
Keputusan Daren untuk menikahi Nora akhirnya dipertimbangkan lagi. Daren tak tega merebut Nora dari Ravka yang ternyata sudah tak punya siapa-siapa selain Nora. Dia tidak ingin merenggut kebahagiaan orang lain.
Mungkin Daren harus mengikhlaskan Nora bersama dengan Ravka meskipun itu sangat berat. Dia menyesal baru tau tentang Ravka setelah dia jatuh terlalu dalam kepada Nora. jika saja dia tua sejak dulu, mungkin dia bisa berlatih untuk mengikhlaskan, tetapi semuanya terlambat. Semuanya akan terjadi dengan sangat sulit sampai Daren harus mengorbankan sesuatu untuk bisa sukses keluar dari situasi ini.
"Ayah, Ibu!" kata Daren saat rumah kedua orang itu sedang menyuruh beberapa orang untuk persiapan pernikahan lusa. "Sebelum semuanya terlambat, lebih baik kukatakan semuanya sekarang."
Krish dan Nancy menatap seksama ke arah DAren dari kursi mereka. "Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Nancy kebingungan.
"Aku tidak akan menikah dengan Nora," ucap Daren terus terang.
Keheningan. Tidak ada satupun yang bicara. kedua orang tuanya saling menatap tegang, sedangkan Daren menunduk dalam karena merasa lancang mengatakan penolakan itu di saat-saat terakhir.
"Daren, jangan bercanda!" Krish menatap serius.
"Aku tidak bercanda."
"Kenapa kau tiba-tiba membuat keputusan itu?"
Daren menelan ludah untuk mengambil ancang-ancang. "Nora menyukai pria lain. Dia sedang menunggu seseorang yang jatuh koma selama lima tahun. Bagaimana mungkin aku datang untuk memisahkan mereka berdua? Aku bahkan belum setahun ini mengenal mereka. Dan ... Nora sama sekali tidak suka dengan pernikahan ini. Aku bisa cari wanita lain kalau kalian mau aku menikah sekarang, tetapi aku tidak ingin merebut Nora dari Ravka."
Sang ayah dan ibu saling menatap.
"Nak," kata Nancy sambil menepuk bahu Daren. "Kami sudah tau tentang Ravka."
DAren terperangah. Dia sempat mengira telinganya salah dengar. Jika mereka tau tentang Ravka, kenapa mereka tetap memaksanya untuk menikahi Nora? Mereka bukan orang jahat dan punya hati nurani seperti Daren, Daren tau itu.
"Kalau Nora tidak menyukaimu, dia tidak akan setuju dengan pernikahan ini. Dia menyukaimu, Daren." Krish masih menatap datar.
"Dia setuju dengan pernikahan ini karena dia terpaksa."
__ADS_1
"Dia bisa melawan ayahnya jika dia terpaksa. Ayahnya bilang, Nora memang sering seperti itu. Tapi kali ini dia menurut. Nora cuma sedang terjebak dengan dua pilihan, dan aku menuntutmu untuk membuatnya memenangkan pilihan pertama , yaitu menikah denganmu!"
Daren menyadari perkataan ayahnya. Dia memang sering melihat sorotan mata penuh cinta dari Nora yang belum pernah keluar dalam bentuk suara.
"Tidak usah khawatir, meskipun Nora masih punya perasaan dengan Ravka, dia tetap akan jadi istrimu."
Daren bangkit dari duduknya. Dia menuju ke dalam kamarnya dengan perasaan kalut. Dia tidak sepenuhnya sepakat dengan orang tuanya.
Daren harus apa sekarang? Menemui Nora dan mengatakan kepada gadis itu bahwa dia sudah tau tentang Ravka? Tetapi Nora sudah menyetujui pernikahan mereka yang akan digelar lusa. Kebingungan Daren membuatnya tidak bisa bertindak selain diam dan merenung,
***
Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi sebagian keluarga Nora dan Daren. Tidak bagi Nora yang masih berada di rumah sakit padahal pernikahannya akan dilaksanakan tiga jam lagi. Nora masih mengharapkan tanda-tanda Ravka akan siuman seperti tanda yang muncul beberapa hari lalu. Nora ingin Ravka bangun dan dia yang menghentikan pernikahannya dengan DAren sebelum semuanya terlambat.
