
"Bukankah sudah kukatakan dari dulu untuk tidak berhubungan dengan gadis sia_lan itu? Ini yang kau dapatkan setelah dua tahun bersamanya. Dia membahayakanmu. Dia mengkhianatimu!" seru seorang wanita berbibir tebal dan merah. Dia adalah Nancy, ibunya Daren yang pulang dari Spanyol hanya karena mendengar kabar bahwa anaknya dalam masalah di negeri orang lain.
Nancy cukup lega karena Daren masih bisa pulang dengan selamat meskipun wajahnya babak belur. Dia sempat mengancam Juan dan Doni untuk dipecat karena ketidakbecusan mereka menjaga Daren, tetapi Daren mengaku bahwa ini kesalahannya. Juan dan Doni seketika selamat dari ancaman Nancy.
"Mom, sudah! Jangan bentak Daren terus. Dia baru beberapa jam lalu kembali ke rumah." Micky berusaha membela abangnya yang masih terlihat lemas dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Aku harap kau tidak jadi seperti abangmu yang mudah diperdaya oleh lawan jenis."
Daren masih terdiam. Tak mau menjawab karena dia tau jawabannya akan jadi permulaan peperangan di rumah ini. Dia tidak mau Micky merasa tak nyaman.
"Karena ketidakbecusan ini, Daren, aku sudah siapkan calon istri untukmu. Dia gadis baik-baik karena aku sudah mengenalnya selama beberapa tahun terakhir," jelas Nancy membuat Daren mendongak tak percaya. Micky pun sama, dia tak menyangka ibunya akan bertindak senekat ini.
"Aku tidak mau kau salah pilih wanita lagi. Kau sudah dewasa, sudah saatnya menikah, tetapi kau masih belum bisa memilih mana wanita yang baik dan mana yang buruk. Jadi, aku akan membantumu. Namanya Alea, dia blasteran Spanyol dan Turki."
"Ibu ... kurasa aku butuh waktu untuk memutuskan."
"Tentu saja aku akan memberimu waktu untuk memutuskan perjodohan ini. Tetapi aku ingin di akhir nanti kau menjawab, ya. Kecuali kau bisa bawakan seorang gadis yang bisa dipercaya."
Daren menghela napas panjang.
***
Tidak seperti Daren yang dilanda masalah besar setelah kembali ke rumah, Nora justru bisa rebahan dengan tenang karena tidak ada satupun orang di keluarganya yang tau dia baru saja mengalami masalah.
Hanya Andin yang terlihat curiga Nora tak membawa ponsel padahal gadis itu tidak bisa sekali saja tidak mengecek ponsel tiap lima menit sekali. Andin tidak bertanya apa-apa, mungkin dia mengira ponsel Nora sedang kehilangan daya.
Setelah menghabiskan hampir dua jam tertidur di atas kasur, Nora bangkit menuju ke hadapan laptopnya. Ada sebagian kenangan yang masih tersisa di sana, tetapi sebagian yang belum tercadangkan ke internet telah hilang. Tidak ada yang bisa membuat Nora sesedih ini.
Nora menyesal dia tidak berusaha melawan seperti Daren. JIka saja dia bertindak untuk membantu Daren, mungkin dia akan berhasil mendapatkan ponselnya lagi. Kenangan-kenangan di sana lebih berharga daripada harta bendanya yang lain. Dia bersedia menukar apa saja asalkan kenangan-kenangan itu kembali.
Nora menghapus titik kecil di sudut matanya. Mendadak dia merasa sedih tanpa sebab yang jelas. Setiap kali matanya memanas dan berair, yang selalu ia ingat adalah beban-beban yang sedang dia pikul, nasibnya yang terlihat sangat menyedihkan daripada nasib orang lain, dan jangan lupa peristiwa-peristiwa yang baru saja dia alami.
Tok tok ...
__ADS_1
Andin muncul sebelum Nora membuka sendiri pintu ruangannya. "Ada panggilan dari Oki lewat telepon rumah. Dia mencarimu."
Nora mengerling dari atas tempat tidur. Berusaha menyembunyikan ekspresi sedihnya. "Katakan padanya aku sedang tidak ingin bicara."
Andin terdiam. Mencerna jawaban Nora barusan. "Kau baik-baik saja?"
