
Nora menghabiskan waktu di rumahnya sembari menunggu meeting dimulai pada jam tujuh malam ini. Namun dia ketiduran dari jam enam sore dan sangat menyesal bangun pada setengah delapan. Ponselnya sudah penuh dengan panggilan dari sang bos. Satu kantor pasti akan segera memarahinya karena telat.
Nora langsung bersiap. Dia memakai pakaian hangat dan keluar seraya membawa tas kecil berisi uang, data diri, dan ponselnya.
Rumahnya sangat hening, tanpa ada satupun suara. Bahkan dari ruang keluarga sekalipun. Tentu saja ada alasannya, setelah kemarin mempelai pria datang ke rumah ini untuk melamar Andin. Sekarang giliran keluarganya yang datang ke rumah mempelai pria untuk diperkenalkan dengan anggota keluarga di sana.
Tentu saja Nora tidak pernah diajak dan dia bersyukur karena hal itu. Nora adalah anggota keluarga yang paling sibuk dengan dunianya sendiri.
Nora mengendarai mobilnya di bawah cahaya bulan temaram. Pergi ke kantor di malam hari sudah menjadi kebiasaanya sebagai vlogger kebanggaan bosnya di kantor. Dia sering lembur bersama teman-temannya untuk mengerjakan artikel atau pun mencari referensi bulanan.
Malam ini, entah topik apa yang akan Indah diskusikan bersama dengan dua puluh karyawan unggul di kantor. Tentu saja, Oki dan Nora dalam kategori dua puluh karyawan unggul itu.
Sesampainya di kantor, Nora melihat ada lebih dari sepuluh mobil terparkir di parkiran. Kantor lebih ramai daripada malam-malam sebelumnya. Dia berlarian ke ruang meeting di lantai satu.
Pintu ruangannya ditutup rapat. Nora berdoa dalam hati agar tidak dihukum Indah setelah dia ketahuan terlambat. Sambil menguatkan diri, dia mendorong pintu hingga terbuka.
Seluruh perhatian orang-orang yang duduk di meja memanjang teralihkan ke arahnya. Indah yang duduk di kursi paling ujung tersenyum. Kenan menghentikan penjelasannya meskipun dia sudah berdiri di depan para karyawan sambil menunjuk-nunjuk layar monitor.
"M-maaf," kata Nora sambil menahan mulutnya untuk tidak menguap.
Nora duduk di samping Oki yang sibuk memperhatikan penjelasan Kenan sampai tak menyadari kedatangan Nora.
"Oke, karena Nora sudah datang, sebaiknya aku gantikan Kenan sekarang untuk mengatakan apa tujuanku di meeting malam ini," kata Indah sambil bangkit berdiri hingga mencuri perhatian semua orang.
Nora menatap heran. Jadi, meeting ini belum secara resmi dimulai, pikirnya sambil menatap sekeliling.
"Jadi, aku sudah memikirkan matang-matang tentang rencana ini. Cara ini bukan hanya akan membuat penonton kita membludak, aku akan pastikan kita akan mengalami sukses besar," jelas Indah dengan nada menggebu-gebu.
__ADS_1
"Maksudmu apa, Bos?" tanya Oki kebingungan.
"Kita akan membuat sebuah biografi."
"Tidak," protes Oki. "Aku tidak mau meliput kehidupan laki-laki tua penderita penyakit pernapasan seperti tiga bulan yang lalu."
"Bisakah kau dengarkan penjelasannya dulu," sela Nora sambil mendorong pelan bahu Oki, membuat pemiliknya menghela napas.
"Program kesehatan kita telah selesai dan inilah saatnya kita meloncat ke bidang lain. Aku sudah siapkan seorang yang setuju dengan rencanaku ini. Maksudku, narasumbernya sudah setuju bahwa salah satu kandidat dari perusahaan kita akan meliput kehidupannya selama lima belas hari berturut-turut," jelas Indah.
"Orang yang akan kita liput adalah Darena Mahendra, si CEO muda misterius yang jadi idola banyak orang. Tidak banyak yang tau tentang kehidupan aslinya. Kita adalah satu-satunya perusahaan entertainment yang berhasil mendapatkan izin untuk meliput kehidupannya. Jadi, untuk apa menyia-nyiakan kesempatan itu. Jangan lupa, semua orang sangat ingin tau tentang kehidupan Daren. Kita mungkin bukan hanya akan memperbaiki jumlah penonton seperti sedia kala, tapi juga melampauinya,” jelas Indah membuat beberapa karyawan terperangah.
