
Nora sampai di kantor Daren setelah melakukan perjalanan menyebalkan dari kantornya. Dia sempat berpikir Indah dan Oki akan menyambutnya dengan senang bukan karena kedekatannya dengan Daren, melainkan untuk menghargai kerja kerasnya, bisa bertahan bersama dengan pria menyebalkan selama seminggu.
Nora masuk ke ruangan Daren. Dia sempat mengira Daren sedang berkutat dengan komputer seperti biasa, tapi ternyata pria itu sedang menatap ke arah layar ponsel, berhadapan dengan seorang gadis.
Begitu melihat Nora masuk, Daren langsung mematikan panggilan video dan berakting seolah tak terjadi apa-apa. Tubuhnya menghadap ke arah layar komputer.
Nora yang masih memproses kejadian singkat itu dalam otaknya hanya bisa bengong-bengong tak jelas. Lalu dia memutuskan untuk duduk di kursinya agar tidak dicurigai.
Nora mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya. Kedua bola matanya masih sesekali melirik ke arah Daren. Dia langsung teringat dengan nomor bernama Nelan yang mengirimi Daren pesan. Masih jadi misteri, siapa gadis bernama Nelan itu.
Kalau tidak salah, Micky pernah bilang kalau Daren mungkin saja punya hubungan dengan seorang gadis. Pantas saja, semua orang tau bahwa Daren tak tersentuh oleh satupun gadis di dunia ini. Nora tau meskipun pria itu punya hubungan, Daren sangat pandai menyembunyikannya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Daren saat Nora tak sengaja menatap lebih dari dua menit ke arahnya.
Nora mengerjapkan mata lalu mengalihkan pandangan. "Aku sedang tidak menatap ke arahmu, tapi ke kursimu yang terlihat baru itu."
Daren menoleh ke belakang, tempat kursi yang sedang dia duduki. Masuk akal, pikirnya. Kursi ini memang baru diganti tadi pagi. Nora sangat pandai mengalihkan topik pembicaraan.
"Bagaimana? Kau sudah dapat izin dari keluargamu?"
"Ya."
"Dari kantormu?"
"Aku sudah dapatkan semua izin dari mereka."
Daren menghela napas. "Bagus. Aku sudah mengurus semua keperluan ke luar negeri."
Nora tidak mengerti kenapa Daren terlihat sebahagia ini mendengarnya diizinkan pergi. Dia teringat akan teorinya, bahwa Daren mungkin menyukainya dan tidak ingin jauh darinya. Namun sekali lagi dia menyangkal hal itu, dia tidak mau jatuh cinta dengan Daren, menghabiskan sisa hidupnya dengan pria kaku seperti Daren.
***
Daren memeriksa arloji di tangannya. Ini sudah jam sembilan. Pesawat akan berangkat jam sepuluh, tapi Nora masih belum terlihat di manapun. Juan dan Doni masih berusaha menghubungi gadis itu, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
"Bagaimana kalau ternyata dia tidak jadi datang?" gerutu Daren ke arah dua penjaganya.
"Perlu kujemput, bos?" tanya Doni.
Daren menggeleng. "Tidak perlu. Dia akan datang sendiri."
Daren menggunakan ponselnya sendiri untuk memanggil nomor Nora. Bahkan hingga panggilan ke delapan, tetap tak ada jawaban. Dia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu. Mungkin ia harus bersabar selama beberapa menit ke depan.
"Bos, dia bilang sedang di rumah sakit dan akan segera ke bandara beberapa menit lagi," kata Juan membuat Daren mengalihkan perhatian ke arahnya.
"Di rumah sakit?" Daren mengerling kebingungan. Dia tidak sempat bertanya saat melihat Nora di rumah sakit beberapa saat yang lalu. Sampai sekarang, dia masih bertanya-tanya apa yang gadis itu lakukan di sana.
Nora terlihat sehat dan baik-baik saja. Daren berusaha berpikir positif, mungkin saja Nora hanya melakukan beberapa konsultasi seperti yang dilakukan Micky.
"Katakan padanya, lima belas menit lagi sudah terlambat," pesan Daren kepada Juan yang segera membalas pesan Nora.
Beberapa saat kemudian, Juan mengalihkan pandangan ke arah Daren lagi. "Dia bilang, tidak masalah karena ini adalah urusannya."
