
Krish dan Nancy mendarat di bandara Jakarta satu jam yang lalu. Mereka langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui sang putri yang katanya dalam keadaan tak sehat. Nancy sama sekali tidak menyangka Micky akan jatuh sakit padahal gadis itu terlihat sehat-sehat saja saat dia pergi.
Begitu mendengar seluruh penjelasan dari dokter tentang keadaan Micky, Nancy sama sekali tidak menyangka. Krish bahkan syok setengah mati. Keduanya langsung terdiam dan tidak bisa bicara apa-apa, apalagi mengambil keputusan.
Daren menatap diam di antara mereka saat ketiga orang itu berkumpul di ruangan Micky. Sementara Micky sibuk tertawa menonton video youtube di atas brankar, sama sekali tidak tau keluarganya sedang mengkhawatirkan masa hidupnya.
"Aku yang akan ambil keputusan," kata sang ayah membuat Daren mengalihkan pandangan.
"Apa keputusanmu?" Daren menatap curiga.
"Aku akan temui dokter." Krish bangkit dari duduknya dengan ekspresi datar. Nancy menatap Daren yang terlihat ingin mencegah Krish.
"Ibu, ayah sudah mengetahui segala risikonya, kan?" tanya Daren memastikan.
Nancy tidak menjawab. Dia masih tak punya kalimat untuk dibicarakan. Rasa syoknya belum menghilang. Tidak mungkin baginya saat melihat Micky begitu ceria di atas brankar seolah tak punya cedera sedikitpun ternyata nyawanya sudah berada di ujung tanduk.
Daren menyusul sang ayah keluar ruangan.
"Ayah, berhenti!" perintah Daren membuat sang ayah menoleh ke belakang. "Keputusan apa yang ayah ambil?"
Krish menggeleng tak kentara seolah dia sudah pasrah dengan keadaan ini. "Operasi."
"Tidak," tegas Daren sebelum Krish selesai bicara. "Kau tau risiko apa yang akan kita tanggung jika Micky dioperasi?"
"Lalu apa yang kau mau? Menunggu luka Micky semakin parah tanpa melakukan apapun untuk membuatnya sembuh?"
Daren terdiam. "Itu lebih baik daripada operasinya gagal."
"Kalau kita tidak membiarkan Micky dioperasi, itu artinya kita sudah pasrah dan menerima kenyataan bahwa adikmu akan meninggal sebentar lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah pasrah terhadap keadaan putriku!" tegas Krish tanpa jeda. Dia meraup wajahnya yang frustasi, lalu menepuk bahu Daren. "Kau akan tau rasanya setelah kau punya anak nanti. Percayalah! Ini adalah keputusan yang paling baik."
Daren tidak bisa menghentikan ayahnya berjalan ke ruangan dokter untuk mengutarakan keputusan itu. Daren harus bersiap untuk menerima risiko yang akan menghadapinya di depan sana, termasuk mendengar kabar bahwa operasi itu ternyata gagal.
__ADS_1
***
Nora berhasil beradaptasi di lingkungan baru pekerjaannya, meskipun dia masih terus menghindari setiap orang yang mengenalnya dan tau tentang kasusnya. Orang-orang itu sering sekali mencari kesempatan untuk mengata-ngati Nora, itu adalah bagian yang paling tidak Nora sukai ketika bekerja di sini.
Nora duduk di meja kerjanya yang bersebelahan dengan meja kerja si pria yang sering mengejeknya.
"Hey, Diva! Tau tidak?!" seru si alki-laki pengejek yang sampai sekarang belum Nora ketahui namanya itu. "Nyonya pakai pakaian baru hari ini!"
Nora melirik blouse baru yang ia kenakan. Dia berusaha tidak mendengar sindiran itu. Siapa tau pria pengejek itu bukan sedang menyindirnya.
"Kenapa? Kau heran?" tanya Diva dengan nada bercanda. "Kenapa harus heran, paling-paling untuk menarik perhatian di bos."
"Aku semakin curiga kalau dia pakai pelet untuk menarik perhatian bos."
Diva tertawa. "Bisa jadi!" serunya sambil menahan perut karena tergelitik.
