CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Dekat


__ADS_3

Nora mengikuti usulan Isaiah untuk meminta maaf kepada Daren, Itu bukan ide yang buruk. Dia mengakui, semenjak nama Daren tercoreng karena ulahnya, rasa bencinya berubah menjadi rasa kasihan. Dia jadi sulit tidur karena memikirkan masalah itu.


Nora terus mengendarai mobilnya dengan laju sedang ke kantor Daren. Karena sudah tidak memiliki tugas atau pekerjaan, dia tidak mengenakan pakaian kerja dan tanda pengenal di dadanya. Dia mengenakan pakaian santai seperti orang biasa.


Pakaian Nora yang tidak mencolok, atau bahkan bisa dibilang dia mirip ibu-ibu yang sedang belanja di pasar, sama sekali tidak membuat para reporter sebayanya asing padanya. Dia tetap jadi sorotan, padahal sudah berusaha untuk datang di jam-jam santai.


Nora harus ekstra hati-hati memasuki area kantor Daren karan puluhan karyawan itu sudah menunggunya untuk keluar. Nora agak menyesal kenapa dia datang ke sini siang hari, alih-alih datang ke rumah Daren yang lebih aman.


Nora menghentikan mobilnya di samping mobil-mobil yang lain. Dia berhenti sejenak, tidak secara langsung melepas sabuk pengamannya. Dia tau para reporter yang sedang mengetuk jendela mobilnya itu akan langsung menyerbunya ketika dia terburu-buru.


Nora menarik napas dalam. Dia meraih ponselnya dan membuka pintu mobil. Dia sudah bersiap mendengarkan seluruh pertanyaan yang akan dilontarkan padanya.


"Apakah Anda Nora Febriana?"


"Anda punya hubungan dengan Daren?"


"Anda pasti punya pacar dan pacar Anda tidak terima, karena itulah Anda membuat video itu?"


"Bagaimana pendapat Anda tentang gadis bernama Nelan itu?"


Nora berusaha mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia berjalan menyebrangi parkiran untuk menjangkau pintu utama yang lebih aman. Entah cuma perasaannya atau justru nyata, pintu terasa semakin jauh meskipun Nora sudah mempercepat jalannya.


"Nora, beri pendapatmu tentang Daren secara jujur? Dia pria yang buruk dan memanfaatkanmu?"


"Kau sedang hamil anaknya?!"


Pertanyaan terakhir itu membuat Nora menoleh ke arah si penanya. Mendadak dia berhenti. Lancang sekali mereka menuduhnya seperti itu? Nora sadar ada banyak kamera mengintai ke arahnya, setiap gerak-geriknya maupun mimik wajahnya akan terekam dan viral begitu saja.


"Benar, kau hamil anaknya?" tanya salah satu reporter itu.


Nora menatap emosi. Dia tidak bisa menahan emosinya lagi. "Aku tidak hamil anaknya, Daren!" tegasnya.


"Lalu apakah Anda punya hubungan dengannya?"

__ADS_1


"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya," sahut Nora mulai mengabaikan mereka dan berjalan lagi. Dia sudah muak dan ingin sekali meneriaki mereka satu persatu untuk menjauh darinya.


Tiba-tiba seseorang menarik lengan Nora dari kerumunan. Nora yang sudah pasrah langsung menatap terkejut ke arah sosok itu. Dia menatap wajah si penolong, ternyata dia adalah Daren.


Sama seperti Nora, para reporter itu sama sekali tidak menyangka ada yang menarik Nora dari wilayah mereka.


Daren menarik Nora ke dalam pintu masuk. Para reporter yang terkejut setengah mati dan menganggap ini adalah kesempatan, langsung menyuruh kameramen mereka membidik situasi itu. Kebanyakan dari mereka tak bisa menangkapnya dengan jelas, tapi ada beberapa yang merasa cocok di publish sebagai sebuah artikel berita terkini.


Daren terus membawa Nora hingga sampai di ruangannya, barulah Daren melepaskan lengan Nora dan berdiri menjauh dari gadis itu. Menunggu apa yang ingin Nora inginkan setelah tak berangkat hampir tiga hari.


Nora menghela nafas lega. Bukan karena Daren menyelamatkannya, tapi karena dia akhirnya bisa keluar dari situasi tak nyaman itu.Nora berada dalam diam yang canggung selama hampir lima menit. Dia memberanikan diri menatap ke arah Daren.


