
Nora menunggu cukup lama sampai dia khawatir Daren dan Nelan meninggalkannya sendiri di sini. Dia kehilangan kesabaran dan akhirnya memutuskan untuk bergabung ke dalam kerumunan, memastikan apakah mereka masih berada di sana atau justru sudah pergi.
Nora melihatnya, jaket hitam Daren terlihat tidak mencolok, tetapi baju hijau Nelan membuat mereka jadi perhatian beberapa orang. Nora lega mereka tidak meninggalkannya, tetapi dia juga agak penasaran apa yang sedang Nelan lakukan kepada Daren yang sudah sama tak sadarnya seperti dirinya, atau bahkan lebih tak sadar lagi dari Nelan.
Nelan mendorong Daren keluar dari kerumunan.
"Nelan, stop!" kata Daren sambil menahan lengan Nelan yang sedang menyentuh bahunya. "Ini sudah malam, kita harus pulang."
"Tidak, aku mau bersamamu malam ini. Kita akan di sini sampai puas."
"Nelan ..." Nelan lebih dulu mencium Daren. Nora buru-buru mengalihkan pandangan, pua-pura tidak lihat. Lebih baik dia melihat pasangan lain yang ciuman daripada mereka berdua, rasanya agak ... sakit.
Nora tau Nelan dan Daren pasti sudah sampai di ruangan lain karena saat dia menoleh ke belakang, kedua orang itu tidak terlihat di manapun. Nora melangkah keluar kerumunan, ingin kembali ke tempat sepi lagi agar terhindar dari sentuhan orang-orang.
"Orang Asia!" seru salah satu laki-laki bermata sipit membuat Nora agak terlonjak. "Untuk apa datang ke sini?"
Nora menautkan keningnya. "Aneh!" umpatnya lalu meninggalkan laki-laki berwajah tirus itu.
"Hay, aku Dhani!" dia berusaha mengejar Nora. "Mau cari minuman? Aku tau yang disukai orang-orang Asia."
Nora menghela napas dan menggeleng tenang. "Aku tidak minum."
"Lalu, kenapa kau datang ke sini? Oh ..." dia mengangguk panjang. "Kau pasti mau mencari pasangan."
"Tidak."
"Aku melihatmu menonton orang ciuman tadi. Kau suka dengan laki-laki itu?"
Nora membelalak. "Tidak," serunya tak terima.
"Aku tau bagaimana sorotan mata penuh cinta. Kau tau, mata punya lebih banyak kata daripada yang mulutmu bisa keluarkan!" Lalu dia melanjutkan dansanya di kerumunan dan mengabaikan Nora sendirian.
"Orang-orang di sini sangat aneh," bisik Nora. Dia sudah memutuskan untuk mencari jalan keluar dari tempat ini. Niatnya untuk keluar dari hotel adalah mencari ketenangan, bukannya tambah stress.
Nora melihat beberapa orang berjalan membawa tas dan peralatan mereka. Nora pikir jika dia mengikuti orang-orang itu, dia akan bisa langsung keluar.
__ADS_1
Bukannya sampai di pintu keluar, justru Nora sampai di tempat sebuah lorong di mana terdapat puluhan pintu berjejeran. Ini adalah ruangan privat, Nora tidak seharusnya datang ke tempat ini. Dia membalikkan badan untuk mencari arah lain, tetapi saat itu punggungnya ditabrak oleh seseorang.
Nora menoleh ke belakang, dia membelalak melihat Daren lah yang menabrak punggungnya.
"Maaf," kata Daren sambil menahan kedua bahu Nora yang nyaris terjatuh karena tabrakannya.
Nora menahan tubuh Daren yang nyaris terjatuh. Pria itu sempoyongan dan tak bisa melihat jalan dengan jelas. "Daren ... lihat aku!" perintah Nora berusaha membangkitkan kesadaran Daren.
"Aku mencari Nelan, dia tidak terlihat di mana-mana."
Nora mengerling. Bukannya tadi mereka bersama?
"Aku melihatnya di ruangan ini tadi, tapi dia tidak ada di sana." Daren menunjuk salah satu pintu yang agak terbuka.