“Dan untuk tugas ini, aku akan berikan sepenuhnya kepada orang yang sudah mendapatkan izin dari Daren. Nora … kuharap kau siap untuk menghandle tugas ini."
"Apa?!" pekik Nora tak menyangka. Dia bahkan masih perlu mencerna kalimat-kalimat Indah sebelumnya agar bisa diproses otaknya dengan cepat. Nora masih mengantuk berat dan dia tidak bisa fokus dengan mudah.
"Aku?! Kenapa aku?" protesnya.
"Ya, kau. Oke meeting selesai. Silahkan kembali ke rumah masing-masing!" kata Indah lalu mematikan layar monitor begitu saja.
Nora masih perlu mencerna kejadian di sekelilingnya yang terjadi secara tiba-tiba. Semua orang tiba-tiba bangkit dari kursi mereka, lalu keluar tanpa sedikitpun rasa heran karena meeting yang ditutup begitu saja.
Bahkan Oki pun sama normalnya seperti orang lain. Nora kehilangan kesabaran. Dia menemui Indah. "Bos, apa-apaan ini?"
"Kenapa?" sahut Indah seolah tak mengerti maksud Nora.
"Kau menyuruhku meliput kehidupan pria menyebalkan itu? Kenapa aku?"
__ADS_1
"Karena kau satu-satunya gadis yang bisa dekat dengannya?"
"Aku tidak punya hubungan dengannya," desak Nora.
"Kalau begitu, kau akan segera punya hubungan dengannya."
Nora merengek. "Tidak, Bos. Tolonglah. Kenapa harus aku?"
Indah mengemasi seluruh barang-barangnya untuk bersiap keluar dari sana.
"Bos, Oki punya pengaruh lebih baik daripada aku. Berikan saja tugas ini padanya," kata Nora sambil mengiringi langkah Indah yang sedang menuju keluar ruangan. "Kau harus mempertimbangkan dengan penilaian baruku di restoran Daisy yang membuat perusahaan ini kehilangan reputasi. Kau tidak berharap aku melakukan hal yang sama di perusahaan milik Daren kan, Bos?"
Indah menyelinap di ambang pintu agar bisa menghentikan Indah keluar.
"Aku bisa saja menilai secara objektif dan membuat ulasan yang bisa membuat citra kantor ini semakin buruk jika aku mau," ancam Nora membuat Indah akhirnya mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Kau harus tau satu hal, Nak," kata Indah dengan nada seorang ibu yang sedang menasehati anak kecil. "Seharusnya kau bersyukur mendapatkan tugas terhormat seperti ini. Aku bisa saja turun tangan sendiri untuk menggantikanmu, dan orang-orang di luar sana ingin sekali berada di posisimu. Kau tau kan kenapa mereka tidak menyapamu di akhir meeting tadi? Karena mereka iri padamu. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merebut posisimu karena Daren tidak akan menerima vlogger sembarangan. Dia hanya menerimamu!"
"Apa?!" pekik Nora heran.
"Kau pikir kenapa kehidupan Daren hingga sekarang masih jadi misteri? Karena tidak ada yang peduli? Kau salah. Ada ribuan orang di luar sana kagum dengan Daren dan ingin tau lebih banyak tentang Daren. Tidak ada wartawan yang punya kesempatan untuk bisa meliput kehidupannya, dan kau mendapatkan kesempatan itu," jelas Indah menggebu-gebu. "Ketika aku menelpon Daren untuk menawarkan proyek ini, dia terdengar tidak suka. Tapi ketika aku menyebut namamu sebagai orang yang akan meliput kehidupannya, dia langsung menyetujuinya."
Nora kehabisan kata-kata.
"Dengar, dari sekian banyak wartawan di dunia ini. Baik wanita ataupun pria, kenapa kau? Bisakah kau jelaskan betapa beruntungnya dirimu? Dan kau berusaha untuk menolak pekerjaan satu-satunya di dunia ini? Kenapa?"
Nora agak menunduk. Pertama, dia ingin bilang kalau dia sudah muak dengan wajah Daren yang arogan. Kedua, dia tidak ingin berlama-lama dengan laki-laki itu atau hidupnya akan kacau setiap saat. Ketiga, karena dia malas bekerja jika dia tidak akan digaji selama tiga bulan ke depan.
__ADS_1
"Tenang saja, kau akan dapat gaji tiga kali lipat dan cuti sebanyak apapun yang kau mau," jelas Indah sambil meninggalkan Nora yang kehabisan kata-kata. Tetap saja, Nora tidak setuju dengan proyek ini.