
"Sejak awal aku sudah berpikir bahwa dia memang bukan pria yang baik. Kemudian, dia mengajakku ke luar negeri untuk menjalankan tugasku bersamanya, dia mengatakannya seperti itu, dia bilang ini demi pekerjaanku, padahal nyatanya itu hanyalah caranya agar selalu dekat denganku.
Aku tidak heran jika dia melakukan semua itu untuk mencari kesempatan. Dia memperlakukanku seperti dia memperlakukan kekasihnya yang telah keguguran.
Ya, dia punya hubungan dengan gadis, dan dia hampir saja punya anak jika pacarnya tidak keguguran. Sekarang dia berusaha melakukannya padaku!" suara lantang Nora keluar lewat laptop yang sedang Daren tonton di ruangan kantornya.
Baru beberapa jam lalu dia melihat pesan-pesan berisi kebencian yang tidak DAren pahami. Dia tidak merasa membuat kesalahan, sempat bertanya-tanya dari mana pesan-pesan itu datang? Rupanya karena video Nora yang dengan jelas menyindirnya meskipun tidak mengucapkan namanya secara langsung.
Semua orang tau Nora sedang bekerja sama dengannya, mereka pasti langsung bisa menebak panggilan 'dia' yang Nora maksud adalah Daren.
"Bos, parkiran penuh dengan para reporter!" lapor Juan dari ambang pintu.
Daren menutup laptopnya dengan sekali hentakan. Dia masih agak melamun sebelum akhirnya menjawab, "Aku akan keluar lewat pintu belakang."
Juan mengangguk mengerti. Dia akan segera memindahkan mobil Daren ke pintu belakang kantor yang lebih aman dari jangkauan orang luar.
Ini sudah jam pulang, dia menoleh ke arah kursi Nora yang kosong. Seharusnya masih ada sisa waktu tiga hari bagi Nora untuk mengisi kursi itu. Setelah peristiwa menyebarnya video tadi, Daren tidak yakin gadis itu akan kembali.
Daren tidak tau kenapa dia masih berharap, Nora sudah menjatuhkannya. Nora sudah membuka aibnya dengan sangat keji. Dia tidak akan diam saja seandainya orang itu bukanlah Nora.
Daren sama sekali tidak berniat melakukan apa-apa kepada Nora. Bahkan kepikiran untuk menyentuh Nora seperti yang Nora katakan. Dia mengaku, dia tertarik dengan gadis itu karena perbedaannya yang mencolok, tetapi dia tidak ingin melakukan kesalahan seperti yang ia lakukan kepada Nelan. Justru gadis itu menuduhnya dengan keji.
Ponsel Daren berdering secara teratur. Itu adalah pesan-pesan berisi ujaran kebencian yang tidak ingin ia baca.
Sudah saatnya dia kembali dari kantor dan mencari ketenangan, meskipun dia tidak akan menemukannya dengan mudah. Dia mengemas seluruh barangnya. Berjalan ke arah pintu belakang kantor.
Juan dan Doni sudah menunggu di samping mobil. Mereka menatap lurus ke depan.
Mungkin ada beberapa karyawan yang sudah menunggu kedatangan Daren.
Juan membukakan pintu belakang. Daren segera masuk tanpa berani menoleh ke arah kerumunan.
__ADS_1
"Apakah pintu gerbang ramai?" tanya daren saat Juan menghidupkan mesin. Sedangkan Doni menggunakan mobil lain di belakang mobilnya.
"Kita tidak akan bisa keluar dengan mudah, Bos. Sangat ramai."
Mobil melaju melingkari gedung kantor. Daren menutup wajahnya dengan kacamata hitam. Dia bisa melihat dari balik kacamatanya, orang-orang berdesakan mengetuk jendela di sampingnya. Juan harus ekstra hati-hati agar tidak menabrak salah satu dari mereka.
Sebentar saja, Juan berhasil membawa mobilnya keluar dari area kicauan para reporter yang tidak berhenti memberi Daren pertanyaan maupun mengambil gambar. Daren agak lega setelah mobilnya berjalan lancar di jalan raya.
Daren menghela napas sambil menyugar rambutnya. Nora, dia lah yang membuat hidupnya berubah tak damai.
***
"Apa itu benar?" tanya Nancy saat Daren tiba di sepulang dari kantor. "Kau hamil dengan Nelan? Kau menghamilinya?!" teriak Nancy emosi.
