CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Sempurna


__ADS_3

Nora keluar dari ruang ganti sambil menjinjing kain yang menjuntai di bawah kakinya. Dia sudah mengenakan gaun berwarna biru mirip baju pernikahan ini. Bedanya, dia tidak memakai renda di belakang kepala.


Micky segera membantu Nora keluar dari sana. Gadis berusia sembilan belas tahun itu menatap takjub saat Nora berdiri di tengah-tengah lantai sambil merentangkan tangannya. "Luar biasa," kata Micky sambil menatap terharu.


"Baju ini cantik, aku mengakuinya. Tapi lebih cantik saat kau memakainya."


Nora tersipu. Padahal dia agak risih juga memakai pakaian glamour seperti ini.


Micky meloncat-loncat kegirangan. "Aku akan dapat nilai paling bagus karena punya model sesempurna dirimu."


"Hentikan, Micky. Jangan puji aku terus!" pesan Nora yang agak tak percaya Micky adalah adik seorang laki-laki dingin dan sombong macam Daren.


"Aku akan panggilkan pacarku, Oliver. Dia yang akan memotretmu di layar hijau."


"Aku akan difoto?"


"Ya, kalau beruntung, fotomu bisa dipajang di cover majalah terkenal dan kau akan populer."


Nora tertawa. "Ah, terima kasih tawarannya. Tapi orang-orang sudah lebih dulu mengenalku lewat vlog-vlogku."


"Apa kau juga akan mewawancaraiku bagaimana cara membuat gaun ini? Aku merancangnya saat aku berusia sembilan tahun dan baru terealisasikan sepuluh tahun kemudian."


Nora mengangguk antusias. "Itu topik yang bagus. Sayangnya, aku tidak bawa kamera dan ponselku sedang kehabisan daya, aku tidak melakukan vlog sekarang."


Micky mengedikkan bahu tak peduli. "Yang penting, kita lalui sesi pemotretan dulu. Oliver sedang belajar di kamarku. Tunggu sebentar, ya!" kata Micky lalu menghilang melalui ambang pintu.


Senyum di bibir Nora menciut setelah Micky menghilang dari pandangannya. Akhirnya dia bisa memperlihatkan ekspresi aslinya yang risih dan merasa tak nyaman dengan pakaian ini. Bagian atasnya agak terbuka, lehernya kedinginan, apalagi temperatur di ruangan ini disetel di bawah dua puluh derajat. Bagian bawahnya juga berat. Nora yakin dia akan tersandung-sandung jika mencoba berjalan dengan gaun itu.


Meski begitu, Nora mengakui kehebatan Micky lewat rancangan gaun-gaunnya yang tak kalah dengan rancangan para desainer profesional. Pakaian-pakaian yang sudah jadi itu dimasukkan ke dalam lemari kaca yang diterangi lampu dari dalam.


Nora merasa seolah dia berada di dalam museum baju era victoria.


Beberapa saat kemudian, Vicky muncul bersama bocah laki-laki berambut kecoklatan. Nora yakin bocah itu bernama Oliver, dia membawa kamera yang menggantung di depan dadanya.

__ADS_1


Oliver memperhatikan penampilan Nora dari atas hingga bawah dan menatap takjub. "Dari mana kau dapat model ini?" bisiknya ke arah Micky.


"Aku dapat dari abangku," sahut Micky, sama-sama berbisik.


"Aku tidak tau abangmu punya pacar."


"Sshhh!" desis Micky kehilangan kesabaran. Dia mendekat ke arah Nora dan tersenyum ramah seperti tadi. "Aku akan membantumu berjalan ke ruang fotografi." Dia menarik ujung gaun di bawah kaki Nora. Mengangkatnya hingga bergantung di atas lantai.


Nora mengangguk setuju. "Baiklah. Ayo, segera selesaikan!"


Mereka berjalan ke arah dua ruangan dari ruangan sebelumnya. Dia adalah sebuah ruangan lapang dan kosong. Hanya ada dua kursi di pojok ruangan, layar hijau di ujung dinding, dan tripod beserta lampu sorot berbagai ukuran di atas lantai.


"Tunggu sebentar!" kata Micky membuat Nora menghentikan langkah dan menoleh. "Aku akan perbaiki penampilanmu dan riasanmu sebentar. Boleh, 'kan?"