"Aku datang ke sini untuk minta maaf," kata Nora pada akhirnya. "Saat itu aku cuma iseng buat video, aku tidak punya cara untuk menenangkan diri. Aku sangat marah padamu."


Daren tidak menjawab. Dia sedang melamun di kursinya sambil memikirkan apa yang baru saja dia lakukan? Menyelamatkan Nora? Orang yang sudah membuat beberapa perusahaan membatalkan kerjasama dengan perusahaannya gara-gara terpengaruh oleh video viral itu?


"Aku tau kau tidak akan memaafkanku karena masalah ini sangat besar sampai aku tidak bisa bertanggung jawab untuk mengembalikan ke keadaan semula, setidaknya aku sudah datang dan bicara baik-baik denganmu."


Daren akhirnya menatap ke arah Nora. "Seharusnya kau tidak melakukan ini," katanya dengan nada dalam dan penuh kekecewaan.


"A-aku ... aku tidak pernah tau ternyata video itu bisa tersebar ke media sosial."


Daren mengalihkan pandangan lagi. "Kau kehilangan pekerjaanmu? Iya, 'kan?"


Nora mengerling ke arah Daren. Matanya sudah berkaca-kaca. Dia mengangguk dan akhirnya air matanya jatuh. "Aku kehilangan semuanya, aku tau ini setimpal. Tidak ada yang percaya padaku kalau kau tak sengaja. Semuanya memang salahku." Nora kehilangan kendali.


"Aku percaya." Daren menatap tenang ke arah Nora.


Isakan Nora berhenti. Dia menatap ke arah sorotan mata Daren yang tampak teduh. "Terima kasih."


"Tetapi aku masih tak terima tentang pengakuanmu padahal kau sudah berjanji untuk tutup mulut tentang kisahku dengan Nelan kepada siapapun."


"Aku tau," sahut Nora terisak lagi. "Aku sudah mendapatkan hukuman lewat orang lain. Aku kehilangan pekerjaan, teman, dan juga kepercayaan, bahkan keluarga tak percaya padaku lagi. Seharusnya kau pun begitu, kau seharusnya menuntutku ke pengadilan agar aku dipenjara seumur hidup."

__ADS_1


"Aku belum memaafkanmu, tetapi aku cuma ingin bilang sebaiknya kau tenang!"


Nora mengerling ke arah Daren.


"Kau tidak sendirian, aku juga kehilangan seluruh kepercayaan dari orang-orang terdekatku."


Nora terisak lagi. "Itu semua karena salahku."


"Ya, salahmu. Tetapi semuanya sudah terjadi, tinggal mengembalikan keadaan menjadi seperti semula. Kalau kita bisa."


"Kau tidak mau menuntutku?" tanya Nora memastikan.


"Untuk apa aku menuntutmu?"


"Karena aku sudah membuatku kecewa."


"Aku sudah bilang, kalau aku menyukaimu. Tidak ada pria yang mau menuntut orang yang ia kasihi," sahut Daren agak mengalihkan pandangan.


Nora menatap tak percaya. Itu adalah pengakuan paling manis yang pernah dia dengar seandainya dia tidak berada di situasi seperti ini. Setelah sekian hal yang sudah Nora lakukan di hadapan Daren, pria itu tetap menaruh hati padanya.


Nora masih belum menemukan jawaban saat ponselnya yang ia pegang berdering nyaring. Nomor Isaiah dan fotonya terpampang lebar di layar. Nora buru-buru mematikan ponsel, tetapi Daren lebih dulu melihat siapa yang menghubunginya.


"Terima kasih sudah memaafkanku, aku harus kembali," kata Nora dengan ekspresi canggung. Dia berjalan keluar ruangan.


"Nora, tunggu!"


Nora menghentikan langkah untuk berbalik.


"Bagaimana kabar tunanganmu?"


Nora mengalihkan pandangan. Dia sedang berpikir kenapa Daren tiba-tiba menanyakan tunangannya? "Dia ... baik."


"Apa kau akan datang menemuinya?"

__ADS_1


"Ya," sahut Nora lalu keluar dari ruangan itu sebelum Daren meruntutkan pertanyaan menjadi lebih jauh.


Daren mengusap wajahnya sambil menghela napas frustasi. Tunangan Nora? Daren pikir dia sudah tau banyak tentang Nora, ternyata gadis itu masih penuh misteri. Dia tidak pernah dengar Nora dekat dengan laki-laki kecuali dia dan ... Isaiah.


__ADS_2