
Tidak ada yang bisa menandingi kesedihan Nora setelah semua peristiwa itu menimpa. Nora lebih banyak berdiam diri di kamarnya. Selama hampir lima hari dia tidak keluar padahal dia bukan seseorang yang tahan lama-lama sendirian di sebuah ruangan.
Dengan cepat, seluruh peristiwa itu membawa perubahan. Nora tidak lagi tersenyum, bahkan ketika melihat sesuatu yang sering memunculkan gelak tawanya, seperti foto-foto lamanya. Semuanya tidak ada apa-apanya bagi Nora.
Luka yang Nora rasakan sangat dalam, sampai dia tidak yakin hatinya masih utuh atau sudah hancur lebur seperti batu yang hancur jadi pasir. Jika sudah seperti itu, bagaimana bisa sembuh?
Di luar sana, keluarganya kecewa sekaligus kasihan padanya. Seharusnya Nora sudah jadi istri Daren sejak seminggu lalu, tetapi keluarganya menelan kenyataan pahit karena pernikahan gagal, nama keluarga ini jadi tercoreng.
Ada yang lebih menyakitkan dari semua itu, yaitu Ravka. Ravka sudah keluar dari rumah sakit dengan keadaan hampir sehat. Setidaknya, jika Nora gagal dalam pernikahan dan mendapatkan tekanan dari keluarga, dia masih punya Ravka yang bisa membuatnya bahagia, tetapi bagaimana dia bisa bahagia kalau Ravka justru tidak mengenalnya dan ternyata diam-diam menyukai Oki?
Nora menyibakkan selimut. Merasakan hawa panas menjalar di tubuhnya ketika mengingat saat pertama kali Ravka melihatnya setelah bangun dari koma. Itu adalah puncak rasa sakit yang Nora rasakan. Sialnya, bayangan itu selalu saja menghantui otaknya sehingga dia harus sakit berkali-kali.
Nora berjalan ke tepian jendela. Melihat ke arah lantai bawah, tempat jalan setapak dari beton yang mengkilap diterpa cahaya matahari. Mungkin akan lebih baik dia loncat dari balkon ke jalan setapak itu, barulah dia akan merasakan puas.
Tidak, pikir Nora. Akan lebih baik kalau dia pergi ke gedung yang lebih tinggi dan terjun dari lantai tujuh, sudah pasti dia tidak akan bangun lagi karena benturannya pasti sangat mematikan.
Nora membuka pintu balkon. Berjalan keluar dengan tatapan kosong. Tubuhnya sudah melemas dan sesuatu dalam dirinya benar-benar pasrah. Kakinya melangkah tanpa tujuan dalam jarak lima meter dari tepian balkon.
Nora tidak sadar, dia tidak bisa mengerem langkahnya. Langkah demi langkah terlewati, dan dia tetap melangkah dengan ekspresi datar. Tidak ada sedikitpun gairah hidup yang ia rasakan.
Tiba-tiba saja deringan ponsel dari dalam kamar membuyarkan lamunan Nora. Gadis itu terlonjak kaget. Dia hampir menjejakkan langkah terakhirnya di ujung balkon seandainya ponselnya tidak berbunyi.
Nora berbalik dan menuju ke dalam untuk melihat siapa yang sedang meneleponnya. Nama yang tertulis di sana membuat hati Nora yang hampa sedikit terisi. Nama itu adalah Isaiah.
Nora enggan menjawabnya karena dia tidak punya lebih banyak semangat bahkan cuma untuk mengatakan kabarnya yang buruk ini seandainya Isaiah bertanya kabarnya.
Panggilan kedua berbunyi. Nora akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo!" sapa Isaiah. Suara cerianya membuat Nora teringat akan sosok berambut kecoklatan itu.
"Halo, Nora!" Isaiah berseru lagi. "Kau di sana?"
__ADS_1
"H-halo," sahut Nora tanpa nada.
Terdengar tawa bahagia. Nora jadi berpikiran, mungkin Isaiah ingin menanyakan bagaimana pernikahannya dengan Daren, karena Nora belum bercerita kepada Isaiah tentang gagalnya pernikahan itu.
"Apa kabar?" tanya Isaiah dengan nada bersemangat.
Nora menarik napas dan berusaha terdengar biasa. "Baik."
"Aku baru saja makan siang. Bagaimana denganmu?"
"Aku belum ... makan siang."
Terdengar pekikan keheranan. "Kalau begitu makanlah. Jangan sampai kau sakit."