Daren benar-benar kehilangan kesabaran. Nora kadang lebih tak bisa diprediksi daripada fluktuasi saham perusahaannya.
Juan mengangguk setuju. Dia langsung bergegas menuju ke mobil.
Nora berlarian keluar rumah sakit setelah mendapatkan pesan dari Juan bahwa dia sudah dijemput. Dia agak kesal karena dipaksa meninggalkan rumah sakit padahal dia masih butuh waktu lebih lama di sana.
"Seharusnya kau jemput aku pukul setengah sepuluh," kata Nora sambil mendudukkan tubuhnya di kursi belakang mobil.
"Bos sudah marah gara-gara ketidak jelasanmu," sahut Juan membuat Nora mengangkat sebelah alisnya.
"Ternyata bukan bosmu saja yang menyebalkan, bodyguardnya juga."
Juan menatap datar lewat kaca spion. "Memangnya kau pernah punya orang menyenangkan dalam hidupmu? Bukankah kau selalu bersikap sinis kepada semua orang?"
Nora merasa tersindir. Dia tidak menyangka kalimat Juan bertindak seperti panah yang melesat dan tepat sasaran. Nora terdiam di tengah perjalanan karena kesal dengan perkataan Juan.
__ADS_1
***
Nora bahagia akhirnya mereka sampai di bandara. Sudah lama dia ingin berpisah sejauh mungkin dengan Juan. Dia masih kepikiran dengan kalimat yang Juan berikan. Selama ini dia tidak pernah merasa nyaman kepada siapapun bukan karena orang-orang yang menyebalkan, melainkan karena Nora tidak pernah berusaha menghormati mereka sebagaimana mestinya.
Overthinking Nora tentang sikap pribadinya itu berhenti di sana. Dia lebih terkejut melihat Daren sedang bicara akrab dengan seorang gadis. Mereka berdua duduk berjejeran.
Nora menelan ludah. Dia bukannya cemburu, tapi merasa aneh dengan pemandangan itu.
Nora kembali melanjutkan langkah. Agak ragu-ragu mendekat ke arah Daren dan gadis tak dikenal itu.
Melihat kedatangan Nora, Daren bangkit dari duduknya. Gadis di sampingnya langsung menghentikan kalimat dan ikut bangkit sambil menatap sekujur tubuh Nora dengan tatapan datar.
"Kau telat hampir sepuluh menit," kalimat pertama Daren saat Nora berhenti di depannya.
"Maaf," kata Nora. Agak melirik ke arah gadis di samping Daren.
Gadis itu mengulurkan tangan sambil membengkokkan bibirnya ke atas. "Aku Nelan ..."
"Dia temanku," sela Daren bahkan sebelum Nelan menyelesaikan kalimatnya.
Nora menatap terpaku. Untuk menghargai Nelan, dia menerima jabatan tangan itu. "Nora. Senang bertemu denganmu."
"Aku tidak tau kalau Daren punya asisten pribadi."
"Aku bukan asisten pribadinya, aku cuma sedang menjalankan tugas dari kantor untuk meliput kesehariannya."
Nelan mengangguk mengerti. "Sepertinya aku pernah melihatmu. Kau yang muncul di penilaian restoran Daisy, 'kan? Restoran itu jadi viral gara-gara ulasan burukmu."
"Ah, ya. Itu adalah ulasanku. Aku selalu jujur dengan apa yang aku alami. Itu adalah sumpah seorang vlogger."
Nelan agak mengulum senyum melihat kesinisan Nora. Dia berakhir terdiam. Menunggu Daren mengambil alih untuk bicara.
"Sebaiknya kita lanjutkan obrolan nanti karena pesawat akan berangkat sebentar lagi. Juan, bawa barang-barangku!" perintahnya lalu mendahului sekian orang itu berjalan ke dalam area bandara.
__ADS_1
Nora sengaja berjalan paling akhir. Dia curiga Daren dan Nelan punya hubungan. Dia ingat dengan jelas dalam otaknya, Nelan adalah nama gadis yang pernah memberi Daren pesan. Nora juga sangat yakin gadis yang kemarin saling video call dengan Daren di kantor adalah Nelan. Mereka pasti punya hubungan spesial.