"Ya," sahut Nora enteng.


Micky meraih tas make upnya. Memperbaiki beberapa bagian wajah Nora yang terlihat cemong karena terkena gesekan baju. Micky juga memperbaiki posisi rambut Nora yang tergerai di belakang punggung hingga mengekspos leher jenjangnya.


"Sempurna!" puji Oliver dan Micky bersama-sama.


Nora berjalan hati-hati menuju layar hijau yang digelar di ujung dinding. Oliver meraih tripod untuk menyiapkan kamera. Sedangkan Micky mengatur posisi yang tepat agar hasilnya lebih maksimal.


"Bagaimana postur aslimu?" tanya Micky.


Nora berdiri tegak. "Seperti ini?"


"Eh, agak geserkan tanganmu sedikit. Aku tau kau bisa lenturkan jari-jarimu."


"Maksudmu begini?" Nora memperlihatkan posisi paling buruk yang pernah ia buat selama hidupnya.


"Tidak," sahut Micky. "Itu terlalu dramatis."


"Aku lihat gambar-gambar majalah, dan mereka memang sering berfoto dalam postur seperti ini," jelas Nora agar menyombongkan posisinya yang bekerja di dunia entertainment.

__ADS_1


"Ya, tapi itu adalah posisi natural mereka. Posisi naturalmu berbeda dengan mereka. Gunakan saja posisi naturalmu, itu akan lebih menambah daya tarik."


Nora mengedikkan bahu. Dia berdiri tegak seperti di awal posisinya. Tangannya agak membengkok di samping. Kedua matanya menatap tajam ke arah layar dengan bibir tersenyum.


"Baik," kata Micky sambil menjauhi layar hijau untuk menuju ke samping Oliver. "Maju sedikit lagi, Oliver. Kita tidak akan dapat detail bajunya kalau terlalu jauh."


Oliver mendekatkan kameranya ke layar hijau. "Seperti ini?" tanya Oliver kebingungan.


"Maju sedikit lagi."


Oliver menggeram. "Seperti ini? Aku bukan mahasiswa jurnalistik, jangan salahkan aku kalau hasilnya jelek."


"Stop!" cegah Nora untuk menghindari perdebatan dua bocah di depannya. Dia berjalan ke arah kamera untuk mencari tau seburuk apa sudut pandang yang diambil Oliver.


"Ini cukup bagus, kau cuma perlu ..." Nora melakukan pengaturan rumit di kamera itu. Bahkan menyuruh Micky untuk menggantikannya sementara berdiri di depan layar hijau untuk mencari sudut pandang yang tepat.


Setelah hampir lima menit menggeser-geser kamera dan mengaturnya, akhirnya Nora tersenyum puas. "Ini sempurna. Ayo lakukan!" katanya membuat Micky dan Oliver saling menatap takjub.


Acara potret memotret itu berjalan dengan lancar. Nora beberapa kali membuat Oliver dan Micky kagum.


Foto demi foto tersimpan. Di akhir acara, mereka bertiga bertepuk tangan untuk mengapresiasi pekerjaan yang telah mereka selesaikan.


Nora yang sudah tidak tahan memakai gaun, akhirnya merengek ke arah Micky. "Bisakah kau bantu aku melepasnya?"


Micky tertawa. Menyuruh Oliver keluar dari ruangan desain. Bocah laki-laki itu kembali ke kamar Micky untuk belajar karena seluruh pekerjaannya telah selesai.


"Terima kasih, Oliver!" seru Micky mendapatkan kedipan sebelah mata dari Oliver.


Micky membantu Nora melepas resleting di bagian punggung. Setelah itu, Nora mengganti bajunya sendiri di ruang ganti. Sesaat kemudian, dia keluar dengan tampilan yang sama seperti ketika dia baru masuk ke rumah ini.


"Aku sudah siapkan cemilan di kolam renang, mau ngobrol denganku?" tanya Micky.


Sebenarnya, Nora ingin menolak karena dia khawatir bosnya tau dia kabur dari kantor. Semakin lama dia pergi, semakin besar hukuman yang akan ia terima.

__ADS_1


Namun saat mengingat dia tidak akan gaji selama tiga bulan, akhirnya dia menerima tawaran Micky untuk menghabiskan waktu di kolam renang rumah ini.


__ADS_2