Nora mengangguk. "Aku cuma kelelahan."
"Kupikir kau menyesal karena tidak membawakanku oleh-oleh dari Dubai."
Nora menggeleng. "Bagaimana aku bisa beli oleh-oleh kalau uangku ..." dia menghentikan kalimatnya sambil menutup mulut rapat-rapat.
"Kenapa?" Andin menautkan alis kebingungan.
"Lupakan. Aku cuma mau istirahat."
"Apa yang harus aku katakan kepada Oki? Dia sudah menelpon lewat telepon rumah hampir lima belas kali sejak semalam. Memangnya ponselmu rusak?"
Tidak, ponselnya tidak rusak. Tapi tidak berada di tangannya. Jadi, bagaimana dia bisa menjawab panggilan Oki tanpa ponsel itu?
"Lalu?"
"Tidak apa-apa. Aku cuma sedang malas bermain ponsel."
Jawaban Nora membuat Andin curiga. Dari sekian banyak alasan, kenapa Nora harus memilih alasan yang paling mustahil itu? "Kalau ada masalah, cerita saja padaku," pesan Andin membuat Nora menghela napas. "Aku ada di dalam kamar, sedang mengerjakan bahan ajaran. Aku selalu bersedia mendengarkan curhatanmu."
Nora mengalihkan pandangan. Menunggu Andin meninggalkan kamarnya dan menutup pintu agar dia benar-benar sendirian di ruangan ini.
Andin menutup pintu. Nora bisa rebahan sepuasnya sambil memikirkan kenangan-kenangan yang hilang itu. Matanya mengerjap beberapa saat. Rasa kantuk membuatnya tak sadar.
Baru beberapa menit lalu Andin menutup pintu ruangannya, kini pintu itu dibuka lagi oleh orang yang sama. "Nora!" seru Andin membuat Nora terlonjak kaget.
Nora segera bangkit dari duduknya karena nada panggilan Andin terdengar seperti sebuah peringatan. "Apa?" tanya Nora sambil menguap.
__ADS_1
"Ada yang mencarimu dari telepon rumah. Namanya Daren."
Rasa kantuk Nora seketika menghilang. Dia buru-buru bangkit dari duduknya. Untuk apa Daren mencarinya? Apakah laki-laki itu tau kalau dia ingin ambil cuti selama tiga hari secara diam-diam dan berniat untuk menegurnya?
Nora buru-buru berjalan ke arah ruang keluarga, tempat telepon rumahnya berada. Dia tidak ingin ada anggota keluarga lain yang menjawab panggilan Daren.
Andin menatap terheran dari tempatnya berdiri. Tidak bisanya Nora terlihat seantusias itu dalam menerima telepon. Belum lagi, itu adalah telepon dari seorang pria.
Andin berdoa agar orang tuanya tau tentang Daren atau mereka akan segera menjodohkan Nora dengan laki-laki tak dikenal karena tak mau putri mereka menikah dengan pilihan putri mereka sendiri.
Nora menarik telepon ke telinganya. "Halo!" sapanya.
Terdengar helaan napas dari ujung telepon. "Bisakah kau kemari?"
Nora mengerling kebingungan. "Hah? Ke kantor?"
"Bukan. Ke rumahku."
"Untuk apa?" Nora menaikkan sebelah alisnya.
"Datang saja kemari."
"Kenapa aku harus datang? Beri aku alasan!"
Daren terdiam beberapa saat. Nora sampai mengira panggilan mereka terputus. "Micky membutuhkanmu."
Nora langsung teringat gadis bergingsul adik Daren yang pernah menyuruhnya jadi model itu. "B-baiklah, aku akan bersiap." Dia tidak bisa menolak jika ada kaitannya dengan Micky.
Nora meletakkan telepon di tempatnya semula.
Mungkin inilah saatnya dia keluar rumah setelah menghabiskan waktu berjam-jam rebahan di kamar. Dia sudah membuat rencana, sebelum pergi ke rumah Daren, dia ingin mampir ke rumah sakit terlebih dahulu. Barulah dia bisa menjalani aktivitas dengan tenang.
Nora masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang Micky inginkan darinya.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Andin saat Nora keluar kamar dan mereka bertemu di koridor.
"Ke rumah sakit," sahut Nora membuat Andin tak bisa mencegahnya.