Nora langsung menggebrak meja hingga komputer di atas mejanya nyaris terjatuh ke lantai. "Aku tidak menggunakan pelet ataupun guna-guna seperti yang kau bicarakan!" bentak Nora dengan wajah emosi.
"Kau sedang menyindirku, 'kan? Kau pikir aku tidak tau, hah?" Nora menarik keluar berkas-berkas yang digunakan sebagai percobaannya sebelum dia secara resmi mengerjakan file perusahaan. "Kau punya masalah apa denganku? Hah?"
Si pria menatap ngeri.
"Kau pikir aku takut? Kau pikir aku tidak bisa melawan? Mulutku jauh lebih pedas dari mulutmu, dan aku tau kau cuma tikus rumahan saat bersamaku sendirian. Simpan keberanian palsumu tiu dan diam saja di tempat dudukmu!" Nora melempar kertas-kertasnya ke wajah si laki-laki.
Pria pengejek itu bangkit karena merasa emosi. Matanya menyipit seolah mencari titik kelemahan Nora. "Kau akan menyesalinya, Nona."
"Apa?!" seru suara serak dan dalam dari arah pintu ruangan. Daren berdiri dengan ekspresi tegang. "Kau bilang apa, Yusuf?"
Pria pengejek itu langsung menunduk melihat Daren sedang mengawasinya. Sialnya, Daren melihatnya di saat yang tidak tepat.
"Apa kau baru saja mengancam orang lain?" Daren mendekat ke meja Yusuf. "Kau tidak punya kekuasaan apa-apa di sini, jangan sok mengatur, apalagi menjatuhkan karyawan lain. Aku bisa mengajukan libur panjang untukmu kalau kau tidak membenahi attitudemu itu." Daren beralih menatap ke arah Nora. "Kau, datang ke ruanganku sekarang!" perintah Daren lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Nora menatap puas ke arah Yusuf yang masih menunduk. Setidaknya, dia bisa melihat Yusuf dijatuhkan oleh orang lain. Nora merasa ingin memuji-muji darena karena sudah memihak kepadanya.
Nora merapikan mejanya, termasuk alat-alat tulis yang berceceran. Lalu dia meninggalkan ruangan itu untuk menuju ke ruangan Daren.
***
Nora membuka pintu ruangan. Melihat Daren yang sedang duduk di kursinya, dengan ekspresi yang berubah lebih tenang saat Nora masuk.
"Ada yang bisa kubantu?" bagaimanapun juga, di sini Nora tetaplah bawahan DAren, bukannya calon istrinya dan dia harus menjaga attitudenya di depan atasan.
"Micky akan dioperasi," kata Daren dengan lugas.
Nora tidak tau apakah dia akan menghela napas lega, atau justru menyesal. Dia senang karena pada awalnya, dia juga punya usul seperti itu, tetapi dia tidak senang karena Daren lebih suka keputusan yang lain.
"Siapa yang memutuskan?" tanya Nora. Duduk di hadapan Daren agar bisa bicara dengan serius.
"Ayah dan Ibu ... dan aku," sahut DAren terdengar pasrah.
"Itu adalah pilihan terbaik." Nora mengangguk dan tersenyum menangkan. "Aku bangga, kau berani mengambil risiko."
Dare menoleh ke arah Nora. Dia semakin lega mendengar pujian dari Nora. Ternyata ada baiknya juga punya keputusan sama seperti orang lain, alih-alih berbeda seperti kebiasaannya sejak dulu.
"Jadi, kau sepakat kalau Micky dioperasi?"
"Ya, itu lebih baik daripada kita pasrah dan menunggu Micky semakin memburuk."
Daren untuk pertama kalinya tersenyum. Meskipun cuma senyuman tipis, itu membuat wajahnya terlihat berbeda. "Terima kasih banyak."
Nora mengerling. "Terima kasih untuk?"
"Terima kasih sudah membantuku di situasi sulit ini." Daren meraih punggung tangan Nora dengan hati-hati. Saat itu Nora langsung merasakan darahnya berdesir merinding, sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga dia tidak bisa berekspresi apa-apa.
__ADS_1
"A-akulah yang memulai semuanya, aku janji akan mengakhiri semua konflik ini," kata Nora yang sudah terkunci dengan tatapan Daren yang mematikan.