Nora menjeblak pintu untuk memastikan apakah perhatian Daren benar. Tetapi yang dia lihat benar-benar diluar dugaan. Pantas saja Daren tidak melihat Nelan, orang Nelan sedang dihimpit oleh seorang laki-laki di tembok.
Nora menutup pintu ruangan itu dan menelan ludah. "Eh ... ya, dia tidak ada di sana," katanya dengan nada ragu. Ada untungnya juga Daren mabuk, pandangannya jadi tak jelas dan dia tidak akan cemburu karena melihat Nelan sedang berciuman dengan laki-laki lain.
Atas bantuan Daren, Nora akhirnya bisa merasakan udara segar lagi. Mereka berhasil keluar dari bar dan berdiri di pintunya yang terlihat kecil seperti perkiraan Nora saat dia pertama kali melihatnya.
"Hey ... kau bisa jalan?!" Nora berusaha mengguncangkan tubuh Daren. "Aku terpaksa akan menyeretmu! Juan dan Doni tidak ada di sini."
Daren sama sekali tidak mendengarkan Nora.
"Oke, aku minta maaf kalau nanti aku kubur kau di dalam pasir karena sudah tahan menahan tubuhmu yang berat ini," gerutu Nora lalu berjalan hati-hati menuju ke arah hotel.
Untung saja Dasih masih lancar dalam berjalan. Meskipun Nora harus menahan pinggang pria itu maupun menyeimbangan tubuh mereka agar tidak jatuh. Butuh waktu sekitar lima belas menit sampai di hotel, padahal mereka bisa menempuhnya dalam waktu lima menit dengan langkah normal.
Nora sampai di kamar DAren dan melempar tubuh cowok itu ke atas tempat tidur. Dia tersenyum puas karena misinya akhirnya berjalan dengan lancar. "Selamat tidur!" katanya sambil menepuk kedua telapak tangan seolah ada debu berterbangan dari sana.
Nora berbalik untuk kembali.
"Hey!" seru Daren membuat Nora menoleh. "Terima kasih!"
"Tidak masalah," sahut Nora santai.
__ADS_1
"Kau tidak menemukan Nelan? Aku sudah muak bersamanya ... bisakah kau bilang padanya kalau aku ingin sekali meninggalkannya?!"
Nora menautkan alis. Dia tau itu hanyalah racauan Daren karena sedang tak sadarkan diri.
"Aku serius, kau harus membantuku!" seru Daren sambil bangkit dari tidurnya untuk duduk.
Nora menoleh ke arah Daren, laki-laki itu menatap lurus ke arahnya seolah dia sedang tidak mabuk.
"B-bagaimana caranya? Bagaimana aku membantumu?"
Daren bangkit dari atas tempat tidur untuk mendekati Nora.
Nora mundur dan meraih pintu yang masih terbuka. Takut Daren macam-macam padanya.
"Aku tidak akan menyentuhmu, cuma mau memberitahumu!" kata Daren dengan nada meracau.
"Apa?" tanya Nora waspada.
"Kalau aku ... terpaksa bersama Nelan."
"Aku tau."
"Dari mana kau tau?" Daren mengangkat salah satu alisnya.
Nora lebih dulu memperhatikan bibir Daren yang tersenyum misterius. Otaknya langsung dipenuhi pikiran negatif. "Eh ... kau tau? Sebaiknya, aku kembali ke ruanganku karena ... karena aku butuh istirahat."
Nora keluar dari ruangan Daren dengan langkah terburu-buru. Dia merasa beruntung berhasil keluar dari kandang singa dan berharap tidak akan berada di situasi itu lagi untuk selamanya.
"Nora!" Daren menyusul Nora dan menarik tangannya untuk menghentikan gadis itu.
Ternyata perkiraan Nora salah, dia masih belum sepenuhnya berhasil kabur. "Daren ..."
Daren menyatukan kedua bibir mereka. Tak peduli ada yang melihat mereka karena masih berada di luar ruangan.
Nora tidak ingin munafik, dia diam-diam menikmati ciuman itu dan mengakui bagaimana Daren membuatnya terhipnotis. Dari sini, Nora bisa merasakan bagaimana benih-benih cinta dalam dirinya untuk Daren akhirnya muncul ke permukaan.
__ADS_1