Penantian Nora berujung sia-sia. Andin lebih dulu menjemputnya untuk pulang dan mengikhlaskan Ravka. Andin bilang, dia yang akan menjaga Ravka setelah Nora menikah dengan Daren. Nora sama sekali tidak tenang. Dia menangis sejadi-jadinya dipelukan Andin.
Nora mencium Ravka untuk terakhir kalinya sebelum dia meninggalkan ruangan itu. Setelah ini, dia akan datang ke sini sebagai istri orang lain. Ya, dia sudah menyerah. Menyerah karena paksaan.
***
Nora berada di depan cermin dengan gaun putih khas pernikahan. Di belakang, ada penata rambut yang sedang merapikan rambut kecoklatan Nora dan menutupinya dengan kain. Dia sudah dirias dan siap pergi ke altar pernikahan, tempatnya akan disahkan menjadi istri Daren.
"Wow, kau terlihat sangat cantik!" Andin adalah orang yang paling bahagia ketika melihat Nora berada di balutan gaun pernikahan seperti ini.
Nora melirik ke arah Andin. Dia sudah tidak bisa menangis lagi di tengah riasan tebal seperti ini. Air matanya sampai mengering dan dia tidak punya cukup tenaga untuk menangisi keadaan. "Jadi seperti ini rasanya dijodohkan."
Andin tersenyum miris. "Kau beruntung karena orang yang dijodohkan denganmu adalah orang yang sangat menyayangimu."
Nora mengalihkan pandangan. Apa untungnya baginya kalau dia masih mengharapkan orang lain? Pernikahan ini tetap sia-sia.
__ADS_1
"Setelah Ravka bangun dari komanya nanti, aku akan bercerai dengan Daren untuk menikah dengannya."
Andin menggeleng kecil. Dia mendengar kalimat itu sebagai sebuah candaan. Dia tau Ravka tidak akan sadar dalam waktu dekat. Mungkin masih ada dua atau tiga tahun lagi, dan itu bukanlah ancaman serius. Selama tiga tahun ke depan, Nora pasti sudah melupakan Ravka dan jatuh cinta kepada Daren, Andin sangat yakin.
"kemarilah!" Andin meraih bahu Nora untuk dipeluk sangat erat. "Ini adalah terakhir kalinya kita saling bicara dalam kondisimu yang masih lajang. Satu jam lagi, kau sudah jadi istri sah Daren."
Nora menunduk sedih. Entah kapan terakhir kali dia tersenyum.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya seseorang dari ambang pintu, itu adalah ibunda Nora dan Andin. "Ayo, nak. Waktunya pergi ke altar."
"Apa pengantin prianya sudah datang?" tanya Andin untuk memastikan.
"Belum, tapi waktunya hampir terlambat. Sebaiknya kalian menunggu di sana. Para tamu undangan hampir kecewa karena terlalu lama menunggu."
Andin menatap ke arah Nora yang sedang mengambil napas panjang.
"Ingat! Kau bisa melakukannya!" bisik Andin sambil menahan kedua bahu Nora yang terekspos.
Nora berusaha menetralkan degup jantungnya yang bertalu-talu. Dia sudah siap menerima risiko yang akan dia alami setelah dia menjadi istri sah Daren. "Aku siap!"
Andin mengangguk bangga.
Mereka berdua berjalan menuju altar dalam suasana sakral. Para tamu undangan menghela napas lega melihat kedatangan Nora. Mereka sudah tidak sabar melihat gadis itu bersanding dengan mempelai pria.
Indah datang, meskipun dia memutuskan hubungan persahabatannya dengan Nora, dia tersenyum bahagia melihat Nora dalam balutan gaun pernikahan seperti ini. Sayangnya, Oki tidak datang karena suatu alasan, padahal Nora sedang mencari-cari gadis itu di tengah kerumunan wartawan yang datang dari kantornya.
"Astaga!" pekik seseorang dari arah kursi tamu undangan. "Kabar buruk!" Nora baru sadar orang yang sedang bicara adalah ibunya. Dia menatap tegang.
"Pengantin pria tidak akan datang!" serunya sambil memperlihatkan pesan dari dalam ponsel yang menandakan pesan dari keluarga Daren bahwa Daren tidak ditemukan di rumahnya.
__ADS_1