Nora menunduk dalam. Untuk pertama kalinya dia mendengar perhatian dari seseorang untuknya selama seminggu terakhir. Dia ingin sekali berterima kasih kepada Isaiah, tetapi dia takut Isaiah akan curiga jika dia mengatakan alasannya.
"Oh ya, apa kau sudah dapat pekerjaan baru?"
"Belum."
"Kurasa, bukan masalah besar menganggur sebentar. Oh ya, ngomong-ngomong di sini ada perusahaan entertainment yang sedang mencari vlogger berpengalaman, loh. Saat aku melihat iklannya, aku jadi teringat kau."
Nora tertawa kecil. "Oh ya?"
"Ya, perusahaannya tidak jauh beda seperti perusahaan tempatmu bekerja dulu."
"Andaikan aku bisa pergi ke Dubai dan bekerja di sana."
"Kenapa tidak?"
Nora memikirkan tawaran itu. Apa mungkin itu berarti bahwa Isaiah sudah tau tentang pernikahannya yang gagal? Tidak, Isaiah bukannya tidak tau tentang pernikahannya yang gagal, melainkan karena dia tidak tau kalau Nora hampir menikah dengan Daren.
__ADS_1
"Aku akan memikirkannya," sahut Nora setelah melamun agak lama.
"Jangan lupa makan siang." Isaiah mengakhiri panggilan dengan tawa riang.
Nora meletakkan ponsel di atas meja. Lalu dia sadar, untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia tersenyum, dan semua itu karena Isaiah. Jika saja pria itu tidak meneleponnya, mungkin dia sudah menjatuhkan diri ke lantai bawah sejak tadi. Nora tidak pernah sadar, Isaiah ternyata menyelamatkannya.
Selama seharian Nora memikirkan tentang tawaran Isaiah untuk bekerja di Dubai. Dia bukannya ingin mengejar pekerjaan jika pindah ke sana, melainkan mengejar Isaiah, satu-satunya orang yang berhasil membuatnya tersenyum selagi Daren belum bisa ditemukan. Mungkin Nora bisa mencari keberadaan Daren bersama dengan Isaiah jika dia tinggal di Dubai.
Nora memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan keluarganya, tetapi dia ingat sejak pernikahan itu dibatalkan, keluarganya tidak pernah menganggap dia ada. Bahkan Andin pun hanya sesekali menatap ke arahnya dengan senyuman singkat, tidak pernah mau bicara padanya seperti dulu lagi.
Tidak ada gunanya meminta izin. Apapun yang mau dilakukan Nora bukan lagi urusan mereka, karena mereka tidak lagi peduli padanya. Nora akan pergi ke Dubai suatu saat nanti, tanpa membicarakan tujuannya kepada siapapun.
***
Nora benar-benar mengikuti kata hatinya untuk pindah ke Dubai. Dia sudah melamar pekerjaan secara online ke perusahaan Entertainment yang Isaiah maksud. Setelah hampir tiga hari menunggu jawaban, dia akhirnya disetujui.
Nora harus melakukan beberapa sesi wawancara untuk bisa menjadi karyawan di perusahaan itu, itu berarti bahwa dia harus pergi ke Dubai dalam waktu dekat. Nora senang perusahaan itu tidak begitu peduli tentang kasusnya yang menyebar video kebencian tentang Daren untuk dipertimbangkan sebagai alasan dia tidak diterima di sana.
"Kau mau kemana?" tanya Andin dari ambang pintu saat Nora memaksa koper besarnya menampung seluruh barangnya.
Nora menoleh ke arah Andin. Sorot matanya masih terlihat tak bergairah. "Pergi."
"Pergi kemana?" terdengar nada kepedulian dari kalimat Andin.
"Dubai." Nora menatap sepenuhnya ke arah Andin. "Tolong sampaikan salam terakhirku untuk ayah dan ibu. Aku akan berangkat malam ini."
Andin kehilangan kata-kata. Dia membeku di tempat. Ada ribuan kata yang ingin dia katakan, tetapi tenggorokannya tercekat.
Andin hanya mengangguk kecil, lalu keluar dari kamar Nora.
Inilah yang membuat luka Nora semakin dalam. Seharusnya Andin memberinya perhatian yang lebih, seperti mencegah Nora pergi atau pun memberinya beberapa saran. Tetapi kakaknya itu hanya diam seolah sudah pasrah kemanapun Nora akan pergi, Andin tidak peduli padanya.
__ADS_1