"Daren, aku tidak menyangka," kata Micky dengan nada kecewa. "Kau menyembunyikannya dariku, kalau kau punya pacar dan ternyata kau meninggalkannya setelah dia hamil."
"Tidak," sela Daren. "Dia yang meninggalkanku. Apa yang kalian dengar dari video Nora tidak sepenuhnya benar. Nelan memang hamil anakku, dan anak kami meninggal sebelum lahir, tetapi aku masih bersamanya sampai kami di Dubai kemarin, Bu. Aku berusaha melindungi Nelan selama kehamilannya, bahkan sampai dia pulih dari masa kegugurannya."
"Kenapa? Kenapa kau harus melakukan itu? Bukankah sudah sejak dulu aku menyuruhmu untuk meninggalkan gadis miskin itu?" sahut Nancy kehilangan kesabaran.
"Kenapa kau tidak bicarakan itu kepada kami?" tuntut Micky.
"Karena ... karena aku tidak mau kalian tau kalau dia hamil sebelum kami menikah. Itu adalah sebuah kesalahan. Benar-benar kesalahan."
"Aku tidak peduli, aku kecewa padamu!" Micky meninggalkan ruangan itu. Menyisakan Nancy yang masih tak habis pikir dengan Daren. Banyak sekali kalimat kemarahan yang ingin lontarkan sampai dia tidak tau harus mengatakan apa.
"Kau sudah mencoreng nama baik keluarga, nama baik perusahaanmu, nama baik adikmu.
Kau bisa menebak apa yang akan terjadi dengan Micky?"
Paru-paru Daren terasa ingin meledak. Dia tidak pernah memikirkan tentang pengaruh masalah ini terhadap Micky sebelumnya.
__ADS_1
"Gadis itu, yang memposting videomu di internet, siapa namanya?"
"Nora," sahut Daren dingin.
"Aku akan memberitahukan kepada ayahmu. Dia akan mengambil keputusan." Nancy bangkit dari duduknya.
"Ibu!" cegah Daren. "Jangan tuntut Nora, aku mohon!"
Nancy menatap datar. "Kenapa? Kau mencintainya juga? Dan kau kasihan padanya? Coba lah pandang dunia lebih luas lagi, Daren. Dia tidak mencintaimu, kau tidak perlu kasihan padanya!" Lalu Nancy meninggalkan ruangan.
Daren menggeram marah. Menendang meja untuk melampiaskan kekesalannya.
***
Rasa takut Nora semakin menjadi-jadi ketika dia mendapat pesan dari Micky bahwa Micky dibully di kampusnya. Ini adalah kesalahannya, Nora siap menerima hukuman apa saja. Dia tidak membayangkan videonya akan tersebar sampai separah ini.
Bukan hanya satu kantor saja yang kini membencinya, melainkan juga keluarganya. Mungkin orang-orang sibuk memikirkan kebenaran dari pengakuan Nora, tetapi keluarga Nora sibuk memikirkan betapa cerobohnya Nora, apalagi bagi ayahnya yang sangat peduli dengan nama baik. Eza juga akan semarah itu jika ada seseorang yang berusaha mencoreng nama baiknya.
Nora benar-benar tak punya seseorang yang bisa ia mintai tolong. Hanya satu orang yang bisa Nora hubungi, dia adalah Micky, tetapi Micky masih bocah dan tak akan punya solusi untuknya.
Nora ingat dia punya sebuah nomor yang beberapa hari terakhir ingin sekali dia hubungi. Itu adalah nomor yang Isaiah berikan padanya.
Nora memasukkan nomor itu ke dalam ponsel, lantas mengirimkan pesan.
Nora : Apakah ini nomor Isaiah? Aku dalam masalah tolong aku
Isaiah : Apa yang terjadi?
Nora : Ini kesalahanku. Aku membuat Daren dalam masalah besar....
Nora mengetik seluruh cerita yang selama ini alami. Tentang betapa agresifnya Daren untuk memaksanya bertunangan. Termasuk ketidaksengajaannya memposting video berisi ungkapan perasaannya, dan juga kehilangan pekerjaan dari kantor.
__ADS_1
Isaiah hanya membalas dengan beberapa kalimat.
Isaiah : Minta maaf kepada Daren, itu satu-satunya solusi yang paling mudah kau lakukan.