatan, atau pun barat.


"Hey!" Daren menarik lengan Nora. "Ke sini!" katanya dengan nada dalam dan penuh perhatian. Daren tau Nora sedang cemas.


Nora lega dia akhirnya menemukan ujung ruangan, tempat yang agak sepi, tepatnya di depan sebuah meja bartender. Hanya ada orang-orang yang sedang minum di sana, mereka duduk tenang sambil menatap lantai dansa yang terlihat tak karuan. Ini bukan tempat terbaik, tapi lebih baik daripada tadi.


"Sayang, tau tidak!" seru Nelan kepada Daren membuat perhatian Nora teralihkan kepada mereka.


"Ada varian baru yang belum pernah kau coba!" Nelan berusaha mengalahkan suara musik yang begitu keras. Dia meraih gelas kecil berisi cairan. "Minumlah!"


daren menatap gelas itu dan menggeleng. "Aku tidak mau minum."


"Tidak apa-apa."


"Ayolah!" Nelan merengek sambil merangkul bahu Daren.


Nora menggeleng tak percaya. Lebih dia mendengarkan alunan musik daripada mendengarkan ocehan pasangan itu yang akan membuat telinganya makin panas.


"Nona, mau minum apa?" tanya bartender kepada Nora. "Ini pilihan terbaik untuk orang naif sepertimu." Dia menghentakkan segelas besar cairan berwarna keunguan.


Nora mengerling. Menatap buih di atas cairan. "Apa ini?" Nora meraih gelas itu. Menatap ke dalam. Terlihat seperti jus anggur dengan warna ungu yang lebih cerah.


"Jangan!" cegah Daren sambil meraih gelas di tangan Nora. "Ini punya pengaruh yang buruk," bisiknya sambil meletakkan gelas itu di atas meja lagi.


Nora mengedikkan bahu tak peduli. Dia memang tidak berencana untuk meminumnya. Justru dia memperhatikan bagaimana Daren begitu perhatian padanya.


"Sebaiknya kau minum!" Nelan menarik Daren ke hadapannya. Rupanya, dia sudah minum beberapa teguk gelas cairan yang sebelumnya dia tawarkan untuk Daren. "Kalau dia tidak minum, aku percaya. Tapi kau? Bulan lalu kau habis dua botol, Daren, dan kau bilang kau mau mengulangi lagi suatu saat nanti. Inilah waktu yang tepat."

__ADS_1


Daren mengalihkan pandangan. Berusaha bersabar dengan keantuasiasan Nelan yang berbanding berbalik dengan sikap dinginnya.


"Ayolah ... minum!" Nelan mengarahkan ujung botol kaca ke mulut Daren.


"Nelan, stop!" bentak Daren kehilangan kesabaran.


Nelan membeku beberapa detik. "Oke, aku akan pergi dan ..." dia mulai kehilangan kendali. "Aku akan pergi dari sini meninggalkanmu dengan gadis polos ini."


"Ya, pergilah!" sahut Daren. "Aku sudah bilang tidak mau minum, jangan paksa aku!"


"Kalau begitu, untuk apa kita datang ke sini?"


"Untuk menemanimu," sahut Daren enteng.


Nelan menatap datar. Dia berjalan mundur dengan langkah agak sempoyongam. Kepalanya agak terkantuk-kantuk, cairan tadi benar-benar langsung memperngaruhinya. Dia berhasil berada di tengah kerumunan, tetapi alih-alih bergerak untuk menari seperti orang lain, dia ambruk di lantai.


"Nelan!" seru Daren khawatir. Dia mndekat ke arah Nelan untuk memeriksa tubuhnya. "Nelan, bangunlah!"


Nora sudah menebak dari tadi. Nelan cuma pura-pura agar dia mendapatkan lebih banyak perhatian dari Daren. Ternyata perkiraannya benar. Dia melihat Daren menampilkan ekspresi kesal karena melihat tawa Nelan saat Daren hampir mengangkat tubuhnya. Nora membalikkan badan agar tidak melihat pasangan itu.


"Makannya, aku bilang minum ya minum!" perintah Nelan yang kini sudah berdiri lagi setelah berhasil menipu Daren. "Minum!" rengeknya sambil menyodorkan botol cairan ke wajah Daren. "Setelah itu, kita akan berdansa bersama orang lain."


Daren terpaksa meminum cairan itu. Nora menatap tak menyangka ke arah Daren yang menyelesaikan tujuh tegukannya tanpa jeda.


"Kau puas sekarang?" tanya Daren sambil menghela napas.


"Ya, ayo kita ke lantai dansa!"


Daren lebih dulu berjalan ke arah kerumunan sebelum Nelan menyelesaikan kalimatnya.


"Dia berubah sangat mengerikan setelah minum. Ini adalah caraku membuatnya jatuh cinta!" bisik Nelan kepada Nora sebelum dia menyusul Daren hilang dari pandangan Nora.


Nora menggeleng tak percaya. Nelan adalah pengaruh buruk untuk Daren. Semua orang pasti akan tau meskipun baru melihat Nelan untuk pertama kali.

__ADS_1


__ADS_2